
Amyra merasa bosan terus menerus berada diranjang. Ia ingin keluar dari kamar meski hanya sekedar ditaman depan.
Ia memanggil Mbak Ridha untuk membantunya membawa troli infus ketaman depan.
Dengan berjalan tertatih dan kepalanya yang sedikit pusing, Ia merasa harus lebih semangat dan tidak ingin bermalas-malasan.
Jiwa pekerjanya yang sudah mengalir sejak Ia masih remaja membuatnya terasa begitu membosankan jika harus berbaring seharian dikamar.
Amyra duduk dikursi taman dan memandangi orang yang berlalu lalang disekitar komplek rumahnya.
Sesaat Ia melihat sebuah motor matic berhenti didepan pagar rumahnya.
Mbak Ridha membukakan pintu pagar, dan tampak seorang pria muda berpakaian putih sedang mengendarai sepeda motor matic memasuki halaman rumahnya.
Amyra mengernyitkan keningnya. Ia merasa jika hari bukanlah jadwalnya untuknya pemeriksaan. Ia menatap dokter muda bernama Bram tersebut.
Tampak dokter muda itu tersenyum kepadanya dan berjalan menghampiri Amyra yang duduk dibangku taman.
"Selamat siang Ibu Amyra" sapa Dokter Bram berusaha ramah.
Amyra tersenyum tipis membalas sapaan dari dokter Bram.
"Bukankah hari ini tidak ada jadwal untuk pemeriksaan?" tanya Amyra dengan nada dingin.
Bram mencoba tersenyum menanggapi pertanyaan dari Amyra.
"Iya, tadi tiba-tiba saya dapat perintah untuk mengambil sample darah karena akan dibawa untuk uji laboratorium" jawab Bram yang tampak mengeluarkan tas berisi alat-alat medisnya.
"Tolong lengan bajunya digulung keatas, Bu.. Karena saya akan mengambil darah Ibu" titah Bram kepada Amyra.
Amyra mendenguskan nafasnya "Besok tolong ganti dengan dokter perempuan, Saya tidak mau dokter laki-laki yang memeriksa saya" ucap Amyra sedikit kesal.
Bram melirik raut wajah tak suka yang ditampilkan oleh Amyra. Semakin Amyra terlihat cemberut, semakin Bram merasa gemas melihatnya.
Bram tersenyum melihat sikap Amyra yang terlihat kesal.
Amyra menggulung lengan bajunya hingga batas diatas siku.
Lalu Bram mengambil sebuah alat seperti pengikat dan mengikatnya dilengan Amyra, lalu Ia mengeluarkan jarum suntik dan menyerap darah Amyra masuk kedalam tabung jarum suntik.
Bram mengambil sebuah kapas yang dibasahi dan menempelkannya kepada bekas luka jarum suntik tersebut.
__ADS_1
"Sudah" ucap Bram sembari memasukkan darah tersebut kedalam boks peti Es kecil agar darah itu tidak mengering.
"Nanti hasilnya akan saya kirimkan lewat WA saja, Bu." ucap Bram dengan bersikap santai.
"Wa? Dari mana kamu mendapatkan WA saya?" tanya Amyra dengan penasaran.
"Kan data diri ibu ada dikartu pendaftaran" jawab Bram sekenanya.
Namun Amyra merasa kesal saja jika sampai Bram menyimpan nomornya untuk hal-hal yang diluar dari urusan medis.
Bram membenahi peralatannya. Amyra berusaha bangkit dari duduknya, Ia merasa gerah jika duduk berduaan dengan dokter muda itu ditaman, tentu orang akan menilainya dengan pandangan yang salah.
"Mbak Ridha.. Bantu saya membawa tiang infus ini" pinta Amyra dengan cepat.
Mbak Ridha yang berada didalam rumah segera bergegas keluar dan ingin menghampiri Amyra.
Namun Amyra mendadak merasa pusing karena terlalu lama berdiri. Pemandangannya gelap, dan limbung ke kearah Bram yang sedang mengemasi alat-alat medisnya.
Dengan cepat Bram menangkapnya, dan sialnya Ia melihat jika darah tampak naik melalui selang infus.
Mbak Ridha yang melihat kejadian itu segera membantu dan membawa majikannnya masuk kedalam kamar.
Sesampainya didalam kamar, Bram memperbaiki jalannya cairan infus dan menahan darah yang sudah sempat naik ke selang infus agar kembali turun.
Mbak Ridha menganggukkan kepalamya saat menerima resep tersebut.
Ia akan pergi ke apotik untuk menebus resep tersebut. Bram menatap wajah Amyra yang pucat dan masih berbalut hijab, namun begitu Ayu dan meneduhkan.
"Andai saja kita bertemu lebih awal, tentulah jal yang sangat begitu menyenangkan" guman Bram dalam hatinya.
Amyra masih dalam kondisi tak sadarkan diri, dan Bram masih menungguinya sampai Mbak Ridha kembali dari apotik.
Bram juga akan mengganti cairan infus yang tampak sudah mulai habis.
Sementara itu, ditempat yang sangat begitu damai, Nazla menikmati momennya dalam mengandung anak Reno.
Ia masih terus mengajar dan memberikan ilmu pengetahuannya untuk diajarkan kepada para santrinya.
Tampak Adnan yang masih terus bersemangat untuk mengejar cia-citanya. Rasa bangga memiliki seorang ibu sambung seperti ustazah Nazla membuatnya akan terus meningkatkan kemampuannya untuk menjadi hafiz Quran yang dibanggakan oleh orangtuanya.
Nazla membawa Raisya puteri sambungnya ke pesantrennya dan dipindahkan dari sekolah elite tempat awal Ia bersekolah.
__ADS_1
Raisya kini tumbuh menjadi gadis kecil yang patuh dan mulai menguasai doa-doa pendek untuk anak seuisanya.
Bahkan Nazla sudah mulai mengenalkan hafalan surah pendek kepada Raisya.
Raisya tampak bersemangat untuk menghafal apa yang diberikan oleh Ibu sambungnya.
Disisi lain, Mbak Ridha baru saja pulang dari apotik dengan membawa obat-obatan yang dituliskan oleh dokter Bram.
"Ini, Dok.. Obatnya" ucap Mbak Ridha sembari menyerahkan kantong plastik berisi obat-obatan tersebut.
Dokter Bram memeriksa isi kantong plastik kresek tersebut dan memastikan tidak ada yang terlupa.
Bram mengambil botol berisi cairan infus dan mengganti botol cairan lama dengan yang baru.
Ia lalu memerintahkan kepada Mbak Ridha jika nanti Amyra terbangun agar memberikan vitamin dan obat penambah darah kepada Amyra agar kondisinya kembali membaik.
Mbak Ridha menganggukkan kepalanya dan pergi ke dapur untuk mempersiapkan makan malam untuk Amyra.
Saat bersamaan, Denny pulang dari bekerja.
Ia melihat sebuah sepeda motor matic yang sama merk nya dengan miliki Amyra hanya berbeda warna terparkir di halaman depan rumahnya.
"Milik siapa ini?" guman Denny lirih. Pria itu segera melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah dan menuju kamar.
Alangkah terkejutnya Ia saat melihat Seorang pria muda dan juga tampan berada didalam kamarnya dan sedang duduk ditepian ranjang mereka sembari memegang pergelangan tangan Amyra.
"Hei.. Jangan sentuh istriku" ucap Denny dengan perasaan cemburu.
Bram tersentak kaget saat mendengar suara seorang pria dengan nada menghardiknya.
Bram melepaskan tangan Amyra dengan lembut, lalu meletakkannya diatas ranjang.
"Maaf, Saya dokter Bram, dan kemari menggantikan mama Saya untuk merawat Ibu Amyra" jawab Bram dengan berusaha tenang.
"Saya tidak ingin dokter laki-laki yang menangani istri saya, carikan yang perempuan. Saya akan protes kepada pihak rumah sakit" ucap Denny dengan kesal.
Ia menghampiri Amyra yang tampak tak sadarkan diri. Ia menatap wajah Amyra yang masih dengan mata terpejam.
Bram menyingkir dari tempat itu, lalu meraih alat-alat medisnya dan akan segera pulang.
Tak berselang lama, Mbak Ridha muncul dari nalik pintu dengan membawa nampan berisi makanan untuk Amyra.
__ADS_1
"Eh.. Tuan sudah pulang. Tadi nyonya pingsan, untung saja ada dokter Bram" ubap Mbak Ridha menuturkan.
Perlahan rasa kesal dihati Denny mulai berkurang, ia sangat khawatir dengan kondisi Amyra, namun Ia tidak rwla jika Amyra dirawat oleh dokter muda apa lagi tampan, sungguh Ia tidak rela.