Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
episode 273


__ADS_3

Zain mengendarai mobilnya dengan perasaan yang tak nyaman.


Sejak bertemu orang dalam gangguan jiwa yang tiba-tiba mangkal dipasar itu membuatnya merasa gelisah.


Namun entah mengapa Ia juga merasa teringat akan Khumairah. Ia merasakan jika ada sesuatu yang terjadi pada Khumairah, namun Ia sudah sangat begitu tanggung untuk meneruskan perjalanannya.


Pria itu terus saja menyetir. Lalu kembali ke lapak dagangannya diawal Ia berjualan.


Zain mulai menggelar dagangannya, dan menghidupkan mikrofonnya dengan panggilan kepada warga jika Ia membawa berbagai barang dagangan kebutuhan pokok.


Beberapa warga yang ternyata sudah menantinya datang menghampiri lapak berjualannya.


Setelah mereka membeli beberapa barang sembako dan lainnya, kini lapaknya kembali sepi dan kembali menunggu pembeli.


Zain terus mengingat sang istri, Ia mencoba menghubungi Khumairah, namun berulangkali Ia menelefon tak juga diangkat.


"Kemana Khumairah? Apakah Ia sedang mencuci didapur..?" gumannya lirih, mencoba berdikor positif tentang kondisi sang istri.


Lalu datang dua orang pembeli, dan Zain melayaninya.


Setelah pembeli itu kembali, Zain kembali menghubungi nokor Khukairah, dan tidak ada juga jawaban. Hatinya semakin gelisah, Ia merasakan jika seauatu terjadi pada sang istri.


Zain melirik jam diphonselnya. Waktu menunjukkan pukul 12 siang. Zain membuka bekalnya, dan memakannya, namun sepertinya Ia tak berselera. Fikirannya terus tertuju pada Khumairah yang tak jua kunjung mengangkat telefonnya.


Sementara itu, Khumairah terbangun dari tidurnya. Ia melirik jam didinding ruangan kamarnya yang menunjukkan hari sudah sangat siang.


Ia ingin bernjak dari kasurnya, namun kepalanya terasa begitu sangat pusing.


Ia kembali mengurungkan niatnya dan memijat kepalanya yang terasa berdenyut.


Sesaat gerakan sang calon bayi kembali membuatnya meringis dan rasa denyutannya kian semakin parah.


Khumairah memandang phonselnya, namun jauh dari jangkauannya. Ia hanya mampu meringis menahan rasa sakitnya, dan terkadang bulir bening jatuh dari sudut matanya saat rasa sakit itu begitu sangat terasa, Ia hanya dapat menggigit sudut bibirnya untuk menahan rasa sakit tersebut. Bahkan untuk bersuarapun Ia sudah tak sanggup.


Sesaat terdengar suara phonselnya berdering, Ia memastikan jika itu adalah suaminya.


Namun Ia tak dapat menjangkau phonselnya dan hanya menatapnya dengan nanar.


Ditempat dagangannya, Zain merasakan jika ini hal yang tidak biasanya. Sesibuk apapun Khumairah pasti akan mengangkat panggilannya.


Zain berniat menutup lapak dagangannya, Ia merasakan hal sangat khawatir akan kondisi Khumairah.


Pria itu menutup lapak dagangannya. Meskipun hanya mendapatkan untung tipis dari hasil dagangannya, namun Ia lebih memilih untuk menemui sang istri.

__ADS_1


Zain mengemudikan mobilnya, Ia menuju je arah simpang yang jaraknya lumayan jauh dari lapaknya berdagang.


Tampak 2 sepeda motor mengejarnya, setelah memperhatikannya, itu petani yang berkebun kelapa sawit dan juga petani karet yang pernah membeli barang dagannya.


"Mas.. Berhenti bentar, mau beli ikan" cegah mereka kepada Zain dengan membunyikan klaksonnya agar Zain menghentikan mobilnya.


Zain terpaksa menghentikan mobilnya, meskipun Ia harus terburu-buru ingin pulang kerumah, namun kedua petani itu merupakan pelanggannya yang sangat baik.


Saat mereka memilih bahan yang akan dibeli, tampak banyak sepeda motor yang melaju dengan beramai-ramai menuju arah yang berbalik dari arah menuju simpang.


Melihat ada pedagang yang berada ditengah jalan, salah satu pengendara berhenti menanyakan air mineral.


Zain memberikannya dan pengendara memberikan uang selembar 50 ribu rupiah.


"Ada apa, Bang? Kenapa ramai-ramai memutar arah jalan sini?" tanya Zain dengan seramah mungkin.


"Ada razia besar-besaran, Bang. Maklum surat-surat kendaraan tidak lengkap dan tidak punya SIM, jadi cari jalan lain yang melewati area razia" jawab pengendara itu sembari menenggak air mineralnya dan mengambil kembaliannya, lalu berpamitan dan kembali mengendarai sepeda motornya.


Dua petani itu sudah selesai dengan belanjanya dan meminta Zain untuk menghitungnya. Setelah memberitahu harga yang akan dibayar oleh masing-masing keduanya, lalu mereka membayar barang belanjaannya dan beranjak ingin pergi.


"Bang.. Jalan lain menuju ke Kota memangnya ada ya, Bang? Agar tidak terjaring razia?" tanya Zqin kepada kedua petani itu.


"Ada, Bang, Ikutin saja kami, nanti akan kami tunjukkan jalannya, namun memakan waktu 2 jam perjalanan" jawab petani kelapa sawit tersebut.


Zain menganggukkan kepalanya, lalu memutar kembali mobilnya dan mengikuti kedua petani itu menuju jalan potong untuk menghindari razia.


Ternyata Zain kembali kelapak dagangnya yang berada dipersimpangan.


Sesampainya dipersimpangan, tampak beberapa orang menuju jalur sebelah kiri dari simpang Ia tempat menggelar lapak dagangannya.


"Bang.. Dari lapak abang ini, abang belok kiri, lurus saja, jumpa pertigaan belok kiri, terus lurus, nanti ketemu Mushallah, Abang belok kanan dan nati ketemu jalan potong yang menuju kota" ucap Petani tersebut memberi arahan.


Zain mengganggukkan kepalanya dan mengucapkan terimakasih, lalu mereka berpisah.


Zain kembali melanjutkan perjalanannya. Ia terus melajukan kendaraannya agar segera sampai ke rumah, namun terkadang ada juga warga yang mencoba memanggilnya untuk membeli barang dagangannya, dan Ia terpaksa singgah.


Sementara itu, Khumiarah sudah merasakan perutu perih karena lapar bercampur nyeri menahan sakit karena hari sudah sangat begitu siang.


Keringat dingin menahan lapar dan juga nyeri diperutnya membuatnya semakin lemah.


Ia terus berda dan berharap suaminya akan segera kembali.


Akhirjya dagangan Zain ludes terjual akibat memotong jalan lain, ada hikmah dibalik semuanya.

__ADS_1


Zain langsung melajukan mobilnya menuju jalanan yang diberikan petunjuk oleh petani tadi.


Lalu Ia melirik jam diphonselnya yang menunjukkan pukul 3 sore, Ia terus melaju dengan berharap agar segera sampai dirumah.


Perasaan khawatir dan was-was begitu menghantuinya saat Ia mencoba menghubungi Khumairah yang tak jua mengangkat panggilannya.


Akhirnya Zain menemukan jalanan raya dan menuju ke pinggiran kota.


"Ayolah, Sayang.. Angkat telefonnya, mengapa Kau membuatku resah" guman Zain sembari terus menghubungi Khumairah.


Namun tak jua mendapat jawaban, dan Zain menambah kecepatan mobilnya. Hingga akhirnya Ia sampai dipersimpangan rumah kontrakannya, dan berbelok dengan cepat lalu memarkirkan kendaraannya didepan rumah kontrakannya.


Ia turun dengan tergesah-tergesah dan setengah berlari menuju pintu rumah.


Tok..tok..tok..


"Dik, Mai.. Dik.. Buka pintunya, ini Mas.." ucap Zain dengan ketukan yang semakin keras.


"Tak ada jawaban, dan hal ini membuat Zain semakin khawatir.


"Dik.. Dik Mai.. Buka pintunya.." Teriak Zain yang membuat beberapa tetangga memperhatikanya dan mencoba menghampirinya.


"Ada apa, Bang?" tanya seorang diantaranya.


"Itu, Mas.. Istri saya terkunci didalam dan Ia sedang hamil tua, namun saya panggil-panggil tidak dijawab" jawab Zain.


"Dobrak saja pintunya, Bang..!!" saran seorang warga pria.


Lalu tanpa meminta persetujuan Zain, mereka membantu mendobrak pintu tersebut dan akhirnya terbuka.


Zain masuk terburu-buru dan menuju kamar untuk memeriksa kondisi istrinya.


Seketika Ia tersentak karena kaget melihat kondisi sang istri yang tampak lemah tak berdaya.


"Sayang.. Kamu kenapa?" Zain berlari menghampiri sang istri yang terkulai lemah. Tak ada jawaban apapun dari sang istri, hanya mampu menggerakkan bibirnya saja.


"Bertahanlah.. Mas akan bawa Kamu ke klinik sekarang!!" ucapnya sembari berusaha untuk menggendong sang istri, namun sayang, kaki palsunya tak kuat untuk menopang berat tubuh sang istri.


Zain berlari keluar, dan meminta beberapa warga untuk membantunya membawa tubuh khumairah kedalam mobil.


Lalu dua orang pria membantu membopong tubuh Khumairah yang sudah tampak memucat dan sangat lemah kedalam mobil untuk segera dilarikan ke klinik terdekat dan mendapatkan penanganan medis.


~Posisi Khumairah terinspirasi dari tetannga sebelah rumah yang berusia masih muda dan memiliki rahim yang berbeda saat di USG. Pergerakan bayi tidak dapat berputar dan melintang, setelah bulan tua dan menunggu HPL, selalu terdengar tangisan dan rintihannya yang terkadang terdengar begitu sangat menyayat hati karena merasakan perutnya sangat sakit akibat janin terhambat untuk berputar. Dan jika akan menginginkan anak lagi maka tetap harus operasi. Semoga beliau selalu diberi kemudahan dan tetap dalam perlindungan Sang Maha Kuasa. Aamiin.~

__ADS_1


__ADS_2