
Tak berselang lama Kenan yang duduk di ruang tengah sambil memainkan laptop yang ada didepannya terlihat sangat dingin dan galak. Melinda yang keluar setelah berpakaian rapi dan disusul oleh Danang dibelakangnya tak membuat Kenan marah melihat mereka berdua, seolah tak ada lagi rasa yang tersisa untuk Melinda di hati Kenan.
Kenan menatap biasa saja pada pasangan yang baru saja dia saksikan bagaimana aksi mereka berdua saling bergulat. Kenan tersenyum saat dia melihat Melinda meremas tangannya karena merasa takut pada dirinya yang akan marah.
"Tak perlu takut seperti itu aku tak akan marah pada kalian berdua." Suara Kenan memecah keheningan
"Mas Kenan, tolong maafkan aku mas, tolong maafkan aku. Aku janji aku tak akan melakukannya lagi" Melinda bersimpuh dihadapan Kenan sambil menangis dan memegang kaki Kenan.
"Tak perlu sampai seperti itu Mel, dan aku juga tak butuh janji dari mu. Semuanya sudah cukup bagi ku." Kenan menarik kakinya dan tersenyum menatap Melinda.
"Jangan menangis dan bangunlah. Aku bersyukur karena aku di berikan musibah ini sehingga aku jadi tau semuanya." Kenan berkata dan menatap tajam pada Danang yang berdiri didepan Kenan.
"Ha, jadi kamu sudah tau sebelumnya ya. Dan sengaja melakukan ini untuk membuktikan semuanya dengan mata kepalamu sendiri." Danang berkata dengan tatapan tak kalah tajamnya dengan Kenan.
"Mas Kenan." Melinda terus saja menangis.
"Bangunlah, jangan seperti ini. Sudah ku katakan kalau aku tak marah pada mu." Kenan membantu Melinda untuk berdiri dan duduk di kursi disamping Kenan.
"Kenan." Farid dan Dafid datang bersamaan dalam waktu yang tepat dan mereka terlihat sedang membawah sebuah berkas ditangan mereka masing - masing.
"Masuklah dan duduklah, kalian datang tepat waktu." Kenan tersenyum pada kedua sahabatnya itu.
__ADS_1
"Mel, aku rasa sudah cukup pemainan ini. Dan sebaiknya kita sudahi, aku tak meminta kembali uang yang selama ini kau keluarkan untuk kakak mu itu." Kenan berkata dengan pelan dan ringan, serta menyodorkan berkas dihadapan Melinda.
"Apa maksudmu ini Kenan?! Jangan mentang - mentang kau orang kaya kau bisa mempermalukan adik ku seperti ini." Danang terlihat sangat marah saat melihat Kenan memberikan sebuah berkas yang harus ditanda tangani oleh Melinda.
"Ini semua apa mas?" Melinda menatap beberapa berkas dihadapannya.
Sehari sebelumnya.
"Farid, tolong kau urus berkas perceraian ku dengan Melinda dan buatkan surat pernyataan atas penyala gunaan keuangan yang selama ini dikeluarkan olehnya. Dan datang ke rumah ku besok begitu semuanya sudah selesai, ku harap kamu bisa segerah menyelesaikannya dengan cepat." Kenan menghubungi Farid dan memintanya untuk mengurus semua surat termasuk perceraiannya dengan Melinda.
"Baik, aku akan selesaikan dengan cepat." Farid menjawab dan menutup teleponnya.
Setelah mendapatkan jawaban dari Farid atas perintahnya, dan juga Dafid atas hasil pemeriksaan atas dirinya Kenan merasa lega dan tersenyum. Seolah Kenan merasa telah melepaskan begitu banyak beban yang selama ini dia tanggung dan pikul sendiri.
Saat ini
Mendapatkan amarah dan pertanyaan dari Melinda dan juga Danang Kenan tersenyum, "Seperti yang kamu lihat dan kamu baca, jika kamu menanda tangani berkas ini maka aku akan menghapuskan segala uang dan juga waktu yang telah kamu ambil dari ku, dan jika kamu tak mau menanda tangani ini maka kamu harus menanda tangani berkas yang ini, yang menyatakan kalau kamu telah menyala gunakan aset perusahaan yang berupa uang tunai untuk keperluan pribadimu sendiri dan tanpa sepengetahuan pihak perusahaan." jelas Kenan tanpa basa basi dan belas kasihan pada Melinda.
"Kenan kau jangan keterlaluan! Selama ini Melinda sudah menemani mu, melayani mu, dan dia telah mendapatkan hinaan atas orang tuamu bahkan kau tak pernah menjadikan dia sebagai istri sah mu. Sekarang kau mau membuat dia dalam posisi yang sulit? Kau ingin dia menanggung hutang atas uang yang seharusnya kau berikan sebagi nafkah karena kau suaminya? Apa kau sudah gila Kenan." Danang marah dan emosi besar.
"Lalu kau sendiri apa? Kau meniduri adik dan istri orang lain dengan bebas bahkan pada saat suaminya masih ada, lalu aku harus menyebut perbuatan kalian itu apa? Penghormatan." jawab Kenan dengan santai.
__ADS_1
"Mas Kenan tolong maafkan aku mas? Jangan lakukan ini pada ku, aku harus bagaiman dengan Sari nantinya mas? Tolong jika mas Kenan marah padaku setidaknya lihatlah Sari mas." Melinda terus saja menangis dan mencoba meminta belas kasihan Kenan.
"Aneh, ini sungguh aneh. Kenapa aku tak tergerak saat melihat Melinda menangis dan memohon seperti ini. Tapi aku merasakan sakit saat melihat Fairi berteriak padaku dan menangis dengan sangat sakit, saat aku memintanya membantu agar Melinda diterima oleh mama dan papaku dulu." gumam Kenan dalam hati menatap Melinda yang biasa saja.
"Sudah cukup sandiwaranya." Kenan berkata dan memutar laptop yang dari tadi didepannya.
"Kalian dengan sengaja menempatkan pembantu yang kau pilihkan dan memecat pembantu yang aku pekerjakan."
"Kau bahkan tak terjatuh karena didorong oleh Bibi melainkan meminum obat untuk mengugurkan kandungan."
"Dari hasil pemeriksaan yang ku ketahui kau waktu itu melakukan kuret karena usia kehamilanmu yang sudah hampir memasuki usia 4 bulan, jadi terpaksa harus dikuret karena masih ada sisa dari usahamu yang ingin menggugurkan anak mu dari kakak tercintamu itu."
"Dan kau Danang, sengaja menempatkan orang mu agar kau bisa dengan bebas bermain dan bermesraan dengan istriku karena orang mu akan memberiku obat tidur setiap kali aku selesai makan malam."
Kenan menunjukkan semua rekaman yang dia ambil dan dia pasang disetiap sudut rumah itu bahkan dari ruang tamu sampai kamar mandi didalam rumah itu. Dan apa yang dikatakan oleh Kenan tak lagi bisa dibantah oleh Melinda dan juga Danang karena semua buktinya ada.
"Dan kamu Mel, selalu menggunakan anak dari sejak dulu. Apa kau masih ingat bagaimana saat kamu datang pada ku dan mengatakan kalau kamu hamil anak ku? Saat itu juga aku tanpa berfikir panjang langsung menikahi mu dan menemanimu selama masa kehamilanmu dan membawamu pulang ke rumah setelah selesai melahirkan sesuai dengan permintaan mu. Namun sekarang jangan lagi kamu menggunakan alasan itu untuk merubah pikiran ku, karena aku bukanlah orang yang harus bertanggung jawab atas anak mu." Kenan menyerahkan hasil tes DNA antara dirinya dan Mayangsari.
Melihat itu Melinda bergetar dan dia tak bisa mengelak lagi, kalau dari sejak dulu dia memang sudah membohongi dan menipu Kenan demi kebaikan dan kehidupannya sendiri yang tak ingin hidup sengsara dengan Danang dan membesarkan anak seorang diri dengan bersusah paya bekerja keras.
"Ayah Mayangsari adalah kakak mu sendiri, Danang. Jadi yang harusnya bertanggung jawab adalah dirinya bukan aku." ucap Kenan yang juga menyerahkan hasil tes DNA antara Danang dan Mayangsari.
__ADS_1