
Dua ranjang troli di bawa masuk menuju ke dalam ruang UGD.
Dua orang wanita sedang berjuang menahan sakit dalam rahimnya saat sang calon bayi ingin segera dilahirkan.
Dua orang pria saling menguatkan sang istri yang sedang berjuang antara hidup dan mati demi lahirnya anak mereka ke dunia.
mereka tidak saling melihat satu sama lain, sebab mereka fokus pada pasangan mereka masing-masing.
"Bertahanlah, Sayang. Semua akan baik-baik saja" ucap Zain pada Khumairah yang wajahnya memucat dengan air ketuban yang terus-menerus merembes keluar dari jalur rahim disertai dengan bercak darah yang menambah rasa sakit itu semakin menderanya.
Suara itu.. Suara yang Ia begitu kenal, guman seorang wanita yang juga ranjang trolinya berada disisi ranjang mereka dan saat melintasinya, Ia melihat sorot mata sang pria yang tadi baru saja memberi semangat kepda wanita yang juga tampak ingin melahirkan.
"Zain..." gumannya lirih dalam hati sang wanita berhijab, lalu ranjang itu menghilang dibalik pintu UGD.
Kini tinggal dua orang pria yang harus mengurus administrasi istri mereka masing-masing.
Zain mendatangi kasir administrasi, menyerahkan berkas-berkas untuk sang istri agar segera mendapatkan penanganan.
Berbeda dengan Zain, pria berpakaian jas tersebut menuju ruang dokter, sebab Ia adalah keluaraga pasien VVIP. Dimana segala urusannya harusnya didahulukan dan istrinya harus mendapatkan tindakan operasi terlebih dahulu, sebab Ia telah membayar sangat mahal.
Namun dering phonselnya membuatnya sejenak berhenti didepan pintu dokter yang mengharuskannya menjawab phonselnya terlebih dahulu.
Sementara itu, Zain masih harus sibuk melengkapi berkas-berkasnya, bahkan harus nolak-balik fotocopy segala kelengkapan identitas yang diinginkan oleh pihak rumah sakit.
Meskipun rasa lelah menderanya, Ia harus kuat, karena sang Istri jauh lebih menderita dibanding dengan lelahnya saat ini.
Pria berdasi yang saat ini sedang dalam panggilan telefonnya, melihat seorang perawat datang dengan terburu-buru sembari membawa sebuah map folder yang berisi datan informasi tentang hasil pemeriksaan dua pasien yang aka melahirkan secara bersamaan.
Perawat itu menemui dokter diruangan tersebut, dan pria yang tak lain adalah Denny menutup panggilan telefonnya dan akan memmasuki ruangan tersebut.
"Dok.. Menurut hasil pemeriksaan, pasien yang bernama Khumairah mengalami masalah lebih besar dari ibu Amyra.
Seketika Denny menghentikan langkahnya, dan memncoba menguping pembicaraan antara dokter dan perawat tersebut.
__ADS_1
"Air ketuban milik Ibu Khumairah sudah hampir kering, dan janinnya juga sudah terminum air ketuban serta air ketuban itu juga sudah keruh, maka Kita harus mendahulukan tindakan operasi kepada Ibu Khumairah terlebih dahulu" ucap Perawat itu memberikan informasi kepada sang dokter.
Sedangkan Denny mematung di depan pintu ruang Dokter yang tampak tidak tertutup dengan benar.
"Tetapi keluarga PT. Rudy sudah membayar mahal dan mereka harus diutamakan" jawab Sang dokter yang tampak lemah dengan dalam nada bicaranya.
"Apakah kita tidak dapat bernegosiasi dengan keluarga mereka, ini menyangkut nyawa manusia, Dok" perawat itu mencoba memberi saran.
Sang dokter terdiam, Ia merasa dilema dalam.hal ini.
"Baiklah, Kita coba saja, apakah suaminya Ibu Amyra mau mengalah sebentar saja untuk antrian ke dua" ucap Sang dokter mencoba menerima saran dari sang dokter.
Lalu tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan tampak Denny berdiri diambang pintu menatap penuh makna.
"Pak, Denny. Baru saja Kami ingin mencari anda, dan kebetulan Anda berada disini, ada hal yang ingin kami bicarakan kepada Anda" ucap Dokter tersebut dengan berusaha tenang.
"Dan saya sudah mendengar semuanya. Silahkan lakukan yang terbaik, Dok. Jika pasien yang satunya lebih ingin didahulukan, maka dahulukan, karena nyawa seseorang lebih penting dari apapun, dan masalah pembayarannya, kami akan tetap membayar VVIP sesuai dengan perjanjian semula" jawab Denny dengan tenang namun penuh ketegasan.
"Siapkan ruangan operasi dan suami pasien minta segera mengurus Semua administrasi dan menandatangani surat persetujuan dilakukannya tindakan operasi" titah sang dokter kepada perawat tersebut.
"Baik, dok.." lalu perawat itu pergi meninggalkan ruangan dokter dan meminta kepada perawat yang lainnya untuk menyiapkan ruangaan operasi.
Sementara itu, Zain masih berada diruang fotocopy menunggu berkas-berkas identitas Khumairah dicopy.
Setelah selesai Ia kembali masuk menuju rumah sakit dan akan menyerahkan semua berkas yang diminta untuk segera diproses.
Saat bersamaan, dua orang berseragam polisi menghampirinya dan mengapit tubuhnya dengan cepat.
"Saudara Zain, Anda kami tangkap" ucap seorang polisi yang sudah memborgol kedua tangan Zain dengan cepat.
Seketika ruangan mejadi riuh atas penangkapan Zain yang tiba-tiba saja dan itu juga membuat Zain tersentak dan tercengang.
"Ta-tapi, Pak.. Ijinkan saya melengkapi semua berkas administrasi istri saya terlebih dahulu" ucapnya dengan gugup dan gemetar.
__ADS_1
Seketika Ia teringat akan wajah Khumairah yang menantinya diiruang pasien dan akan segera di operasi.
Pihak administrasi segera menyelesaikan berkas-berkas Khumiarah dan semua tampak begitu tegang, hingga Denny meminta waktu untu memberikan uang yang disimpannya dalam boto plastik air mineral kepada pihak administrasi untuk menghitungnya, Ia menyebutkan jika didalamnya ada senilai 20 juta.
"Jika sudah selesai, Bapak ikut kami segera" ucap seorang polisi disisi kanannya.
"Pak.. Beri saya penangguhan waktu untuk melihat istri saya selesai dioperasi dan mengadzankan anak saya" ucap Zain memohon sembari mengatupkan kedua tangannya didepan dada.
"Anda terlalu banyak alasan, dan kami sudah memberikan anda waktu untuk dan kami tidak punya waktu untu itu"
"Tapi, Pak.. Saya mohon. Istri saya disini seorang diri, tidak ada yang menemaninya, dan Ia hanya memiliki saya dan Rabb-Nya.. Saya mohon beri saya waktu, saya berjanji akan menyerahkan diri saya ke kantor polisi" Zain kembali memohon san kali ini air matanya tak mampu Ia bendung, dan bulir bening itu jatuh mengalir disudut matanya.
Sementara itu, Khumairah yang berada didalam ruangan operasi merasa bingung. Ia memandang ruangan yang dipenuhi orang-orang asing berseragam hijau dengan berbagai alat yang sangat mengerikan.
Ia mencari sosok suaminya, dan Ia tak menemukannya.
"Rileks, Ya Bu.. Jangan sampai tekakanan darah ibu naik" ucap salah seorang perawat menenangkannya.
"Suami saya mana?" tanyanya lirih.
Para perawat itu saling bertatapan, dan meminta rekannya memberitahu dokter tentang hal ini.
Lalu Denny dan juga dokter itu menyusuri ruang koridor rumah sakit.
Tampak seorang perawat menghampirinya. "Dok, Ibu Khumairah tampaknya meminta suaminya ikut masuk ke dalam ruang operasi, kita takut tekanann darahnya naik jika tidak dituruti" ucap perawat itu dengan sedikit tersengal.
"Panggil suaminya untuk menenangkannya" titah sang dokter.
"Tetapi suaminya sedang diseret polisi, Dok" jawab Seorang perawat lainnya yamg ingin memberitahukan tentang perihal yang terjadi di ruang administrasi.
"Apa..?!" sahut Denny dan Dokter itu secara bersamaan.
Lalu mererka bergegas menuju ruang administrasi dan ingin melihat apa yang terjadi.
__ADS_1