
Khumairah tidak melakukan puasa, sebab Ia tidak ada memakan atau meminum apapun sejak malam tadi. Maka dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi dengan segera.
Ia masih mencari Zain. Sorot matanya nanar melihat kondisi ruangan operasi yang sangat dingin. Berbaring sendiri ditemani oleh orang-orang asing yang tidak Ia kenal.
Saat ini Ia ingin Zain disisinya. hanya pria itu sumber kekuatannya. Namun perawat juga merasa bingung mengapa dokter juga belum datang, karena mereka sudah menunggu lama.
Denny dan Dokter menghampiri keributan yang terjadi di ruang Administrasi tersebut.
"Saya mohon, Pak.. Ijinkan saya menemani istri saya, saya janji tidak akan kabur lagi" ucapnya memohon, berharap kedua polisi itu mmeberikan penagguhan kepadanya.
Sesaat dokter itu menyibak kerumumuna yang warga yang menyaksikan drama antara polisi dan Zain.
"Apa yang terjadi, Pak?" tanya Dokter itu kepada ke dua polisi tersebut.
"Maaf, Dok.. orang ini adalah tahanan yang kabur dengan berbagai kasus dan kami sudah lama mencarinya" jawab polisi tersebut.
"Tetapi bisakah Ia diberi penangguhan untuk untuk menemani istrinya menjalani operasi? Sebabb pasien kami mmebutuhkan suaminya untuk menenangkan sang istri agar mengontrol tekanan darahnya dan proses operasi dapat segera dilakukan"ucap sang dokter mencoba bernegosisasi.
Sesaat Denny menyibak kerumunan, dan mencoba melihat kejadian tersebut dan Ia juga mendengar negosiasi antara dokter dan juga polisi tersebut.
"Apakah kasusnya, Pak?" tanya Denny ikut menimpali.
Seketika Zain menoleh ke arah suara tersebut dan alangkah terkejutnya Ia melihat siapa yang berada dihadapannya.
"Kasus percobaan membunuh pemilik toko phonsel sehingga membuat pemiliknya lumpuh dan disertai perampokan pada beberapa tahun yang lalu, serta membuat keonaran didalam rumah tahanan hingga menyebabkan kebakaran pada rumah tahanann, lalu melarikan diri dari tahanan" jawab Polisi itu menjelaskan.
Seketika Denny menatap wajah pria yang dihadapannya "Zain..?" ucapnya lirih.
Lalu dengan cepat Zain bersimpuh dikaki Denny "Maafkan, Aku.. Aku berjanji akan menebus kesalahanku dengan menjalani sisa kurunganku, namun ijinkan Aku menemani istriku, Ia mmebutuhkanku saat ini" ucap Zain sembari memohon dan memegang kaki Denny berharap pria itu berbelas kasih padanya.
Denny terperangah mendapati siapa yang ada dihadapannya kini.
Pria yang berusaha mencelakainya, dan menghancurkan perusahaannya, pria yang mencoba berulang kali menodai istrinya, dan pria yang membuatnya lumpuh hingga hampir setahun lamanya, dan kini pria itu bersimpuh dikakinya memohon sesuatu untuk Ia berbelas kasih.
Semua orang menatap bingung dengan apa yang terjadi saat ini.
__ADS_1
Namun, haruskah Ia menjadi seorang pendendam?
"Bangunlah.. Temui istrimu, Ia membutuhkanmu" ucap Denny kepada Zain. Dan seketika pria itu bangkit dari lantai dan menatap kepada Denny.
"Benarkah?" Zain mencoba mengulangi apa yang Ia dengar barusan.
"Tapi, Pak, anda siapa sehingga memberikan perintah ini?!" ucap polisi itu membantah.
"Lepaskan borgolnya, dan saya adalah korban dari penganiyaan dan perampokan di toko phonsel tersebut, saya akan mencabut kasusnya" ucap Denny kepada kedua polisi itu.
Lalu polisi itu membuka borgol tersebut, pria itu tercengang dengan apa yang didengarnya dan menatap pada Denny.
Denny mengamggukkan kepalanya kepada Zain.
"Pergilah.. Dia menunggumu.." ucap Denny dengan senyum tipisnya. Lalu Zain menganggukkan kepalanya dan polisi membiarkan Zain bersama dokter tersebut menuju ruangan operasi, tempat dimana Khumairah menanti dengan gelisah.
"Apakah benar bapak korban tersebut?" tanya polisi itu kepada Denny.
"Ya.. Dan papa saya yang membuat laporannya. Saya akan meminta papa saya untuk mencabit laporannya dan membersihkan kasusnya" jawab Denny dengan tegas, lalu Ia menelefon Rudy sang papa dan membeberkannsemua kejadian yang baru saja terjadi, dan meminta sang Papa untuk membersihkan kasus yang menimpa Zain.
Lalu kedua polisi tersebut menganggukkan kepalanya dan segera pergi dari rumah sakit tersebut.
Sementara itu, akhirnya Zain bernafas lega, sebab Ia akan hidup bebas sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh Denny barusan.
Ia menuju ruang operasi, dan melihat Khumairah yang menantinya dengan penuh harap dan kecemasan.
Zain diijinkan masuk kedalam ruang operasi, lalu Ia mengahmpiri sang istri, dan memberikan kecupan lembut di ujung kepala Khumairah yang membuat wanita itu begitu tenang.
Seketika perawat memeriksa tekanann darahnya, dan melihat kondisinya kembali normal.
Zain duduk disisi sang istri, menggenggam jemarinya dan memberikan semangat serta sentuhan lembut dijemari sang istri.
Dan tanpa disadari, suara tangisan seorang bayi perempuan nan mungil memenuhi ruangaan operasi.
Seketika Khumairah tercengang mendengar dan menyaksikan bayinya telah lahir kedunia tanpa Ia merasakan lagi sakit yang menderanya sejak tadi.
__ADS_1
Zain tak henti-hentinya mengecup jemari Khumairah dan segala doa yang Ia munajadkan dengan rasa syukur yang tak terkira.
Sementara itu, Khumairah tersenyum bahagia melihat sang bayi yang diangkat dan dibersihkan.
Setelah bayi dibersihkan, Zain diminta untuk mengiqamahkan sang bayi, lalu khumairah diberi kesempatan sejenak untuk melihat rupa sang bayi yang tampak begitu menggemaskan.
Tak henti-hentinya Khumairah mengucapkan syukur dan mengecup sang bayi.
Lalu itu bayi diberi gelang penanda dan akan dibawa keruang inkubator untuk menjalani perawatan karena sempat terminum air ketuban.
Sementara itu, Khumairah sudah selesai menjalani penjahitan sisa operasinya, dan sekarang dibawa ker uang pasien untuk melakukan istirahat.
sedangkan Zain harus kembali ke ruang administrasi karena uangnya masih tertinggal disana, sebab biaya operasi hanya dikenakan 15 juta saja.
Setelah mengambil sisa uangnya, Ia harus menebus obat diapotik, tentunya obat yang juga sangat mahal, yang mana obat tersebut dapat meredakan rasa nyeri pasca operasi tanpa rasa ngilu setelah bius habis.
Ia akan memberikan apapun yang terbaik untuk Khumairah, agar wanita itu mendapatkan kebahagiaan hidup bersamanya.
Senyum kebahagiaan mengembang diwajahnya, Ia tidak menduga jika kelahiran sang puterinya membawa keberkahan bagi kehidupannya.
Dengan lahirnya sang puteri, Ia juga terbebas dari hukuman sisa masa penjaranya, dan kini Ia merasa tenang menjalani hidupnya.
Ia menuju apotik dan mencoba menebus obat tersebut.
Lalu Ia memandang sebuah alat kecil yang dipajang diapotik. Alat itu sudah lama tidak Ia gunakakan. Dan Ia membelinya.
Zain kembali ke rumah sakit, dan menuju ruang pasien yang bercampur dengan beberapa pasien laninnya, sebab Ia bukan memesan ruang VVIP, hanya bangsal biasa.
perawat memberikan beberapa butir obat yang harus diminum oleh Kumairah jika sudah buang angin.
"Pak.. Jika ibunya sudah buang angin, nanti obat ini diberikan, Ya" ucap perawat itu kepada Zain.
Lalu Zain menganggukkan kepalanya, dan mencoba tersenyum ramah.
"Sayang.. Mas ke kamar mandi sebentar, Ya" ucap Zain sembari membawa peralatan yang Ia beli dari apotik barusan.
__ADS_1