
Semua oran mendengarkan cerita Fairi dengan serius dan mereka tak menyangka kalau akan ada seseorang yang rela mengorbankan diri dan menolong Fairi, lalu nyonya Tias menatap bingung karena suaminya juga mengetahui soal Fairi dan ingin tau cerita detailnya.
"Tunggu, jika ceritanya memang begitu lalu bagaimana dengan papa. Karena papa bilang kalau papa sudah mengetahui kalau Fairi masih hidup bahkan saat hari pemakaman." Nyonya Tias bertanya pada suaminya dan menatapnya dengan tajam.
"Ya seperti yang papa bilang tadi ma, kalau papa bertemu dengan Herman teman papa saat papa ada kunjungan ke rumah sakit daerah yang ada di Bogor dan papa melihatnya disana." jelas tuan Bram
Kilas balik tuan Baram
"Pak mohon maaf, direktur rumah sakit masih ada hal penting yang harus diselesaikan dan beliau tidak bisa menemui anda, apakah anda ingin membuat janji untuk besok?" seorang perawat menginfokan pada tuan Bram yang ingin mendonasikan biaya untuk bantuan bagi orang - orang yang tak mampu.
"Hem, begitu ya. Baiklah kalau begitu saya akan kembali lagi besok saja." Tuan Bram dan para anggotanya pergi meninggalkan rumah sakit.
"Bagaimana keadaannya? Sepertinya dia harus dipindahkan ke rumah saja, mungkin ada orang yang ingin mencelakainya." ucap seorang pria tinggi dengan setelan jas hitam.
"Hem, baiklah kalian bawah dia ke rumah nanti dan bilang pada Jono untuk datang." ucap tuan Hendra pada bawahannya.
"Baik pak." Bawahan tuan Hendra pun pergi.
"Her, beneran Herman kan?" Tuan Bram menegur dan memastikan dengan membalikkan tubuh tuan Herman.
"Oh, Bram." tuan Herman kaget dan tak menyangka akan bertemu dengan tuan Bram di rumah sakit daerah
"Ya Allah...beneran kamu ya, lama sekali kita tak bertemu dan kau tiba - tiba saja menghilang." Tuan Bram sangat senang bertemu dengan teman lamanya.
"Ada urusan apa kau kemari." Tuan Herman bertanya setelah mengajak tuan Bram untuk duduk.
"Aku datang ingin bertemu dengan direktur rumah sakit ini, tapi karena tak ada janji jadi tak bisa bertemu katanya dia ada urusan yang mendesak dan penting yang harus segerah dilakukannya." jelas tuan Bram
Tuan Herman tersenyum dan dia tak menyangka kalau yang ingin bertemu dengannya adalah Bram teman lamanya. "Maafkan mereka."
"He...tak masalah kenapa kau yang minta maaf." Tuan Bram berkata dengan santai.
"Kau dari dulu tak pernah berubah selalu saja santai seperti ini" tuan Herman
"Bagaimana kabar mu, sudah sangat lama sekali kan." Tuan Bram bertanya dan merasa sangat senang bertemu dengan teman lamanya.
"Maaf pak dia sudah sadar dan dia bilang kalau namanya adalah Fairi." ucap peria berjas hitam pada tuan Herman.
"Oh baiklah, aku lihat pasien ku dulu. Tunggu sebentar ya." Tuan Herman bangun dan berjalan kesebuah kamar.
__ADS_1
Dengan diam - diam tuan Bram mengikutinya karena dia mendengar nama Fairi disebut tuan Bram jadi merasa penasaran. Saat sampai disebuah ruangan tuan Bram terkejud kalau orang yang berbaring dengan tubuh yang penuh dengan luka itu benar - benar Fairi putrinya. Dengan cepat tuan Bram menerobos masuk dan mendekati Fairi.
"Bram." Tuan Herman kaget.
"Pa.." suara Fairi yang memanggil tuan Bram membuat tuan Herman semakin kaget.
"Apa yang terjadi nak? Kenapa bisa seperti ini, siapa yang berani melakukan ini padamu?" Tuan Bram terlihat panik melihat Fairi penuh luka di sekujur tubuhnya.
"Ada orang yang ingin mencelakai ku pa, dan aku selamat karena seseorang yang ingin menyelamatkan ku. Siang itu...Tante Ayu menghubungi ku dan bilang kalau ayah sakit...dan masuk rumah sakit karena jatuh pingsan." jelas Fairi tersendat sendat suaranya pada tuan Bram yang juga didengar oleh tuan Herman.
"Papa akan membawah mu kembali ke Jakarta. Kita akan berobat disana." Tuan Bram berkata dengan panik.
"Tunggu Bram, tadi dia bilang kalau ada orang yang ingin mencelakainya. Maka akan berbahaya jika kau membawahnya kembali dalam keadaan dan kondisi dia seperti ini. Akan lebih baik jika kau serahkan dia padaku saja, biar aku yang merawatnya dan membawahnya kembali saat dia sudah siap dan jauh lebih baik." Tuan Herman menawarkan diri.
Setelah merundingkan masalah itu dan juga tuan Bram menunjukkan foto Tante Ayu yang disebutkan oleh Fairi tadi membuat tuan Herman semakin bertekad untuk merawat Fairi dan membuat Fairi jauh lebih kuat lagi, akhirnya tuan Bram setuju dan dia juga berjanji untuk tak mengatakan apa pun dalam keadaan bagaimana pun.
"Aku kan mematikan sambungan kontak antara kau dan putrimu jadi tolong jangan buat keadaan semakin susah, apa pun yang akan terjadi nanti kau harus kuat." Tuan Herman berkata pada tuan Bram dan Fairi tersenyum menatap tuan Bram dengan lemas.
Saat sekarang
"Jadi itu sebabnya papa merasa tenang saat Kenan datang dengan membawah jasad Fairi, tapi bagaimana papa bisa tak menunjukkan reaksi apa pun waktu itu." Nyonya Tias bertanya dengan heran.
Fairi tersenyum dan Kenan yang duduk disebelah Fairi terus merangkul bahu Fairi dan mengusapnya dengan lembut, memberikan dukungan pada Fairi. Bahkan Kenan juga ikut mengusap kepala Kemal yang tidur dipangkuan Fairi.
Nyonya Tias dan bi Ningsih yang melihat adegan itu merasa sangat senang dan bahagia karena melihat dua orang yang mereka sayangi seolah sedang bersama dan membentuk keluarga kecil yang bahagia.
"Nyonya apakah anda melihat itu?" bisik bi Ningsih pada nyonya Tias.
"Iya bi, alangkah indahnya jika semua yang kita lihat itu adalah kenyataan." Nyonya Tias pun berbisik.
"Mama, aku ingin tidur sama mama malam ini." Kemal yang terbangun merengek dan naik kepangkuan Fairi.
Kenan tersenyum, Kenan mengusap kepala Kemal dengan lembut. "Iya sayang, kamu akan tidur sama mama malam ini di sini."
"Menginap lah untuk malam ini, dan mereka bisa tidur di kamar yang lain, karena banyak kamar di rumah ini." ucap Kenan menatap Fairi.
"Hem." Fairi mengangguk
"Baiklah, sebaiknya kamu istirahat sayang karena hari juga sudah malam. Besok baru kita bahas lagi." Nyonya Tias berkata dan menyuruh Fairi untuk istirahat
__ADS_1
"Sayang ayo minum air dulu" Fairi membawah Kemal ke dapur dan menuangkan segelas air untuk Kemal
Kenan yang melihat itu tersenyum, karena Fairi yang masih mengingat tepat letak dapur dan berjalan tanpa canggung membuat Kenan membayangkan kalau dia akan hidup bersama dengan Fairi dan putranya di rumah ini dengan bahagia.
"Dimana kamarnya Ken." tanya Fairi pada Kenan
"Aku antar" Kenan membawah Fairi ke kamar yang bersebelahan dengan kamar Kenan. "Istirahatlah."
"Terima kasih." Fairi masuk kedalam kamar dan membawah Kemal ke kamar mandi untuk buang air kecil lalu tidur lagi.
Saat Fairi dan semua orang yang lainnya terlelap hanya Kenan yang masih terjaga dan sedang bekerja di ruang kerjanya. Setelah selesai perlahan Kenan berjalan menuju kamar dimana Fairi dan Kemal terlelap.
"Aku sangat senang kau selamat dan tak apa - apa." Kenan duduk disamping tempat tidur dan membelai kepala Fairi.
"Apa kau tau kalau aku merindukanmu sejak kau menghilang dulu, hanya kau yang membuatku gila dan mencari mu seperti orang gila." Kenan bernafas dalam dan terus menatap wajah Fairi yang terlelap, lalu membelainya dengan lembut "cantik, sungguh sangat cantik. Apakah ini wajah yang telah dioperasi karena terluka."
"Kau sangat kejam Fa, kau memberikan mawar dalam hatiku namun setelah itu kau menancapkan duri - durinya dan tak mau mencabutnya, hingga membuat aku terluka sangat lama karena menahan rasa rindu padamu."
Kenan menatap sendu lalu mendekat dan mencium kening Fairi sangat lama dan dalam.
"Aku akan menjadi orang yang sangat beruntung karena miliki kalian perdua. Terima kasih karena kau telah melahirkan Arman untuk ku."
Kenan kembali mencium kening Fairi dan kepala Kemal lalu tersenyum dan keluar dari kamar itu serta menutup pintu dengan perlahan.
"Ken" nyonya Tias yang berjalan dari dapur melihat Kenan yang keluar dari kamar Kemal
"Ma, kenapa mama masih terbangun." Kenan kaget melihat mamanya
"Apa kamu mencintai Fairi? Atau kamu hanya terobsesi karena dia adalah ibu dari putramu" nyonya Tias menatap Kenan dengan tajam.
"Ma, apa yang mama katakan?" Kenan merasa kaget dengan pertanyaan mamanya karena bertanya dengan tajam pada dirinya.
"Aku gak mau kalau kamu nanti menyakiti Fairi lagi, walau aku sebenarnya bahagia jika kalian bersama. Tapi aku masih tak percaya sama kamu, ingat itu." Nyonya Tias berkata dengan tegas pada Kenan lalu pergi meninggalkan Kenan
"Ya Allah, sebenarnya dia mamaku atau bukan sih." Kenan bergumam dan pergi ke kamarnya
Didalam kamar Fairi terbangun dan diam menatap langit - langit kamarnya, karena sebenarnya Fairi sudah bangun dari sejak awal Kenan masuk dan duduk disebelahnya. Jadi Fairi bisa mendengar dan tau semua apa yang dilakukan oleh Kenan serta yang dibicarakannya.
Fairi bernafas dalam dan menatap Kemal yang terlelap dalam pelukannya, dalam hati Fairi merasa kacau dan tak tau harus berbuat apa untuk dirinya dan juga putranya yang saat ini telah mengerti dan tau kalau Kenan adalah papanya.
__ADS_1