
"Bagaimana ini, bos ingin agar kita mencari wanita yang sama dengan gambar di foto yang dikirim ke kita, tapi tak ada wanita yang dia maksud apa bos salah orang atau dia salah informasi ya." seorang pria sedang mengawasi gedung kantor Fairi
"Entahlah mungkin saja orang yang dimaksudkan olehnya itu sudah tak bekerja di sini lagi." jawab dari teman pria itu
"Apa kau gila, bukankah bos bilang kalau wanita itu adalah pemiliknya. Pasti sudah dijual perusahaannya ini. Karena selama 1 Minggu ini kita mengawasi yang kita dapatkan adalah pemilik gedung ini adalah wanita cantik yang masih muda." pria itu semakin bingung
"Coba aku tanya saja ke pada mereka yang bekerja di sana mungkin saja mereka tau." salah satu dari pria itu keluar dari mobil dan bertanya pada beberapa orang yang terlihat berlalu lalang di gedung kantor Fairi.
...💔💔💔...
"Bagaimana keadaan mu sayang apa kamu baik - baik saja?" tanya nyonya Tias pada Fairi saat mereka sampai di bawah dan berdiri di pagar pembatas.
"Tak apa ma semua baik." jawab Fairi dengan cepat dan tersenyum agar nyonya Tias tak khawatir.
"Mau duduk untuk istirahat dulu." Nyonya Tias membawah Fairi untuk duduk di bangku yang ada didekat mereka.
"Siapa sebenarnya mereka dan kenapa sepertinya mereka ingin menyakitimu." Nyonya Tias menatap kasian pada Fairi yang hampir jatuh dari eskalator
"Entah lah ma, mungkin saja tak sengaja dan yang penting sekarang aku tak apa - apa. Hanya sedikit nyeri dipergelangan kaki, mungkin sedikit terkilir." Fairi memijat pergelangan kakinya.
"Kenapa tak hati - hati, tindakan mereka itu bisa membahayakan keselamatan orang lain. Dan juga tak ada sopan santunnya karena tak meminta maaf atau apa gitu." Nyonya Tias masih mengomel
Fairi tersenyum melihat nyonya Tias dan dia merasa kalau mamanya ini kembali seperti dulu saat sebelum terjadi banyaknya maslah diantara keluarga mereka, kasih sayang dan perhatian dari nyonya Tias yang perlahan kembali seperti dulu membuat Fairi merasa nyaman.
"Kamu tunggu di sini mama akan menghubungi papamu untuk menjemput kita di sini." Nyonya Tias menghubungi tuan Bram
Tak menunggu lama tuan Bram sudah tiba dan mencari mereka berdua sambil berbicara dengan nyonya Tias lewat panggilan telepon untuk bisa mengetahui posisi nyonya Tias dan Fairi.
"Pa di sini, hai." Nyonya Tias teriak dan melambaikan tangannya saat melihat suaminya dari kejauhan
"Bagaimana sayang apa sakit sekali." Tuan Bram langsung tanya kondisi Fairi dan jongkok untuk melihat pergelangan Fairi.
"Tak begitu pa, hanya susah dan sedikit nyeri buat gerak saja." jawab Fairi
Tuan Bram mendongak dan menatap Fairi tak percaya karena dipanggil papa oleh putri yang selalu dia rindukan selama ini. Tuan Bram menatap nyonya Tias dan terlihat nyonya Tias mengangguk serta tersenyum.
1 jam sebelumnya
__ADS_1
"Em..Fa apa kamu tak keberatan mama minta untuk mengantarkan mama belanja." Nyonya Tias berkata dengan hati - hati pada Fairi
"Hem, tak apa. Kebetulan aku juga membutuhkan beberapa barang yang harus dibeli." Fairi menjawab dengan pelan.
"Terima kasih ya nak." Nyonya Tias berkata lagi dan Fairi hanya menjawabnya dengan senyuman saja.
Mereka berkeliling dan mencari apa yang di inginkan oleh nyonya Tias dengan diam, karena Fairi hanya mengikuti dari belakang dengan tenang. Nyonya Tias terus melihat ke arah Fairi namun dia tak berani untuk berkata - kata lagi, karena bagi nyonya Tias asal Fairi mau ikut itu sudah cukup, sebab nyonya Tias ingin mendekati Fairi lagi pelan - pelan yang mulai menjaga jarak sejak dia dipaksa untuk melahirkan anak Kenan jika ingin bercerai.
"Auh." Fairi yang berjalan di belakang nyonya Tias ditabrak seseorang yang membawah barang dengan dipikul hingga Fairi hampir jatuh dari eskalator, dan karena dengan sigap Fairi langsung berpegangan sehingga dia tak sampai jatuh ke bawah, tapi kakinya tertekuk dan menatap pinggiran eskalator dan memiliki luka lecet.
"Sayang nak kau tak apa?" Nyonya Tias terlihat kaget dan panik.
"Auh." Fairi berjalan dengan tertatih dan terlihat kesakitan.
"Apa tidak apa non." seseorang bertanya dan membantu Fairi turun dari eskalator dengan aman.
Beberapa orang pengunjung yang tau kejadian itu menyalahkan orang yang menabrak Fairi dan terlihat kalau orang itu sengaja melakukannya. Karena orang itu setelah menabrak Fairi langsung pergi begitu saja tanpa merasa bersalah atau meminta maaf dan membantu Fairi.
"Terima kasih." Fairi berterima kasih pada orang yang membantunya
"Bagaimana keadaan mu sayang apa kamu baik - baik saja?" tanya nyonya Tias pada Fairi saat mereka sampai di bawah dan berdiri di pagar pembatas.
"Tak apa ma semua baik." jawab Fairi dengan cepat dan tersenyum agar nyonya Tias tak khawatir.
"Lalu siapa orang itu ma, apa sudah di ketahui dia ada di mana dan bekerja di bagian mana." Tuan Bram berkata dengan emosi setelah mendengar cerita dari istrinya.
"Mama tidak tau pa, karena orang itu memakai masker dan pergi begitu saja dengan cepat." jawab nyonya Tias dan Fairi hanya tersenyum melihat tuan Bram dan istrinya.
"Sudah ayo kita bawah putri kita ke rumah sakit." Nyonya Tias berkata lagi
"Baik - baik ayo kita ke rumah sakit sekarang." Tuan Bram berkata dan langsung bangun
"Tidak usah ke rumah sakit, pulang saja dan di urut juga pasti sudah baikan." Fairi menolak untuk ke rumah sakit.
"Tidak harus ke rumah sakit." Tuan Bram dan nyonya Tias berkata bersamaan
Tuan Bram langsung mengangkat Fairi dan menggendongnya ala tuan putri dan berjalan keluar mol untuk menuju ke mobilnya. Fairi yang ada di pelukan tuan Bram merasa terharu dan bersalah karena dia telah menghindari mereka hanya karena kemarahan yang membuat dia merasa sakit hati, dan tak pernah melihat cinta dan kasih sayang mereka berdua.
__ADS_1
Perlahan Fairi meneteskan air matanya merasa bersalah pada tuan Bram dan nyonya Tias yang dulu telah merawat dan menjaganya bahkan menyayanginya melebihi kasih sayang mereka pada Kenan.
"Maafkan aku pa." gumam Fairi dalam hati dan mengeratkan pegangannya pada leher tuan Bram.
...💔💔💔...
"Ok tak apa dan tak ada masalah yang serius, hanya terkilir saja. Jangan terlalu banyak bergerak dan kurangi aktifitas berjalan sampai rasa nyerinya mereda." ucap Dafid yang merawat Fairi.
"Terima kasih" Fairi berkata dengan senyum yang tulus.
"Apa tak masalah hanya di bungkus begitu saja hah? Kau tak mengakali aku kan." Tuan Bram berkata dan menatap dengan tajam pada Dafid
"Eh, Pa haruskah selalu meragukan tindakanku setiap saat." Dafid menjawab dengan kesal.
"Ya sudah, awas kalau sampai dia tak bisa berjalan." ancam tuan Bram dengan serius dan Fairi hanya tersenyum.
"Ma, lihatlah..pa kau sudah mengenalku hingga puluhan tahun tapi tak pernah sedikit pun percaya dan selalu meragukan ku." Dafid berkata dengan kesal pada tuan Bram
"Karena kau terlihat meragukan." jawab tuan Bram santai.
"Ha...sebaiknya papa cepat pulang membuat ku semakin kesal jika aku melihat papa di sini" Dafid mengusir tuan Bram
"Apa kau pikir aku suka di sini, aku juga mau pergi sekarang." Tuan Bram membawah Fairi keluar dari ruang rawat jalan.
"Ya ampun dia selalu saja membuat ku kesal." Dafid menghela nafas setelah taun Bram pergi
"Jangan dengarkan dia, sering - seringlah datang ke rumah. Mama pergi dulu." Nyonya Tias menepuk bahu Dafid
"Iya ma, hati - hati." Dafid berkata dan tersenyum
...💔💔💔...
"Mama kenapa?" Arlan terlihat cemas dan menatap Fairi dengan mata berkaca - kaca dan menatap kaki Fairi yang dibalut serta meniupnya.
"Aku akan meniupnya biar rasa sakitnya hilang, karena kata Bu guru kalau di tiup akan cepat sembuh." Arlan terus meniup kakak Fairi.
"Tidak apa sayang, mama hanya ceroboh dan tak hati - hati, kemari lah." Fairi menjawab dan menarik Arlan dalam pangkuannya.
__ADS_1
"Apakah sakit? Pasti sangat sakit kan ma." Arlan berkata dan mengusap kedua pipi Fairi.
Fairi tersenyum dan mencium pipi Arlan, "tidak sakit lagi karena sudah kamu tiup tadi."