Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
episode 282


__ADS_3

Amyra meyakini jika pria yang Ia lihat tadi itu adalah Zain. Namun sejak kapan Ia menikah? Dan apakah Ia meniakh saat pelariannya dari dalam penjara?


Amyra menerka-nerka, sembari sesekali meringis menahan sakit diperutnya.


Namun Ia masih bingung mengapa Denny sang suami tak tampak menjenguknya diruangan VVIP yang disediakan dengan mewah untuknya.


Namun semua sunyi tanpa ada yang menemaninya. Tante Renata janji datang hari ini, namun sepertinya Ia juga sedang tak enak badan karena sedang mual sebab mengandung.


Saat Ia sedang dalam kegalauan, tiba-tiba pintu terbuka, dan tampak Denny memasuki ruangan untuk menjenguknya.


"Mas kemana saja?"omelnya dengan kesal karena ditinggal sendirian sejak dari ruang UGD hingga menunggu antrian operasi.


Denny mengecup kening Amyra, jurus paling ampuh menghentikan omelan Amyra.


"Maaf, ada sedikit masalah yang harus diselesaikan" jawab Denny sembari menggegenggam jemari Amyra dan tidak menyebutkan secara spesifik masalah apa yang Ia maksudkannya.


Amyra tersenyum tipis, dan senyum itu berganti dengan ringisan diwajahnya saat rasa sakit dan nyeri itu mendera rahimnya.


Denny membelai lembut kepala sang istri "Bersabarlah, ada pasien yang lebih diutamakan karena posisinya lebih kritis dan janinnya juga dalam bahaya" ucap Denny sembari memberi kekuatan kepada sang istri.


Denny memberikan kecupan dijemari Amyra, setiap kali wanitanya meringis menahan sakit. Ia berharap agar giliran Amyra segera tiba, dan operasi untuk istri Zain berhasil dengan baik dengan Ibu dan janinnya selamat.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pintu dibuka oleh dua orang perawat "Ibu Amyra, kita ke ruang operasi sekarang" ucap seorang perawat yang kemudian menghampiri ranjang troli. Denny kemudian beranjak dari duduknya dan mempersilahkann perawat membawa Amyra ke ruang operasi.


Ia mengekori dari arah belakang, dan sudah mendapat ijin untuk memasuki ruang operasi menyaksikan Amyra untuk dibedah.


sementara itu , Zain berada dikamar mandi, menatap sebuah cermin dengan sangat fokus. Sedangkan Khumairah merasa tak sabar ingin melihat kembali puteri mungilnya yang tadi sempat Ia kecup meskipun hanya sebentar.


Tak berselang lama Zain keluar dari kamar mandi. Lalu menghampiri Khumairah yang masih tampak termenung memikirkan sang bayinya yang belum dapat Ia lihat dan Ia dekap dengan puas.


Zain menghampiri Khumiarah, dan menyentuh sang wanita.


Seketika Khumaira tersentak kaget melihat seorang pria Asing disisinya sembari menyentuh jemari tangannya.

__ADS_1


"Siapa, Kau?!" ucapnya dengan nada gemetar dan ketakutan, sebab Ia tidak pernah mengenal pria tersebut. Meskipun pria tampak lebih tampan dan berpenampilan maskulin, namun bukan berarti Ia mau disentuh oleh sembarang orang.


Pria itu tersenyum, menatap tingkah Khumairah yang ternyata tak mengenalinya dan Ia juga bangga ketika mengetahui sang istri ternyata menjaga kehormatannya dengan tidak ingin disentuh oleh pria lain.


"Ini, Mas.." ucap Zain dengan senyum termanisnya, lalu memperlihatkan kantong plastik transparan yang berisi potongan rambut dan juga cukuran jambang, jenggot dan juga kumisnya.


Khumairah terperangah melihat perubahan wajah drastis suaminya yang ternyata dibalik kesan seram dan dekilnya itu ternyata sang suami sangatlah tampan.


"Benarkah?"


Zain menganggukkan kepalanya "iya, Dik Mai" jawab Zain mencoba meyakinkan sang istri.


Mendengar Zain menyebut nama panggilannya, Kini Khumairah meyakini jika pria tampan dihadapannya itu adalah suaminya.


Ia baru menyadari jika suaminya ternyata berwajah tampan dan itu baru Ia ketahui saat ini. Ia tidak mengerti mengapa sang suami menyembunyikan semua itu darinya, namun apapun itu, baginya Zain adalah cinta pertama dan terakhirnya.


Diruangan operasi yang dingin, terdengar suara tangisan bayi laki-laki yang sangat begitu menggemaskan. Sang ibu menitikkan air mata harunya yang sudah terpendam sejak tadi.


Meskipun ini adalah anak ketiganya, namun kelahiran kali ini sangatlah berbeda, sebab Denny menungguinya dengan menyaksikannya semua prosesnya.


"I love U, Sayang.. " bisiknya dengan lirih dan tulus ditelingah sang istri, yang mana kalimat itu membuat Amyra begitu merasa tersanjung.


Senyum manis mengembang diwajahnya, dan Ia membalasnya "I Love U to" dengan raut wajah sumringah.


Lalu tanpa terasa dokter, telah menyelesaikan jahitan di bekas operasinya.


Da kini sang baby boy sudah siap diberikan kepada Amyra untuk mendapatkan ASI pertamanya yang mengandung coloustrum yang mana terdapat berbagai nutrisi dan systim imun alami untuk sang bayi.


Amyra telah mencoba memberikan ASI nya meskipun belum begitu lancar dan harus dibantu oleh susu formula.


Disisi lain, Khumairah menyentuh pipi Zain dengan jemarinya. "Ternyata kamu tampan, Mas.. Mai tidak pernah menduganya" ucapnya dengan senyum tipis yang menghiasi bibirnya.


Zain merasa tersanjung mendengar sang istri memujinya sembari menggenggam jemari tangan Khumairah yang kini berada dipipinya.

__ADS_1


Tiba-tiba Khumairah merasakan payu- daranya serasa bengkak dan sakit. Sepertinya ASI itu meminta untuk dikeluarkan.


Ia meringis dengan wajah sendunya sembari merapatkan gigi-giginya.


"Ada apa, Sayang? Apa yang sakit?" tanya Zain dengan cemas.


Khumairah menunjuk arah payu- daranya yang membengkak dan merembes cairan ASI yang mendesak meminta untuk di salurkan.


Zain memandangnya "Sebentar, Ya.. Mas panggilin perawat" ucap Zain sembari beranjak dari duduknya dan keluar menemui perawat untuk meminta bantuan.


Setelah menemukan perawat, Ia memanggilnya dan memberitahukan apa yang kini dialami sang istri.


Perawat itu menganggukkan kepalanya dan mengatakan agar segera melihat kondisi Khumiarah.


Zain kembali ke ruangan sang istri. Lalu menyampaikan kepada Khumairah jika perawat akan segera datang membantu.


Tak berselang lama, perawat datang dengan membawa satu buah pompa ASI dan dan sebotol dot ukuran kecil untuk menjadi wadah ASI.


Lalu perawat itu menutup kain tirai pembatas agar tidak dilihat pasien lainnya.


"Tolong bantu pompa ASI istrinya, Ya Pak.. Caranya seperti ini" lalu perawat itu mentutorialkan caranya kepada Zain dengan melepas Braa Milik Khumairah.


"Nanti kalau ASI nya sudah penuh, tolong bapak antarkan kepada saya diruangan yang tadi bapak bertemu dengan saya. Sebab Anak bapak dan Ibu belum dapat dibawa keluar dari ruang inkubator.." perawat itu menjelaskan.


Lalu Zain menganggukkan kepalanya dengan pertanda mengerti.


Amyra dibawa keruangan VVIP, dan perawat mendorong ranjang troli keruangan tersebut. Sementara itu Denny keluar ke apotik menebus obat untuk pasca operasi, agar setelah bius menghilang, Amyra tak merasakan perih, panas dan juga denyutan.


Saat melintasi koridor, Zain yang membawa botol susu ke ruang perawat yang dekat dengan ruang inkubator sekaligus ingin menjenguk sang puteri, troli ranjang Amyra melintas dari arah berlawanan.


Dan saat Zain melintasinya, Amyra melihatnya dengan sisi sampingnyanya. "Zain.." gumannya lirih dalam hati, dan Ia melihat pria itu membawa botol dot berisi ASI menuju ke ruang perawat.


Namun pria itu tak melihatnya, karena sepertinya tampak terburu-buru dengan urusannya.

__ADS_1


"Berarti dugaanku benar.. Yang kulihat tadi adalal dirinya. Semoga saja Ia dapat menjalani hidupnya dengan baik" guman Amyra yang lalu menghilang dibalik pintu saat perawat membanya ke ruangan VVIP nya.


Dalam hatinya Ia merasa lega, akhirnya Zain menemukan cinta sejatinya, itu tandanya jika pria itu telah move on dan dapat menerima kenyataan jika mereka bukanlah jodoh.


__ADS_2