Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Bab 39


__ADS_3

"Sekarang apa mas Kenan sudah faham dengan penjelasan saya dari tadi? Karena jika mas Kenan masih bingung bapak akan menjelaskan lagi sampai mas Kenan benar - benar faham dan tidak akan salah dalam mengartikan pengertian antara qadha dan qadar." jelas pak ustad


"Sudah pak ustad, saya sudah paham dan terima kasih untuk hari ini." Kenan menyalami pak ustad yang hendak pulang.


"Baiklah, kalau begitu kita akan bertemu lagi Kamis depan. Saya pulang dulu, assalamualaikum." Pak ustad pun pamit.


"Iya waalaikumsalam." jawab Kenan untuk salam pak ustad.


Tak berselang lama sepulangnya pak ustad tuan Bram dan nyonya Tias sampai di rumah Kenan. Terlihat rumah itu sedikit sepi tak seperti dulu dan beberapa tanaman bunga yang dulu ada dihalaman rumah banyak yang hilang atau mati. Nyonya Tias berjalan dan menatap sedih pada rumah itu, karena dulu saat dia datang pasti Fairi akan menyambutnya dengan senyuman yang merekah indah dan lari untuk bisa segerah memeluk dirinya, namun saat ini sampai berjalan didepan pintu tak ada senyum menantu kesayangannya lagi.


"Nyonya, tuan. Kalian sudah datang? Mas Kenan baru saja selesai pengajiannya dan sekarang sedang mandi, silakan masuk nyonya, tuan." Bi Ningsih menjelaskan.


"Pengajian?" Nyonya Tias menatap bingung.


"Iya, nyonya. Sudah 1 bulan ini setiap seminggu sekali mas Kenan akan belajar dengan pak ustad, dan hari ini tadi baru saja selesai dan Ayub sedang pergi mengantar pak ustad pulang." jelas bi Ningsih


"Pa, putra kita akan kembali pada jalannya." Nyonya tias berkata dan menatap suaminya.


"Ya, semoga saja dia akan selalu berada dijalan yang benar ma, kita doakan saja kebaikan untuknya." jawab tuan Bram.


"Kalau begitu apa dia sudah makan malam bi? Kalau belum aku ingin memasak untuknya." Nyonya Tias sangat antusias.


"Ini saya baru mau bikin nyonya, karena tadi mas Kenan minta dibuatkan sup jagung ayam." jawab bi Ningsih


"Ya sudah, biar aku yang buatin." Nyonya Tias langsung bergegas ke dapur dan bi Ningsih membantu menyiapkan bahannya.


30enit kemudian Kenan telah selesai mandi dan berganti baju, saat Kenan keluar dan turun dari tangga dia sangat terkejud melihat mama dan papanya sudah duduk di meja makan menunggu dirinya. Kenan tersenyum dan langsung menghambur ke pelukan sang mama yang selama 1 tahun setengah itu mengabaikan dirinya.


"Maafkan Kenan ma, tolong maafkan Kenan." Kenan memohon maaf sambil memeluk mamanya.


"Putraku," nyonya Tias memeluk hangat Kenan "Dasar anak tak tau diuntung, tak tau diri dan berandalan tak berotak." seketika nyonya Tias memukuli Kenan dan mencaci maki Kenan habis - habisan karena dia tak ingin berlarut dalam kesedihan.

__ADS_1


"Ah, iya, iya ampun. Maaf Kenan sudah tau salah ma. Kenan akan membawah kemabli Fairi, kembali ke rumah ini." Kenan terduduk dilantai dan melindungi kepalanya dengan kedua tangannya dari serangan sang mama.


Nyonya Tias berhenti memukul, "Tak akan mudah sesuai dengan apa yang kau katakan Kenan." ucap nyonya Tias dan kembali duduk di kursinya


"Kenan tau ma, tapi Kenan akan berusaha. Setidaknya Kenan akan berjuang keras, namun jika akhirnya tak bisa kembali bersama Kenan akan terima karena semua adalah salah Kenan." Kenan menjawab dan berjalan mendekati papanya.


"Tolong maafkan Kenan pa." Kenan berdiri disamping papanya dan dengan cepat tuan Bram bangun lalu memeluk Kenan.


"Kau harus jadi orang yang baik dan jauh lebih baik lagi, teruslah berusaha." ucap tuan Bram sambil menepuk punggung Kenan lembut.


"Sudah ayo makan dulu, mama sudah masakin sup jagung ayam seperti yang kau minta pada bibi tadi." Nyonya Tias berkata dan mereka bertiga pun makan malam bersama dengan senang.


"Kenan papa datang kemari sebenarnya ingin menyerahkan berkas ini pada mu." Tuan Bram menyerahkan sebuah amplop coklat pada Kenan, setelah mereka selesai makan malam.


"Kenan sudah tau pa, karena Farid sudah cerita pada Kenan kalau dia telah memberitahu papa soal Melinda. Dan Kenan berencana ingin ke rumah besok pagi tapi gak taunya mama dan papa sudah kesini duluan. Dan Kenan yakin apa yang bisa Kenan ketahui pasti juga bisa diketahui oleh papa." Kenan berkata dengan tersenyum karena dia sangat yakin kalau papanya tak akan tinggal diam dan juga ikut menyelidiki siapa Melinda sebenarnya.


"Jadi kamu sudah tau kalau anak wanita itu bukanlah keturunan mu?" Tuan Bram bertanya dan Kenan tersenyum sambil mengangguk.


"Ya, bahkan Kenan juga tau siap ayah biologisnya juga. Dan Kenan sudah memutuskan semuanya, bahwa Kenan gak mau lagi berurusan dengan mereka." Kenan berkata dengan serius.


"Hari sudah malam, sebaiknya mama dan papa menginap saja di sini." Kenan meminta orang tuanya untuk menginap.


"Ya sebenarnya boleh saja, tapi besok papa ada rapat pagi jam 7. Tak akan keburu kalau berangkat dari sini." jawab tuan Bram


"Baiklah, kalau begitu kalian berhati - hatilah." Kenan mengantar orang tuanya keluar.


Setelah itu Kenan berdiri didepan jendela kamarnya dan menatap langit hitam yang pekat. "Kenapa malam ini begitu sangat gelap ya, dan hatiku merasa sangat aneh, sesak seolah ada sesuatu yang menyumbat dan membuat aku tak sabar." Kenan bergumam dan dia pun menutup jendela dan pergi tidur.


...💔💔💔...


Disisi lain ditempat Fairi dari sejak sore dia merasakan perutnya mulai mules, namun karena masih belum begitu sakit dan bisa ditahan sama Fairi dibiarkan saja dan tetap dibuat masak, karena dia ingin makan sup ayam dan memasaknya sendiri. Sesekali Fairi merasakan sakit dia berhenti dan bernafas dalam.

__ADS_1


"Wah kelihatannya enak ini." Melisa yang datang mencium bau masakan Fairi.


"Ya, aku baru selesai masak ayo makan." Fairi mengajak Melisa makan bersama.


"Bagaimana mbak, apa masih belum terasa mau melahirkan?" Melisa bertanya disela - sela makannya.


"Mulai terasa namun masih bisa ditahan dan masih belum begitu sakit. Karena kata dokter selama bisa ditahan ya ditahan saja dan gak boleh panik." Fairi menjelaskan seperti seorang profesional.


"Ini sudah malam kenapa masih belum tidur, ibu hamil tidak boleh tidur malam - malam loh." Melisa mengingatkan Fairi.


"Kalau aku tidur kau tak akan bisa makan masakan ku malam ini." Fairi menjawab dan mereka tertawa bersama.


Setelah selesai makan malam Fairi kembali ke kamarnya dan Melisa ijin pulang karena dia sedang teleponan dengan pacarnya yang berada jauh dari dirinya.


Malam itu Fairi merasakan perutnya semakin sakit dan tak bisa ditahan lagi, rasa sakitnya sudah mulai sering bahkan menjalar sampai ke punggung dan membuat Fairi susah untuk berjalan.


...💔💔💔...


"Tak bisa tidur." gumam Kenan yang merasa gelisah ditempatnya, dia terus saja berguling ke kanan dan ke kiri dengan tak tenang.


Malam itu hujan mengguyur bumi dengan sangat derasnya, petir yang menyambar membuat suasana malam menjadi sedikit mencekam, hujan turun tak kira - kita derasnya. Dengan angin dan petir yang berkilauan di langit malam.


"Kenapa ini hujan tiba - tiba turun dengan derasnya, apa sudah mulai memasuki musim penghujan ya? Apa papa sama mama tak apa? Kenapa mereka tak menghubungi ku, apa mereka sudah sampai rumah ya?" Kenan bergumam sendiri dan mulai menghubungi orang tuanya.


"Halo Kenan. Ada apa?" Suara nyonya Tias terdengar dari sebrang telepon Kenan


"Mama dan papa tak apa?" Kenan bertanya dan itu membuat nyonya Tias merasa aneh.


"Kau bicara apa, mama dan papa baik - baik saja. Papa mu malah sudah tidur. Kenapa? Apa kau baik - baik saja?" Nyonya Tias balik bertanya karena dia merasa ada yang aneh dengan putranya itu.


"Tak apa ma, di sini hujan deras dan berangin sama petir. Kenan hanya tak bisa tidur saja." Kenan menjawab asal. "Ya sudah kalau begitu selamat malam ma." Kenan menutup teleponnya.

__ADS_1


"Aneh, kenapa perasaanku jadi tak tenang dan sangat tak nyaman begini." Kenan turun dan memutuskan untuk bekerja saja, dia masuk ke ruang kerjanya dan membaca semua dokumen yang akan dirapatkan besok siang.


__ADS_2