Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
episode 267


__ADS_3

Malam menunjukkan pukul 11 malam. Zain berpamitan kepada Khumiarah untuk mengangkut barang-barang mereka yang ditinggalkan dirumah kontrakan yang lama.


Zain memutar arah, dan mencari jalan lain yang berbeda. Setelah memastikan semua aman, Zain mencoba memindahkan barang-barangnya ke bak mobil, meskipun orang-orang sekitar yang masih membuka pintu rumah memperhatikannya.


Zain tak perduli dengan cibiran warga yang pindah rumah dengan cara mendadak dan juga terkesan terburu-buru.


Setelah memastikan tak ada barang yang tertinggal, Zain membawa seluruh barang pindahan miliknya ke rumah kontrakan yang baru.


Sesampainya dirumah tersebut, Ia mengangkutnya ke dalam rumah hingga selesai pukul satu malam.


Khumairah mencoba membantu dengan apa yang bisa Ia bawa meskipun hanya barang-barang yang ringan saja.


Khumairah membentangkan kasur lipat yang tipis untuk alas tidur mereka dan itu sudah sangat bersyukur, sebab beberapa hari ini mereka tidur beralaskan tikar saja.


Setelah menyelesaikan segalanya, mereka akhirnya beristirahat untuk menghilangkan rasa lelah dan juga penat yang mereka rasakan.


Jika melihat ke masa lalu, tentu Zain akan tidur di ranjang empuk dan ruangan mewah yang ditemani para gadis remaja yang Ia bayar hanya untuk mengambil kepera-wanannya saja.


Namun saat ink berbeda, hanya beralaskan kasur tipis dan juga seorang istri polosnya Ia merasakan hidupnya begitu damai.


Ia memeluk sang istri yang kini telah menemaninya dalam setiap kesulitan hidupnya, meskipun sejatinya sang istri tidak mengetahui masa lalu sang suami yang begitu kelam.


Khumairah terlelap dalam dekapan hangat seoarang pria yang kini berusaha untuk menapaki hidupnya ke arah yang lebih baik.


Zain mengingat sesuatu, jika Ia pernah memiliki sebuah apartemen yang Ia beli saat hasil dari merantau dan berniat akan dihadiahkan sebagai kado pernikahannya untuk Amyra.


Namun semua itu diluar dugaannya dan Ia harus kecewa saat mengetahui sang pujaan hati telah menikah dengan orang lain.


Zain terdiam dalam sepinya. Ia berniat akan melihat apaertemen tersebut dan Ia menyimpan surat-suratnya di deposite box pada sebuah Bank.


Namun Zain tidak dapat mengambilnya saat ini jika Ia masih dalam Daftar Pencarian Orang.


Ia akan menyelesaikan kasusnya jika Khumairah telah melahirkan nanti dan akan menjual apartemennya, lalu membeli lahan padang rumput yang diinginkan oleh Khumairah dan membangun sebuah rumah sederhana disana untuk Ia hidup bersama istri dan anak-anaknya kelak.


Ia membelai rambut Khumairah. Ia merasa iba jika Khumairah harus mengalami kesulitan hidup selama bersamanya.


Selama hidupnya ditengah hutan, Ia tidak pernah merasakan kesulitan ataupun kekurangan apapun juga.


Jika hanya makan dan tempat tinggal, Ia selalu tercukupi meskipun segalanya mereka dapatkan dari hasil pertanian dan alam yang menyediakannya.


Kini Khumairah harus ikut merasakan kerasnya kehidupan kota yang mana Ia tidak pernah mengalami sebelumnya.

__ADS_1


Zain tersentak saat janin didalam kandungan Khumairah menendangnya, terlihat siku tangannya menonjol di bagian perut Khumairah.


Zain memegangnya, lalu tonjolan itu menghilang, dan berpindah ke tempat lain.


Zain tersenyum melihat pergerakan lincah sang calon bayi yang tampak mengajaknya bermain ditengah malam yang sepi.


Ia kembali memegang tonjolan itu, lalu membelainya lembut, lalu kembali menghilang. Zain tertawa geli, Ia merasa jika sang calon bayi sedang mengajaknya main petak umpat.


Pria itu tampak bahagia, melihat kelincahan sang calon bayi yang tampak begitu sangat aktif. Masih didalam kandungan saja sudah membuatnya terhibur dan melupakan sejenak rasa lelah yang tadi menderanya, apalagi jika Ia hadir ke dunia, tentu akan menjadi pelipur lara dalam kehidupannya kelak.


Zain akhirnya tertidur saat janin itu juga berhenti bermain.


*****


Pagi menjelang. Khumairah telah bangun dari tidurnya dan membuat sarapan apa adanya.


Zain menggeliatkan tubuhnya, dan melihat Khumairah menyediakan sarapan dan juga secangkir kopi untuknya.


Ia mengecup lembut kening sang istri dan beranjak untuk ke kamar mandi membersihkan dirinya.


Setelah selesai Ia kembali menghampiri Khumairah dan menyantab sarapannya beserta secangkir kopi panasnya.


"Mas.. Apakah Kita akan buka warung disini?" tanya Khumairah sembari menyantab sarapannya.


Ia melirik phonselnya untuk melihat tanggal yang tertera dan kapan akan mulai berdagang keliling.


Sesaat Ia terdiam, menatap layar phonselnya. Hari ini adalah hari ulang tahun sang istri. Meskipun Khumairah tidak mengerti makna dari perayaan ulang tahun tersebut, namun Zain ingin memperingatinya, meskipun hanya kecil-kecilan dan hanya mereka berdua yang merayakannya bersama si calon bayi aktif.


"Mas.. Mas...mengapa melamun?" sapa Khumairah yang melihat Zain tampak terdiam.


Zain tersentak, dan Ia menatap Khumairah dengan senyum tipis.


"Tidak apa-apa, hanya sedang memikirkan sesuatu saja" jawab Zain cepat dan menyelesaikan sarapannya.


Khumairah hanya membalas dengan senyum termanisnya, senyum yang selalu membuat Zain merasa nyaman.


"Mas mau keluar sebentar, kamu kunci rumah dari dalam, sebab kita belum mengenal lingkungan ini dengan baik" ucap Zain mengingatkan.


Khumairah menganggukkan kepalanya "Jangan lama-lama y, Mas?" ucap Khumairah dengan nada khawatir.


"Iya, Dik.. Mas usahakna cepat kembali" jawabnya dengan cepat, lalu beranjak keluar dari dalam rumah dan mengendarai mobilnya mencari toko yang menjual cake and bakery.

__ADS_1


Setelah jauh melintasi jalanan, Ia akhirnya menemukan toko tersebut dan memesan sebuah cake blackforest berukuran kecil dan menuliskan My Honey dan membayarnya.


Setelah itu Ia mencoba mencari pedagang buah untuk membeli mangga kesukaan Khumairah, namun Ia terhenti saat memandang sebuah toko yang mengusik hatinya.


****


Zain membawa cake itu dengan hati yang sangat bahagia dan sebuah bag paper bwrwarna coklat. Ia mengetuk pintu rumah dan tampak Khumairah baru saja selesai mandi.


Zain mengunci pintu rumah, lalu membuka kotak cakenya dan memperlihatkannha kepada Khumairah.


"Happy birthday My Honey" ucap Zain sembari mengecup kening Istrinya.


Khumairah menatap heran, bahkan Ia tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Zain, dan tentunya Zain juga sudah menduganya.


"Mas ngomong apaan?" tanya Khumairah dengan wajah polosnya.


"Selamat ulang tahun buat kamu, dimana Mas merayakan hari kelahiran kamu, Sayang" ucap Zain mencoba menjelaskan, meskipun istrinya itu tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh suaminya.


"Ya sudah.. Ini mari Kita cake nya.." ucap Zain lalu mengambil pisau cutter dan memotong cake tersebut, lalu menyuapkannya kepada Khumairah.


"Semoga panjang umur, sehat selalu, menjadi istri sholeha, dan juga melahirkan dengan selamat ibu dan bayinya" Doa Zain kepada Khumairah.


Wanita itu mengaminkan apa yang diucapkan oleh Suaminya, lalu membuka mulutnya dan menerima suapan dari Zain.


"Emm.. Enak Mas.. Ini apa namanya?" tanya Khumairah, yang pastinya baru kali ini memakan Cake tersebut.


"Blackforest" jawab Zain dengan cepat.


"Haaah...? Apa tadi Mas?" Khumairah meminta Zain mengulanginya lagi.


"Cinta" bisik Zain ditelinga Khumairah. jikapun mengulangi kata itu lagi akan membuat lidah Khumairah keseleo.


"Ooo.. Jawab Khumairah, lalu bergantian menyuapkannya kepada Zain, dan pria itu menerima suapan sang istri.


Tanpa diduga, Khumairah hampir menghabiskan cake itu sendirian. Zain hanya tersenyum geli, sebab Ia faham jika Istrinya belum pernah memakan cake tersebut.


Setelah merasa kenyang, Khumairah menyudahinya. Lalu Zain memberikan paper bag itu kepada Khumairah.


"Bukalah, ini hadiah untuk kamu Sayang" ucap Zain dengan senyum tulus.


Khumairah yang merasa penasaran lalu membukanya, dan Ia terperangah, lalu mengeluarkan isinya.

__ADS_1


"Makasih, Mas." ucapnya dengan senyum kebahagiaan dan mendekap pakain yang pernah Ia inginkan waktu itu.


"


__ADS_2