
Saat ini Arlan telah dibentuk menjadi pribadi yang berbeda oleh Fairi, dia telah diajarkan latihan fisik untuk melatih ketajaman pengamatan yang akan membuat Arlan bisa dengan cepat membaca situasi dan juga menghindari orang yang akan mungkin menyakitinya.
"Sayang bagaimana dengan perkembangannya." Kenan mendekati Fairi yang sedang melihat anaknya dilatih oleh Anita ilmu fisik
"Aku rasa aku tak salah memilih Anita untuk melatih dia, sama seperti Boo dulu. Ku harapkan sekarang Bee bisa mengatasi ketakutannya sendiri." Fairi berkata dan tersenyum
"Aku masih bingung, kenapa kamu tak membiarkan aku dan ayah mengatasi orang - orang yang telah menyakiti putra kita" Kenan
"Tidak, aku punya rencana ku sendiri." Fairi
"Berhati - hatilah, jangan memaksakan diri." Kenan
"Hem, aku tau, karena aku akan membutuhkan bantuanmu pada waktunya nanti." Fairi
"Dengan senang hati sayang." Kenan
Terlihat Arlan memiliki gerakan yang lincah dan dapat mengikuti dengan cepat semua gerakan yang diajarkan oleh Anita. Dan Anita yang merupakan orang dari militer serta seorang psikolog dia bisa membaca karakter Arlan yang saat ini menjadi anak didiknya.
"Anak ini sungguh sangat lincah dan bahaya, dia harus memiliki pengendali agar tak melampaui batas." gumam Anita memperhatikan Arlan.
"Baiklah sayang untuk hari ini selesai sampai di sini, besok kita bertemu lagi ok. Tos dulu." Anita berkata dengan lembut dan melakukan tos dengan Arlan.
"Mama." Arlan lari mendekati Fairi dan memeluknya setelah selesai latihan
"Pergilah mandi dulu sama nenek Mina" Fairi berkata dan Arlan langsung pergi sama bi Mina
"Nita bagaimana apa dia bisa dibiarkan keluar sendiri sekarang?" Fairi
"Hem, dia memiliki ambisi, emosinya naik turun, dia bisa membaca gerakan dengan cepat dan juga kemampuan pengamatannya juga sama tepatnya tapi dia membutuhkan pengontrol agar tak lepas kendali. Aku takut dia tak bisa mengendalikan emosinya dan bisa membahayakan orang lain." jelas Anita
Fairi dan Kenan saling menatap mendengar penjelasan dari Anita yang artinya putranya memiliki gangguan kestabilan emosi.
"Dia sepertinya belajar dari Kemal soal kemampuan mengidentifikasi sesuatu, tapi dia telah mengembangkan sendiri kemampuannya itu, aku sungguh sangat kagum dengan putra - putramu." Anita
"Apakah itu bahaya?" Fairi
"Tidak, justru itu bagus. Karena dia lebih peka pada seseorang, dia mampu merasakan orang itu tulus dan tidak padanya. Hanya saja dia membutuhkan seseorang yang bisa dipercayainya untuk bisa menekan emosi dan mengendalikan diri saat dia lepas kendali dari emosi yang menekan logikanya." jelas Anita
"Kenapa dia jadi seperti itu." Fairi terlihat sedih
"Tenanglah sayang, dia akan baik - baik saja." Kenan memeluk Fairi.
"Aku takut untuk kedepannya, akankah dia bisa menemukan jodohnya. Bagaimana jika dia..." Fairi
__ADS_1
"Ssstt...jangan takutkan soal itu, pasti dia akan menemukan seseorang yang bisa menerima dia apa adanya, karena dia adalah putra kita." Kenan memeluk dan menepuk punggungnya.
Malam harinya Fairi menemani Arlan dan membacakan buku cerita untuk Arlan, Fairi berharap dengan cerita yang lucu dan bahagia bisa membuat Arlan memiliki ingatan yang indah akan dunia seperti yang ada di cerita dongeng.
"Mama, kakak kapan pulang." Arlan menatap Fairi
"Hem, kenapa kau rindu dengan kakak, ingin menghubungi kakak. Ayo kita menghubungi kakak." Fairi mengambil ponselnya dan menekan nomer Kemal
Terlihat Arlan tersenyum dan tertawa lepas saat dia bicara dengan Kemal dan terlihat dia sangat seru serta menceritakan semua apa yang dia pelajari hari ini pada Kemal. Fairi memeluk dan mencium kepala Arlan.
"Boo, kau adalah pengendalinya Bee. Ku harap kau adalah Rem yang tak akan membuatnya lepas kendali dan keluar dari jalurnya." gumam Fairi dalam hati.
Lama kedua anak itu bicara sampai Arlan mengeluh ngantuk dan mulai menutup mata saat mendengarkan Kemal bernyanyi dan memainkan gitar untuknya.
"Mas bagaimana kalau kita kirim Bee ke Boo saja biar dia bisa bersama dalam bimbingan ayan Herman dan agar Anita tak terlalu jauh untuk datang kemari." Fairi meminta pendapat pada Kenan
"Kenapa harus begitu, apakah tidak mengganggu Boo nanti kalau dia harus menjaga adiknya juga sedangkan di sana dia harus belajar." Kenan berpendapat
"Coba kita tanyakan saja sama dia dulu." Fairi mulai menghubungi Kemal
Setalah mendapatkan persetujuan Kemal dan Herman Fairi pun membicarakan dan menceritakan pada Arlan kalau dia akan dikirim untuk belajar dan tinggal bersama dengan kakaknya dan juga orang - orang yang akan menjaga dan melatihnya.
Akhirnya pagi itu Fairi dan Kenan mengantarkan Arlan untuk berangkat ke tempat Kemal, saat sampai di sana Fairi menceritakan semuanya pada Herman dan dia meminta untuk Herman melatih Arlan seperti dia melatih semua anak didiknya yang lain.
Sudah sebulan Arlan tinggal bersama dengan Kemal dalam pengawasan dan didikan Herman dan yang lainnya, sehingga Fairi bisa lebih fokus dalam pekerjaannya.
Fairi dengan sengaja mendatangi rumah Danang dan menanyakan soal Maya putri Danang yang merupakan orang terakhir yang diketahui telah berbicara dengan Arlan saat mereka ada di sekolahnya.
"Laras ada apa memangnya kenapa kamu terlihat sangat serius" Danang menatap bingung pada Fairi yang datang ke rumahnya secara tiba - tiba.
"Dimana putrimu aku ingin tau ada yang ingin ku tanyakan padanya mengenai anakku, atau anak mu juga. Selama ini aku diam karena aku ingin fokus dalam penyembuhannya." Fairi berkata dan duduk didepan Danang
"Sebenarnya apa yang terjadi dan Kenan menghalangi aku datang untuk menjenguk Dandi." Danang berkata dengan penasaran
"Kita tunggu saja putrimu datang, kita dengarkan penjelasannya." Fairi berkata dengan cuek
Tak lama setelahnya Maya baru pulang dan terlihat dia sangat marah pada seseorang, karena Maya terlihat sangat gusar.
"Maya apa yang terjadi." Danang menatap kaget melihat putrinya yang berjalan sambil marah - marah sendiri.
"Kenapa dia ada di sini pa." Maya menatap Fairi dan berkata dengan marah.
"Apa yang kau lakukan sopan lah pada orang yang lebih tua." Danang membentak Maya
__ADS_1
"Dia adalah penyebab kemalangan ku, karena dia aku jadi seperti saat ini dan karena dia juga aku kehilangan cintaku." Maya berkata dengan teriak
"Maya" Danang memukul Maya dengan keras karena putrinya itu dirasa sudah kelewatan.
"Danang hentikan." Fairi menahan Danang.
"Pa. Sekarang bahkan papa juga membelah dia, dia adalah wanita pembawa bencana. Aku benci sama papa." Maya lari masuk kedalam kamar dan menangis
"Maafkan aku Ras." Danang menatap malu pada Fairi
"Mungkin aku akan datang lagi nanti karena aku masih ingin tau pastinya, sebaiknya kau tanya baik - baik putrimu sekarang." ucap Fairi dan pergi dari rumah Danang.
...💔💔💔...
Di kantor Kenan dia sedang melakukan rapat dengan Sofiana mengenai prodak dan kerja sama yang akan diluncurkan oleh dua perusahan yang akan di pasarkan di luar negeri.
"Ken bagaimana apakah kita bisa makan bersama untuk malam ini?" Sofiana berkata dengan lembut
"Hem, kita lihat nanti." Kenan menjawab dengan tak pasti
"Ayolah Ken kita tidak hanya makan sendiri karena aku juga membawah anak - anak yang lain untuk ikut bersama karena aku ingin selalu bisa bersama dengan yang lainnya selama aku ada di sini." Sofiana berkata dengan mengharap
"Baiklah, nanti aku akan pergi kesana kau tentukan saja tempatnya." Kenan pun menyetujuinya.
...💔💔💔...
"Sayang malam ini aku ada acara makan bersama dengan teman - teman ku, kau tak perlu masak dan juga jangan menungguku karena mungkin aku akan pulang terlambat." Kenan memberitahu Fairi
"Baiklah mas, hati - hatilah." Fairi menjawab dan tersenyum pada Kenan.
Kenan pun bersiap untuk pergi ketempat yang telah ditentukan untuk janjian makan bersama dengan teman - temannya dan Sofiana. Terlihat Kenan berdandan dan tampil dengan menarik untuk malam itu
"Apa kau sudah siap untuk pergi mas." Fairi membantu Kenan mengenakan baju
"Iya aku siap, dan aku pasti akan sangat merindukanmu" Kenan memeluk Fairi
"Jangan berlebihan kamu mas, kita hanya berpisah beberapa jam saja" Fairi memukul lengan Kenan dan tersenyum.
"Aku mencintaimu sayang" Kenan mencium Fairi sebelum pergi.
"Hati - hati ya." Fairi
"Iya, aku pergi dulu." Kenan
__ADS_1
"Hem." Fairi menatap tajam pada kepergian Kenan, dan senyumnya yang merekah sekilas hilang.
Dengan kecepatan sedang Kenan menuju ke tepat yang di infokan oleh Sofiana, setelah sampai di sana terlihat semua orang sudah berkumpul dan menikmati makan malam itu. Kenan masuk dan dia dia melihat Sofiana menyambut kedatangannya seperti dia menyambut kedatangan suami yang baru pulang kerja, teriakan dan tepuk tangan dari semua temannya terdengar sangat semarak.