Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Bab 150


__ADS_3

"Fa cepatlah datang ke rumah sakit sekarang ini darurat." Dafid menghubungi Fairi dengan panik.


Tak lama setelahnya Fairi dan Lina tiba di rumah sakit dan terlihat banyak sekali perawat dan dokter yang keluar masuk dari ruangan rawat serta terlihat Dafid yang sibuk, Fairi bergegas dan dia melihat kedalam yang ternyata Tyas telah tertutup kain putih dan semua alat yang terpasang ditubuhnya telah dilepas semuanya, seketika Fairi lemas dan menangis dia menyesal karena belum sempat bilang kalau Dandi ada dalam pengasuhannya dan juga belum sempat mempertemukan mereka berdua setalah sekian lama.


"Apa yang terjadi mas Dafid kenapa tiba - tiba dia drop dan jadi seperti ini?" Fairi bertanya pada Dafid dan menangis menyesal


"Seperti yang sudah aku katakan padamu sebelumnya kalau dia mengalami banyak komplikasi dan juga infeksi pada luka di ***********." Dafid berkata dengan menunduk


"Kenapa ada orang sekejam itu, Tyas" Fairi merasakan rasa sakit yang amat dalam


Hari itu juga Fairi membawah sajad Tyas ke rumahnya dan mulai melakukan proses pemakaman untuk Tyas, semuanya telah disiapkan dan di rumah Fairi menjadi rumah duka untuk Tyas, terlihat semua orang yang berhubungan dengan Tyas dan Fairi datang untuk berziarah.


"Oh iya Fa ini ada surat untuk mu dari Tyas." Dafid menyerahkan sebuah amplop pada Fairi


"Ini siapa yang ngasih mas" Fairi menerima amplop itu


"Seorang perawat yang menemukan amplop ini saat mereka membereskan kamar rawat Tyas dan tertulis namamu di sana." Dafid


"Terima kasih" Fairi


"Hem, kuatlah" Dafid menepuk ringan Fairi


Saat semua orang memakamkan Tyas, Fairi membuka amplop dan membaca surat dari Tyas. Fairi menangis dan meratap setelah dia membaca isi surat dari Tyas


"Sayang ada apa nak." Nyonya Tias mendekati Fairi dan memeluknya


"Ma, aku tak tau kalau Tyas mengalami hal yang sangat menyakitkan selama ini." Fairi berkata dan menatap nyonya Tias


"Sayang semua sudah jalannya, dan ini bukanlah salahmu." Nyonya Tias memeluk Fairi


Nyonya tias membuka surat dari Tyas dan membacanya


Untuk kakakku Fairi Ayu Larasati


Maafkan aku yang telah menyakitimu selama ini, dan terima kasih karena kamu telah merawat dan juga menjaga ku yang telah berbuat banyak salah dan dosa padamu selama ini. Dan untuk putraku Dandi aku juga mengucapkan terima kasih, Om Herman yang memberitahu aku akan segalanya, dan aku baru tau kalau Arlan adalah Dandi putraku. Terima kasih kak kamu memang orang baik, di kehidupanku selanjutnya aku ingin mengikuti mu dan aku ingin untuk selalu menjadi adikmu. Aku mencintaimu kak, kau adalah kakak yang baik untuk ku. Terima kasih karena telah menjaga dan merawat anakku dan terima kasih telah memaafkan ku. Selama ini aku iri padamu karena kau memiliki segalanya walau tanpa dukungan dari ayah, kau membuktikan dirimu bisa dan mampu melakukan segalanya. Tolong terima aku sebagai adikmu lagi di kelahiran ku berikutnya. Aku ingin menjadi putri dari Tante Laras dan adik dari mu. Semoga kau selalu bahagia untuk selamanya kak. Aku selalu bangga menjadi putri Wijaya, aku mencintaimu.


^^^Dari adikmu^^^


^^^Tyas Putri Wijaya^^^


Masa berkabung Fairi untuk Tyas telah berlalu seminggu dan Fairi meminta pada Handoko untuk menyelidiki apa yang terjadi pada Tyas dan iya orang - orang yang telah menyakiti Arlan.


Setelah menerima pengakuan sebagai kakak dari Tyas yang selama ini selalu memusuhinya Fairi telah menjadi seorang kakak yang ingin menegakkan keadilan untuk adiknya.


...💔💔💔...


"Tante, Tante dimana kamu." Maya berteriak memanggil Sofiana

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan seperti anak preman saja, kenapa kamu kesini lagi hah. Sudah ku bilang untuk jangan kesini lagi karena aku tak ingin terlihat oleh Kenan berhubungan dengan mu." Sofiana berkata dengan nada tinggi pada Maya.


Maya tertawa lalu menatap lurus pada Sofiana dan berjalan mendekati Sofiana, "jangan lupa bahwa Tante lah yang telah membuat aku jadi seperti ini. Dan beberapa hari yang lalu Tante Fairi datang ke rumah untuk mencari aku, dan jika terjadi apa - apa padaku atau sampai dia mencurigai aku makan aku juga akan membawah nama Tante karena Tante adalah dalang dari semuanya."


Plak


Sofiana seketika menampar Maya dengan sangat keras sampai Maya terjatuh di lantai dan ujung bibirnya berdarah.


"Dengarkan aku ya, aku tak pernah menyuruh mu untuk membawah keluar dan aku hanya mengajak kamu untuk bekerja sama saja karena orang yang kita benci itu sama."


"Dan satu lagi, jika sampai kau membuka mulut mu untuk hal ini maka kau tak akan selamat."


"Tapi ya terserah kamu sih untuk semuanya, karena aku tak peduli lagi. Dan yang pasti kau akan menemukan ganjaranmu jika kau berani membawah namaku"


"Apa yang Tante katakan ini, bukankah sejak awal aku sudah mengatakan pada Tante untuk tak menyakitinya, karena dia masih kecil. Dan, dan lagi dia adalah adikku." Maya berdiri dan berkata pada Sofiana


"Aku tak menyakitinya aku hanya memberinya ingatan yang pernah dia dapatkan dulu." Sofiana


"Tapi Tante telah memukul dan juga mencubitnya sehingga dia merasa takut dan lari" Maya


"Itu bukan salahku, dia lari sendiri dan aku tak menyuruhnya."


"Sebaiknya sekarang kau pergi dari rumahku dan jangan pernah menunjukkan wajahmu itu lagi. Karena aku tak ingin berurusan dengan mu lagi, jika kau tak mau mendengarkan maka jangan salahkan kalau aku tak memperingatkan mu. Pergi.!!"


Sofiana mengusir Maya dan meminta agar Maya jangan lagi muncul dihadapannya serta mengancam Maya.


"Aku tak tau kalau dia mengalami ketakutan seperti itu, aku juga tak tau kalau dia jadi histeris dan akan lari seperti itu"


Maya pergi dan bergumam sendiri karena dia mengingat saat Arlan berteriak ketakutan dan lari hingga berkali - kali jatuh dan mengakibatkan tubuhnya penuh dengan luka - luka.


Bel rumah Sofiana berbunyi dan Sofiana terlihat sangat marah karena dia masih merasa terganggu oleh kedatangan Maya tadi siang.


"Siapa lagi yang datang bikin kesal saja, awas saja jika nak itu lagi yang datang." Sofiana berjalan kearah pintu untuk membuka pintu rumahnya.


"Oh Ken, ada apa kamu kemari?" Sofiana terlihat kaget dan juga senang melihat Kenan berdiri di depan rumahnya.


"Kenapa, apa kau sedang menunggu seseorang kau terlihat begitu kaget." Kenan menatap Sofiana


"Oh tidak, bukan begitu aku hanya tak menyangka saja kalau kau akan datang ke rumahku, padahal ini akhir pekan." Sofiana terlihat senang dengan kedatangan Kenan


"Boleh aku masuk, aku membawah makanan" Kenan menunjukkan makanan yang dia beli


"Tentu silakan masuk" Sofiana terlihat sangat senang


"Rumahmu sepi sekali, kau tinggal sendiri di rumah yang besar ini?" Kenan berjalan mengikuti Sofiana.


"Iya apa kau ingin menemaniku, karena jika ada kami pasti tak akan sepi lagi." Sofiana menatap Kenan

__ADS_1


Kenan tersenyum dan menyerahkan makanan yang dibawahnya "dimana kamar mandinya" Kenan bertanya dan dia berkata penuh dengan senyuman


"Lurus saja, aku akan menyiapkan makanannya" Sofiana membawah makanan yang dibawah Kenan ke dapur


"Iya." Kenan pergi ke belakang ke arah kamar mandi, dan dia terlihat sedang melihat ke sekeliling rumah Sofiana seolah Kenan mengagumi rumah Sofiana yang terlihat sangat rapi dan bersih.


Cukup lama Kenan berada di belakang rumah Sofiana, dan Sofiana sudah menata makanannya diatas meja makan serta menunggu Kenan, dan tak lupa Sofiana membuatkan teh hijau kesukaan Kenan.


"Hem, kau sudah menatanya" Kenan kembali dengan senyuman


"Iya kemari lah, aku membuatkan mu teh hijau yang dulu sangat kau sukai" Sofiana melayani Kenan seperti seorang istri sedang melayani suaminya.


"Kau masih ingat kesukaanku." Kenan berkata penuh dengan kelembutan dan itu membuat Sofiana semakin melayang dibuat Kenan.


Mereka berdua berbincang dan menikmati kebersamaan dengan menonton acara di televisi bersama setelah makan malam, Sofiana mendekat namun belum sampai dia meletakkan kepalanya di bahu Kenan, ponsel Kenan berbunyi dan itu adalah panggilan dari Fairi


"Tunggu sebentar." Kenan berdiri dan keluar untuk mengangkat telepon dari Fairi.


"Dia mengganggu sekali, aku pasti akan membuat Kenan kembali pada ku, dan untuk itu aku harus menunjukkan kalau aku telah berubah dan akan ku lakukan dengan baik. Agar Kenan melihat kalau aku telah berbeda dengan diriku yang dulu, yang selalu tak sabaran dan suka memaksa."


Maya berkata sendiri dan berusaha keras untuk menunjukkan sikapnya yang baik dan manis pada kenan


"Em Sof boleh tidak aku minta teh hijau lagi sebelum pulang" Kenan kembali kedalam dan berkata dengan lembut pada Sofiana.


"Tentu, tunggulah sebentar ya" Sofiana dengan senang hati membuatkan teh hijau kesukaan Kenan lagi.


"Terima kasih ya Sof, sekarang aku harus pergi dan aku kan datang lagi lain kali." Kenan pun pamit pada Sofiana


Terlihat Sofiana sedikit kecewa karena Kenan harus pergi dan kembali pada Fairi. Tapi dia tak ingin menunjukkan sikap egoisnya pada kenan, sehingga Sofiana hanya tersenyum dan mengangguk Pasrah.


Keesokan paginya terlihat Kenan sudah sibuk sekali hingga tak sempat sarapan di rumah, sedangkan Fairi terlihat cuek saja dengan apa yang dilakukan oleh Kenan.


...💔💔💔...


"Ha...rasanya aku tak tahan lagi. Kapan ini akan selesai"


Kenan menggerutu dan menepuk dadanya sendiri seolah ada sesuatu yang sedang mengganjal dan menyesakkan dirinya


"Ken, apa yang kau lakukan? Aku mendengar dari anak - anak yang lain katanya kau sedang dekat dengan Sofiana lagi dan kalian sering pergi bersama." Farid yang baru datang langsung masuk ke ruangan Kenan karena dia tau ada mobil Kenan di parkiran


"Sebaiknya kau diam saja dan jangan ikut campur" Kenan berkata dengan cuek


"Bulan begitu Ken, tapi kau dan Fairi telah bersama setelah banyak melalui rintangan." Farid


"Farid kau harus tau batasan mu, dan ingat jangan pernah ikut campur pada urusanku. Kau mengerti." Kenan berkata dangan kasar pada Farid.


"Maaf"

__ADS_1


Farid yang mendapatkan respon tak baik dari Kenan merasa kesal dan dia pergi begitu saja.


__ADS_2