
Selesai dengan kegiatannya Kemal kembali pulang dan dia menuju ke rumah neneknya untuk bertemu dengan nenek dan kakeknya serta Arlan. Terlihat Kemal sangat lelah setelah latihan karena bulan depan akan ada pertandingan antar sekolah untuk tim basketnya.
"Assalamualaikum, Lan." panggil Kemal pada adiknya
"Kakak." Arlan langsung lari menghambur dalam pelukan sang kakak
"Ih bau" Arlan mengurai pelukannya dan menutup hidungnya karena bau keringat Kemal
"Kenapa kau tak suka hah, Hem ini rasakan." Kemal bukannya mengindari dia justru memasukkan kepala adiknya kedalam kaos dan menekannya di perutnya.
"Kakak bau, aku gak suka" Arlan berontak namun Kemal tak melepaskannya.
Gelak tawa Arlan terdengar sangat ceria, dua saudara itu tak terlihat kalau mereka adalah saudara angkat, karena Kemal memperlakukan Arlan seperti adik kandungnya sendiri karena selama ini yang merawat Arlan adalah Kemal saat sang mama menghilang dan papanya sibuk dengan mama palsunya yang hilang ingatan.
"Ya ampun ini anak, hei Arman jangan begitu sama adikmu dia bisa kehabisan nafas nanti." nyonya Tias yang dari dalam memarahi Kemal
"Nek." Kemal mendekat dan mencium tangan nenek Tias.
"Ya ampun baumu asem sekali, sana pergi mandi dulu." Nyonya Tias menutup hidungnya dan menyuruh Kemal untuk mandi
"Aku ambilkan baju ganti ya." Arlan menawarkan diri untuk mengabulkan baju untuk kakaknya, dan membongkar isi tas yang tadi di bawah Kemal
Nyonya Tias menatap dan tersenyum melihat tingkah Arlan yang dengan susah paya menarik tas milik Kemal dan juga miliknya lalu membuka tas itu dan memilihkan baju untuk Kemal. Dengan setiap Arlan menunggu Kemal selesai mandi dan duduk di depan kamar mandi sambil membawah baju ganti kemal.
"Terima kasih." Kemal mengusap kepala Arlan saat dia keluar dari kamar mandi dan kembali masuk untuk ganti baju.
"Dimana papa dan kakek nek." tanya Kemal pada nyonya Tias saat dia telah selesai mandi dan ganti baju.
"Entahlah mereka pergi kemana tadi." Nyonya Tias menyiapkan makan malam untuk keluarganya.
"Kakak capek." Arlan mendekati Kemal yang duduk di sofa dan memijit pahu Kemal
"Hem, apa ada yang ingin kau minta dari ku boca tengil." Kemal mendongak dan menatap Arlan
"Cium." dengan polos Arlan menjawab
"Oho...sini kau anak nakal." Kemal pun menghujani ciuman di wajah Arlan dan gelak tawa Arlan kembali menghiasi seluruh rumah itu.
"Hem, aku merasa sangat bahagia bi melihat mereka berdua akhirnya ceria seperti itu." ucap nyonya Tias Sabil masak
__ADS_1
"Benar Bu, dulu jangankan senyuman bahkan ucapan sepatah kata pun tak pernah keluar dari bibir mas Arlan, dia hanya diam dan tak bergerak dari posisinya." jawab bi Asih
"Ya syukurlah sekarang Fairi telah kembali dan membuat anak - anak ceria lagi, dia memang ibu yang sangat baik. Bahkan anak yang dia besarkan saja bisa mengenalinya walau wajahnya telah berubah. Kasih sayangnya sungguh nyata dan tulus." Nyonya Tias memuji kebaikan Fairi
Ketika malam tiba Kenan yang sudah sibuk sejak datang selalu memberikan waktu untuk anak - anaknya, dan dia tetap berada disekitar mereka walau dengan kesibukannya dan tumpukan berkas pekerjaannya. Arlan yang bermain disekitarnya dan sesekali mendekatinya untuk bertanya padanya pun selalu direspon dengan baik dan diberikan kecupan hangat sehingga Arlan merasa tak kehilangan waktu dengan papanya.
"Bagaimana dengan yang ini saja Ken, aku rasa yang ini mungkin bisa dipelajari lagi." Farid
"Apa menurut mu begitu?" Kenan
"Hem, aku rasa begitu. Bagaimana Gus." Fairi
"Wah kalau saya sih setuju saja pak, karena lokasinya juga bagus dan sangat mendukung." Agus
"Adikmu sudah tidur." Kenan bertanya pada Kemal yang masuk kedalam ruang kerjanya.
"Sudah, barusan." Kemal duduk di sofa dan memperhatikan papanya serta om Farid dan Agus bekerja.
Sesekali Kemal tersenyum melihat papanya yang terlihat sangat lelah, Kemal menunggu papanya selesai bekerja dengan membaca buku tentang bisnis karena dia memang sedang belajar bisnis dengan papanya. 1 jam berlalu dan Kemal telah terlelap di sofa dengan damai.
"Oh dia tertidur pulas, lihatlah dia sungguh sangat mirip dengan mamanya dan dia adalah Fairi versi cowok." Farid tersenyum melihat Kemal yang tertidur dengan memeluk buku di dadanya, dan memuji kemiripannya dengan Fairi.
"Selamat malam pak." Agus
"Hem, hati - hati dijalan." Kenan
Kenan tersenyum dan menatap Kemal yang tertidur pulas, perlahan Kenan mengambil buku dari pelukan Kemal, "dia sungguh sangat mirip dengan Fairi, alisnya yang tebal, bulu matanya yang lentik, hidung mancung dan bibinya yang terlihat penuh serta seksi. Bahkan tak ada sedikitpun yang mirip dengan ku. Sampai kebaikan dan ketegasannya pun semua milik Fairi."
Kenan mengusap rambut kemal yang menutupi matanya, "kau sungguh beruntung telah terlahir dan menjadi putra Fairi. Lihatlah bahkan tahi lalat dibawah matamu pun juga sama dengannya, Farid benar kau adalah Fairi versi cowok karena kau sungguh sangat mirip dengan dia, dan tak ada bagian darimu yang kau miliki." Kenan tersenyum dan menghela nafas
"Tidak semua aku mirip dengan mama, setidaknya aku masih memiliki kemiripan dan kesamaan dengan papa, yaitu mencintai wanita yang sama Fairi Ayu Larasati" Kemal membuka matanya dan menatap Kenan.
"Apa aku membangunkan mu, kalau begitu pindah ke kamarmu sekarang." Kenan bangun dan membereskan meja kerjanya.
"Kenapa papa merubah topik. Aku benar kan pa, kalau papa mencintai mama." Kemal melihat Kenan yang masih sibuk
"Pa, tidak ada salahnya jika papa memang mencintai mama. Aku tak memaksa papa untuk bersama dengan mama dan juga tak akan memaksa papa untuk memilih. Karena dengan keadaan seperti saat ini saja aku sudah merasa sangat baik dan bahagia, tapi aku ingin melihat kalian juga bahagia.au sampai kapan papa akan memendam semua perasaan papa. Bukankah sejak awal aku sudah bilang kalau mama adalah wanita yang baik dan berhati lembut."
"Tapi jika perasaan papa pada mama berubah karena perubahan wajah mama aku tak akan memaksa papa."
__ADS_1
"Tidak, bukan karena itu. Sejak awal hingga sampai sekarang aku tetap mencintai mamamu. Dulu aku terlalu bodoh untuk menyadari perasaan itu, karena aku berfikir itu hanyalah perasaan nyaman karena kami telah tinggal bersama dalam waktu yang lama. Tapi sejak saat dia mengirimkan surat cerai aku baru menyadari kalau itu adalah cinta." Kenan berbalik dan tertunduk, dia menghela nafas dalam.
"Sungguh konyol, aku memintanya untuk menerima wanita lain dan mempertahan kan dia karena aku merasa membutuhkannya."
"Aku sungguh bajingan saat itu, tapi aku tak bisa menyangkal kalau sejak waktu itu aku mulai menyadari kalau perasaan ku padanya adalah benar - benar rasa cinta."
"Bagaimana papa tau kalau itu cinta." Kemal menatap Kenan yang berdiri sambil nunduk didepan meja kerjanya.
"Karena saat mamamu pergi dan menghilang aku merasa ada yang kosong dalam diri ini, dan saat aku melihat Melinda istri kedua ku selingkuh dengan saudaranya didepan mata kepala ku sendiri itu tak mempengaruhi apa pun, justru rasa kehilangan atas kepergian mamamu lah yang muncul semakin besar bersama dengan rasa menyesal yang sangat dalam"
"Pa tidak apa, walau terlambat menyadarinya setidaknya papa sudah berusaha untuk menjadi lebih baik sekarang." Kemal membawah Kenan duduk di sofa.
"Aku tau papa selama ini sangat berusaha keras untuk merubah diri papa, dan aku tak menyalakan papa untuk itu. Karena aku yakin pada waktu itu situasinya pasti berbeda dengan sekarang."
"Maafkan aku karena telah membuatmu tumbuh tanpa tau siapa papamu, dan mengabaikan mu saat Tyas datang dengan wajah mamamu yang sungguh sangat ku rindukan. Waktu itu papa benar - benar gila dan hilang akal karena Tyas yang menyerupai mamamu menerima semua perasaanku yang telah meluap hingga 12 tahun lamanya." Kenan menatap Kemal dan menggenggam tangan Kemal
"Tak apa pa, aku mengerti dan juga tau kalau papa sungguh sangat mencintai mama. Tapi mama yang sekarang bukanlah mama dengan wajah yang papa rindukan itu. Apakah perasaan papa masih tetap sama padanya." Kemal mencari tau perasaan Kenan
"Papa mencintai karakter dan juga kebaikannya, kalau pun wajahnya berubah dan dia jadi lebih cantik itu adalah bonus. Tapi tetap saja papa merasa sedikit aneh."
Kemal tersenyum lalu dia terbahak hingga membuat Kenan yang termenung kaget dan mengerutkan keningnya.
"Maaf pa maaf, memang mama yang sekarang terlihat lebih muda, tapi dia tetaplah mama. Dan aku bisa merasakan kalau dia adalah mamaku yang dulu."
"Jadi pa, kalau memang papa masih mencintai mama kejarlah dan dapatkan hatinya. Apa pun pilihan mama dan papa pada akhirnya nanti aku akan tetap ada untuk kalian berdua."
Kemal tersenyum dan memeluk Kenan dengan erat, dan Kenan membalas pelukannya sama eratnya
"Terima kasih sayang, kau sungguh dibesarkan dengan sangat baik oleh Fairi."
"Ya dia adalah wanita dan juga mama yang kuat dan tegar." Kemal mengurang pelukannya dan menatap Kenan.
"Dia memang sangat luar biasa, itu sebabnya aku sangat mencintainya." Kenan menepuk bahu Kemal
"Baiklah, selamat berjuang. Aku tidur dulu, dan papa juga harus cepat tidur. Selamat malam pa." Kemal bangun dan pergi
"Selamat malam sayang."
"Dia sungguh putra yang sangat luar biasa, bahkan aku tak pernah menyangka kalau aku akan ada dititik aku berdiskusi tentang kehidupan cintaku dengan putraku. Sungguh aku sudah tua sekarang."
__ADS_1
Kenan bergumam dan tersenyum sendiri lalu dia termenung dan mengingat semua kata - kata Kemal. Kenan juga memikirkan tentang perasaannya pada Fairi yang semakin hari semakin mendalam.