
Didalam ruang rapat itu dari awal Fairi tak bersuara dan hanya diam mendengarkan dengan sesekali tersenyum tipis mendengarkan pendapat dari orang - orang yang saling beradu argument, suasana ruang rapat terdengar sangat gaduh karena sebagian besar yang menginginkan agar melepaskan pabrik teh karena akan mengakibatkan kerugian dan mempengaruhi nilai saham, sedangkan beberapa dari mereka juga ada yang berpendapat karena pendapatan dan pemasukan dari pabrik itu juga bisa meningkatkan nilai pasar mencobak untuk mempertahankannya agar mendapatkan solusi yang baik dan tak akan menimbulkan dampak yang terlalu tinggi.
"Bagaimana bisa seperti itu, mau bagaimana pun akibatnya pasti akan mempengaruhi nilai saham, dan apakah kalian akan mengambil resiko yang begitu besar hanya untuk sebuah pabrik yang sebenarnya sudah lepas dari sejak tahun depan saat dia telah dipindah alihkan dan dijual." tuan Bagus berkata dengan sangat tak sabar dan penuh emosi.
Fairi tersenyum mendengarkan perkataan dari pak Bagus, dan Kenan yang merupakan penanam modal di perusahaan itu dan juga merupakan orang yang bekerja sama menatap bingung pada Fairi yang dari tadi hanya duduk tenang dan tersenyum sesekali. Tatapan Kenan tak beralih sedikit pun dari Fairi, karena dia pemasaran kenapa Fairi bisa setenang itu. Dalam hati Kenan jika ada yang mencobak untuk memojokkan Fairi dan Fairi tak bisa membela diri maka Kenan akan turun bicara, namun dari awal sikap Fairi yang tenang membuat Kenan pun tak banyak berkata - kata.
"Iya benar apa yang dikatakan oleh tuan Bagus, saya setuju untuk membuat pabrik itu lepas dari anak induk dan akan berdiri sendiri. Dengan begitu maka kestabilan nilai saham yang mulai terguncang akan kembali stabil."
"Iya benar, aku pun setuju dengan itu."
"Benar, sebaiknya tuan Adi segerah mengambil keputusan. Aku juga setuju dengan perkataan tuan Bagus dan yang lainnya."
Beberapa dari anggota dewan dan para menanam modal serata pemegang saham berpendapat dan mereka juga menginginkan keputusan kalau pabrik teh diputus dan dikeluarkan dari anak induk. Tuan Adi menghela nafas dalam dan melirik Fairi yang dari tadi masih tetap diam dan tak bereaksi. Melihat itu tuan Adi merasa cas karena dia tak ingin menelan putrinya itu dengan membebankan semuanya pada pundak Fairi yang baru saja bergabung dengan perusahaan.
"Begini, dengarkan aku dulu. Kita tak bisa untuk langsung memutuskan segalanya tanpa prosedur terlebih dahulu. Dan hal yang saat ini terjadi pada pabrik teh adalah sebuah kecelakaan. Jika kita menyelesaikan maslah dan mengatasinya dengan baik dan juga benar aku rasa itu tak akan mempengaruhi nilai saham yang banyak kalian cemaskan itu." Tuan Adi mulai berpendapat dan berusaha untuk menengahi agar tak membuat perselisihan yang lebih parah lagi.
"Tapi tuan Adi kita juga harus memikirkan dampaknya dan anda tak bisa kalau hanya..." Tuan Bagus mulai bersuara lagi namun kalimatnya belum selesai Fairi sudah memotongnya.
"Tunggu dulu, saya minta maaf memotong dan tolong biarkan saya berpendapat juga di sini sebagai pemegang kendali atas pabrik itu." suara Fairi membuat semua orang terdiam dan Kenan tersenyum melihat hal itu "Sebagai pimpinan dari pabrik itu saya setuju dengan tuan Bagus. Kita jangan sampai mengambil resiko dari hal yang akan kita takutkan dan cemaskan...jadi, aku sebagai pimpinan pabrik teh mengatakan akan keluar dari PT. Wijaya, dan akan mengatasi semua masalah yang ada, dengan begitu aku rasa semua bisa menerima." ucap Fairi sangat tegas.
__ADS_1
Beberapa orang saling pandang setelah mendengar perkataan Fairi kalau dia setuju untuk lepas dari PT. Wijaya. Dan tuan Adi merasa kaget dengan apa yang diputuskan oleh Fairi. Suasana ruang rapat jadi hening seketika dan semua orang menatap Fairi. Sedangkan Fairi melemparkan senyum pada semua orang yang ada didalam ruang rapat itu.
"Seperti yang diusulkan oleh tuan Bagus dan yang lainnya yang menginginkan untuk melepaskan pabrik teh aku setuju. Namun sebagai pemegang saham nomer 3 di perusahaan ini aku juga memiliki pendapat dan usulan untuk tetap bekerja dari sini karena bagaimana pun aku juga memiliki hak atas wewenang di perusahaan ini." ucap Fairi dengan tegas.
"Benar dia adalah pemegang saham nomer 3 setelah tuan Bagus." ucap semua orang yang ada diruang rapat itu.
"Apakah kau memiliki solusi untuk mengatasi masalah pabrik yang saat ini sedang memperihatinkan itu." Tuan Bagus bertanya pada Fairi dan semuanya menatap Fairi.
"Mudah saja. Tapi kenapa anda sebagai orang utama yang menginginkan untuk pabrik itu dilepas justru merasa penasaran bagaimana cara saya untuk mengatasi masalah ini..." Fairi tersenyum "tapi sebagi orang yang ditanya, maka saya akan menjawabnya, saya akan menjual 5 persen dari saham milik saya kepada seseorang yang bisa membantu saya. Dengan cara seperti itu saya bisa mengatasi masalah saya dengan pabrik milik saya, apa jawab ini memuaskan untuk anda." Fairi menatap tuan Bagus.
Kenan tersenyum mendengar ucap Fairi dan dia dengan cepat bersuara kalau dia akan membeli 5 persen saham milik Fairi yang sedang ditawarkan itu sebelum tuan Bagus bersuara, karena dari awal Kenan sudah memperhatikan ada yang janggal dengan cara tuan Bagus menekan semua orang untuk melepaskan pabrik teh dari PT. Wijaya.
"Ho...very interesting, aku suka." Kenan bergumam dan tersenyum melihat Fairi yang melangkah keluar dari ruang rapat.
Terlihat Kenan berbincang dan berjabat tangan dengan tuan Adi dan beberapa orang lainnya setelah rapat yang sudah berjalan selama 3 jam dibubarkan. Terlihat tuan Bagus merasa puas dan juga tak puas karena dia tak bisa mengeluarkan Fairi dari perusahaan sesuai dengan permintaan dari nyonya Ayu.
Didalam kantornya tuan Bagus merasa kesal dan melupkan kekesalannya yang tak bisa mengusir Fairi keluar dari perusahaan. "Halo, temui aku ditempat biasa nanti sore."
...💔💔💔...
__ADS_1
Dalam perjalanan kembali ke kantornya Kenan terus saja tersenyum karena mengingat akan kehebatan Fairi dalam berdebat dan mengatasi semua masalah dengan sangat mudah selama rapat tadi. Kenan merasakan ledakan yang hebat dari dadanya, karena perasaannya terhadap Fairi mulai meluap memenuhi seluruh relung hatinya dengan sempurna.
"Anda terlihat sangat senang pak." tegur Agus yang melirik Kenan dari kaca spion depan.
"Ya aku sangat senang Gus, aku tak pernah menyangka kalau istriku sungguh sangat hebat, dan dia sangat menarik." Kenan menjawab dengan bangga
"Istri? Maksud bapak Bu Laras." Agus sedikit bingung dengan jawaban Kenan
"Hah, ya...dia adalah mantan istriku Gus. Dia pergi meninggalkan aku karena kesalahan ku. Aku tak menjaganya dengan baik dan tak belajar untuk mengenalnya. Andai aku dulu berusaha untuk mengenalnya mungkin aku tak akan melepaskannya dengan mudah." ada penyesalan yang tersirat dari jawaban Kenan.
"Apa bapak masih mencintainya? Lalu sekarang apa yang akan bapak lakukan? Karena kalian juga sudah memiliki anak bersama, akankah anda meminta maaf dan rujuk kembali pak?" Agus bertanya penasaran.
Kenan menghela nafas berat "aku ingin Gus, tapi aku tak tau bagaimana memulainya. Jadi aku akan mengejarnya untuk kali ini. Aku belum pernah memberinya kebahagiaan sebelumnya, dan aku akan memberinya sekarang. Akan ku lakukan segalanya untuknya." Kenan menjawab dengan tersenyum.
"Itu sebabnya tadi anda mengatakan kalau anda akan membeli 5 persen saham yang ditawarkannya tanpa tau berapa harga yang dimintanya." Agus berkata dan tersenyum sambil fokus menyetir.
"Hem, berapa pun harganya aku akan mendapatkannya. Dan akan ku berikan segalanya untuk dia, karena dia adalah wanita yang akan ku kejar dan juga ibu dari anakku." Kenan menjawab dan menyandarkan kepalanya disandarkan kursi mobil sambil menutup matanya.
Agus bergeleng kapal dan tersenyum melihat bosnya yang sepertinya sedang jatuh cinta pada mantan istrinya dan sudah masuk dalam tahap gila karena tak lagi memiliki pemikiran dalam bertindak kalau itu menyangkut masalah mantan istrinya.
__ADS_1