
"Selamat pagi pak Adi, saya datang untuk mengantarkan berkas yang harus pak Adi tanda tangani hari ini, dan Bu Laras meminta saya untuk membawakan semuanya untuk anda pak." Lina datang ke kantor dan membawahkan laporan yang harus ditanda tangani oleh tuan Adi presiden PT. Wijaya yang merupakan ayah kandung Fairi.
"Dimana bos mu, kenapa dia tak datang sendiri kesini untuk menyerahkan laporannya." Tuan Adi bertanya dengan tak puas karena sejak tiba di Indonesia Fairi tak sekali pun datang untuk menemuinya.
"Maaf pak tadi sebenarnya Bu Laras akan datang sendiri, tapi kemudian dapat telepon kalau di sekolah putranya sedang ada masalah, jadi Bu Laras terpaksa harus pergi kesana, dan mewakilkan saya untuk datang bertemu dengan anda." Jelas Lina pada tuan Adi ayah fairi.
"Memangnya ada apa kok dia langsung bergegas kesana." tuan Adi bertanya sambil menanda tangani berkas - berkas yang dibawah lina.
"Kurang tau pak, soalnya tadi Bu Laras hanya bilang kalau putranya bersih keras ingin mengikuti lomba tahunan, jadi Bu Laras pergi ke sekolahnya untuk melihat putranya." jelas Lina lagi pada tuan Adi.
"Hem, anak itu ya. Dia sudah berada di sini hampir 6 bulan tapi tak sekali pun datang untuk menemui ku, saat ke kantor dia hanya kalau ada rapat saja, itu pun dia akan langsung pergi begitu rapat selesai. Dia tak pernah menemui aku secara pribadi." tuan Adi merasa sedih dengan perlakuan Fairi padanya yang ternyata masih belum bisa memaafkan dirinya atas perbuatannya dimasa lalu.
"Apakah kamu tau dimana sekolahnya? Aku ingin pergi melihatnya." tuan Adi menatap Lina berharap.
"Itu..." Lina terlihat ragu - ragu untuk mengatakan
"Aku tak tau kalau kamu telah memihak padanya begitu dalam, padahal kamu sudah bekerja pada ku 10 tahun lebih dan bekerja untuknya baru 6 bulan, tapi lihatlah dirimu sekarang. Kau begitu sangat menjaga dan melindunginya." tuan Adi berkata dengan tak puas pada Lina yang dulu adalah sekretarisnya yang luar biasa.
"Maafkan saya pak." Lina meminta maaf dengan sopan.
"Baiklah, antarkan aku ke sekolahnya aku ingin melihat putri dan juga cucuku." ucap tuan Adi dan hal itu membuat Lina kaget karena dia tak menyangka kalau bos barunya adalah putri dari pimpinannya.
"Baik, saya akan mengantar anda pak. Maaf saya tak tau kalau anda dan bu Laras adalah keluarga." Lina berkata dengan sangat tak enak hati
"Tak masalah, karena dia memang tak mau mengakui aku sebagai ayahnya atas perbuatan ku dimasa lalu." tuan Adi berkata dengan raut wajah sedih, dan Handoko yang ada disamping tuan Adi hanya diam melihat.
...💔💔💔...
30 menit sebelumnya
"Halo, ada apa Bu? Apa ada masalah dengan putra saya?" tanya Fairi saat dia mengangkat panggilan telepon dari salah satu guru di sekolah Arman, saat dia mau ke kantor untuk bertemu dengan ayahnya.
"Maafkan saya Bu Laras, harus menghubungi anda. Ini kemal sedang bersih keras ingin mengikuti lomba lari dengan tiga kaki, tapi dia tak ada pasangannya dan tak mau pergi dari arena, padahal dia sudah banyak memenangkan perlombaan untuk hari ini." jelas guru Arman.
Mendengar itu Fairi merasa sedih, karena mau bagaimana pun putranya membutuhkan ayahnya yang tak pernah dia katakan dalam kata - katanya. "Baik saya mengerti Bu, saya akan tiba disana dalam 30 menit lagi tolong jaga putra saya untuk saya." jawab Fairi lalu mematikan panggilan teleponnya.
"Lina, tolong atasi semuanya untuk sementara, karena aku harus ke sekolahan kemal untuk menyelesaikan sesuatu, dia sedang bersih keras ingin mengikuti lomba." Fairi meminta tolong pada Lina dan menurunkan Lina ditepi jalan lalu dia memutar balik mobilnya dan melaju dengan sangat cepat.
"Pak janji temu dengan pihak bangunan akan dilakukan siang ini, apakah pak Kenan ingin pergi sendiri atau mau diwakili oleh pak Farid saja?" Agus bertanya pada Kenan yang sedang duduk di kursi belakang dengan membaca laporan.
__ADS_1
"Aku kan melakukannya sendiri, kamu atur kan saja untuk ku." jawab Kenan.
Dan saat di lampu merah mobil Kenan dan Fairi berada sangat dekat dan beriringan, namun karena Kenan yang terlalu fokus sama pekerjaannya dia tak memperhatikan sekitarnya.
"Kenapa lama sekali lampu merah ini." Fairi terlihat gusar dan tak sabar.
"Kenapa dengan orang itu? Apa dia ada masalah dan ingin segerah sampai ditempat tujuan dengan cepat." gumam Agus yang melihat Fairi terlihat tak sabaran. "Masya Allah, kenapa dengan orang itu?" Agus merasa kaget saat Fairi melajukan mobilnya dengan sangat cepat begitu lampu sudah hijau.
"Kenapa Gus?" Kenan bertanya karena dia merasa heran dengan Agus yang terus saja mengomel dari tadi.
"Ah, tidak pak. Cuma merasa heran saya dengan pengemudi mobil yang tadi ada disamping kita, dia terlihat sedang buru - buru dan tak sabaran." Agus menjawab dengan heran.
"Ya mungkin saja ada sesuatu yang darurat yang harus dia lakukan, kenapa jadi kamu yang repot" Kenan berkata dengan santai.
...💔💔💔...
30 menit kemudian
"Hei pergilah kau kan tak punya pasangan." ucap teman sekelas Arman
"Iya benar kamu kan tak punya ayah, jadi mundur lah kenapa kau menghalangi lombanya." teman yang lainnya juga ikut berkata.
"Ayo Kemal, mundur lah biar lombanya bisa dimulai bukankah kamu sudah banyak memenangkan lomba hari ini." bujuk guru Kemal, tapi Kemal tak mau bergerak karena dia ingin mengikuti lomba itu dan dia ingin merasakan keseruan lomba itu juga.
Kemal menunduk dan mulai menangis dengan diam karena dia sangat menginginkan untuk mengikuti lomba itu. Dan dengan ragu - ragu Kemal mulai melangkahkan kakinya mundur kebelakang dengan raut wajah sedih. Tapi sebuah tangan menahannya dan mendorongnya maju memasuki barisan.
"Hony." Kemal terlihat senang melihat ibunya datang.
"Maafkan Mama Boo, kau ingin mengikuti lomba ini kan? Ayo kita ikuti dan kita bersenang - senang bersama." Fairi berkata dengan menunjukkan senyumannya dan menghapus air mata putranya.
"Lomba ini tak ditentukan harus diikuti ayah atau ibu kan? Jadi saya ingin menemani putra saya untuk mengikuti lomba ini." Fairi berkata pada para guru yang mengadakan lomba di sekolah kemal.
"Iya Bu Laras, silakan." guru itu pun meninggalkan lapangan.
"Ayo kita bersiap." Fairi mengikat kakinya dan kaki putranya jadi satu, dan Kemal terlihat sangat senang.
"Kau sudah siap Boo, kita bersenang - senang bersama dan kalau bisa ayo kita menangkan lomba ini." Fairi berkata dengan serius dan memakaikan topi yang sama dengannya dengan versi kecil.
"Ya honey." Kemal menjawab dengan semangat.
__ADS_1
"Fokuslah dan ikuti aba - aba dari mama ok." Fairi berdiri dan menghadap depan.
"Semuanya ayo bersiap." suara pengantar telah memberikan aba - aba.
Fairi menggenggam tangan kecil putranya dengan kuat lalu tersenyum, "Kita mulai Boo, fokus dan satukan pikiran." ucap Fairi dan berdiri tegap serta menutup matanya begitu juga dengan Arman yang dengan patuh mengikuti gerakan sang mama
"Siap..!!" suara pengantar lagi.
"Bersiaplah." ucap Fairi membetulkan posisi topinya
"Hem, aku siap." Arman menjawab dan juga membetulkan posisi topinya bersamaan dengan gerakan Fairi.
"Mulai." suara pengantar lagi dan semua peserta berlari, Fairi sama Arman berlari dengan seimbang dan gerakan yang seirama.
"Ya ampun kedua anak dan ibu itu terlihat sangat kompak dan hebat, mereka bahkan membetulkan topi mereka bersama dengan penuh gaya."
"Mereka terlihat sangat mempesona dan berkharisma"
"Ya mereka hebat sekali, tak ada salah sama sekali dan terlihat sangat menikmati."
"Benar, bahkan stail yang digunakan oleh ibunya juga sangat luar biasa, baju oleh raga itu terlihat biasa namun begitu sangat luar biasa. Aura wanita itu sungguh sangat kuat."
"Lihatlah, gerakan mereka juga sangat stabil dan seimbang tak seperti pra peserta lainnya yang kacau."
Para ibu - ibu wali murid sedang berkasak kusuk membicara Fairi dan Kemal yang terlihat sangat luar biasa dan kompak, bahkan lari mereka juga terlihat sangat indah dan lincah. Mereka berdua telah melewati garis finis dengan sangat mudah tanpa ada hambatan yang akhirnya mereka berdua memenangkan lomba lari dengan 3 kaki.
"Yeee, kita menang honey." teriak Kemal dengan sangat seru.
Fairi mengangkat tubuh putranya tinggi - tinggi setelah melepaskan ikatan dikakinya, dan mereka berdua sorak sorak dengan sangat senang ditengah lapangan. Semua para ibu - ibu yang melihat kekompakan Fairi dan Kemal ikut bersorak sorai dengan sangat seru.
"Wah mereka adalah ibu dan anak yang hebat, mereka sungguh sangat luar biasa" ucap seorang guru yang melihat aksi Fairi dan Kemal.
"Ya mereka sangat luar biasa, mereka adalah putri dan juga cucuk ku tersayang. Hebat, luar biasa, sangat memuaskan." Tuan Adi yang tiba saat lomba telah berjalan dan dia ikut bersorak dengan seru melihat aksi putri dan cucunya yang terlihat sangat kompak tanpa ada kesalahan yang mereka buat.
"Wah aku tak pernah melihat pak Adi begitu bersemangat pak Han." bisik Lina pada Handoko.
"Ya karena non Fairi adalah putri kesayangannya." jawab Handoko yang juga ikut bahagia melihat tuannya senang.
"Fairi? Jadi nama lain dari bu Laras adalah Fairi." gumam Lina tersenyum melihat keseruan antara bos barunya dengan putranya.
__ADS_1