
Khumairah memasuki kamar Zain, tampak pria yang kini sudah menjadi suaminya itu menunggunya dengan tatapan hangat.
Malam ini begitu dingin, hujan kembali turun dengan begitu derasnya, sepertinya alam ikut mengiringi malam pertama dua insan yang sedang dalam menikmati bulan madunya.
Khumairah menghampiri Zain yang tampak menunggunya dengan tak sabar.
Saat wanita yang kini telah sah menjadi istrinya itu berada tepat dihadapannya, Ia menarik pinggang wanita itu kedalam pelukannya.
Hasrat yang sudah lama Ia pendam, seakan tak mampu lagi Ia bendung untuk segera tersalurkan.
Khumairah sang gadis desa yang merasakan sentuhan manis dari sang suami yang begitu sangat membuatnya terbuai, sebuah rasa yang tak mampu Ia ungkapkan dengan kata-kata.
Saat Zain berusaha mengambil mahkota milik Khumairah, Ia sedikit kesulitan karena hanya memiliki satu kaki, namun Ia tetap berusaha merenggutnya. Ia tau ini sangat menyakitkan untuk Khumairah, maka Ia membekap mulut istrinya saat juniornya berusaha untuk menerobos masuk.
Malam yang dingin namun menjadi begitu panas bagi keduanya. Keringat bercucuran membasahi keduanya, dan perlahan keduanya mencapai puncak surgawi mereka.
Bersamaan dengan hal itu, perlahan Zain melupakan sosok Amyra yang pernah membuatnya hampir gila.
Ternyata benar apa yang dikatakan oleh orang-orang, rasa move on itu akan hadir dengan berjalannya seiring waktu dan ketika kuta mendapat tempat ternyaman sebagai pengganti sesuatu yang hilang.
Zain sudah mengikhlaskan kepergian Amyra yang pernah mengkhianatinya, dan Ia kini akan menerima kehadiran Khumairah sebagai pembalut lukanya.
Saat pagi menjelang, keduanya terbangun terlebih dahulu dan membersihkan tubuh mereka disungai belakang rumah.
Khumairah yang merasakan manisnya percintaan malam tadi seolah tak pernah merasa puas dengan semuanya. Ia kembali menggoda Zain dan untuk melakukannya kembali disungai tersebut.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, mereka membersihkan diri dan kembali kerumah.
Khumairah memasak seperti biasanya, setelah menyajikan sarapan, Ia bergegas menemui Abdullah dikamarnya untuk membangunkan sang Ayah yang sedari tadi belum juga bangun. Biasanya sang ayah akan bangun sebelum shalat subuh. Namun entah mengapa Ia tertidur hingga matahari bersinar terang.
Khumairah melihat sang ayah sedang bersujud diatas sajadah usangnya. Ia tampak begitu khusuknya. Lalu Khumairah meninggalka n kamar yang ditempati oleh ayahnya. Ia menuju meja makan dan mengajak suaminya untuk makan.
Keduanya sarapan dan tampak begitu sangat bahagia. Setelah selesai sarapan, Khumairah kembali menghampiri kamarnya untuk melihat sang ayah.
Ia masih melihat sang ayah dengan posisi yang sama, dalam kondisi bersujud.
__ADS_1
Khumairah merasakan curiga dan merasa perasaannya tidak nyaman.
"Mas.. Kemari, Mas.. Coba lihat Ayah, sedari tadi yerus bersujud dan tidak juga bergerak dari posisinya.." ucap Khumairah dengan nada khawatir.
Zain beranjak dengan tertatih dan menghampiri Khumairah lalu melihat kedalam kamar.
Ia mendapati sang ayah mertua yang tampak sangat berbeda, lalu Zain mencoba menyentuhnya, dan..
Braaak...
Tubuh pria paruh baya itu roboh dengan kondisi sudah kaku. Dipastikan Abdullah telah meregang nyawa sejak shalat Isya malam tadi.
Seketika Khumairah menjerit histeris dan tak mampu menahan kesedihannya. Lalu mereka berdua saling bertatapan. Khumairah kembali menangis dan memeluk tubuh kaku sang ayah.
Dengan sangat kesulitan, keduanya membawa tubuh Abdullah keluar dari kamar dengan meletakkannya diatas tikar anyaman pandan.
Keduanya mencoba menyelesaikan fardhu kifayah untuk Abdullah dengan sebaik mungkin.
Khumairah mengingat pesan ayahnya jika sang ayah menyimpan kain kafan didalam lemari usang yang terbuat dari bambu.
Karena keterbatasan fisik dan hanya ada Khumairah yang membantunya, maka mereka memutuskan untuk menguburkan jasad Abdullah didalam rumah.
Khumairah membantu menggali lubang tersebut, dan mereka menguburkan jasad Abdullah didalam rumah.
Khumairah menangis dengan tersedu tanpa henti, Ia merasa sangat begitu kehilangan atas kepergian Abdullah sang ayah.
Zain memgang pundak Khumairah, Ia berjanji akan menjaga Khumairah dengan sepenuh jiwa dan raganya.
Sementara itu, Amyra dan Denny baru saja pulang dari dokter kandungan. Keduanya tampak bahagia, kini mereka dinyatakan akan memiliki calon anak ketiga dari buah cinta mereka.
"Selamat ya, Sayang.. Kamu akan menjadi ibu dengan 3 orang anak" ucap Denny sembari memasangkan safetybell kepada Amyra.
Amyra merasa sangat tersanjung dengan segala perhatian yang diberikan oleh Denny kepadanya. Kini Ashraf akan menjadi kakak, dan tentunya rumah akan terasa sangat ramai dengan kehadiran sang calon bayi.
Amyra tampak tersenyum bahagia "Kamu berharap anak ini nantinya perempuan atau laki-laki, Sayang" tanya Amyra sembari mengelus perutnya yang masih tampak datar.
__ADS_1
"Laki-laki atau perempuan sama saja, Sayang.. Yang penting sehat, dan panjang umur" jawab Denny yang tidak terlalu memusingkan jenis kelamin anaknya kelak.
Amyra menganggukkan kepalanya dan menatap pada Denny dengan manja.
"Jangan menatapku seperti itu, Sayang.. Nanti Mas tidak akan tahan" ucap Denny ngawur.
Amyra mencubit gemas lengan Denny dan memanyunkan bibirnya. "Ih..kamu mah me-sum terus, Mas.." jawab Amyra kesal.
"Gimana gak me-sum, kamu itu sudah buat Mas selalu dimabuk kepayang" jawab Denny sembari terus menyetir dengan fokus.
"Mas.. Kita sekalian singgah ke Bank, Ya.. Sms Bank-ing Myra bermasalah, Kita mau tarik tunai saja uangnya" ucap Amyra mengingatkan.
"Jangan, Sayang.. Kita Grapari saja mengurus kartu Sim card kamu hang rusak. Sebab Mas tidak ingin tarik tunai dalam jumlah sangat besar" ucap Denny mencoba menyarankan.
"Memangnya kenapa, Mas?" tanya Amyra penasaran.
"Sebab Mas tidak ingin kejadian dimasa silam terulang lagi" jawab Denny dengan lirih, ada nada kesedihan diucapnnya.
Amyra mengerutkan keningnya merasa bingung dengan ucapan Suaminya. "Maksud Mas apa?" tanya Amyra masih belum mengerti ucapan dari Denny.
Denny menepikan mobilinya dipinggir jalan dan menatap pada istrinya.
"Kisah saat dimana Papa mengambil uang tunai dalam jumlah besar didalam Bank, dan perampok datang untuk merampoknya, lalu Ayah Kamu mengorbankan nyawanya untuk menyelematkan Papa" Denny mencoba mengungkapkan kejadian dimasa silam.
Amyra terperangah mendengarnya. Ia sudah begitu sangat lama melupakan kejadian itu, dan kini Denny mengungkitnya kembali.
Dengan kematian ayahnya itu, awal dimana Ia menerima pernikahan mendadak tersebut dan mengingkari janjinya dengan Zain.
Amyra menarik nafasnya dengan dalam, dan menatap pada suaminya "Semoga Ayah dalam kedamaian dan ditempatkan ditempat terindah dalam husnul Khatimah" ucap Amyra dengan tatapan yang mulai berkaca-kaca.
Denny menarik jemari tangan Amyra, lalu mengecup lembut punggung tangan sang istri "Maafkan Mas jika telah mengingatkanmu pada kenangan yang menyakitkan itu. Ijinkan Mas untuk menjadi tempatmu bersandar dalam kondisi apapun, Mas janji tidak akan mengecewakan kamu lagi" ucap Denny dengan penuh kesungguhan hatinya.
Amyra hanya menganggukan kepalanya dan air matanya tak dapa lagi Ia bendung untuk mengalir disudut matanya.
Denny menyeka air mata itu, dan menatapnya penuh dengan kehangatan.
__ADS_1