
"Fa aku ingin bicara dengan mu serius." Kenan menahan Fairi saat mereka pulang dari pesta malam itu.
"Kenapa Ken, emang ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan dengan ku." Fairi menanggapi Kenan biasa saja.
"Aku tau kamu pasti sudah tau kalau aku mencintaimu, dan aku tau kamu masih belum bisa memaafkan atas perbuatan ku dulu, tapi setidaknya tolong pikirkan lagi Fa. Aku tak menginginkan wanita lain selain dirimu dan aku hanya ingin bersama dengan mu. Apakah sudah tak ada perasaan untuk ku walau hanya sedikit saja." Kenan menatap Fairi dan Fairi terdiam.
"Aku tak tau Ken, aku sudah terlalu nyaman seperti ini. Aku tak ingin terluka atau kecewa lagi. Bukankah sekarang kita juga bisa menjaga mereka dengan baik. Bagiku mereka mengetahui kalau aku adalah ibu mereka dan kau papa mereka itu sudah cukup" jawab Fairi dan Kenan tak bisa berkata - kata lagi.
"Baiklah aku masuk dulu ya, makasih sudah mengantar, hati - hati dijalan. Selamat malam." Fairi keluar dari mobil Kenan dan menatap Kenan pergi menjauh.
"Maafkan aku Ken, aku masih belum bisa menerima mu bukan karena apa - apa, tapi aku belum siap untuk terluka lagi." gumam Fairi dan dia masuk kedalam rumah.
"Ma..." Kemal menyebut kedatangan Fairi.
"Belum tidur, dimana adik mu." Fairi memeluk dan mencium pipi Kemal dengan mesra
"Dia sudah tidur dari tadi. Oh iya ma, besok di sekolah ada kegiatan dan mengundang orang tua, apa mama bisa datang besok?" Kemal menyerahkan undangan pada Fairi
"Tentu, mama akan datang bersama dengan adikmu besok, tapi mungkin mama akan datang agak telat tak apa ya." ucap Fairi dan Kemal mengangguk
"Ayo sekarang tidur sudah malam ini sudah pukul 11 malam." Fairi membawah Kemal ke kamarnya
Sesuai dengan janjinya keesokan harinya sekitar jam 10 pagi Fairi ijin pada Lina untuk menangani semua pekerjaan di kantor karena dia ada pertemuan wali murid, Fairi dengan wajah sumringah membawah mobilnya menuju sekolah Kemal dan Arlan yang duduk disebelahnya terlihat sangat tak sabar ingin segerah bertemu dengan kakaknya di sekolahnya.
Fairi terlihat sangat cantik dengan setelan baju non formal, setelan hem putih dan celana hitam yang senada dengan setelan yang dikenakan oleh Arlan serta rambut ikat kuda. Fairi terlihat sedang berbincang dengan seseorang yang juga merupakan wali murid tiba - tiba saja hanponnya berdering.
"Iya halo, ini siapa?"
Fairi berjalan menjauh dari ibu - ibu tadi setelah meminta Arlan menunggu, terlihat Fairi sedang berbicara dan sesekali melihat layar handphonenya seolah orang yang diajak bicara tak menyahutinya.
Fairi balik dan berjalan menuju halaman sekolah lagi setelah dia mematikan panggilannya. Terlihat Fairi tersenyum dan bicara dengan isyarat pada Arlan yang berdiri menatapnya sambil mematung dan senyuman yang mengembang.
__ADS_1
"Uhm."
Beberapa orang menarik dan membungkam Fairi, mereka memaksa Fairi masuk kedalam mobil dan langsung melaju dengan cepat. Kejadian itu terjadi dengan sangat cepat sehingga orang - orang yang melihatnya tak sempat menolong, terlebih lagi mereka takut untuk menolong karena penampilan dari orang - orang yang membawah paksa Fairi sangat menakutkan kerena mereka membawah senjata
Arlan tertegun dia membuka mulutnya dengan lebar seolah ingin teriak memanggil Fairi namun tak bisa dan dia lari mengejar mobil yang membawa Fairi. Dengan bersusah paya Arlan berusaha untuk bersuara namun suaranya tak mau untuk keluar, dia terus lari walau mobil yang membawa Fairi sudah jauh.
"Siapa mereka, dan kenapa mereka berani sekali menculik orang didepan umum."
"Iya kasian anaknya dia lari mengejar tapi kelihatannya dia bisu."
Beberapa orang berbisik dan yang lainnya mengejar Arlan agar tak lari terlalu jauh, tapi Arlan menolak meraka dan terus berlari lagi. Arlan jatuh berkali - kali dan kembali bangun, luka di lutut dan telapak tangannya yang berdarah tak dihiraukannya.
"Ma...!" teriakan Arlan mulai terdengar dengan susah payah saat dia terjatuh untuk kesekian kalinya.
"Mama...!"
"Ma...!"
Nyonya Tias menghubungi Kenan dan dia langsung melaju menuju ke sekolahnya Kemal karena merasa khawatir dengan dua anak kecil yang ada di sana.
Selama dalam perjalanan nyonya Tias terus saja menghubungi tuan Bram untuk tanya perkembangannya. Dan nyonya Tias terlihat sangat panik dan juga sedih serat takut bersamaan.
Saat sampai di sekolah Kemal nyonya Tias melihat dua bocah sedang duduk sambil berpelukan, terlihat wajah ketakutan dari wajah Arlan, dan tubuhnya tak berhenti bergetar walau dia sudah didekap erat oleh kakaknya.
"Sayang cucu nenek."
Nyonya Tias mendekati kedua cucunya dan memeluk mereka berdua dengan erat. Nyonya Tias menangis karena dia merasakan betapa Arlan menahan ketakutan yang sangat luar biasa hingga dia tak mau untuk dipeluk oleh nyonya Tias selain Arman kakaknya.
"Bu guru, bagaimana kejadiannya? Kenapa bisa putriku diculik didepan kalian semua, dan tak ada yang menolongnya." Nyonya Tias bertanya dan menatap semua guru yang ada di kantor guru itu sambil menangis.
"Maafkan kami nyonya, kami tak tau kronologinya karena kami pada saat itu sedang ada di ruang pertemuan. Dan kami baru mendengar kabar itu setelah penculik itu membawah Bu Laras pergi, kami hanya menemukan putra keduanya pingsan dan tolongin oleh para ibu - ibu wali murid yang lainnya karena dia lari mengejar mobil penculik itu."
__ADS_1
Seorang kepala sekolah menjelaskan pada nyonya Tias atas info yang didapatkan oleh saksi mata yang melihat penculikan itu terjadi.
"Oh Ya Allah, putriku. Putriku yang malang." Nyonya Tias menangis dan dia memeluk Kemal dan juga Arlan bersamaan.
"Ma, sayang." Kenan yang baru datang kaget melihat kedua anaknya yang saling berpelukan, dan Arlan penuh dengan luka - luka di kaki dan tangannya.
"Pa." Kemal menatap Kenan dengan air mata yang terus mengalir.
"Arlan sayang." Kenan berusaha untuk melepaskan Arlan dari pelukan Kemal
"Ka..kak." Arlan menolak Kenan dan semakin erat memeluk Kemal.
"Sepertinya dia sangat syok Ken, dari tadi tubuhnya tak berhenti bergetar." Nyonya Tias menepuk punggung Kenan.
Kenan menangis tak berdaya melihat semua itu. Kenan takut kalau trauma Arlan akan kembali lagi. Kabar soal suara Arlan yang sudah kembali tak bisa dianggap sebagai kebahagiaan karena hal yang menimpah adalah kesedihan yang mendalam.
"Lan lan." Kemal menepuk punggung adiknya dan berusaha untuk bangun karena Kenan ingin membawah mereka pulang.
"Ka..kak." lagi - lagi Arlan merintih dan menyebut Kemal
"Apakah ada cctv yang kearah jalan depan." tanya Kenan pada kepala sekolah.
"Ada pak, silakan ikuti saya." kepala sekolah membawah Kenan ke kantor pemantau.
"Ma bawah mereka pulang, dan tunggulah di rumah." Kenan meminta pada mamanya untuk membawah kedua anaknya pulang dulu.
Setelah mendapatkan hasil dari moner mobil penculiknya Kenan langsung mencari kemana mereka membawah Fairi pergi. Bersama dengan papanya Kenan menyebar dan dalam waktu cepat mereka langsung mendapatkan hasilnya dari pencariannya, kalau mobil itu sedang menuju ke luar kota.
"Pak kami menemukan lokasinya, mobil itu sedang menuju Bogor dan mereka baru saja keluar tol." lapor seseorang yang dikirim dan disebar Kenan
"Bagus, hubungi pihak berwajib setempat dan minta bantuan mereka untuk memblok jalan keluar dari Bogor." Kenan terlihat sangat marah.
__ADS_1
Sementara di Bogor Handoko yang dihubungi Kenan langsung menggerakkan semua anak buahnya dan para pekerja untuk membantu menemukan mobil yang dikasikan oleh Kenan.