
Rudy akhirnya merasa lega setelah mengetahui kehidupan anak menantunya kembali adem ayem.
Pria paruh baya itu tak dapat membayangkan jika sampai terjadi keretakan antar anak dan menantunya. Ia akan merasa sangat bersalah atas segalanya, sebab Ia masih terutang nyawa dengan Burhan, Ayah Amyra.
Pagi ini Rudy ingin pergi ke pemakaman untuk melakukan ziarah ke makam Burhan dan nuga Denada
Sudah sangat lama sekali Ia tidak mengunjungi makam tersebut, dan hari ini Ia berniat berziarah ke makam tersebut.
Rudy memesan dua buket mawar putih dan akan membawanya ke makam Burhan dan juga makam Denada, yang mana keduanya berada dalam satu lingkung pemakaman yang sama, meski jarak makam keduanya berjauhan.
Rudy mengunjungi makam Denada terlebih dahulu, namun belum sempat Ia sampai dimakam Denada, Ia melihat seorang wanita sudah terlebih dahulu berada disana.
Rudy berlindung dibalik pohon kamboja yang tumbuh tinggi ditengah-tengah pemakaman.
Wanita iti tak lain adalah Renata, ternyata sedari tadi Ia tak terlihat, dan membuatnya berfikir jika Renata sedang ke minimarket dan berbelanja, namun dugaannya salah.
Sebab ternyata Renata berada dimakam sepagi ini dan mendahuluinya.
Terdengar samar-samar Renata berguman lirih "Maafkan Aku, Mbak.. Terlalu banyak dosa yang aku lakukan, dan sekarang Aku mengandung anaknya Mas Rudy" Guman Renata lirih.
Rudy menyandarkan tubuhnya dibalik pohon Kamboja tersebut.
"Jika Kamu tidak merestuinya, Aku rela kehilangan calon bayi ini, asalkan kamu memaafkanku" Renata kembali melanjutkan gumanannya, dan setelah itu menyiramkan air mawar keatas makam, lalu beranjak pergi melalui jalan sisi sebelah pagar lainnya.
Rudy memandangi punggung Renata yang menuju arah barat, ternyata Ia mengambil pintu masuk dari arah belakang.
Setelah memastikan Renata telah pergi, Rudy kembali berjalan menuju makam Denada. Ia meletakkan buket mawar putih mikiknya bersanding dengan buket mawar putih yang dibawa oleh Renata.
Ia tak tahu harus mengatakan apapun, namun hanya sebuah doa Ia lantunkan, agar almarhum istrinya ditempatkan ditempat terbaik dan terindah.
"Mas Ridha atas segalanya" ucap Dennya, lalu menyiramkan sebotol air mawar ke makam Denada dan memandang sejenak, dengan sebuah doa yang begitu sangat tulusnya.
Lalu Rudy beranjak pergi menuju makam Burhan yang berjarak cukup jauh dari makam Denada.
Disana Ia meletakkan bukket mawar putih tersebut. Sepertinya semenjak kehamilannya yang cukup rentan, Amyra belum mengunjungi makam ayahnya.
__ADS_1
Karena tidak ada kembang apapun diatas makam itu. Rudy mencoba memakluminya, sebab Amyra juga tidak begitu sehat akhir-akhir ini.
Lantunan doa Ia munajadkan, agar Burhan mendapatkan tempat terbaiknya, dan Ia menyiramkan air mawar tersebut.
Sementara itu. Kondisi Denny masih sedikit lemah. Amyra masih dengan telaten mengurus Denny.
Meskipun perutnya yang membuncit sedikit mengahambat pergerakannya, namun Ia mencoba sebaiknya dan berhati-hati karena tidak dapat juga terlalu lelah.
Amyra berjalan dengan tertatih. Denny dapat melihat betapa sangat kesusahannya Amyra membawa perutnya yang tampak begitu sangat membesar dan gerakan calon bayinya juga sangat aktif dengan tendangan-tendangan halus diperut Amyra.
"Mas.. Dimakan obatnya " ucap Amyra menyodorkan beberapa obat yang berasal dari resep dokter yang memeriksa Denny.
Denny menganggukkan kepalanya, sebab Ia juga tidak ingin membuat Amyra kerepotan merawatnya, sebab Ia tidak tega melihat kondisi Amyra yang sangat kepayahan.
"Sudah, Sayang.. Mas sudah mulai baikan, dan kamu juga harus menjaga kesehatan" ucap Denny yang merasa bersalah atas segalanya.
Amyra mencoba tersenyum, dan meletakkan kembali gelas yang digenggam Denny ke atas meja nakas.
Denny meraih pergelangan tangan Amyra, lalu menatap kedua mata wanitanya.
"Maafkan, Mas.. Tapi jujur semua yang kamu lihat didalam vedeo bukan Mas yang melakukannya" ucap Denny mencoba jujur dan menjelaskan semuanya kepada Amyra.
Denny mengerutkan keningnya, sebab Ia tidak mengerti mengapa Amyra sampai begitu merasa lucu dengan pengakuan dan kejujuranya.
Setalah mencoba meredakan tawanya, Amyra memegang pipi kiri Denny sembari menatap pria yang terihat sangat begitu menghiba dan membuat Amyra semakin geli untuk melihatnya.
"Myra sudah tahu" ucap Amyra dengan senyum kemenangannya.
Denny kembali mengerutkan keningnya dan merasa bingung "Maksudnya?" tanya Denny penasaran.
"Dua minggu yang lalu Papa datang, lalu memberikan bukti jika semua yang terjadi itu tidak benar" jawab Amyra sembari tersenyum geli.
"Jadi.. Kamu sudah tahu kebenarannya sejak lama? Bahkan sebelum Mas sendiri dapat membuktikan kebenaran itu?" tanya Denny bingung yang merasa selalu saja kalah cepat dengan Papanya, Rudy.
Amyra menganggukkan kepalanya, sembari tersenyum.
__ADS_1
"Lalu kenapa Kamu tetap mendiamkan Mas selama ini?" tanya Denny penuh selidik.
"Papa yang minta, buat ngerjain Mas" jawab Amyra keceplosan dan segera menutup mulutnya karena tanpa sengaja membongkar rahasia Ia dan Papa mertuanya.
Denny terperangah mendengar pengakuan Amyra "Papaaaa... Bisa-bisanya ngerjain anaknya sendiri" Denny mengomel dan seketika tubuhnya merasa lebih baik karena tersentak dengan pengakuan Amyra.
"Kenapa Papa kebangetan sekali, sih.. Emangnya anaknya itu Mas atau Kamu sih? Kelihatannya terlalu berpihak sekali sama menantunya" Denny mendengus kesal.
Amyra semakin terpingkal melihat Denny yang mengomel karena berhasil di prank istri dan papanya sendiri.
Melihat Amyra yang seperti mengejeknya, berniat mengerjain balik Amyra.
Ia tersenyum licik dan mendekap Amyra dari belakang, sehingga membuat Amyra menghentikan tawanya.
"Mas.. Mas mau ngapain? Jangan macam-macam, Mas masih demam" ucap Amyra mencoba mengingatkan sebab Ia melihat gelagat yang tidak baik dari Denny.
"Kamu harus dihukum dengan segala perbuatan kamu yang sudah membuat Mas galau selama dua minggu" Jawab Denny yang sudah tak sabar membalaskan kekesalannya.
"Mas.. Ingat, anak kamu lagi nakal didalam, dan Mas jangan ikutan nakal" ucap Amyra mencoba melepaskan diri dari dekapan Denny.
Denny menggigit telinga Amyra, membuat Amyra menggelinjang karena geli.
"Lepasin, Mas.. Kamu masih sakit" ucap Amyra kembali mengingatkan.
"Sudah, Diam.. Jangan berisik. Setelah ini Mas pasti langsung sembuh" ucapnya yang langsung menyumpal bibir Amyra dengan bibirnya.
Kenakalan Denny mulai kambuh, Ia tak perduli meski Amyra masih mengomel, sebab Amyra masih merasakan suhu tubuh Denny masih sedikit panas karena demamnya belum total sembuh.
Namun Denny tak mengindahkan apapun yang dikatakan oleh Amyra. Ia semakin bersemangat terus untuk mencumbu Amyra.
"Jangan kasar-kasar, Mas.. Ingat ada calon bayi kita didalam" ucap Amyra akhirnya pasrah.
"Iya.. Bawel banget" bisik Denny, lalu melanjutkan pertempuran yang tertunda selama dua minggu lamanya.
Setelah mencapai puncak surgawinya, merasa puas karena sudah dapat membalaskan semua kenakalan Amyra yang telah nge-pranknya.
__ADS_1
Ia beranjak dari ranjangnya sembari beriul-siul dan menuju kamar mandi.
Amyra mengerutkan keningnya, melihat perubahan drastis suaminya yang tadinya masih terbaring lemah diranjang, kini sudah dapat tampak bugar berjalan dengan tegak.