Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Episode 234


__ADS_3

Zain melihat kondisi Khumairah semakin membaik. Mual diperutnya tak lagi pernah kambuh, dan selera makannya juga sudah mulai membaik dan membuat Istrinya itu terlihat chubby.


Dua bulan lagi diperkirakan akan jadwal untuk operasi. Zain harus mengumpulkan uang untuk biaya operasi yang tanpa tanggungan pemerintah akan menelan biaya belasan juta dan itu hanya untuk biaya operasinya saja, sedangkan obat-obatan dan juga biaya hidup selama dirumah sakit dan juga Kos mereka, maka Zain harus mengumpulkan setidaknya 20 jutaan.


Baginya saat ini uang sebesar itu sangatlah besar, berbeda saat Ia masih tinggal di kota dan menjadi seorang pengusaha yang kotor, uang sebesar itu begitu sangat kecil baginya.


Namun uang yang dicarinya dengan jalan kotor hanya habis dengan begitu mudahnya, dan juga tidak terlihat manfaatnya.


Sedangkan uang yang dicarinya dengan jalan halal, meskipun berliku dan penuh dengan cobaan, Ia dapat merasakan begitu manfaatnya dan keberkahannya.


"Mas.. Sepertinya rasa mual Mai tidak ada lagi, dan Mai bisa bantu Mas buat dagang.." ucap Khumaira menawarkan bantuan.


"Jangan, Sayang.. Kamu bantu beresin rumah saja, sesanggupnya dan jangan dipaksa, sebab nanti akan berdampak pada janin kamu" ucap Zain menjelaskan.


"Tapi Mas pasti capek, angkat barang terus" ucap Khumairah yqng merasa tak tega melihat suaminya.


"Ini sudah tanggungjawab, Mas.. Dan Kamu tidak boleh membantah" jawab Zain dengan lembut.


Khumairah tersenyum, sembari memandangi suaminya.


"Mas terlihat tampan dengan kaki itu" ucap Khumairah keceplosan.


Zain tersenyum sumringah dan merasa begitu tersanjung dengan pujian kecil dari istri polosnya itu.


"Mas.."


"Ya.." jawab Zain sembari menimbang minyak goreng untuk ukuran 1 kg dan akan ditata dikeranjang dagangan.


"Rambut Mas panjang, banget, dan bulu jambang serta janggut juga sudah mulai panjang banget, apa gak Mas cukur saja, biar kelihatan tampannya" ucap Khumairah dengan polosnya.


Zain terdiam, lalu menghentikan sejenak pekerjaaannya, dan menatap datar pada istrinya. Ia hanya ingin mencari jawaban yang tepat untuk sang istri. Sebab sang istri tidak mengetahui jati dirinya sebenarnya, dan andai wanita itu tahu, Ia tidak dapat memastikan apakah wanita itu tetap mencintainya atau meninggalkannya.

__ADS_1


Ia melakukan semua itu karena ingin menutupi penyamarannnya dan tidak ingin terhangkap kembali sebelum Khumiarah selesai operasi, sebab Khumairah gadis polos yang tidak memiliki siapapun sebagai keluarganya kecuali Ia seorang dan tidak mengenal tentang administrasi apapun.


"Cukup adik saja yang tau ketampanan, Mas" jawab Zain asal.


Khumairah mengernyitkan keningnya mendengar jawaban Suaminya "Maksudnya?" tanya Khumairah penasaran.


"Ya kalau ada wanita lain yang tau ketampanan Mas dan dia suka dengan Mas, lalu Mas nya diculik? Apakah Dik Mai gak takut?" tanya Zain mencoba menguji Khumairah.


Seketika Khumairah terdiam dan menatap suaminya.


"Jangan.. Kalau Mas diculik perempuan lain, Mai dengan siapa? Ayahkan sudah tidak ada" ucap Khunairah dengan nada sedih.


Melihat wajah istrinya yang berubah mendung, Zain beranjak dari duduknya dan menghampiri sang istri, lalu mendekapnya dengan penuh cinta dan ketulusan.


"Maka jangan pernah meminta Mas untuk mencukur janggut, jambang dan juga memangkas rambut" jawabnya dengan mengecup ujung kepala istrinya.


Khuamirah menganggukkan kepalanya dengan patuh.


Khumairah menganggukkan kembali kepalanya, lalu beranjak dari tempat duduknya dan mencoba membersihkan rumah untuk meringankan pekerjaan suaminya.


Zain menatap wajah polos yang kini sedang menyapu lantai tersebut.


Ada bayang-bayang ketakutan didalam benaknya yang tampak begitu menghantuinya.


Wajah polos dengan sebuah ketulusan hati, yang begitu tak mengenal apa tentang kejamnya dunia luar yang belum Ia rasakan.


Zain mengjelq nafasnya, Ia masih menghitung sisa masa tahanannya jika Ia masih didalam penjara sekitar 4 bulan lagi, namun jika saja Ia tertangkap kembali, itu akan menjadi masa paling menakutkan.


Ia bukan takut untuk menghadapi jeruji besi, namun Ia takut meninggalkan Khumairah yang harus bejuang seorang diri dalam kerasnya kehidupan.


Zain mendenguskan nafasnya dengan berat, tampak beban yang dipikulnya begitu berat. Ia kembali mengenang masa silam. Anadai saja waktu dapat diputar kembali, maka Ia tidak akan menaruh dendam kepada Amyra, merelakan dan mengikhlaskan itu berat, namun terasa ringan untuk hati dan kehidupan.

__ADS_1


Andai semua dapat diulang kembali, maka Ia tidak akan menempuh jalan kebodohan dengan mencelakai seseorang dengan sebiah kebencian yang berakibat pada dirinya sendiri.


Air mata penyesalan telah jatuh, namun semua telah menjadi bubur, dan kini bagaimana caranya Ia agar membuat bubur itu menjadi bubur istimewa, maka Ia harus menambahkan seosoning dan juga topping yang menggugah selera.


Begitu juga kehidupannya, sesuatu yang sudah hancur dan pernah terjebak dalam kubangan dosa, maka Ia harus membuatnya menjadi lebih baik dan bermanfaat dimata masyarakat.


Di desa ini, Zain mulai mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, Ia menata hidupnya dengan segala kegiatan positif.


Penyamarannya dengan sebuah nama yang berbeda dan dengan identitas yang berbeda.


Di desa ini Ia lebih dikenal dengan nama Syam, dan warung sembakonya juga sering disebut orang dengan sebutan warung bang Syam.


Zain mematut dirinya dicermin, tampak rambutnya yang sudah panjang seketiak, dan jambang yang tumbuh subur memenuhi wajahnya, Ia tidak akan mencukurnya sebelum anaknya kelak berusia 2 tahun, sebab Ia merasa kaksusnya akan ditutup saat masa itu.


Wajahnya sedikit kumal, dan Ia hanya membersihkannya seadanya saja. Khumairah benar, jika Ia terlihat tampan dengan rambut rapih dan tanpa jambang.


Namun semua demi Khumiarah dan juga calon bayi mereka.


Ia tersenyum sumringah, bagaimana kelak Ia akan memiliki anak, bermain bersama anaknya dan kehidupan sederhana mereka tanpa adanya ke khawatiran.


Sesaat Ia terkenang akan Anyra saat bertemu di klinik praktik dokter ternama itu. Dimana Amyra tak mengenalinya sama sekali, dan berarti itu menandakan jika Amyra tidak mengenali penhamarannya, dan tentunya melupakannya, sebab jika Amyra masih menyimpan sedikit rasa untuknya, setidaknya Anyra mengenalinya dengan nada suaranya.


Zain meyakini jika Anyra benar-benar telah hidup bahagia dan melupakan segala kenangan masa lalu mereka.


Begitu halnya dengannya, Ia kini juga sudah berbahagia bersama dengan Khumaira. Meskipun kini kehidupannya berbanding terbalik dengan masa lalunya yang penuh gemerlapan uang juga barang berharga lainnya.


Bahkan Zain pernah terjerumus dalam jurang dosa kemaksiatan. Berbagai gadis remaja perna Ia cicipi dengan berbagai bentuk tubuh dan Usia yang masih muda.


Namun semua itu hanya kenangan buruk saja yang harus Ia buang dan tak akan terulang lagi.


Kini Khumairah adalah masa depannya, bersama calon sang buah hati yang sebentar lagi akan hadir dalam menemani kehidupan baru mereka.

__ADS_1


__ADS_2