
Denny tampak berjalan tergesah-gesah. Ia menuju lift dan saat pintu lift terbuka, ternyata Grace sudah terlebih dahulu berada didalam Kift.
Namun Denny tampak acuh tak acuh dan tetap masuk kedalamnya.
Didalam lift, Grace tampak mendekatkan jaraknya dengan Denny, namun Denny masih diam tak bergeming.
Saat ada guncangan sedikit yang terjadi didalam lift, Grace sengaja ingin menjatuhkan dirinya ke sisi Denny, namun karena Denny yang mengetahui gelagat Grace, dengan cepat memajukan tubuhnya selangkah kedepan, sehingga membuat Grace limbung dan terjatuh.
Bersamaan dengan hal itu, pintu lift terbuka dan Fhytri melihat adegan tersebut.
Fhytri membekap mulutnya, ingin tertawa tetapi takut dosa.
Denny segera keluar dari lift tanpa menolong Grace terlebih dahulu.
"Fhytri, tolong bantu Ia berdiri, sepertinya kakinya keseleo" ucap Denny dengan nada dingin, lalu beranjak meninggalkan Grace yang tampak memerah wajahnya.
Fhytri menganggukkan kepalanya dan masuk kedalam lift untuk membantu Grace berdiri. Namun Grace menepisnya, sebab Ia tak membutuhkan bantuan dari Fhytri.
Fhytri yang ditolak ingin membantu merasa kesal, lalu meninggalkan Grace begitu saja, dan keluar dari lift.
"Dasar cewek aneh" Fhytri menggerutu.
Tiba-tiba saja Fhytri teringat skandal antara Grace dan Tony. Ia berniat melaporkan skandal mereka agar diberi teguran. Dimana setidaknya jika ingin bermain panas seharusnya di hotel bukannya dikantor, sebab jika dikantor mereka melakukan adegan panas, maka kantor akan tertimpa sial dan hilangnya keberkahan.
Sementara itu, Grace berusaha untuk bangkit dengan sempoyongan. Ia merasakan bokong dan pinggangnya sakit. Ia meringis menahan rasa sakit tersebut.
Dengan tertatih Ia berjalan keluar dari lift sembari memegangi pinggangnya.
Rasa kesal yang teramat sangat besar membuatnya semakin menaruh dendam dengan Denny. Ia berniat dan mencari cara bagaimana agar Denny takluk kepadanya.
"Dalam kamusku belum ada satupun pria yang yang tidak masuk dalam perangkapku" guman Grace dengan lirih.
Disisi lain, Fhytri berjalan menyusuri koridor menuju ruangan kerja Denny. Ia ingin segera memperlihatkan vedeo hasil rekamannya kepada Denny.
Setelah sampai didepan pintu ruang kerja Denny, Fhytri mengetuk pintu dengan ragu. Namun terdengar suara memerintahkan masuk.
Fhytri membuka pintu dan berjalan dengan debaran hati yang tak menentu. Bukannya ingin menjadi seorang pen-jilat atau pengadu, namun hal yang berbau kemaksiatan tidak mungkin Ia biarkan begitu saja dalam diam. Hal itu sama saja jika Ia bersubahat dalam hal yang terlarang.
Dalam keraguan Fhytri berdiri menghadap kepada Denny. Ia masih diam, lidahnya seolah keluh.
"Ada apa, Fhyt? Apakah ada hal yang sangat penting ingin kamu sampaikan?" tanya Denny yang masih menatap layar laptonya dan jari jemarinya sesekali menggeser mouse yang mempermudah pekerjaannya.
"Itu, Pak.. Anu" Fhytri bingung untuk memulai kata-katanya dari mana.
__ADS_1
"Kalau belum siap mau berbicara mengapa menghadap saya" ucap Denny dengan nada datar.
Seketika Fhytri semakin gugup. Lalu Ia mencoba memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang sedang dilihatnya.
"Saya ingin melaporkan.." ucapan Fhytri terhenti saat mendengar suara pintu dibuka. Lalu tampak Tony memasuki ruangan kerja Denny. Seketika Fhytri memucat dan semakin gugup.
Tony melangkah dengan tampak sampai dan sudah berdiri disisi Fhytri.
"Nah..kamu tadi mau melaporkan apa Fhyt?" tanya Denny kepada Fhytri.
"Anu, Pak.. Mau melaporkan hasil rekapan penjualan minggu ini" ucap Fhytri yang melenceng dari rencananya.
"Oh.. Kalau begitu mana hasil laporannya?" tanya Denny kepada Fhytri.
Seketika Fhytri membolakan matanya "Em..tertinggal, Pak.. Nanti saya ambilkan" ucap Fhytri sembari berpamitan dan berjalan tergesah keluar dari ruangan Denny.
Denny mengerutkan keningnya, Ia merasa bingung dengan sikap Fhytri yang tampak aneh dari biasanya.
Thony mengangkat kedua bahunya, Ia juga merasa aneh dengan sikap Fhytri yang terkesan mencurigakan.
"Kamu ingin melaporkan apa, Ton?" Tanya Denny kepada Tony.
"Ini,Pak. Hasil laporan Grace sudah saya periksa dan semuanya sudah sesuai dengan yang Bapak harapkan" ucap Tony, lalu memberikan Map berwarna kuning keatas meja kerja Denny.
"Baiklah.. Saya akan memeriksanya kembali nanti. Jika ada laporan yang telah diselesaikan oleh Grace, maka kamu harus memeriksanya terlebih dahulu dan setelahnya kamu serahkan kepada saya" ucap Denny dengan nada perintah.
"Baik, Pak.. Sekarang saya permisi, ada pekerjaan yang harua saya kerjakan" ucap Denny berpamitan.
"Ya. Silahkan" jawab Denny.
Lalu Tony keluar dari ruangan Denny.
Dilain tempat, Fhytri tampak gelisah. Ia seolah tak memiliki keberanian untuk menatakan apa yang sedang dilihatnya.
Sesaat Ia melihat Grace yang berjalan tertatih sembari memegangi pingganya yang masih terasa sakit.
Tampak Grace setiap saat selalu mengenakan pakaian yang terlihat sangat menggoda.
Buah melon yang berukuran besar dengan menggunakan blush ketat membuat dua benda kenyal miliknya seolah ingin mendesak keluar.
"Gimana si Tony gak tergiur, jika setiap hari pakaiannya seperti itu" Guman Fhytri dalam hatinya.
Sementara itu, Grace membuka layar komputernya dan akan mengerjakan laporan yang belum selesai dikerjakannya.
__ADS_1
Seaat Ia mendapat pesan masuk. Lalu Ia membukanya dan tampak Ia sangat gelisah. Denagn raut wajah kesal Ia beranjak dari kursinya dan menuju keruangan Tony.
"Dasar, Karyawan rendahan! Bisa-bisanya Dia memanfaatkanku!" gerutu Grace dengan kesal. Namun ancaman Tony akan menyebarkan vedeonya membuatnya harus terus mematuhi perintah Tony.
Grace mengetuk pintu ruang kerja Tony. Lalu membukanya.
Tampak Tony tertawa melihat kehadiran Grace yang tampak berwajah masam.
"Apa yang membuatmu begitu masam melihatku?" tanya Tony dengan tatapan liciknya.
"Memuakkan!!" ungkap Grace kesal.
Seketika wajah Tony berubah masam dan menatap Grace dengan kesal.
Ia menghampiri Grace dengan wajah kesal lalu mencengkram rahang wanita itu.
"Apa?! Coba katakan sekali lagi!" ucap Tony dengan wajah berang.
Grace menatapnya dengan wajah penuh amarah.
Lalu Tony berjalan menuju kearah pintu dan mengunci pintu ruang kerjanya.
Ia berjalan menuju arah Grace yang masih menatapnya dengan tajam.
Dengan kasar Tony menarik paksa blush milik Grace, lalu melucutinya.
Grace menepiskan tangan Tony yang bertindak kasar padanya.
"Dasar kau, Me- sum!" ucap Grace dengan kesal.
"Heeei.. Kau juga menikmatinya ja- lang!" balas Tony yang kini mencengkram buah melon milik Grace dengan kasar.
"Lepaskan..!!" ucap Grace menepis kedua tangan Tony yang sudah sangat kasar memperlakukan benda kenyal miliknya.
"Bukankah Kau mengejar Pak Denny hanya ingin bermain ranjang panas? Pak Denny memiliki istri, sedangkan aku sudah Duda. Jadi daripada kau menjadi pelakor lebih baik Kau memuaskan aku saja. Kudengar Kau sangat ahli" ucap Tony yang semakin membuat Grace antara geram dan menikmatinya.
"Tapi Kau bukan laki-laki yang masuk dalam typeku!" jawab Grace yang terus meracau.
"Benarkah?" tanya Tony dengan kesal. Lalu Ia melepaskan Grace, dan menuju laci meja kerjanya. Ia mengambil seauatu dari dalam laci dan kembali kepada Grace. Ia memaksa Grace menelan pil perang- sang yang disimpannya dan membuat Grace berusaha menolaknya, nanmun tenaga Tony lebih kuat darinya.
"Jika nanti Kau merasa gatal, jangan memintaku untuk menuntaskannya. Sekarang keluarlah dari ruanganku!" titah Tony, lalu melemparkan blush yang tadi dibukanya paksa.
Grace menangkapnya dan mengenakan Bra yang juga sudah terlepas.
__ADS_1