
Zain menyusuri pematang sawah. Setelah cukup penuh perjuangan, akhirnya Ia sampai juga digubuk tersebut.
Zain duduk ditepian gubuk, menatap pria paruh baya yang kini tampak duduk dalam kebisuan.
"Terimakasih, Pak.. Sudah memberikan ijin saya tinggal dirumqh bapak dan juga perobatan untuk saya" ucap Zain membuka kesunyian.
Abdullah hanya menatap sekilas kepada Zain, lalu ia menatap nanar lurus kedepan.
Pria paruh baya itu menghela nafasnya dengan berat dan juga tampak ada beban yang begitu berat sedang dipikulnya.
"Apakah Kau sudah memiliki seorang istri?" tanya Abdullah dengan datar, wajahnya tanpa ekspresi.
Zain tersentak karena kaget mendengar pertanyaan dari pria paruh baya tersebut.
Zain merundukkan kepalanya "Tidak akan mungkin ada wanita yang ingin menjadi istriku dalam kondisi seperti ini" jawab Zain dengan lirih.
Abdullah melirik pemuda yang duduk dihadapannya. Ia menyadari jika Zain bukan cacat bawaan, melainkan cacat karena kecelakaan.
"Dapatkah Kau membalas semua kebaikan yang telah Ku berikan kepadamu selama ini?" tanya Abdullah dengan nada serius.
Zain semakin bingung dengan pertanyaan dari Abdullah, sebab Ia juga bingung dengan apa Ia harus membalas kebaikan dari pria itu.
"Jika saya mampu, saya akan melakukannya" jawab Zain berusaha untuk membalas kebaikan pria itu beserta puterinya.
Abdullah masih dalam tatapan nanarnya, Ia mencoba menyampaikan apa yang selama ini menjadi masalahnya.
"Saya memiliki sebuah penyakit yang sulit disembuhkan. Saya terkena penyakit jantung sudah sangat lama, dan umur saya sudah tidak lama lagi" jawab Abdullah dengan rasa yang begitu pesimis.
"Penyakit ini saya alami setelah dua tahun belakangan ini. Ini sebab dulunya saat saya muda suka meminjm dan memakan makanan yang merusak kesehatan saya" Abdullah menghela nafas beratnya.
Zain semakin merasa bersalah setelah mengetahui kesehatan Abdullah yang ternyata juga memprihatinkan.
__ADS_1
"Maafkan saya, jika ternyata telah merepotkan" ucap Zain semakin terpuruk.
Abdullah tampak diqm tak bergeming. Sepertinya Ia sedang berfikir untuk menyusun kata-katanya.
"Sebab dari itu saya ingin Kamu membalas budi baik, Saya" ucap Abdullah dengan nada dingin.
"Jika Saya mampu, maka saya akan membalasnya" jawab Zain mencoba membalas kebaikan Abdullah.
Abdullah menatap lekat pada Zain. Ia begitu menaruh sebuah harapan besar pada pemuda itu.
"Jika sampai pada waktunya umurku, sekesaikan fardhu kifayahku dengan sempurnah. Setelah itu, bawalah Khumairah pergi dari hutan ini, nikahi Ia secara legal dan berilah Ia cinta yang tulis dan menyayanginya" pinta Abdullah dengan seperti memberikan sebuah harapan agar Zain mengabulkan permintaannya.
Zain masih diam dalam kebisuan. Bagaimana mungkin seorang pria paruh baya dan mereka juga baru saja saling mengenal sudah meletakkan sebuah kepercayaan dipundaknya. Apalagi yang diamanahkan kepadanya adalah seorang gadis cantik yang sangat sangat menawan, oenuh kesederhanaan dan juga penuh pesona alami
"A...a..a..apakah ini mungkin? Sedangkan saya hanya seorang pria cacat, dan saya juga tidak memiliki uang dan juga keahlian dalam bertani" jawab Zain mencoba jujur dengan kondisinya saat ini
Abdullah menatap Zain penuh Makna. "Hanya Kamu yang ada disini dan hanya Kamu harapan saya untuk membawa Khumaitra keluar dari hutan ini dalam menghadapi hidup sebenarnya" jawab Abdullah dengan penuh harapan yang sangat besar.
Rambut ikal mayang, bola mata hitam yang terlihat besar, serta pahatan tubuh yang tampak sempurnah dari mahakarya sang Kebesaran Tuhan.
Zain tentu tidak akan menolaknya, namun semua itu apakah tidak akan membuat sang gadis menolak pria sepertinya.
"Apakah Khumairah akan menerima kekurangan saya?" tanya Zain sembari merundukkan kepalanya.
Abdullah kembali menatap pemuda itu "Hanya kamu harapan saya, keluarkan Ia dari hutan ini, dan bahagikan hidupnya" pinta Abdullah.
"Tetapi saya tidka memiliki harta untuk membahagiakan anak Bapak"jawab Zwi berterus terang.
"Jika saya sampai azalnya, bukalah sebuah kotak dibawah dipan kayu yang ada dibawah tempat tidurmu. Disana saya ada menyimpan bbeerepa perhiasan, juallah, dan mulailah hidupmu dengan Khumairah" jawab Abdullah dengan penuh harapan.
Zain menganggukkan kepalanya, siaaa juga yang bisa menolak gadis secantik Khumairah, apalagi gadis itu begitu lihai dalam hal urusan rumah gangga, dan tentunya juga masih original, tanpa tersentuh tangan siapapun.
__ADS_1
Abdullah kini merasa lega. Ia tidak lagi merasa terbebani jika saatnya Ia sudah tiada. Sebab tidak mungkin Khumairah tinggal sendiri didalam hutan belantara yang tampak begitu sangat menyeramkan bagi seorang gadis.
Zain merasa jika Ia mendapatkan sebuah anugerah yang sangat indah dari sang Maha pencipta alam semesta.
"Baiklah.. Kesepakatan telah Kita buat, dan saya berharap jika kamu tidka mengingkarinya, dwn berusaha untuk amanah" ucap Abdullah, lalu Ia beranjak dari gubuknya, dan berjalan menuju pematang sawah untuk menyiangi rumput yang tampak meninggi.
Zwin memperhatikan pria paruh baya itu dengan seksama. Zain meyakini jika dahulunya Abdullah adalah seseorang yang memiliki masalah dengan hukum sama sepertinya, dan pria itu melarikan diri serta mengungsi ditempat ini lalu membangun rumah tangga dalam kesunyian hutan belantara.
Sementara itu, Khumairah sudah selesai mencuci piring dan juga mandi.
Gadis itu menyusun piring ditempat rak piring yang terbuat dari kayu. Bahkan piring mereka banyak terbuat dari tempurung kelapa yang dipahat dengan tangan penuh seni kualitas tinggi, dan tentunya Abdullah adalah orang tersebut.
Setelah selesai menata piring-piringnya, Khumairah menciba mengganti pakaiannya dikamar sebelah yang bersebelahan dengan kamar yang ditempati oleh Khumairah.
Zain berjalan tertatih menuju rumahbtua yang berayapkan daun nipah atau daun sagu atau juga ada yang menyebutnya rumbia.
Zqin mencapai rumah itu dengan bersusah paya. Ia memasuki kamar untuk beristirahat.
Saat melintasi kamar Khumairah, Ia tanpa sengaja melihat gadis itu dari celah pintu yang hanya tertutup menggunakan kulit binatang yang dijahit seperti tirai pintu.
Meski hanya sekilas saja, Ia dapat melihat jika begitu sangat putih dan halusnya kulit sang gadis.
Zain menelan salivanya, namun Ia harus mawas diri, sebab Ia tinggal dirumah orang yang sudah menolongnya.
Darah Zain berdesir membayangkan hal tersebut. Ia sudah beberapa kali mencicipi gadis belia dan juga original, namun Khumairah sangat berbeda, gadis itu memiliki oesona lain yang tersembunyi.
"Sepertinya harus cepat dihalalin, agar tidak merasa penasaran" Zain berguman dalam hatinya.
Kini Ia semakin lama semakin membuka hati untuk sang gadis.
Ternyata benar apa yang dikatakan oran, jika patah hati itu akan sembuh bersama seiring waktu berjalan, dan move on itu akan tumbuh saat menemukan pengganti yang dapat membuat sekeping hati merasa nyaman.
__ADS_1
Jika semua telah hadir didalam hati dan jiwa seseorang yang mengalami patah hati.. Maka semuanya akan terasa bersemi kembali.