Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Episode 230


__ADS_3

Denny menghela nafasnya dengan berat, Ia juga tidak tahu harus memulai kata-katanya dari mana.


Denny keluar dari kamar, berjalan dengan bingung dan duduk di sofa.


"Dasar, Grace sialan..!!" Guman Denny dengan kesal, sembari melemparkan vas bunga yang ada diatas meja.


Praaaaank...


Suara serpihan pecahan kaca dari vas bunga itu menggema diruangan, sehingga membuat penghuni rumah tersentak kaget.


Amyra tak pernah melihat Denny semarah itu. Meskipun awal pernikahannya penuh dengan kepahitan, namun Ia tidak pernah melihat Denny marah dengan membanting sesuatu barang, itu bukan sifatnya.


Amyra merasa bingung, sebenarnya apa yang sedang terjadi, haruskah Ia masih bersikeras dengan pendiriannya.


Mbak Ridha melihat apa yang sebenarnya terjadi diruang utama. Ia melihat majikannya dengan wajah kusut dan juga kacau sedang duduk tersandar di sofa.


Tanpa sengaja Ia melihat vas bunga yang hancur berantakan, dengan cepat Ia membersihkannya, karena tidak ingin serpihan dari pecahan kaca tersebut melukai kaki Najma ataupun Ashraf.


Denny mengumpat dengan sumpah serapah atas perbuatan Grace yang sudah merusak hubungannya dengan Amyra "Dasar wanita ja- lang.. Bisa-bisanya dia melakukan ini semua" umpat Denny dengan kesal.


Sesaat adzan Ashar berkumandang. Denny yang merasa pusing kepalanya, memilih untuk shalat berjamaah di mushallah. Ia memasuki kamar untuk menyalin pakaiannya, Ia melihat Amyra sedang bersiap hendak shalat, namun masih mendiamkannya.


Dalam kondisi penuh amarah dan panas hati, percuma saja untuk menjelaskan semuanya, dqn Denny memilih waktu yang tepat untuk menjelaskannya kepada Amyra.


Keduanya masih sama-sama diam dan tak saling menyapa. Denny memilih juga untuk diam. Ia menyalin pakaian shalat dan beranjak ke mushallah.


Ia berjalan kaki menuju mushallah, disana Ia melihat sudah ada beberapa para jemaah yang hadir dan Ia bergabung untuk shalat berjamaah.


Setelah selesai shalat, Denny tampak tak beranjak dari tempatnya. Ia memanjatkan doa, meminta agar Rabb-Nya memberikan petunjuk dan memperlihatkan kebenaran yang terjadi.


Ia tidak ingin kehilangan Amyra, baginya Amyra sesuatu yang sangat berharga, bukan karena Papanya mewariskan kekayaan setengah bagian untuk wanita itu, namun karena Amyra adalah wanita yang tulus mencintainya disaat Ia terpuruk dan tidak memiliki apapun.


Para jamaah sudah berpulangan, dan kini hanya tinggal Denny seorang dan imam shalat yang juga bersiap untuk pulang.


Namun melihat Denny yang tampak muram dan juga sangat kacau, Imam itu mencoba menghampiri Denny.


"Apakah sudah mengadunya?" sapa Imam itu kepada Denny.


Dengan cepat Denny menoleh kearah imam shalat tersebut dan mencoba membalas dengan seulas senyum tipis.

__ADS_1


"Apakah ada beban berat yang sedang kamu hadapi?" tanya Imam itu dengan sahaja.


Denny terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya.


"Rabb-mu tidak akan menguji suatu ujian diluar kemampuan hamba-Nya" ucap Imam itu dengan lembut.


Denny merundukkan kepalanya, mencoba mengkhayati setiap kata yang diucapkan oleh imam tersebut.


"Dan tidak ada tempat meminta perlindungan dan juga pertolongan selain Dia yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang" ucap Imam itua lagi.


Denny menengadahkan kepalanya dan menatap pada Imam shalat tersebut.


"lalu mengapa manusia tak henti-hentinya terus diuji dengan sesuatu yang itu-itu saja?" ucap Denny dengan penasaran.


"Itu karena Rabb-Mu mengetahui jika hamba-Nya itu mampu untuk melewati ujian yang sedang diberikan kepadanya" jawab Imam tersebut kepada Denny.


Seketika Denny tersenyum mendenagr jawaban dari Imam sekaligus ustaz tersebut.


"Lalu bagaimana menjelaskan kepada Istri tentang sebuah kebenaran, sedangkan istri masih mendiamkan suami" tanya Denny tak sabar.


Imam itu tersenyum "Pada hakekatnya seorang istri dititipkan sifat Ar-Rahim.. yang mana artinya kasih sayang. Sehingga Rabb memberikan kepercayaan Rahim ditubuh mereka untuk mengandung anak-anak kita kelak dan untuk menambah jumlah umat Rasullah" Imam itu menjeda ucapannya.


Denny masih tak sabar untuk mendengar penjelasan Imam itu selanjutnya.


Denny terdiam sejenak, mencoba meresapi segala apa yang di katakan oleh Imam tersebut.


Seketika Denny tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu berterimakasih atas wejangan yang diberikan oleh Imam tersebut dan berpamitan untuk pulang.


Denny bergegas pulang kerumah, lalu Ia teringat akan sesuatu. Ia bergegas mengambil kunci mobil, lalu melajukan mobilnya menuju suatu tempat, tempat dimana penjual es campur yang masih buka hingga sore dan merupakan cabang dari penjual es campur didepan kantornya.


Setelah mendapatkan pedagang tersebut, denny memesan bebrapa porsi sekaligus untuk orang yang berada dirumahnya.


Setelah itu, Ia Singgah diminimarket dan membeli beberapa bungkus permen tamarin untuk Amyra, sebab selama masa kehamilannya, Amyra menyukai permen asam tersebut.


Setelah itu Ia menuju pasar tradisional dan mencari beberapa potong tempe, Ia akan memasak untuk Amyra, Ia akan mencoba untuk meluluhkan hati Amyra.


Setelah selesai dengan berbelanja, Denny segera pulang.


Sesampainya dirumah, Denny membawa dua cup es campur kedalam kamar, lalu memberikan sisanya kepada Mbak Ridha untuk dibagikan kepada dua asisten rumah tangga lainnya dan juga Ashraf juga Najma.

__ADS_1


Denny meletakkan es campur itu di atas meja nakas "Emm.. Sayang.. ini es campur kesukaan kamu, maaf tadi mas lupa membelikannya, dan ini juga permen asam kesukaan kamu, pasti stoknya mulai habis" ucap Denny sembari meketakkan permen itu diatas meja nakas.


Setelah itu, Denny bergegas keluar dari kamar, lalu menuju dapur. Ia akan memasak tempe goreng kunyit kesukaan Amyra. Ia tahu cara memasaknya, Sebab sudah biasa melihat Amyra membuatnya.


Untuk mempermudahnya, Denny membeli bubuk kunyit dan ketumbar bubuk instan, lalu menambahkan sedikit seosoning dan garam, dan air secukupnya.


Denny mulai memasaknya, melihat sang majikan memasak, membuat para asisten rumah tangga merasa kebingungan dan serba salah.


"Tuan, biar saya saja yang memasaknya" ucap Ridha merasa sungkan.


"Sudah.. biar saya saja" ucap Denny membantah, lalu menyiapkan masakannya.


Sementara itu, Amyra mencium aroma masakan yang sangat begitu Ia kenal.


"Tempe goreng kunyit? Siapa yang memasaknya?" Guman Amyra penasaran, sebab resep itu hanya Amyra dan Denny yang tahu.


Karena penasaran, Amyra mencoba mengintip dari balik pintu kamarnya. Ia terperangah melihat Denny memasak didapur, seketika Ia mengerutkan keningnya.


"Hemm.. gak biasanya.." guman Amyra, lalu beranjak kembali kekamarnya.


Ia melihat es campur tersebut diatas meja nakas. Masih marah, ya.. namun mana bisa Ia menolak es campur kesukaannya. Dengan cepat Ia meraih satu cup es campur tersebut dan meyeruputnya hingga habis dengan terburu-buru agar tidak dilihat oleh Denny, lalu membuang cup tersebut ke dalam tong sampah yang ada didalam kamar.


Lalu Amyra berbaring ditepian ranjang, dan saat mendengar derap langkah kaki Denny memasuki kamar, Amyra berpura-pura tidur dan tak melihat apa yang dikerjakan oleh Denny.


"Sayang.. ini tempe goreng kunyit kesukaan kamu, dimakan dengan nasi panas pasti enak" rayu Denny kepada Amyra.


Namun Amyra masih diam tak bergeming. Denny mencoba meninggalkan Amyra, dan pergi kekamar mandi untuk membesihkan dirinya.


Setelah Denny masuk kedalam kamar mandi, Amyra membuka matanya, hidungnya tak dapat diajak kompromi saat mencium aroma wangi dari tempe goreng kunyit tersebut.


Perutnya meronta-ronta meminta untuk diisi dengan segera.


Melihat Denny sedang mandi, Amyra meeaih piring tersebut dan mulai memakannya.


"Hemmm.. pintar juga Mas Denny memasak" guman Amyra saat mengunyah makanannya, hingga tanpa sadar Ia telah menghabiskan satu porsi nasi dengan lauk tempe goreng kunyit buatan Denny.


Saat bersamaan, Denny keluar dari kamar mandi, dan melihat Amyra baru saja selesai menghabiskan masakannya.


Karena kepergok dan masih menjaga image, Amyra meletakkan piring yang sudah licin itu diatas meja "Masakannnya Asin dan tidak enak" ucap Amyra sembari meneguk air putih dan kembali berbaring.

__ADS_1


Denny mengerutkan keningnya, masa iya tidak enak, tetapi kenapa sampai licin? Denny tersenyum geli dan berpura-pura tidak untuk membahasnya, namun setidaknya usahanya berhasil, perlahan demi perlahan Ia akan mencoba meluluhkan hati Amyra.


~Maaf segala typo.. Lagi nyambi ngurus bocil lagi demam..~


__ADS_2