Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Episode 177


__ADS_3

Zain merasakan tubuhnya bagaikan remuk redam. Ia sedang diurut oleh Abdullah, setiap otot-ototnya yang terasa tegang, kini terada mulai lemas karena telah mendapatkan pelemasan otot-ototnya yang terasa kaku.


Abdullah terus saja mengurut sekujur tubuh Zain dengan bantuan minyak kelapa hijau dan beberapa ramuan rempah lainnya.


Khumairah yang sedang memasak mendengar suara rintihan pria dibalik bilik kamar tersebut.


Gadis lugu nan polos itu selalu merada gugup jika sedang berhadapan dengan pemuda tersebut. Ia terus memasak, sembari menetralkan degub jantungnya yang bergemuruh.


Tak berselang lama Abdullah keluar dari balik kamar tersebut, lalu menatap kepada Khumairah "Beri tamu kita minum jahe gula aren panas, agar Ia cepat pulih" titah Abdullah, yang dijawab dengan anggukan kepala.


Abdullah lalu pergi kekebun setelah mendapat jawaban dari puterinya.


Khumairah beranjak dari perapiannya. Ia meracik minuman yang dipinta ayahnya menjadi beberapa porsi, sebab ayahnya juga menyukai minuman tersebut.


Khumairan sudah selesai meraciknya, dan kini memasaknya diperapian yang menggunakan kayu bakar.


Bening bayam dan juga ikan gabus sambal goreng sudah terhidang, Ia kini sedang membuat minuman pesanan ayahnya.


Setelah mendidih cukup lama, Khumairah mengangkatnya dan memasukkan kedalam teko yang terbuat dari bahan seng.


Khumairah menyajikan semuanya diatas meja makan sederhana yang terbuat dari papan dan kursi makan yang sangat begitu sederhana.


Lantai rumah itu juga masih terbuat dari tanah, tanpa semen ataupun ubin, sebuah kehidupan yang begitu sangat sederhana.


Sesaat Abdullah pulang dari kebun dan melihat semua hidangan sudah tersaji diatas meja makan. Meskipun kehidupan dihutan belantara, namun mereka selalu makan enak setiap harinya, sebab apapun yang mereka ingin malan sudah tersedia dialam.


"Panggil Zain keluar, agar makan bersama" ucap Abdullah dengan nada perintah.


Khumairah menganggukkan kepalanya dengan rasa patuh, lalu masuk kedalam kamar dan menemui Zain yang masih tampak berbaring diranjang tua tersebut.


"Emmm... Mas, Ayah meminta Mas untuk untuk keluar makan bersama"ucap Khumairah sembari merundukkan kepalanya, Ia tak mampu menatap mata pemuda itu.


"Ya.." jawab Zain singkat. Ia beranjak dari ranjangnya, lalu meraih tongkatnya untuk dipakai sebagai penopang kaki kirinya.

__ADS_1


Khumairah memandang pemuda itu dengan iba, lalu Ia keluar mendahului Zain dan duduk dikuesi makan menunggu pemuda itu keluar dari kamarnya.


Tampak Zain tertatih dan menuju meja makan dengan kesulitan. Setelah mencapai kursi makan, Ia dudk dan mereka bertiga saling berhadapan.


"Ayo kita mulai makan siangnya" ucap Abdullah, lalu menyendokan nasi kedalam piring dan mengambil lauknya.


Zain merasa sungkan untuk mengambil makan siangnya. Melihat hal tersebut, Khumairah mengambil piring yang ada didekatnya dan menyendokkan nasi beserta lauk pauknya kedalam piring, lalu memberikannya kepada Zain.


"Makanlah.. Agar kesehatan Mas segera pulih" ucap Khumairah dengan sangat lembut dan terdengar begitu manis ditelinganya.


Zain yang selama ini tidak pernah mendapatkan perhatian apapun dan dari siapapun merasakan betapa bahagianya hidupnya.


Zain menatap gadis cantik itu dengan seksama "Terimakasih" ucapnya lirih sembari meraih piring tersebut dan meletakkannya dihadapannya.


Ia melihat sekilas senyum manis sang gadis yang membuatnya begitu terlihat semakin menawan dengan gigi gingsul dibagian kanan atas.


Zain menyuapkan makan siangnya dengan perlahan. Tampak disisi kirinya ayah dari Khumairah sudah hampir selesai dengan makan siangnya. Tampaknya pria paruh baya itu akan segera beristirahat dan menunggu shalat Dzuhur.


Kini hanya tinggal Zain dan juga Khumairah yang masih belum menyelesaiakan makan siangnya.


Keduanya terdiam membisu didalam keheningan sembari menikmati makan siangnya.


Sesekali Zain melirik gadis yang tampak menikmati makan siangnya dengan sangat lahab dan juga tidak terkesan menjaga image seperti kebanyakan para gadis kota lainnya yang jika diajak makan tampak berpura-pura tidak lapar.


Zain dapat melihat jika Khumairah adalah gadis yang sangat polos, lugu dan juga baik. Sehingga Ia tau jika Khumairah adalah salah satu gadis yang sudah jarang ditemui dalam kehidupan kota besar.


Khumairah sudah selesai makan, dan Zain mempercepat makan siangnya. khumairah menyodorkan minuman jahe kepada Zain "Minumlah..semoga kamu lekas sembuh" ucap Khumairah dengan lirih, lalu menyodorkan gelas berisi sari jahe merah dan juga gula aren yang masih tampak hangat.


"Jika kesembuhanku diundur, apakah boleh?" tanya Zain memecah kesunyian.


Khumairah tercengang mendengar ucapan Zain yang terkesan aneh.


"Ketika orang sakit banyak yang berdoa dan berharap agar segera sembuh, namun Kamu mengapa meminta kesembuhan, mengapa Kamu malah meminta ditunda?" tanya Khumairah penasaran.

__ADS_1


"Karena Aku masih ingin berlama disini, jika Aku segera sembuh, mungkin ayahmu akan memintaku segera meninggalkan rumah ini" ucap Zain, lalu meraih gelas dan menuangkan air putih lalu meneguknya.


Khumairah kembali bingung dengan ucapan pemuda dihadapannya.


"Emangnya kenapa?" tanya Khumairah semakin pennasaran.


"Aku ingin melihat gadis cantik yang ada dirumah ini memasak masakan dan menyajikannya untukku.. Karena aku tidak pernah melihat dan mendapatkan hal seperti ini" ungkap Zain dengan jujur.


Seketika wajah Khumairah memerah menahan rasa malu. Lalu Ia beranjak dari duduknya dan ingin segera membereskan wadah kotor sisa makan mereka.


Saat Gadis itu ingin meraih piring kotor sisa makan Zain, tanpa sengaja jemari mereka bersentuhan, keduanya saling menatap satu sama lain dan sebuah desiran bergemuruh menjalar di aliran darah Khumairah.


Ia segera menarik jemarinya dan meraih piring kotor tersebut, lalu pergi kealiran anak sungai untuk mencuci piring yang hanya berjarak 5 meter dari belakang rumahnya.


Rasa gemuruh dididalam dada sang gadis terus menderu. Ia terkadang tersenyum sendiri menahan senyumnya yang terukir indah dibibirnya.


Zain merasa bosan didialam rumah tua tersebut. Ia berjalan teryatih menggunakan tongkatnya menuju keluar pintu.


Ia dikejutkan dengan pemandangan yang sangat menenangkan hati. Hamparan sawah dengan padi yang siap dipanen, berbagai tanaman sayuran dan juga buah-buahan tampak tertanam rapi dikebun itu.


Zain merasakan kedamaian dan kenyamanan berada ditempat ini.


Sesaat Ia melihat seorang gadis cantik sedang mandi dialiran sungai yang hanya berjarak 5 meter dari hadapannya.


Sungguh pemandangan yang mengagumkannya.


Rasa kedamaian yang tersirat didalam hatinya membuatnya tak ingin pergi dari hutan ini.


Zain memandang sebuah gubuk ditengah kebun. Ia melihat Pak Abdullah sedang melakukan shalat Dzuhur disana.


Zain berniat menghampiri pria paruh baya yang sudah merawat dan menampungnya dirumah tua itu.


Zain berjalan dengan tertatih mencapai gubuk itu. Ia ingin segera sampai kesana, dan andai saja pria paruh baya itu mengijinkannya untuk tinggal ditempat ini selamanya, maka Ia akan sangat senang sekali.

__ADS_1


__ADS_2