Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Episode 198


__ADS_3

Denny memasuki ruangan kerjanya. Hampir lebih dari seminggu Ia tak memasuki ruangan tersebut, dan hal itu membuatnya sangat rindu.


Terdengar suara ketukan dipintu, dan Denny memerintahkan untuk masuk.


Tampak Dwy yang muncul dibalik pintu dan tampaknya Ia berbeda dari hari biasanya, wajahnya tampak murung.


Dwy membawa semua berkas pekerjaan yang diminta oleh Denny. Ia kemdian menyerahkan semuanya diatas meja "Sisanya saya kirim lewat email ya, Pak" ucap Dwy dengan nada lirih.


Denny menganggukkan kepalanya, dan menatap pada Sekretarisnya yang terlihat tampak tak bersemangat.


"Kamu ada masalah apa? Mengapa terlihat tidak fokus?" tanya Dennya dengan nada penuh selidik.


Dwy merundukkan kepalanya "Pak.. Saya sudah lama menunggu bapak masuk kekantor. Saya ingin mengajukan resign" ucapnya dengan lirih dan wajah merunduk.


Denny tercengang mendengar ucapan sekretarisnya, sebab Ia merasa sudah merasa cocok dengan Dwy, karena kinerja Dwy yang sangat profesional dan Dwy juga termasuk karyawan yang sudah cukup lama mengabdikan dirinya kepada Perusahaan milik papanya.


Bahkan Dwy sudah bekerja terlebih dahulu dibanding Denny.


"Apa hang menyebabkan Kamu ingin resign? Apakah masalah gaji atau sebab lain?" tanya Denny penasaran.


Dwy merundukkan kepalanya "Bukan masalah gaji, Pak. Saya juga merasa nyaman bekerja diperusahaan ini, namun ada sebab dirumah tangga saya" jawab Dwy dengan kepala yang masih merunduk.


"Lalu sebab apa yang membuatmu ingin resign?" tanya Denny penasaran dengan alasan yang akan diutarakan oleh sekretarisnya itu.


"Anak saya sedang sakit, Pak. menurut dokter Ia perlu pengawasan dan penjagaan yang intensif, sehingga diantara saya dan suami harus ada yang mengalah untuk berhenti bekerja demi buah hati kami, Pak" ucap Dwy mencoba menjelaskan.


Seketika Denny menarik nafasnya dengan berat. Ia merasa sangat berat melepaskan seorang sekretaris yang kompeten dibidangnya.


Namun Ia tidak berhak menahan keputusan Dwy, sebab ini masalah pribadi yang berurusan dengan anak dan juga rumah tangga.


"Baiklah.. Jika itu keputusanmu, semoga anak kamu segera diberi kesembuhan dan juga kebaikan" ucap Denny dengan tulus


Dwy menganggukkan kepalanya "Terimakasih, Pak. Ini surat resign saya" ucap Dwy sembari menyodorkan surat resign tersebut.

__ADS_1


"Baiklah.. Besok temui Fhytri dan minta untuk surat keterangan resign kamu agar uang dari dana BPJS ketenagakerjaan kamu bisa dicairkan. Serta minta surat slip gaji dan bonus serta uang pesangon yang sudah ditetapkan" titah Denny kepada Dwy.


Dwy menganggukkan kepalanya, dan berpamitan untuk pergi.


"Kapan kamu ingin kembali lagi ke perusahaan ini, kami akan selalu memberikanmu peluang dengan tangan terbuka.


Dwy menghentikan langkahnya, lalu memutar tubuhnya dan menatap sang big bos "Terimakasih, Pak.. Tentu saya akan kembali jika dibutuhkan dan jika kondisi anak saya sudah membaik" jawab Dwy dengan penuh haru.


Denny tersenyum sahaja, dan menatap kepergian sang sekretarisnya.


Dwy sudah pergi dari ruangan kerjanya, lalu Denny menghubungi Fhytri dan meminta karyawannya itu untuk mengurus semua berkas pengunduran diri jntuk Dwy beserta keterangan lainnya.


"Fhytri, jangan lupa juga umumkan untuk mencari sekretaris pengganti dan utamakan untuk yang berpengalaman" Titah Denny kepada Fhytri dengan nada tegas.


"Baik, Pak.. Akan saya kerjakan segera" jawab Fhytri dengan cepat.


Denny membuka berkas yang telah diserahkan oleh Dwy, dan Ia mulai memeriksa serta mempelajarinya.


Ia tidak memungkiri jika Dwy adalah seorang karyawan yang sangat begitu teliti dan juga cerdas, sehingga Ia tidak diragukan lagi kemampuannya.


Dalam hal ini, Denny merasa sangat kehilangan akan seorang karyawan terbaiknya.


Disisi lain, Zain dan Khumairah melanjutkan perjalanan mereka menuju desa. Mereka sudah hampir mencapai desa ketika waktu hampir saja senja.


Kedua insan pengantin baru itu mencari tempat untuk dapat dikontrak agar malam ini mereka dapat menginap.


Khumairah yang tidak pernah keluar hutan merasa sedikit bingung dengan rumah-rumah warga yang tampak berdampingan meski tidak terlalu ramai.


Namun baginya pemandangan itu sungguh mengherankan, sebab Ia hidup tanpa tetangga satu orangpun.


Halim yang tanpa sengaja melihat keduanya, lalu menghampiri dan menanyakan keduanya mengapa sampai kedesa.


Lalu Khumairah menjelaskan sembari menangis tersedu tentang perihal kematian Ayahnya.

__ADS_1


Halim mengucapkan bela sungkawa dan berusaha menolong keduanya mencarikan rumah kontrakan.


Setelah mendapatkan rumah kontrakan, keduanya lalu memasuki rumah tersebut tanpa perabotan apapun. Khumairah juga meminta tolong agar dicarikan pembeli yang akan membeli dua ekor sapi miliknya.


Halim menyanggupinya, sebab Ia memiliki relasi yang kuat di desa itu, dan Ia memiliki kenalan yang merupakan juragan sapi di desa ini.


"Namun masalah sapi, Esok siang baru bisa saya kabari, sebab tidak dapat terburu-buru" ucap Halim menuturkan "Kalau begitu, beristirahat saja dahulu, esok baru kita lanjutkan" ucap Halim menyarankan.


Lalu keduanya menganggukkan kepala "Terimakasih, Pak.. Semua kebaikan tidak akan lupakan" ucap Zain dengan berusaha sesopan mungkin. Sebab Ia merasa jika mereka dikampung orang haruslah bersikap baik dan mawas diri.


"Sama-sama" jawab Halim berpamitan pulang. Sebab Ia merasa juga jika almarhum Abdullah sangat baik kepadanya, dan jika Abdullah datang singgah kerumahnya, tak jarang Ia membawa hasil pertaniannya dan diberikan dengan cuma-cuma kepada Ia dan keluarganya.


Sepeninggalan Halim, Zain dan juga Khumairah mulai membersihkan rumah kontrakan tersebut.


Zain melihat jika Ia harus bertahan beberapa waktu didesa ini untuk menghilangkan kasus yang sedang menimpanya. Ia ingin kasus itu segera ditutup dan akan kembali ke kota setelah merasa aman.


"Sayang.. Sebaiknya kita menetap untuk beberapa waktu disini. Mungkin membuka toko sembako sementara waktu disini dapat membuat kamu beradaptasi dengan warga sekitar dan jika sudah terbiasa, maka akan memudahkanmu untuk beradaptasi dengan warga kota nantinya.


Khumairah menganggukkan kepalanya, lalu menyetujui saran dari sang suami.


Setelah selesai membersihkan rumah kontrakan, tampak Halim mengantarkan tikar untuk alas tidur keduanya, sebab Ia melihat jika Kedua insan itu tidak membawa apapun saat datang tadi.


Sekali lagi keduanya tampak begitu berterimakasih atas kebaikan Halim kepada mereka. Lalu Halim kembali kerumahnya, sebab Ia ingin memberikan waktu untuk keduanya beristirahat.


Denny sudah tiba dirumahnya. Wajah lelah tampak sangat menggelayuti dirinya. Amyra segera menyambutnya, lalu menyiapkan air untuk mandi Denny.


Rasa perhatian yang diberikan Amyra membuatnya kembali bersemangat dan hilang rasa lelahnya.


"Mandi, Mas.. Airnya sudah Myra siapkan" ucap Amyra sembari membantu Denny membuka pakaian kerjanya.


Denny kini bagaikan anak kecil yang merasa dirawat seorang ibunya.


Denny segera menuju kamar mandi dan pergi membersihkan diri, sebab waktu maghrib akan tiba, dan Ia akan membawa Amyra dan keluarganya shalat berjamaah ke mushallah.

__ADS_1


__ADS_2