Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Bab 93


__ADS_3

Nyonya Ayu merasa sangat senang karena dia merasa akan mendapatkan dukungan dari orang yang sangat bagus, yaitu nona Ayu yang memiliki latar belakang sangat bagus, putri dari orang kaya dan juga berpendidikan serta merupakan ahli waris tunggal dari sebuah kekayaan dan bisnis hotel yang sangat luar biasa.


"Baiklah Gus, jangan lupa 1 Minggu lagi kita akan mengadakan pertemuan untuk semua anggota dewan dalam mengurus masalah perusahaan dan orang yang akan menjadi pimpinan tertinggi di perusahaan." Nyonya Ayu berpesan pada tuan Bagus.


"Tentu saja, apakah kau tak ingin kita untuk berpesta untuk merayakan kemenangan kita ini?" Tuan Bagus berkata dengan sangat senang dan menggoda nyonya Ayu


Malam itu nyonya Ayu dan tuan Bagus telah terbuai dalam kehangatan dan kebahagian bersama, mereka sangat senang dan merasa puas karena telah mendapatkan apa yang akan mereka dapatkan nantinya. Dukungan orang yang terpandang, menyingkirkan orang yang mengganggu jalannya dan juga mendapatkan hal atas wewenang kekayaan tuan Adi yang melimpah.


...💔💔💔...


"Wah wah yang akan menjadi calon istri dan ibu dari orang kaya raya." goda teman - teman Tyas padanya.


"Hem, aku akan mendapatkan hati anak b*doh itu. Setelah aku mendapatkan kepercayaannya dan berhasil menikahi ayahnya maka dengan perlahan aku akan menyingkirkan dia." Tyas berkata dengan senyuman.


"Aduh kau kejam sekali." ucap teman Tyas


"Aku mendekati dia hanya untuk mendapatkan kepercayaan dari orang - orang terdekatnya saja." Tyas berkata dengan senyuman yang penuh makna.


"Tapi Yas, bagaimana dengan pria mainanmu itu. Ku rasa dia juga sama menariknya dengan mas Ken mu itu." tanya teman Tyas


"Danang, dia hanyalah batu yang aku gunakan untuk melempari orang yang tak ku inginkan saja. Dia akan ku gunakan jika aku butuh dan akan ku buang jika sudah tak berguna lagi." Tyas berkata dengan santai.


"Ya ya terserah kamu saja. Tapi aku juga dengar kalau kamu juga dekat dengan seorang pegawai bar bernama Melinda yang katanya dia juga membantu kamu untuk dekat dengan targetmu. Apakah kau yakin menerima bantuan darinya, bukankah dia dulu adalah wanita yang pernah menjadi istri dari mas Ken mu itu, jangan - jangan dia mendekati mu dan pura - pura membantumu hanya alasannya saja untuk mendapatkan mantan suaminya lagi." teman Tyas berkata dan menatap Tyas penuh tanda tanya.


"Melinda ya...ya dulu aku pernah bertengkar dan saling menghina saat aku belum kenal siapa dan bagaimana dia, namun setahun ini dia memang banyak membantu ku karena dia menceritakan banyak hal tentang mas Kenan, apa makanan kesukaannya, minuman kesukaannya, kue favoritnya dan masih banyak lagi yang lainnya. Tapi jika dia berani melangkahi aku maka aku tak akan segan - segan untuk menghancurkannya sampai benar - benar hancur berkeping - keping." Tyas berkata dengan nada penuh emosi.


Teman Tyas tertawa terbahak dan mereka sangat suka dengan jawab yang diberikan oleh Tyas karena mereka tak suka dengan Melinda yang selalu sok akrab dan juga sok tau segalanya saat mereka berkumpul dan jalan bersama. "Eh iya Yas, aku dengar mama mu akan jadi pemegang saham terbesar dan pimpinan perusahaan peninggalan papamu, pasti nanti kau akan menjadi orang yang makmur nantinya." ucap teman Tyas yang lainnya


"Makmur, apakah sekarang aku tak cukup makmur. Bahkan aku bisa membelikan kalian semuanya minuman seperti ini." jawab Tyas tak suka dengan omongan temannya.


"Tidak, tidak. Tolong jangan salah paham dulu, maksud aku adalah kau akan jadi lebih makmur lagi dari sekarang. Karena kau akan menjadi putri pimpinan besar." teman Tyas mengklarifikasi kata - katanya.


"Aku tak peduli, apa pun yang akan dia lakukan. Selama itu tak membawah nama ku, aku akan diam saja." jawab Tyas tak suka. Karena Tyas membenci mamanya sebab selama ini dia dibohongi dan tak tau siapa papa kandungnya yang sebenarnya.


...💔💔💔...

__ADS_1


1 Minggu telah berlalu dan rapat untuk menentukan dan upacara kenaikan jabatan serta perwalian yang akan diberikan kepada nyonya Ayu pun akan diadakan dan disiarkan secara langsung. Nyonya Ayu terlihat sangat cantik dengan balutan baju biru muda dan kardigan biru elektrik serta riasan natural dengan rambut disanggul. Aura wanita berkelas benar - benar terpancar dari wajah nyonya Ayu.


Para awak media pun sudah mulai berbaris dan memasang kamera masing - masing karena mereka tak ingin ketinggalan moment penting yang akan diadakan dan disiarkan nantinya. Mereka semua telah memadati halaman perusahaan dan juga aula pertemuan yang diadakan di ruangan terbuka.


"Ya ampun aku tak pernah melihat pengangkatan pimpinan dari perusahaan yang semeriah ini."


"Benar, ini benar - benar sangat meriah."


"Hem, aku dengar katanya pimpinan yang lama yang ditunjuk oleh alm. Pimpinan yang lama telah melakukan penyalahgunaan jabatan dan juga suka foya - goya orangnya."


"Ya begitulah, namanya juga orang yang awalnya tak punya apa - apa dan secara langsung diangkat jadi seorang pemimpin dengan jabatan tertinggi dan juga memegang banyak uang siapa yang tak akan kalap dan gelap mata untuk tak melakukan hal yang manusiawi dengan bergaya hidup mewah serta foya - foya."


Beberapa awak media saling berbincang dan berbicara satu sama lain dan mereka sedang membahas soal Handoko yang diketahui telah melakukan ketidak layak kan sebagai seorang pemimpin dan contoh.


"Acaranya akan dimulai." ucap seorang reporter yang melihat nyonya Ayu dan beberapa orang lainnya berjalan menuju ke aula pertemuan.


"Halo semuanya, kalian pasti sedang menunggu dan tak sabar bukan. Di sini aku sebagai istri dari pimpinan yang lama tuan Adi mengucapkan banyak terima kasih karena telah mendapatkan banyak sambutan dan juga bantuan dari para rekan lainnya." ucap nyonya Ayu sebagai kata pembukaan.


"Nyonya Ayu bolehkah kami bertanya, kenapa dulu tuan Adi memilih asistennya untuk menjadi pimpinan bukannya anda langsung." seorang wartawan tanya pada nyonya Ayu


"Iya, dulu suami saya memilih asistennya karena beliau sangat percaya padanya. Dan aku juga tak memiliki banyak pengalaman dalam dunia bisnis. Namun apa mau dikata, ternyata orang suka gelap mata saat mereka dihadapkan dan diposisikan dalam situasi diatas. Karena dia telah melakukan kesalahan yang sangat fatal dengan mempermalukan diri sendiri serta perusahaan. Sehingga aku yang tak tau apa pun ini harus turun tangan sendiri." jawab nyonya Ayu dengan nada suara yang terdengar sedih dan juga pasrah tak berdaya.


"Lalu bagaimana dengan perwalian atas cucu tunggal dari taun Adi." seorang wartawan tiba - tiba bertanya dan menyinggung cucu dari tuan Adi.


"Soal itu, mungkin aku akan menjadi wali untuknya yang merupakan orang yang berhubungan dengan keluarganya." jawab nyonya Ayu


"Kenapa bukan seseorang yang memiliki hubungan darah dengannya secara langsung yang menjadi walinya, bukankah dia masih memiliki ayah." wartawan


"Memang benar, tapi ini adalah urusan perusahaan keluarga. Jadi kami yang berhubungan dengan keluarganya yang akan langsung menjadi walinya, sedangkan ayahnya adalah wali secara umumnya." jawab nyonya Ayu


"Bukankah harusnya orang yang menjadi walinya adalah orang yang langsung berhubungan darah langsung, itu akan lebih bagus." Wartawan


"Ya harusnya memang seperti itu, tapi sayangnya mamanya telah meninggal dunia dihari yang sama dengan kepergian papanya, yaitu suami saya, jadi hanya bisa saya yang mewakili sebagi orang yang berhubungan langsung dengan keluarganya." Nyonya Ayu menjawab dengan percaya diri.


"Meninggal? Kalau boleh saya tau bagaimana dia bisa meninggal, bukankah selama ini dia tak pernah menunjukkan dirinya." Wartawan

__ADS_1


Nyonya Ayu terlihat bingung mendengar pertanyaan itu, karena dia tau pasti seperti apa dan bagaimana Fairi meninggal dunia. Nyonya Ayu terlihat bingung dan tak bisa menjawab, karena dia tak pernah menyangka kalau dia akan mendapatkan pertanyaan seperti itu.


"Bagaimana jika putri dari tuan Adi dan mama dari cucunya itu ternyata masih ada dan belum meninggal? Akankah anda menyerahkan semuanya pada orang itu?" Wartanya.


"Cukup, apa tak keterlaluan pertanyaan itu. Kalian bertanya dan bermain - main dengan seseorang yang sudah meninggal dan harusnya hidup tenang serta damai di alamnya." Tuan Bagus menjawab dengan kesal.


"Tapi kami hanya bertanya saja tuan Bagus, bagaimana kalau seandainya hal itu terjadi." Wartawan.


"Apa kau ingin membuat keributan di sini hah?!" Tuan Bagus mulai meninggikan suaranya.


"Aku suka pertanyaan dari wartawan itu, bagaimana jika orang yang dikatakan sebagai putri itu muncul serta berdiri di sini, karena selama ini dia tak pernah diberitakan dan juga kabar dia meninggal juga tak diberitakan" jawab Anita yang menyamar sebagai nona Ayu


"Anda juga ikut meragukan ku nona Ayu?" Nyonya Ayu bertanya dengan sedih dan tak percaya kalau relasinya yang memberikan dukungan banyak itu sependapat dengan seorang wartawan.


"Harusnya anda menjawab bukan, karena saya juga ingin tau jawaban anda pastinya." Nona Ayu bertanya dan menatap nyonya Ayu juga tuan Bagus.


"S - saya sudah pasti akan menyerahkan semuanya." jawab nyonya Ayu ragu - ragu.


"Bagus, jawab yang tepat, aku suka itu." Nona Ayu berkata dan senyum dengan sedikit memiringkan bibirnya.


"Kalian sudah dengar tadi, dia akan menyerahkan semuanya pada orang yang merupakan putri sah tuan Adi. Kalau begitu pewarisan dan juga wali sah dari cucu tuan Adi tentunya adalah mama dan orang yang memiliki hubungan darah secara langsung dengan tuan Adi dan juga cucunya." ucap nona Ayu dengan lantang.


"Apa sebenarnya yang ingin dia katakan dan dia lakukan, kenapa aku merasa dia ingin menjebak ku." gumam nyonya Ayu dalam hati menatap bingung pada nona Ayu


Nona Ayu tersenyum dan berdiri menatap semua para wartawan yang ada di ruangan itu, nona Ayu turun dari atas podium dan berjalan mendekati salah satu wartawan yang dari tadi bertanya pada nyonya Ayu soal putri tuan Adi dan bagaimana cara dia meninggal.


Nyonya Ayu dan tuan Bagus serta para anggota dewan menatap nona Ayu dengan bingung. Tiba - tiba saja nona Ayu itu membungkuk tepat didepan wartawan wanita itu, dan dengan senyumannya wartawan itu maju kedepan lalu mengusap kepala nona Ayu dengan lembut.


"Kerja bagus Anita, aku suka."


"Nona silakan." Sabrina juga ikut membungkuk dan menyerahkan mik pada wartawan itu.


"Bagus, ku ambil alih sekarang Sabrina." Wartawan itu maju dan membuka rompi wartawannya.


"Sebagai seorang putri aku tentu tak akan membiarkan perusahaan dari alm. Ayahku jatuh pada tangan orang yang salah, dan sebagi seorang ibu aku juga tak akan memberikan hak asuh anakku pada orang yang tak memiliki kemampuan untuk itu." ucap wartawan itu dan berjalan mendekati meja nyonya ayu dengan melepaskan satu persatu penyamarannya, sampai dia berdiri tepat disamping nyonya Ayu dengan dandanan sederhana.

__ADS_1


"Aku telah kembali, ibu." ucap Fairi tepat disamping nyonya Ayu dengan senyumannya.


Nyonya Ayu dan tuan Bagus terlihat sangat kaget, mereka berdua tak bisa bereaksi dan menatap tajam tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Karena yang berdiri tepat didepan mata mereka benar - benar Fairi yang waktu itu telah meninggal karena sebuah kecelakaan dan tubuhnya terbakar hangus hingga tak dapat dikenali.


__ADS_2