
Cuit cuit cuit
Nyanyian burung - burung terdengar sangat merdu dipagi hari dengan suasana sejuk yang sangat menyegarkan karena habis hujan semalaman.
"Oh, tangan ku." Kenan terbangun dan merasakan tangannya kram karena dia tertidur di meja dengan posisi duduk dan bertumpu pada kedua tangannya. Kenan keluar dari ruang kerja dan mengibas - ngibaskan kedua tangannya dengan berjalan sempoyongan dan rambut serta baju yang berantakan.
"Hei kau masih jelek dan berantakan seperti ini?" Farid yang datang ke rumah Kenan merasa heran melihat Kenan masih berantakan, padahal biasanya dia pukul 7 sudah terlihat rapi dan siap untuk berangkat.
"Hm, kau sudah datang? Bantu aku lepas baju aku mau mandi dulu, tanganku kram sulit untuk diangkat." Kenan berjalan menaiki tangga dengan sempoyongan.
"Kau mabuk semalaman ya? Kenapa jalan mu oleng begini." Farid menatap aneh pada teman sekaligus bosnya itu.
"Kau ingin aku mendepak mu lagi? Aku gak bisa tidur semalaman dan membaca semua berkasnya, entah kapan aku tertidur saat bangun semua tubuhku sakit, tangan dan kakiku kesemutan dan ngilu." jelas Kenan mengangkat kedua tangannya untuk membantu Farid melepaskan kaosnya.
"Ok - ok suamiku, aku percaya pada mu." Farid berkata dengan nada suara centil dan menempelkan jari telunjuknya di bibir Kenan.
"Mau ku bunuh kau?!" Ketus Kenan mengangkat tangannya membentuk tinju
"Hahaha, cepat mandi ku tunggu di luar." Farid langsung menjauh dan keluar dari kamar Kenan.
...💔💔💔...
Dalam ruang rapat Kenan terlihat tak fokus dan dia banyak bengong sehingga membuat semua pegawai Kenan jadi bertanya - tanya karena mereka merasa ada yang aneh dengan bosnya hari ini.
"Kenan." Farid memegang bahu Kenan untuk menyadarkan lamunan panjang Kenan.
"Ah, maaf. Bisa tolong kau ulangi lagi karena tadi aku kurang fokus." Kenan berkata dan berusaha untuk memfokuskan pikirannya yang terasa kacau.
Rapat hari itu banyak dipimpin oleh Farid karena Kenan seolah tak bisa mengeluarkan idenya dalam mengatasi maslah kali ini, dan akhir dari rapat pun tak bisa diputuskan karena Kenan meminta untuk menunda rapat sampai besok pagi, karena dia benar - benar tak bisa fokus sama sekali dengan pekerjaannya hari ini. Seakan - akan hatinya sedang ditarik kesuatu tempat hingga membuat fokusnya hilang di sini.
"Yo, kalian sudah selesai rapat? Aku sudah lama menunggu kalian di sini." Dafid yang datang ke kantor Kenan sudah 2 jam menunggu di ruangan Kenan.
"Kau tak sibuk, kenapa kesini?" Farid bertanya dengan menatap Dafid aneh.
Dafid nyengir menatap Farid dan menadakan tangannya, melihat itu Farid mengerti kalau Dafid ingin memakai ponselnya untuk menghubungi adiknya yang tak bisa dihubungi dengan teleponnya. "Kau bertengkar lagi dengannya?" Farid bertanya sambil menyerahkan ponselnya.
"Tidak, tepatnya aku tidak tau karena dia tiba - tiba saja memblokir nomerku." Dafid berkata dengan wajah dibuat sedih.
"Kau mengganggunya, sehari kau menghubungi dia sampai 10 kali lebih jelas saja diblokir." jawab Farid.
__ADS_1
"Kenapa kau jadi kakak ipar begitu kejam? Namanya juga rindu apa salahnya?" Dafid berkata dengan wajah sedih.
"Kalau begitu nikahi dia." Kenan ikut nyeletuk.
"Aku juga maunya begitu, tapi dia gak mau karena masih ingin mencari pengalaman, wanita benar - benar sulit untuk dimengerti." Dafid menghela nafas dalam dan menekan nomer Melisa.
Ruangan Kenan jadi hening seketika saat mereka fokus pada urusan mereka masing - masing, Dafid dengan tegang menunggu teleponnya diangkat oleh Melisa, Farid fokus pada berkas rapat tadi, Kenan fokus sama komputernya untuk mempelajari lagi bahan rapat besok pagi.
"Halo kak ada apa? Aku sedang sibuk sekarang, aku ada di rumah sakit ini nanti saja teleponnya." Suara Melisa terdengar cemas dan tak tenang.
"Tunggu kau di rumah sakit? Kau sedang apa? Kau sakit apa? Apa kau tak apa? Bagaimana keadaanmu?" Dafid panik langsung berdiri dan melontarkan banyak pertanyaan, Farid dan Kenan ikut mendengarkan dengan penasaran.
"Tidak buka aku yang sakit, tapi aku sedang mengantarkan teman yang mau lahiran dan ini sudah lama masih belum juga ada yang keluar dari ruang bersalin makannya aku sangat cemas, sudah dulu ya, Bey." Melisa langsung mematikan sambungan teleponnya
"Apa, halo, halo, dimatikan?" Dafid menatap kosong layar ponselnya.
Pyaar
Dafid dan Farid seketika kaget mendengar suara barang pecah. "Ya Allah Kenan kau tak apa?" Farid lari melihat Kenan yang terjatuh dan tangannya terluka karena terkena pecahan kaca dari papan namanya yang ada diatas meja.
Dafid dengan cepat menangani luka Kenan. Setelah selesai Farid dan Dafid menatap Kenan yang terlihat linglung. "Kau kenapa? Seharian ini kau terlihat kurang baik dan tak bisa fokus, dan kau banyak melakukan kesalahan, apa kau tak enak badan?" Farid bertanya dengan cemas.
"Sepertinya kau sedang stres, sebaiknya kau pergi untuk dinas luar deh, pergilah sendiri untuk kesempatan kali ini, urusan di sini biar aku yang atasi." Farid berkata dengan serius.
"Tidak, tidak usah. Biasanya kan kau yang pergi sama Ambar, jadi pergilah kalian." Kenan berkata dengan malas dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
"Tidak, tidak. Beneran kali ini kau yang harus pergi karena ini menyangkut urusan bisnis kita dengan pihak luar, agar kerja sama kita tetap berjalan baik dan lancar. Siapa tau kau akan menemukan hal baik saat disana nanti, kau masih ingatkan kalau aku akan memberimu hadiah kejutan? Dan inilah kejutannya, kau pasti akan suka jadi pergilah, sekalian refreshing kan otakmu itu, Agus akan menemani mu." Farid berkata dengan serius.
"Kemana kali ini?" Kenan bertanya dengan menutup matanya.
Farid dan Dafid saling tatap dan mereka berdua berkata dengan bersamaan "Beijing, hotel Janshon"
"Hei, kenapa kalian berkata bersamaan. Mencurigakan, kalian tak merencanakan sesuatu yang tak baik untuk aku kan." Kenan langsung menatap kedua temannya itu
"Sudah pergilah kau akan menemukan sesuatu yang bagus disana, kalau beruntung. Aku akan menyiapkan keberangkatan mu lusa ok." Farid berkata dengan penuh semangat.
...💔💔💔...
30 menit sebelumnya
__ADS_1
Didalam ruangan yang serba putih dan berjajar beberapa alat dari logam yang terlihat sangat bersih dan mengkilap, serta kain besar dan kecil yang menutupi alat - alat itu terlihat sangat rapi. Serta beberapa orang yang berseragam putih dan lengkap dengan APD mereka sedang menunggu dengan tatapan tegang juga berusaha memberikan semangat dan sangat antusia.
"Ayo Bu Fairi kepalanya sudah kelihatan tinggal Bu Fairi mengejan yang kuat dan benar." seru dokter pada Fairi yang sedang berjuang untuk melahirkan putranya.
"Semangat lah Bu Fairi, Bu Fairi pasti bisa." seru suster yang menjadi asisten dokter yang membantu Fairi lahiran.
"Ah, hem." Fairi terlihat sangat kesakitan dan keringat bercucuran membasahi wajahnya.
"Iya bagus sedikit lagi ayo semangat Bu Fairi." seru dokter lagi.
"Kena.....n kau b*e*ngs*k?!" teriak Fairi sekuat tenaga dan meremas seprei dengan kuat dengan kedua tangannya.
Oeeee (suara tangis bayi pun terdengar menggema di seluruh ruang bersalin)
Fairi melemas dia tersenyum dan merasa lega karena dia berhasil melahirkan putranya dan mendengarkan tangisan yang sangat keras. Seolah bayi itu tak ingin dilahirkan ke dunia yang penuh dengan drama dan maslah ini.
"Selamat ya Bu Fairi, anda sangat hebat dan luar biasa. Putra anda sangat tampan dan juga sehat, suster masih membersihkan dia, nanti akan diberikan pada Bu Fairi." Dokter yang membantu Fairi lahiran mengucapkan selamat pada Fairi.
"Terima kasih dokter, terima kasih banyak." Fairi mengucapkan terima kasih berkali - kali pada dokter yang membantunya dan menemaninya selama kehamilan hingga kelahiran ini.
30 menit kemudian
"Bagaimana bi?" Melisa bertanya pada bi Mina dengan cemas setelah dia mematikan sambungan telepon dengan Dafid.
"Sepertinya sudah lahir, karena bibi mendengar suara tangisan bayi." jawab bi Mina tak kala cemasnya dengan Melisa.
Melihat Dokter keluar bi Mina sama Melisa langsung datang mendekat dan bertanya mengenai keadaan Fairi didalam. "Jangan cemas, ibu dan bayinya dalam keadaan sehat, sekarang masih dibersihkan. Setelah ini akan dipindahkan ke ruang perawatan dan kalian baru bisa melihatnya." jelas dokter yang membantu kelahiran anak Fairi
"Terima kasih dokter." ucap bi Mina lega
Melisa dan bi Mina saling menggenggam tangan dan merasa lega karena Fairi telah melewati masa kritis dalam persalinan. Dan saat Fairi dipindahkan ke ruang rawat terlihat wajah bahagia yang sangat berseri - seri, senyuman yang merekah dan menunjukkan kemenangan dalam perjuangan antara hidup dan mati.
"Selamat nak Fairi, selamat." Bi Mina mengucapkan selamat sambil menangis dan memeluk Fairi erat.
"Terima kasih bi, Fairi sangat bersyukur memiliki bibi disamping Fairi." Fairi berkata dengan penuh rasa terima kasih.
"Selamat mbak Fairi, telah menjadi seorang ibu dan selamat untuk ku juga karena telah menjadi seorang Tante yang cantik." Melisa berkata dengan narsis.
"Terima kasih karena selama ini kamu telah banyak membantu aku." Fairi menggenggam tangan Melisa dan tersenyum bahagia.
__ADS_1