
Denny bergegas mengejar sosok yang membuka pintu ruang kerjanya. saat ini pintu lift akan tertutup, dan Denny berusaha menahannya hingga Ia dapat masuk kedalamnya.
Dengan nafas tersengal Ia sampai membungkukkan tubuhnya untuk dapat menetralkan deru nafasnya tersebut.
Setelah merasa cukup, Ia kemudian menegakkan tubuhnya kembali dengan menengadahkan wajahnya.
"Pa.. Semua yang Papa lihat itu tidak benar, tolong percaya pada Denny, Pa" ucap Denny mencoba menjelaskan apa yang terjadi.
Sosok pria paruh baya itu hanya diam tanpa bicara apapun. Pandangannya lurus ke depan menatap pintu lift nqmun Ia tampak begitu bersahaja.
Denny menatap wajah pria paruh baya itu, berharap sang Papa mendengarkannya kali ini.
"Pa, Please" ucap Denny memohon, dan pintu lift terbuka, namun Pria yang dipanggil papa yang tak lain adalah adalah Rudy itu masih mencoba diam.
Hingga akhirnya Rudy keluar dari lift dan Denjy masih mengejarnya.
"Pa dengarkan penjelasan Denny. Semuanya itu tidak benar. Denny sudah berubah, Pa.." ucap Denny yang terus mensejajarkan langkahnya dengan pria bersahaja itu.
Seketika Denny diam dan menatap wajah puteranya. Namun bagaimana mungkin Ia harus mempercayainya, jika Ia melihat seorang wanita tanpa sehelai benangpun berada didalam ruang kerja dan berdua saja.
Andai saja Amyra yang melihatnya, bagaimana perasaan Amyra saat ini? Pasti akan hancur berkeping-keping, apalagi Amyra sedang mengandung, dan ini akan membahayakan kandungan menantunya, sebab akan menambah beban fikiran sang menantu.
"Beri waktu Papa untuk memikirkannya, dan satu hal yang harus kamu ingat, Amyra adalah wanita yang mendukungmu disaat kehancuranmu. Jika sampai kamu mengkhianatinya, maka papa tidak akan memberikan warisan kepadamu meskipun itu hanya sepeserpun" ucap Rudy dengan nada ancaman.
Namun bagi Denny bukan masalah warisan yang kini Ia fikirkan. Ia hanya ingin Papanya mempercayainya, jika apa yang dilihat barusan adalah sebuah kesalah fahaman.
Rudy berjalan menjnggalkan Denny yang masih tercengang. Ia merasakan nasibnya sungguh sial karena ulah Grace. Ia tidak mungkin mengkhianati Amyra, Ia benar-benar telah jatuh cinta pada istrinya, dan tidak akam ada lagi pengkhianatan.
Rudy menuju parkiran, lalu masuk kedalam mobilnya. Ia menyandarkan kepalanya disandaran jok mobil. Ia berharap jjka yang dikatakan oleh Denny benar adanya. Namun bukanlah Rudy namanya jika Ia tidak menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Rudy bertekad ingin mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan puteranya. Ia tidak ingin puteranya ini kembali terjerumus pada perbuatan kemaksiatan dan mengkhianati Amyra.
Sebab Rudy akan merasa malu jika sampai Denny mengkhianati puteri dari sahabatnya yang telah mengorbankan nyawa demi menyelamatkan dirinya.
Maka dari hal itu, Ia selalu berpihak kepada Amyra, jika Denny melakukan kesalahan sekecil apapun. Ia bukan lagi menganggap Amyra sebagai menantunya, namun juga sama seperti puterinya. Sebab Amyra telah berhasil mengubah Denny menjadi lebih baik.
Rudy menghela nafasnya dengan berat dan mengemudikan mobilnya meninggalkan parkiran kantor, lalu berniat untuk menemui Amyra.
Disisi lain, Grace dan Tony masih terlibat pertengkaran dan saling ejek.
"Brengsek, Kau Tony.. Mengapa hanya aku saja yang dipecat, sedsngkan Kau tidak?" ucap Grace dengan nada kesal.
"Oh.. Berarti Mbak Gcrace juga ada tidur dengan Pak Tony juga?" ucap Security itu keceplosan.
Seketika Grace dan Tony menatap security itu secara bersamaan.
"Wah.. Mbak Gracenya ternyata hyper juga ya.. Tidak puas dengan satu pria saja. Bahkan sopir taksi juga sudah merasakan tubuh Mbak Grace" ucap Security itu keceplosan lagi.
"Waw.. Bukan hanya karyawan rendahan sepertiku yang meni- durimu, tetapi sudah merambah pada sopir taksi online juga, sungguh kemajuan yang sangat luar biasa" ucap Tony dengan nada sindiran.
"Diamlah, Kau.. Karena sebentar lagi Aku akan meraih kemenanganku" ucap Grace dengan menyunggingkan senyumnya, lalu Ia beranjak pergi meninggalkan Tony dan juga security yang masih saling bingung dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Grace.
Tony mendenguskan nafasnya "Dasar, wanita gila!" ucap Tony, lalu meninggalkan security tersebut.
Grace tersenyum sumringah. Ia merasa kini sangat puas, sebab Ia akan melihat kehancuran Denny akan segera tiba.
"Rasakan pembalasanku, Denny. Pria munafik yang mencoba menolakku. Jangan sebut namaku Grace jika tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan.." guman Grace dengan perasaan yang sangat senang.
Grace memilih tangga darurat dibanding dengan menaiki Lift, sebab Ia tidak ingin berpapasan dengan Denny nantinya.
__ADS_1
Ja berjalan menapaki anak tangga. Suara tumit dari highlessnya itu mengusik seseorang yang sedang membersihkan gudang.
Tangga darurat sangat jarang dilalui oleh para karyawan, karena melelahkan dan letaknya yang terbilang cukup sepi.
Seorang OB yang sedang bertugas memmbersihkan gudang dengan kain pel dan juga sapu yang selalu menemaninya mencoba melihat siapa yang melintas.
Sementara itu, Grace yang tidak hafal jalan keluar merasa bingung harus memilih jalur yang mana, sebab Ia baru saja menggunakan jalur gangga darurat, dan belum faham akan kondisi kantor tersebut.
Sang OB mengintai dari balik gudang dan melihat jika pemilik suara dari tumit highless tersebut adalah seorang wanita cantik yang tadi bertengkar dengannya.
"Oh.. Ternyata si wanita sombong itu rupanya" guman sang OB dengan nada kesal.
"Heeem.. Aku akan membuat perhitungan dengannya. Bukankah Ia telah menghinaku dengan mengatakanku sebagai karyawan rendahan? Baiklah.. Aku akan buktikan padanya jika Ia juga wanita rendahan" ucap OB tersebut dengan ide jahat dikepalanya.
Ia memperhatikan jika Grace tampak bingung mencari jalur evakuasi dan menuju keluar.
OB itu merasa senang saat melihat salah mengambil jalur, dan menuju ke gudang. Dengan cepat Ia membekap mulut Grace dan menyeretnya kedalam gudang.
Grace mencoba meloloskan diri, namun tenaganya kalah dengan OB tersebut.
OB tersebut menyumpal mulut Grace dengan kain pembersih debu yang berupa handuk kecil yang berada dilehernya, OB itu berharap Grace tidak dapat berteriak dengan cara menyumpal mulutnya.
Lalu OB itu mencari tali yang terdapat didalam gudang. Ia mengikat pergelangan tangan Grace meletakkannya diatas meja terbengkalai menarik tali sisa ikatannya hingga tangan Grace terangkat keatas sejajar dengan kepalanya, lalu mengikatnya ujung meja.
OB itu menatap penuh kebencian.
"Bagaimana Mbak? Apakah kamu masih menganggap saya karyawan rendahan? Jadi wanita itu jangan sombong, Mbak. Apalagi terlalu angkuh" ucap OB itu dengan nada sindirin.
Tampak Grace meronta-ronta ingin melepaskan diri dan memaki OB tersebut, namun suaranya tercekat sebab mulutnya tersumpal oleh kain pembersih debu tersebut.
__ADS_1
"Heeemm.. Mbak coba rasain ya, bagaimana rasanya bercinta dengan karyawan rendahan. Selama ini Mbak sering menyasar pria berduit dengan jabatan yang tinggi, maka kali ini Mbak cobain dengan karyawan rendahan seorang OB yang bekerja bersih-bersih.." ucap OB itu dengan senyum seringai dan dikuasai hasrat memburu.
Tanpa menunggu lama, OB itu melampiaskan hasrat bercampur dendam kepada Grace, dan gudang itu menjadi saksi dari pergumulan tersebut.