Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Bab 153


__ADS_3

"Apa yang kamu lakukan sayang, hem" Kenan mendekati Fairi dan memeluknya dari belakang saat Fairi duduk lesehan di Gasebo belakang rumahnya sambil menatap laptopnya.


"Aku sedang video call dengan Sabrina dan melihat kesibukan anak - anak kita yang sedang latihan dan ayah Herman yang sedang melatih Bee" Fairi tersenyum menatap Kenan.


"Hem, siapa yang melakukan ini" Kenan


"Sabrina, karena dia sedang ada di sana dan tadi menghubungi aku makanya aku memintanya untuk merekam mereka." Fairi


"Selamat pagi pak Ken." Sabrina


"Iya selamat pagi, bagaimana kabarmu setelah menjadi istri Sujono, apakah dia hebat?" Kenan


"Pak Kenan bisa saja." Sabrina merasa malu


"Eh, dia malu." Kenan


"Lagian kenapa kamu bicara begitu." Fairi


"Aku hanya ingin tau saja sayang" Kenan tersenyum dan mencium pipi Fairi


"Hei Ken, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu. Bisakah kau melakukan panggilan video dengan ku secara pribadi." Sujono nongol dan bicara dengan Kenan


"Kenapa terdengar serius sekali." Kenan merasa curiga


"Aku akan melakukan panggilan sekarang." Sujono pergi


"Dia selalu misterius, baiklah aku pergi dulu sayang." Kenan pun masuk kedalam ruang kerjanya dan membuka laptopnya.


"Halo Fa sayang, apa kamu sibuk hari ini?" Nyonya Tias menghubungi Fairi lewat panggilan telepon


"Tidak begitu ma, ada apa?" Fairi


"Bisakah kamu menemani mama untuk belanja hari ini karena mama akan ada perjalanan untuk ziarah Minggu depan, tapi mama belum punya baju seragam yang ditentukan. Bisakah kamu menemani mama mencari baju yang setidaknya senada dengan baju seragam jamaah." Nyonya Tias


"Baiklah, mau pergi sekarang atau nanti ma" Fairi


"Sekarang saja sayang, mama akan meminta Yusri untuk mengantar mama ke rumah kamu sekarang. Kamu siap - siap ya" nyonya Tias


"Baiklah ma" Fairi


"Rin, nanti aku menghubungi kamu lagi sekarang aku mau keluar sama mamaku dulu." Fairi berkata dengan Sabrina yang saat ini sedang video call dengannya


"Baiklah, hati - hati" Sabrina


"Iya" Fairi

__ADS_1


Fairi pun bersiap - siap dan saat dia keluar dari kamar Kenan masih sedang bicara dengan Sujono dan terlihat sangat serius. Fairi tersenyum dan menutup pintu ruang kerja Kenan lagi.


"Mau kemana no." tanya Abdi saat melihat Fairi rapi


"Oh iya mas, aku ingin pergi sama mama untuk belanja nanti. Mas Abdi tak perlu ikut dengan saya" Fairi berjalan keluar rumah


"Tapi bagaimana bisa seperti itu non, karena ayah Herman memerintahkan saya dan Abal untuk selalu menjaga dan melindungi non Ayu." Abdi ikut keluar sama Fairi.


"Kami cuma belanja dan gak kemana - mana kok mas" Fairi


"Tapi saya tetap akan ikut dengan non Ayu, jika non Ayu merasa terganggu maka saya akan mengikuti dari jauh." Abdi masih bersih keras.


"Loh mau keman kok sudah tapi non Fa" Man Ayub juga ikut tanya dan Abal yang ada bersama dengan Man Ayub langsung berdiri


"Mau pergi belanja sama mama Man." jawab Fairi duduk di Gasebo dekat pos satpam.


Ketiga orang itu berdiri dengan tenang di samping Fairi, dan Fairi tersenyum melihat mereka bertiga. Karena Man Ayub juga ikutan seperti Abdi dan Abal yang berdiri tegak seperti seorang siswa yang sedang melakukan upacara bendera.


Fairi pun tertawa terbahak setelah berusaha untuk menahan tawa "aku sudah bilang pada kalian untuk bersikap biasa saja dengan ku, dan ini lagi ngapain Man Ayub ikutan berdiri begitu"


"Lah maman juga ingin bersikap profesional non." Man Ayub menjawab dengan serius


"Sudah - sudah bersikap seperti biasa saja, aku lebih suka kedekatan kita seperti dulu. Dan untuk kalian berdua bersikaplah seperti Sabrina dan Anita dulu, aku gak suka diperlakukan seperti ini. Jadi lah seorang kakak yang menjaga dan melindungi adiknya bukan seorang pengawal yang tegang dan tanpa senyum begitu." Fairi berkata dan menatap ketiga orang yang sedang berdiri dengan tegak itu.


"Tapi non" Abal


"Jika kalian tak bisa maka aku akan meminta pada ayah Herman untuk menggantikan kalian saja." Fairi kembali duduk


"Baiklah, kami akan mengikuti apa kata non Ayu." Abal


Fairi tersenyum, kalau begitu sekarang duduklah. "bagus."


Man Ayub, Abdi dan Abal pun duduk bersama dengan Fairi dan mereka berbincang serta terlihat santai, man Ayub pun bercerita lagi yang tadi sedang menceritakan soal Fairi pada Abal yang ingin tau seperti apa Fairi sebenarnya karena selama yang dikenal oleh Abal Fairi adalah orang yang pendiam dan tertutup.


"Sayang." Nyonya Tias sudah sampai dengan Yusri


"Oh iya man, jika nanti mas Kenan tanya bilang saja aku pergi sama mama ya. Karena dia masih sibuk ini tadi" pesan Fairi pada man Ayub


"Baik - baik non, hati - hati." Man Ayub menjawab dan tersenyum


Abdi dan Abal pun mengambil alih mobil yang dibawah Yusri, dan mereka meninggalkan Yusri bersama man Ayub di rumah Fairi. Hal itu membuat Yusri merasa bingung dan tak bisa menolak kedua orang yang terlihat menakutkan bagi Yusri.


"Wah mereka menakutkan sekali ya Man" Yusri


"Oh, mas Abdi dan mas Abal. Mereka baik dan ramah kok." Man Ayub

__ADS_1


"Hah? Mereka yang seperti itu Maman bilang ramah" Yusri menatap man Ayub dengan heran


"Lah memang mereka ramah dan juga sangat enak diajak bicara." man Ayub


"Lalu yang tidak rama seperti apa menurut Maman" Yusri


"Ah sudah - sudah ayo kita ngopi saja." Man Ayub mengajak Yusri duduk di Gasebo sambil ngopi.


...💔💔💔...


"Bagaimana menurutmu sayang" nyonya Tias sedang mencoba sebuah gamis


"Hem, bagus sih ma cuma sedikit ramai karena ada bordir yang terlalu banyak." Fairi menjadi pengamat.


"Begitu menurutmu" nyonya Tias melihat bajunya di kaca


Mereka berdua berkeliling mencari baju yang cocok lagi untuk nyonya Tias dan yang memiliki warna sama dengan seragam dari anggota pengajian yang lainnya. Suda ada sekitar 5 toko yang didatangi dan masih tak ada yang cocok.


"Ya Allah lelah sekali mama sayang." keluh nyonya Tias


"Bagaimana dengan toko yang di ujung itu ma." Fairi menunjukan toko yang sepi pengunjung


"Tapi itu sepi sayang, nanti tak ada yang bagus bajunya." Nyonya Tias terlihat ragu


"Kita coba dulu saja ma, ayo." Fairi menarik nyonya Tias


"Melly ya" tegur seorang wanita yang menunggu toko itu


"Eh, siapa ya?" Fairi menatap bingung karena tak mengenal orang itu


"Apa kamu lupa dengan ku? Aku Malika teman sekolah kamu" ucap Malika menatap Fairi dan terlihat senang


"Malika" Fairi sedikit berfikir


"Iya, aku Malika. Sudah lama sekali jadi pantas saja jika kamu lupa sama aku. Tapi wajahmu tetap sama dan tak ada perubahan sama sekali" Malika tersenyum menatap Fairi


"Maaf, tapi dia bukanlah non Melly. Dia adalah non Fairi Ayu Larasati saudara kembar non Melly." ucap Abdi dan melindungi Fairi, karena sejak perubahan wajah Fairi dia telah me jadi adik Herman yang telah meninggal dunia.


"Oh maafkan aku" Malika terlihat canggung


"Tak apa, banyak yang salah mengenali kami berdua" Fairi berkata dan mendekati Malika.


"Iya, iya kalian kembar jadi tak heran. Mau mencari baju, ayo silakan dipilih saja." Malika langsung menunjukkan koleksi bajunya.


Terlihat nyonya Tias memilih beberapa dan juga mencobanya dan akhirnya menemukan yang cocok serta sama dengan seragam yang ada. Terlihat nyonya Tias sangat puas dan senang.

__ADS_1


Setelah memilih dan membayar Fairi sedikit berbincang dengan Malika dan pergi bersama dengan nyonya Tias serta kedua orang yang dari tadi mengikuti mereka untuk makan siang bersama. Terlihat Fairi tak membedakan antara keluarga dan pegawai, dia membuat meja untuk 4 orang dan mereka menikmati makan siang mereka bersama dengan senang.


__ADS_2