Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Bab 79


__ADS_3

Disebuah pertunjukan busana yang digelar oleh sebuah merek terlihat Tyas sedang menjalankan pekerjaannya dengan baik sebagai seorang model, dia terlihat sangat menguasai panggung dengan sangat benar, dia berjalan melenggak-lenggok dengan sangat indah untuk menunjukkan keindahan dari sebuah gaun yang sedang dipamerkan.


"Hem, bagus Tyas kamu sungguh sangat luar biasa." puji seorang desainer yang gaunnya sedang diperagakan oleh Tyas.


"Terima kasih tuan." Tyas berkata dengan senyuman yang sangat menawan.


"Dia adalah adik Fairi tak ku sangka kalau aku akan bekerja bareng dengan dia." gumam Sri Wati teman Fairi yang dulu bekerja sama sebagai seorang model.


"Halo kak Sri, tak sangka ya kalau kita akan bertemu di sini. Bagaimana kabar kakak apakah kakak masih aktif berbicara dengan Fairi, hem." Tyas mendekati Sri dan bertanya dengan nada centil ala Tyas


"Itu bukan urusan mu. Dan aku tak punya keharusan untuk menjawabnya bukan, kita di sini hanya bekerja untuk kak Jack." Sri Wati dengan tegas menjawab dan pergi meninggalkan Tyas.


"Sombong sekali, kau akan merasakan apa yang dirasakan Fairi jika kau tak bersikap baik kakak Sri. Dasar kampungan." Tyas berkata dengan senyum dan tatapan yang menyiratkan sesuatu akan dia lakukan pada Sri.


...💔💔💔...


Disisi lain Fairi pergi jalan - jalan dan makan bersama dengan bi Mina dan juga Kemal disebuah restoran, dan tanpa dia sadari sepasang mata dari sejak awal telah memperhatikan Fairi dari sejak Fairi datang dan masuk kedalam restoran itu. Tatapan itu semakin lama semakin berubah jadi kekesalan saat dia melihat senyum bahagia Fairi dan candaan Fairi dengan putranya yang terlihat sangat bahagia.


Orang itu memegang dadanya yang terasa sesak karena kesal, hingga dia tanpa sadar membuat makanan yang dihadapannya hancur karena terus diaduk tak menentu. Dan orang yang bersamanya merasa heran sehingga ikut melihat kearah apa yang dilihat oleh wanita didepannya, dan iya itu adalah Danang dan Melinda yang sedang bersantai untuk membawah putri mereka bersenang - senang dan menikmati makanan di restoran mewah.


"Ada apa dengan mu hah? Kenapa kau membuat putri mu merasa takut dengan sikap mu itu." Danang menegur Melinda dengan keras. "Memangnya siapa mereka, apa kau mengenalnya." sambung Danang pemasaran.


"Dia adalah Fairi mantan istri pertama mas Kenan." jawab Melinda dengan kesal.


"Mama." Mayang memanggilnya dan memegang tangan Melinda.


Melinda bernafas dalam dan berat karena menahan rasa kesal, dia tak pernah menyangka kalau Fairi justru lebih bahagia dari pada dirinya setelah berpisah dari Kenan. Dan juga terlihat kalau kehidupan Fairi lebih mapan serta enak. Sedangkan dirinya harus bekerja keras untuk menghidupi putrinya bahkan harus menitipkan sang putri di sebuah panti asuhan.


"Fairi, jadi dia adalah saingan mu dan juga saudari dari Tyas yang tadi kau ceritakan kalau kau ingin menggunakan Tyas sebagai senjata untuk menghancurkannya." Danang memastikan dan menatap Fairi.


"Iya, aku pasti akan melakukannya." Melinda berkata dengan kesal.

__ADS_1


"Fairi ya, sungguh wanita yang menarik dan tak ku sangka kalau dia adalah wanita yang sangat cantik dan juga menggoda seperti itu. Selama ini aku hanya mengikuti apa kata Tyas untuk menyakitinya karena aku berfikir kalau dia adalah wanita yang menyebalkan seperti yang dikatakan oleh Tyas dan melinda, tapi tak ku sangka kalau dia adalah wanita yang sempurna dengan kecantikannya. Dan aku tak pernah sangka kalau saudarinya Tyas ini sungguh wanita yang sangat luar biasa. Dia tak hanya cantik dan terlihat elegan namun dia juga sungguh sangat menawan. Seorang ibu yang sangat - sangat cantik serta menarik, aku jadi ingin mengenalnya lebih dekat." gumam Danang dalam hati menatap Fairi dan tanpa sadar tersenyum sendiri karena memperhatikan Fairi.


"Kenapa, kenapa kakak senyum - senyum sendiri melihat dia. Jangan bilang kalau kakak tertarik padanya." Melinda menegur Danang dengan kesal


"Iya." tanpa sadar Danang langsung menjawab pertanyaan Melinda.


"Apa? Apa yang kamu katakan barusan hah?!" dengan marah Melinda menatap Danang


"Tidak, memang apa yang aku katakan. Aku hanya bilang iya aku tak pernah menyangka kalau wanita sepertinya bisa berbuat kejam seperti itu. Aku tak salahkan?" Danang mencobak mengalihkan pembicaraan


"Honey ini sangat - sangat enak." Kemal memuji roti stoberi buatan restoran itu


"Hem, nanti kita kesini lagi kalau libur lagi ok." Fairi berkata dengan senyuman yang dari tadi merekah.


"Iya, sama nenek dan om Ken juga ya. Aku mau makan roti stroberi sama om Ken, karena om Ken juga menyukainya." Kemal berkata dengan sangat antusias, Fairi dan bi Mina saling tatap lalu mereka tersenyum pada Kemal.


Terlihat Melinda sangat tak menyukai kebersamaan Fairi dan putranya itu, karena menurut Melinda itu terlalu dibuat - buat. Sehingga saat Fairi pergi ke kamar mandi Melinda mengikutinya tapi sayangnya Fairi tak mengenali Melinda. Sehingga saat berpapasan dengan Melinda didepan pintu kamar mandi Fairi hanya tersenyum sekilas sebagi teguran pada orang yang tak saling kenal dan untuk menghormati orang yang baru ditemuinya.


Begitu Fairi kembali kemejanya dan mau pulang dengan sengaja Melinda berjalan dan menabraknya hingga Fairi hampir jatuh, tapi untungnya dengan cepat Fairi menahan dirinya dengan memegang kursi yang ada didepannya. Fairi menatap Melinda dengan bingung karena Melinda berdiri tepat didepannya dengan angkuh dan tatapan tak suka.


"Eh maaf, apa maksud anda, apa kita punya masalah sebelumnya atau kita pernah bertemu sebelumnya?" Fairi menatap dengan bingung pada Melinda dan bertanya soal kata - kata Melinda.


"Kenapa, apa kau sudah melupakan aku. Atau kau sengaja melupakannya mbak Fairi." Melinda berkata dengan berdiri tepat didepan Fairi, dan Fairi mengerutkan keningnya karena dia tak mengerti dengan kata - kata Melinda. "Jangan pura - pura lupa, atau haruskah aku memanggilmu nyonya pertama Kenan." kesal Melinda setelahnya dan Fairi pun tersenyum setelah mendengar nama Kenan disebutkan.


Sekilas bayangan saat pertama kali Kenan datang membawah Melinda masuk kedalam rumah dengan seorang bayi ditangannya "Oh, jadi itu kamu. Maaf tapi aku tak pernah pura - pura untuk tak mengingat mu, karena dari sejak awal aku memang tak ingat sama kamu, bahkan aku tak tau siapa namamu." Fairi berkata dengan santai pada Melinda yang terlihat marah padanya.


Melinda pun sadar kalau Fairi tak pernah menegurnya, dan dia pergi setelah Kenan memperkenalkan mereka berdua, dan sejak saat itu Fairi taknpernah kembali ke rumah lagi. "Dengar ya, kita sama - sama wanita harusnya kamu itu bisa menerima dan menghormati ku yang juga merupakan istri dari pria yang juga merupakan suamimu. Apa karena kamu telah menjadi wanita milik orang lain sehingga kamu tak ada niatan untuk menghormati ku...oh, ya aku lupa wanita seperti mu ini pasti bisa dengan mudahnya bisa mendapatkan pria yang bisa memelihara mu bukan, maka saat itu kau langsung pergi dan keluar dari rumah begitu saja." ucap Melinda terdengar sangat menghina Fairi dihadapan semua orang yang ada di restoran itu.


"Honey." Kemal mendekati Fairi dan memegang tangan Fairi.


"Honey? Heh, ibu macam apa yang mengajari anaknya memanggil dengan panggilan tak sopan seperti itu." Melinda lagi - lagi mencoba memprovokasi Fairi.

__ADS_1


Fairi tersenyum dan menatap Melinda dengan lucu, "Kenapa kau jadi bicara sembarangan. Aku rasa kau tak memiliki hak untuk mengomentari caraku mendidik anak ku. Dia mau memanggil ku mama atau honey itu adalah urusan kami. Dan asalkan kau tau saja aku tak pernah mempermasalahkan soal panggilan, karena sebuah panggilan sayang untuk orang yang kita sayang bisa apa saja yang terpenting adalah seorang anak bisa menghormati orang tua mereka dan juga orang yang lebih tua dari mereka. Dan setiap keluarga memiliki cara mereka sendiri dalam mengakrabkan dan memberikan nama panggilan untuk julukan kasih sayang mereka. Jadi anda tak bisa menyamankan nilai dan cara mendidik anda dengan orang lain." Fairi berkata dengan tegas.


"Dan satu lagi, aku bukan wanita murahan yang harus mencari sembarang pria. Karena aku punya caraku sendiri untuk hidup tanpa seorang pria pun di sisiku." sambung Fairi lagi dan hal itu membuat Melinda s|makin kesal pada Fairi.


"Nak Ayu, ayo." bi Mina menegur Fairi dan mengajaknya untuk keluar dari restoran itu karena semua orang sudah menatap mereka sejak lama mereka beradu mulut.


"Hem." Fairi mengangguk dan tersenyum.


"Kau ingin mengajariku soal mendidik anak, apa tak salah. Dan apa yang kau katakan tadi, kau bisa menjalani hidup tanpa seorang pria. Apa kau mau bilang kalau aku memanfaatkan sua pria untuk dekat dengan ku hah?!" Melinda berkata dengan kesal dan menahan tangan Fairi yang mau pergi.


"Maaf saya harus pergi." Fairi melewati melinda dan mengibaskan tangan Melinda.


"Apa kau telah menjadi wanita simpanan. Seingat ku saat kau keluar dari rumah kau tak sedang menjalin hubungan dengan mas Kenan. Atau jangan - jangan anak mu ini adalah anak diluar nikah." Melinda lagi - lagi berkata dengan cara menghina Fairi.


"Siapa pun dia bukan urusan anda, dan yang jelas dia adalah putraku. Permisi." Fairi tak ingin melanjutkan obrolan dengan Melinda karena telah menarik perhatian banyak orang untuk memperhatikan.


"Kenapa, apa kau malu, atau kau takut kalau belangmu akan ketahuan." Melinda berkata dengan sengaja berteriak agar semua orang semakin mendengarkannya.


"Kenapa Tante terus bicara, orang yang banyak bicara adalah orang yang kalah dan akan terlihat kebodohannya. Karena om Kenan bilang jika kamu lebih banyak bicara itu akan menunjukan kalau kamulah yang sebenarnya bodoh, karena orang yang banyak bicara sama dengan tong kosong yang nyaring bunyinya." Kemal nyeletuk dan hal itu membuat Fairi serta bi Mina kaget.


"Bocah ini.!" Melinda merasa kesal


"Ya ampun anak kecil saja tau istilah itu, kalau tong yang kosong itu akan semakin keras suaranya." seorang pengunjung restoran berkata dan tersenyum.


"Lagian ada apa sebenarnya, perasaan dari tadi wanita itu sepertinya ingin membuat masalah dengan wanita yang dari tadi diam, siapa pun ayah anak itu kan bukan urusannya." pengunjung lain pun ikut berpendapat.


"Benar, dan sebuah nama panggilan sayang juga bisa apa saja, terserah kita yang menginginkannya." pengunjung lainnya lagi ikut berkata.


"Sepertinya dia adalah istri muda dan tak terima dengan istri tua yang hidup semakin enak setelah berpisah dari pria tak berguna."


"Kelihatan jelas dari bicara tadi"

__ADS_1


"Ya aku sih sangat mendukung istri pertanyaan tadi, kita hidup nyaman gak harus bergantung pada seorang pria."


Fairi telah berlalu pergi meninggalkan restoran, dan Melinda terlihat malu karena omongan pengunjung lainnya sehingga dia langsung keluar tanpa memperdulikan Danang dan putrinya yang masih duduk didalam restoran itu.


__ADS_2