
"Tapi itu sama, Sayang.. Sama-sama es campur" ucap Denny mencoba menenangkan Amyra.
"Iya.. Tapi rasanha beda, Mas.. Kalau yang biasa itu rasanya tulen susu dan campuran gula putih, nah kalau ini rasanya pakai campuran perisa rasa, ada pahitnya, bukan murni gula asli" ucap Amyra mencoba menjelaskan kepada Denny.
"Kamu ini sudah seperti komentator master chef saja, sampai sedetail itu menjelaskannya" ucap Denny dengan sedikit bingung.
Amyra memanyunkan bibirnya, Ia tidak mau meminum es campur tersebut dan meminta Denny untuk membelikan es campur yang seperti biasanya.
"Tapi penjual yang biasanya sudah tutup, Sayang, karena dagangannya sudah habis" Denny mencoba memberikan pengertian kepada Amyra.
Amyra tak menjawab ucapan Denny Ia memalingkan wajahnya dan tidak ingjn menatap kepada Denny.
Denny semakin bingung, Amyra tak pernah bertingkah konyol seperti ini, namun kali ini tampaknya Ia sedang merajuk.
Meskipun setiap hari Ia meminum es campur tersebut, namun Ia tak pernah bosan untuk meminumnya setiap hari.
"Besok Mas belikan, Ya" ucap Denny meminta Amyra mengerti.
Namun Amyra tak menggubrisnya, Ia membenahi posisinya, dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Denny melongo melihat sikap Amyra yang gak biasanya. Akhirnya Denny keluar untuk mencari es campur yang lain yang mirip dengan dagangan es campur langganannya.
Denny meraih dua cup es campur yang sudah dibelinya dan memberikannya kepada Mbak Ridha, lalu pergi untuk mencari es campur tersebut.
Denny menyusuri jalanan kota, dan akan membeli es campur dua cup untuk setiap pedagang yang ditemuinya dijalanan. Hingga akhirnya Ia menemukan pedagang terakhir karena hari sudah pukul 4 sore dan tidak ada lagi yang berdagang.
Sesampainya di rumah, tanpa sadar Denny membawa hampir 30 cup es campur dari berbagai pedangang yang ditemuinya.
Ia tampak seperti orang yang sedang mengadakan hajatan.
Dengan meminta bantuan Ashraf dan juga Najma, Denny membawa es campur itu kedalam kamar seluruhnya untuk dicoba Amyra.
Sesampainya di kamar, tampak Amyra sudah selesai mandi dan baru saja selesai shalat Ashar.
Melihat banyaknya es campur yang diletakkan diiatas lantai, sebab meja nakas sudah tidak muat menampungnya.
Amyra mengamati satu persatu-satu es campur tersebut, lalu matanya tertuju pada dua cup yang manarik perhatiannya, cup memiliki merk yang sama dengan langgananya, lalu Ia mengambilnya satu cup dan menyeruputnya.
__ADS_1
Ia mengunyah jelly dan sagu mutiara yang ada didalamnya, dan menghayati rasanya.
Sementara itu, Denny berharap dan berdoa semoga saja ws campur itu sesuai dengan selera Amyra.
"Ini, Mas.. Rasanya sama, melihat merknya mungkin ini cabangnya" ucap Amyra mengomentari.
Sesaat Denny bernafas lega, sebab sudah menemukan es campur yang sesuai dengan selera Amyra.
Seketika Denny teringat akan Dwy dan juga Fhytti yang sudah dua kali Ia kerjain seperti itu. Ternyata apa yang dirasakan keduanya tidaklah nyaman.
Denny merasakan jika ini adalah karma dari perbuatannya, dan sikecil yang kini sedang berada didalam rahim sang istri sedang mengerjainya.
"Ternyata segala perbuatan baik dan buruk ada imbalannya. Mungkin saja Dwy dan Fhytri saat itu sedang menyumpahiku, sehingga aku mendapatkan tulahnya.?" Guman Denny dalam hatinya.
Lalu Ia bernafas lega, dan mengambil hikmah dari segala kejadian dialaminya.
Najma dan Ashraf lalu memilih es campur tersebut, dan membagikannya kepada mbak Ridha dan juga dua asisten rumah tangganya.
Sisanya mereka bawa ke Mushallah untuk dibagikan kepada teman-teman mengaji mereka.
Amyra melihat wajah letih Denny, ada rasa kasihan dan juga iba dihatinya, sebab Ia merasa bersikap ego.
Denny tersenyum tulus, lalu mengecup ujung kepala Amyra "Tidak apa-apa, sebab yang menanam saham dirahim Kamu itu kan Mas, maka Mas harus bertanggungjawab dengan apa yang terjadi" ucap Denny dengan lembut, lalu menarik kepala Amyra kedalam pelukannya, namun Amyra dengan konyolnya menggesekkan hidungnya diketiak Denny, yang membuat pria kegelian.
"Sayang.. Jangan nakal, Mas sudah dua bulan puasa, dan harus 4 bulan lagi menahan puasa, kamu jangan buat Mas tersiksa" bisik Denny ditelinga Amyra.
Amyra menengadahkan kepalanya, lalu menatap Denny yang tampak memelas wajahnya.
"Nanti malam Myra tuntaskan" ucap Amyra menggodanya.
Denny melongo mendengar ucapan Amyra "Kata Dokter kita tidak boleh berhubungan dulu, karena dapat menimbulkan kontraksi dini" ucap Denny mencoba mengingatkan.
Amyra tertawa mendengar ucapan Denny.
"Siapa yang mau berhubungan?" ucap Amyra sembari berlagak bingung.
Denny mengerutkan keningnya, menatap Amyra seolah meminta jawaban.
__ADS_1
"Tadikan kamu yang mengatakan untuk menuntaskan" Jawab Denny mengingatkan ucapan Amyra barusan.
"Ya kan, menuntaskan, bukan berarti berhubungan" ucap Amyra menyela.
Denny semakin bingung "Terus..?" tanya Denny penasaran.
"Karokean saja, Ya" ucap Amyra dengan senyum nakal.
Seketika Denny tersenyum sumringah, akhirnya Ia dapat berbuka puasa setelah dua purnama menahan gejolak hasratnya.
"Kamu emang paling pengertian, kenapa tidak dari kemaren-kemaren" ucap Denny sedikit kesal.
Amyra langsung mendaratkan cubitannya dipinggang Denny dengan gemas.
"Mas.. Perut kamu lama-lama tambah bucit deh" ucap Amyra sembari membelai lembut perut Denny yang tampak sedikit membuncit.
"Emangnha kenapa? Kamu sudah luntur cintanya karena perut Mas sudah mulai tidak Six pack lagi?" tanya Denny sedikit merasa cemburu, sebab kejadian dokter muda tempo hari yang bertugas memeriksa Amyra terlihat menatap istrinya dengan penuh maksud tertentu.
"Iiih.. Apaan sih, Mas.. Kamu semakin terlihat menggemaskan dengan perut buncit, sebab enak jika dibelai" ucap Amyra sembari menggosok perut Denny dengan gemasnya.
"Mana tahu, sebab dokter Bram kan tampan dan juga masih muda" ucap Denny dengan nada menyindir.
Amyra tertawa geli mendengar ucapan Denny.
"Ya ampun, Mas.. Dia itu masih muda, masa iya menyukai emak-emak yang dalam kondisi hamil" ucap Amyra sembari menatap sang suami dengan senyum yang tertahan.
"Jangan salah, Sayang.. Wanita hamil itu akan terlihat menggoda dimata pria, sebab semuanya akan terlihat mengembang" ucap Denny dengan serius.
"Mengembang? Emangnya Donat?" tanya Amyra dengan nada yang terdengar lucu.
"Iya.. Semuanya ikut mengembang.." jawab Denny, lalu mengecup gemas pipi Amyra.
Amyra menggelinjang "Mas.. Sudah mah maghrib.. Tahan bentar, Dong" ucap Amyra mengingatkan.
Denny semakin menghujani kecupannya "Makanya jangan menggoda terus" ucap Denny sembari meremas gemas buah melon Amyra lalu beranjak dari ranjang untuk membersihkan dirinya.
Ia takut khilaf, karena waktu maghrib hampir tiba, Ia bergegas membersihkan dirinya dan berwudhu serta gak sabar ingin menuntaskan janji Amyra kepadanya.
__ADS_1
Menunggu detik-detik adzan Maghrib dan Isya rasanya begitu sangat lama, sehingga berulang kali Ia menatap Amyra dengan gemasnya.