
Saat semua orang yang namanya tercantum di layar berdiri dan Fairi menyatakan kalau nama mereka semua untuk dikirim ke semua perusahaan yang ada agar tak dapat diterima bekerja dimana pun nyonya Ayu bergegas turun untuk meninggalkan ruangan itu.
"Mau kemana ibu, aku masih belum selesai dengan ibu. Bukankan tadi sudah ku bilang kalau akan tiba giliran untuk mu ibuku, atau haruskah aku memanggilmu nyonya Adi Wijaya." Fairi menahan nyonya Ayu untuk meninggalkan tempat.
"Saya sudah mengirim ke semua perusahaan yang ada nona, sekarang apa yang harus kita lakukan untuk orang - orang ini." Sabrina berkata dan menutup laptopnya.
"Apa maksudmu. Jangan kurang ajar sama orang yang lebih tua." Nyonya Ayu berkata dengan marah.
Fairi tersenyum ditempatnya "Apakah anda tak ingin tau bagaimana aku bisa selamat dari kecelakaan maut itu?"
"Tolong jangan bicara sembarangan, memangnya kenapa kami harus tau. Apa pun yang terjadi padamu kami tak ingin tau, dan kami pasti akan membuktikan kalau kau telah menipu kami." Tuan Bagus berkata dengan nada sama tingginya dengan nyonya Ayu
Fairi lagi - lagi tersenyum ditempatnya, lalu menoleh kearah Sabrina dan mendekati beberapa orang yang berdiri disamping Sabrina. "Kalian semua, akan menerima akibat dari perbuatan kalian yang sudah kalian lakukan pada ayahku."
"Ayo pergi." Tuan Bagus membawah nyonya Ayu pergi.
"Tunggu tuan dan nyonya, bukankah nona kami meminta kalian untuk menunggu." seorang berkas hitam menghentikan tuan Bagus dan nyonya Ayu
"Buat mereka semua mendekam di tahanan untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mereka." ucap Fairi
"Tunggu dulu non Fairi tolong maafkan lah aku, aku masih menanggung anak dan istri." ucap salah satu dari orang - orang itu.
"Saat kau melakukan penggelapan dana perusahaan apa kau tak berfikir kalau kau telah mengambil hak dari semua karyawan yang ada." Fairi menatap tajam pada orang itu. Dan yang lainnya menunduk dan merasa bersalah.
"Jika dari kalian semua bisa membantu maka aku bisa meringankan hukuman kalian, tapi semua tergantung dari kalian." Fairi berkata dan menyerahkan ke enam orang itu pada para pria berjas hitam.
Saat Fairi menoleh dia mendapati tuan Bagus sedang bercekcok dengan pengawalnya karena dilarang untuk pergi meninggalkan ruangan.
"Tunggu dulu. Sebelum anda pergi sebaiknya anda temui dulu orang yang akan datang ini. Bawah masuk dia dan juga berikan pada tuan Bagus pesannya." ucap Fairi dan seseorang yang memakai seragam serba hitam membawah masuk seorang wanita.
"Apakah anda mengenali orang itu tuan Bagus dan nyonya Ayu? Atau haruskah ku panggil kalian dengan sebutan nyonya dan tuan Bagus." Fairi menatap nyonya ayu dan tuan Bagus bersamaan. Dan semua para wartawan berkasak kusuk serta bertanya - tanya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Fairi.
__ADS_1
"Dia adalah ibu dari orang yang anaknya meninggal dalam kecelakaan bersamaku. Dan dia juga ibu yang menantunya kalian bayar untuk menukar mobil yang seharusnya aku gunakan untuk kembali dari Bogor." Fairi berkata dan Kenan yang baru sampai ditempat itu merasa kaget. Kalau ternyata itu adalah perbuatan dan rencana dari nyonya Ayu.
Fairi berjalan turun dan mendekati ibu yang berdiri disebelah orang berkas hitam. "Dengan tega anda membayar menantu ibu ini untuk mencelakai orang lain, tapi yang terjadi malah dalam kecelakaan itu istrinya lah yang meninggal dunia bersama dengan janin yang dikandungnya. Selama 1 tahun aku menghilang bukan karena aku sudah mati, tapi karena aku ingin mencaritahu siapa dalang dibalik kecelakaan mobil yang dengan sengaja memotong rem dari mobil itu." Fairi berjalan mendekati tuan Bagus dan nyonya Ayu "apa kalau mobil itu adalah mobil curian maka rencana kalian tak akan ketahuan? Jangan jadi orang yang terlalu tamak. Mungkin anda tak akan ditahan karena tak ada bukti kalau anda ada campur tangan dengan kejadian itu. Tapi kalian berdua tak akan bisa lari dengan tuduhan penggelapan dan juga penyalahgunaan aset perusahaan."
Nyonya Ayu dan tuan Bagus menatap tak percaya pada Fairi, dan nyonya Ayu juga terkejut saat melihat Lina dengan cepat berpindah ke sebelah Fairi, padahal dari tadi Lina tadinya berdiri bersebelahan dan selalu mengikuti nyonya Ayu. Melihat Lina berpindah ke sebelah Fairi dan menyerahkan beberapa berkas yang dipegangnya, nyonya Ayu sangat marah pada Lina. Tapi ditanggapi hanya dengan senyuman oleh Lina, lalu Lina juga menyerahkan sebuah amplop kepada tuan Bagus.
"Ini adalah berkas - berkas bukti kecurangan mereka berdua selama ini."
Fairi berjalan kedepan pada wartawan dan menyerahkan berkas - berkas itu kepada para wartawan untuk dilihat dan disiarkan.
"Bohong, jangan percaya sama dia. Dia adalah penipu yang menyamar dan memakai wajah putriku" nyonya Ayu mengambil semua berkas - berkas itu "Lina, kau ternyata mengkhianati ku."
"Tak ada yang berkhianat, karena sejak awal Lina bekerja untuk ku bukan untuk anda."
Fairi berkata dan tersenyum menatap nyonya Ayu, lalu dia berjalan mendekati nyonya Ayu.
"Jangan terlalu percaya dengan orang terdekat mu ibu termasuk orang yang kau cintai itu." Fairi menatap tuan Bagus.
Nyonya Ayu mendekati tuan Bagus dan bertanya dengan raut wajah yang terlihat menyedihkan. Dan Fairi hanya tersenyum berdiri dibelakang nyonya Ayu
"Fairi." Kenan yang hendak mendekat ditahan oleh beberapa orang berkas hitam.
"Tahan tuan biarkan nona menyelesaikan maslah keluarganya." ucap salah satu orang berkas hitam.
"Maafkan aku Ayu." Tuan Bagus menunduk dan melepaskan genggaman tangan nyonya Ayu padanya.
"Bagus kau?" Nyonya Ayu terlihat kaget menatap tuan Bagus yang tak membelanya dan nyonya Ayu tak percaya itu.
Fairi yang berdiri ditempatnya tersenyum menyaksikan tuan Bagus dan nyonya Ayu yang mulai terpecah belah.
"Bawah mereka semuanya dari sini." ucap Fairi setelahnya saat melihat polisi datang bersama dengan Fahmi.
__ADS_1
"Aku tak akan memaafkan kalian semua dan kau juga Bagus aku tak akan memaafkan mu." teriak nyonya Ayu tak terima.
"Maafkan aku Ayu, aku tak punya pilihan karena aku juga tak berdaya." gumam tuan Bagus tertunduk melihat nyonya Ayu diseret polisi dan dia hanya terdiam sambil meremas kertas yang dipegangnya.
Setelah semua orang dibawah pergi oleh polisi tuan Bagus pun dibawah pergi dan dipertemukan dengan seseorang yang ingin bertemu dengannya. Didalam sebuah ruangan yang tertutup bekas kantor tuan Adi dahulu dan disana sudah ada seseorang yang sedang menunggu tuan Bagus dan juga Handoko yang tadi diseret secara paksa.
"Lama tak ketemu Gus, bagaimana kabarmu." ucap orang itu yang ternyata adalah tuan Sujono orang yang menolong Fairi dan membantunya selama 1 tahun terakhir ini.
"Kau..." Tuan Bagus terlihat kaget melihat tuan Sujono
"Kenapa, tak percaya dan kaget kalau ini adalah aku? Aku rasa sudah cukup kamu bermain -ain dengan keselamatan orang lain. Sekarang sebaiknya serahkan semua apa yang telah kau ambil dan bukan milikmu, atau kau lebih suka aku mengusutnya ke pengadilan seperti pasangan mu tadi." ucap tuan Sujono tersenyum duduk di kursi kerja tuan Adi.
"Jadi orang yang mengirimi aku pesan dan mengancam ku adalah kamu." Tuan Bagus merasa marah.
"Aku rasa kau tak perlu marah Gus, kau sudah menyakiti orang lebih dari cukup. Aku dan Fairi adalah bukti yang selamat dari kecelakaan yang kau atur dan masih ada lagi, lalu tuan Handoko adalah orang yang kau jebak. Jadi pilihanmu adalah menyerah secara baik - baik pada kami atau ku seret ke pengadilan." Tuan Sujono berkata dengan nada ditekan.
"Apa yang kau inginkan." Tuan Bagus berkata dengan emosi
"Tandatangani berkas yang ada didepan mu itu dan akui kalau kau adalah orang dibalik semua kecelakaan maut yang telah direncanakan." Tuan Sujono menunjuk pada berkas yang ada di atas meja.
"Baik, kau bisa melakukan segalanya." Tuan Bagus pun menanda tangani berkas - berkas itu tanpa membacanya dan tuan Handoko juga menanda tangani di berkas yang sama.
Fairi tersenyum melihat berkas itu telah ditanda tangani. Sedangkan Handoko dan Kenan menatap bingung pada Fairi dan juga tuan Sujono orang yang tak pernah menunjukkan dirinya.
"Non semuanya sudah diproses." Sabrina mendekati Fairi dan memberitahu kalau apa yang sedang dikerjakan sudah selesai.
"Bagus. Om Jono."
"Ok, ayo kita lihat. Ayo semuanya ikut." Tuan Sujono berjalan kearah ruangan tuan Bagus.
"Apa yang kalian inginkan sebenarnya." Tuan Bagus dengan marah mengikuti juga.
__ADS_1
Sedangkan para wartawan telah dibubarkan oleh beberapa orang berkas hitam bawahan dari tua Sujono. Dan keadaan perusahaan telah sepi hanya ada karyawan yang sedang bergosip membicarakan tentang nyonya Ayu dan juga tuan Bagus.