
"Pak.. Sepertinya tanda-tanda keberadaan DPO sudah mulai dapat diketahui. Ini terlihat dari dari jejak yang sudah kami pelajari" ucap seorang pria bertubuh tegap kekar kepada atasannya.
Pria yang menjabat sebagai Komisaris jendral itu menganggukkan kepalanya dengan tegas "Awasi dan temukan dengan segera!" titah pria tersebut dengan ke sahajaan.
Lalu pria yang menjabat sebagai Inspektur jendral tersebut menganggukkan kepalanya dan keluar dari ruangan tersebut.
Lalu Irjen Andi memerintahkan kepada bawahannya untuk melakukan penyebaran dalam menemukan keberadaan Zain.
Setelah melakukan perintahnya, maka para bawahannya tersebut melakukan sebaran di titik-titik tempat yang dicurigai dan disinyalir sebagai tempat keberadaan Zain.
Sementara itu, Zain sudah memmbawa Khumairah pulang kerumah kontrakan mereka. Di rumah itu Ia menggantungkan botol infus yang terpasang dipergelangan tangan Khumairah.
"Sayang.. Kamu jika ingin ke Kamar mandi panggil , Mas ya?" ucap Zain yang baru selesai dengan memasang letak botol infus tersebut.
Khumairah menganggukkan kepalanya.
Pria itu bergegas ke dapur, lalu memeriksa uang yang Ia sembunyikan dibawah meja dapur. Ia menyembunyikannya disana karena itu tidak begitu diperduikan oleh para pencuri, sebab pencuri akan menyasar kamar untuk pertama kainya dalam mencari barang berharga.
Zain menemukan botol minuman mineral tersebut masih ada disana, dan Ia bernafas lega, sebab Ia tadi meninggalkan rumah terburu-buru tanpa terkunci, sebab pintu sudah rusak karena didobrak paksa, dan Ia juga harus membawa Khumairah segera.
Zain kembali menyimpan botol mineral itu kembali ketempat dan meyakinkan tidak terdeteksi oleh pencuri.
Zain kembali menghampiri sang istri. Ia merasa bingung bagaimana membagi waktunya. Pria itu menatap sang istri yang begitu tak banyak menuntut.
Bahkan saat Ia harus membawanya pulang ke rumah dan menjalani perawatan dirumah karena keterbatasan keuangan yang Ia tidak mengetahuinya, namun Ia juga tetap menuruti semua apa yang dilakukan oleh sang suami kepadanya.
Zain berjalan menuju pintu depan yang rusak kuncinya. Ia mencoba memperbaikinya agar tidak ada maling yang menyatroni rumah mereka sebab waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
****
Hari berganti pagi.
__ADS_1
Zain menyiapkan sarapan dan sang istri harus meminum obatnya agar segera pulih.
Setelah menyelesaikan semuanya, Ia menatap sang istri yang sudah terlihat mulai membaik, namun belum dapat beraktifitas seperti biasanya.
Zain kembali berdagang, namun Ia tidak mungkin meninggalkan Khumairah sendiri dalam kondisi seperti ini sendirian dirumah.
Sedangkan keuangannya juga sudah menipis dan Ia harus mencari nafkah.
Zain yang sudah berpasrah diri, akhirnya menurunkan sisa barang dagangannya dari bak mobil pick upnya. Meskipun Ia mengetahui ada warung sembako berjarak 35 meter dari rumah kontrakannya, namun Ia tak memiliki pilihan lain, Ia meletakkan barang dagangannya didepan rumah kontrakannya.
Bukannya ingin bersaing dalam berusaha, namun Ia juga tidak memiliki pilihan lain, Ia tidak dapat meninggalkan Khumairah saat ini.
Sembari mengerjakan pekerjaan rumah, Zain juga membuka warungnya sekaligus merawat Khumairah yang masih membutuhkan perawatan.
Dalam hal ini, Zain akhirnya mengetahui apa itu arti mencintai sesungguhnya. Dimana Ia merasa begitu sangat takut kehilangan kepada orang yang dicintainya dalam bentuk tanggungjawab, pengorbanan dan juga keikhlasan.
Ia menatap sekeliling kontrakan. Ia masih menunggu pembeli yang akan membeli daganganya. Jika Ia keluar dan berdagang diluar, mungkin akan menambah pundi-pundi keuangannya, namun Ia juga merasa bingung.
Zain melirik ke arah Kumairah, tampak wanita itu sedang tertidur, mungkin pengaruh obat yang diminumnya.
Sejak tadi belum ada juga warga yang membeli barang dagangannya. Ia berniat ke arah simpang, Ia ingin mencari lapak yang dapat Ia jadikan sebagai tempat berdagang dipinggiran jalan. Mungkin jika berdagang dipinggir jalan akan lebih banyak pembeli daripada didalam gang, dan Ia juga dapat memantau Khumairah kapan saja.
Zain berjalan keluar dari gang rumahnya. Ia menuju jalanan raya. Ia mencoba memperhatikan sebuah lapak yang tampak tidak lagi berpenghuni didekat rumah makan Padang.
Zain menghampiri lapak tersebut dan memperhatikannya. Lalu Ia melihat sebuah nomor phonsel yang tertera untuk dihubungi.
Zain meraih phonselnya, dan mencoba menghubungi pemilik lapak kaki lima tersebut, namun tidak tersambung.
Ia berulangkali menghubunginya, namun tak juga dapat tersambung.
Zain memperhatikan lagi sekelilingnya, dan melihat sebuah batang pohon besar tak jauh dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
Zain mendapat ide jika dibawah pohon itu Ia dapat menggelar dagangannya dengan menggunakan mobil pick upnya. Akhirnya Ia menemukan sebuah ide.
Namun seketika senyumnya sirna. Ia memikirkan bagaimana jika Ia sampai dikenali oleh para intel yang selalu mengincar keberadaannya.
Zain kembali berjalan ke rumah kontrakannya, tampak Khumairah masih tertidur.
Saat Ia melihat barang dagangannya yang Ia gelar didalam teras rumahnya, ada beberapa barang yang hilang. Sepertinya ada yang mencurinya saat Ia berjalan ke simpang barusan.
Namun Ia hanya menghela nafasnya, sebab itu juga kesalahannya yang meninggalkan barang dagangannya begitu saja.
Sementara itu para Intel telah menyebar untuk mendapatkan keberadaan Zain. Mereka juga sekaligus ingin menangkap bandar Shabu jaringan internasional yang kabarnya juga berada tak jauh dari lokalisasi keberadaan Zain.
Sementara itu, sebuah rumah yang berada dibelakang rumah kontrakan Zain, tampak begitu lengang, namun siapa sangka jika didalamnya ternyata terdapat sebuah pergerakan bisnis ilegal.
Mereka telah menyimpan paket shabu dalam jumlah cukup banyak dan siap edar.
Selama ini masyarakat tidak begitu memperhatikan kegiatan yang dilakukan oleh pemilik rumah, karena mereka bergerak disaat orang-orang sudah terlelap dalam mimpinya.
Zain yang saat ini sedang duduk diteras menanti pembeli yang akan membeli dagangannya, tanpa sengaja melihat seorang pria yang tampak mencurigakan dari cara gerak-geriknya.
Awalnya Zain mencoba tidak merasa perduli dengan apa yang dilakukan oleh pria itu. Namun saat pria itu menuju ke arah belakang rumahnya, Ia merasa sangat begitu kepo.
Zain masuk kedalam rumahnya, dan menuju arah kamar mandi. Ia memanjat toilet dan mencoba mengintai dari balik ventilasi yang ternyata dapat mengakses kegiatan apa saja yang ada didalam rumah belakang itu.
Seketika darah Zain berdesir kencang, tubuhnya menggigil ketakutan.
"Siaaalll..!! Jika sampai saja mereka di grebek dan aku dijadikan saksi untuk dipertanyakan apa saja yang dilakukan mereka sebagai tersangka, sebab aku tetangga paling terdekat mereka, dan ini sangat membahayakanku" guman Zain lirih. Namun kondisi Khumairah saat ini, tidak mungkin membuatnya harus pindah rumah kontrakan lagi, apalagi jadwal operasi Khumairah semakin dekat.
Zain semakin terpuruk dalam kondisinya saat ini. "Berilah aku petunjuk-Mu ya Rabb.. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku diwaktu lampau" gumannya dalam hati, meratapi nasibnya yang seakan sedang berada diujung tanduk.
Andaikan waktu dapat diulang kembali, Ia tidak akan berbuat gegabah dan memendam dendam yang berlebihan terhadap Amyra, hingga membuatnya mengalami kekacauan disaat seperti sekarang.
__ADS_1