Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Episode 194


__ADS_3

Zain mengacak rambutnya dengan kesal. Ia hampir saja melakukan kesalahan yang sama dimasa lalu dan menjadi seorang pecundang.


"Astaghfirullah.. Apa yang sudah kuperbuat pada gadis itu? Begitu polosnya Ia sehingga tidak mengerti apa yang telah aku lakukan padanya.." Guman Zain dengan perasaan bersalah.


Disisi lain, Khumairah yang sedang terlena dengan buaian sentuhan seorang pria untuk pertama kalinya dalam hidupnya, merasa bungung saat Zain meninggalkannya begitu saja, sedangkan Ia dalam kondisi menginginkan hal lebih, meski Ia juga tidak faham hal apa yang diinginkan, namun rasa itu begitu indah.


Khumairah akhirnya mengenakan pakaiannya, dan keluar dari kamarnya. Ia tak menemukan pemuda itu, Ia menduga jika Zain berada didalam kamarnya.


Sementara itu, Abdullah terus mengayuh sepeda tuanya, Ia harus telah sampai diujung desa sebelum malam tiba.


Dengan sisa tenaganya, Ia terus mengayuh dan hampir senja, Ia tiba dirumah salah satu warga desa yang dikenalnya dan menjadi persinggahannya jika Ia keluar hutan untuk membeli keperluan sesuatu.


"Kang Abdullah.. Baru sampai?" sapa Halim kepada Abdullah yang sudah dikenalnya lama.


"Lim.. Aku mau minta tolong sama Kamu untuk mencarikan wali hakim dan juga satu saksi lagi untuk menikahkan puteriku" ucap Abdullah dwngan nafas tersengal.


"Duduklah dulu kang, atur nafas dulu baru bicara yang jelas" titah Halim kepada Abdullah.


Abdullah kemudian duduk dan mengatur nafasnya hingga normal. "Lim.. Aku ingin menikahkan puteriku, namun Ku harap kamu merahasiakannya dari orang-orang desa ini. Sebab ada hal yang harus diindungi"pinta Abdullah dengan berbisik.


Lalu istri Halim membawa nampan berisi dua buah gelas teh manis hangat kepada Abdullah dan Halim.


"Diminum, Kang.. Mau belanja kah?" tanya Istri Halim dengan ramah.


Abdullah menganggukkan kepalanya dan mencoba berbohong. Sebab Ia tidak ingin status calon suami dari puterinya diketahui orang.


Abdullah faham jika Zain sebenarnya adalah buronan polisi yang melarikan diri ke hutan, sebab Ia dulu juga pernah melakukannya dan akhirnya berlindung dibalik hutan belantara.


Istri Halim kembali ke dapur dan memasak untuk tamunya. Ia merasa jika Abdullah akan menginap malam ini dirumahnya, maka Ia menyiapkan makan malam untuk tamunya itu.


Abdullah menyerahkan beberapa lembar uang untuk keperluan mencari wali hakim dan membayar saksi serta uang transfortasi.

__ADS_1


Uang itu Ia peroleh saat menjual hasil kebunnya jika ada pasar pekan minggu yang diadakan semunggu sekali.


Dengan menjual hasil kebunnya, Ia dapat membeli pakaian dan juga kebutuhan lainnya.


Halim tampak berfikir dan mencoba menerima uang dari Abdullah. Sebab wali hakim juga akan dibayar dan saksi yang akan dibawa kesana.


Jarak tempuh perjalanan kerumah Abdullah memang terbilang sangat jauh, sebab itu berada ditengah hutan belantara, sedangkan halim juga belum pernah sampai kesana, tentu saja hal tersebut sangat membutuhkan keberanian yang kuat.


Halim menganggukkan kepalanya, lalu Ia berinisiatif untuk membawa anak lelakinya yang masih bujangan sebagai saksi pernikahan puteri Abdullah, dan akan membawa wali hakim seorang tetuah didesa itu.


"Baiklah.. Esok pagi kita berangkat cepat. Nanti setelah makan malam saya akan menemui Ustaz Rahmat dirumahnya. Esok Kita akan menyewa sepeda motor agar segera sampai dirumah kang Abdullah" ucap Halim mencoba menjelaskan.


Abdullah merasa lega dengan jawaban dari Halim. Ia esok akan berangkat terlebih dahulu, sekitar pukul 6 pagi Ia akan sudah bergerak untuk pulang terlebih dahulu.


Setelah makan malam, Halim menemui Ustaz Rahmat dan memberitahu segala permasalahan Abdullah.


Karena hal yang penting, maka Ustaz Rahmat menyetujuinya dan bersedia menjadi orang yang akan menikahkan kedua insan yang akan menuju halal.


Disisi lain, Zain merasa sudah tak sabar menunggu waktu pagi akan tiba. Merasakan jika malam berjalan begitu sangat lambat, dan membuatnya gelisah.


Khumairah merasa bingung dengan sikap Zain. Ia tidak mengerti mengapa pemuda itu tak keluar semenjak tadi untuk makan malamnya.


Penerangan lampu pelita yang terbuat dari botol bekas minuman energi menjadi satu-satunya penerangan didalam rumah tua itu.


Karena Zain tak juga keluar dari kamarnya, akhirnya Khumairah pergi masuk kedalam kamarnya.


Sesampainya dikamar yang hanya berberbatas dengan anyaman buluh bambu tersebut, Khumairah dapat mendengar segala pergerakan yang dilakukan oleh Zain.


Khumairah berharap Zain akan datang malam ini kekamarnya, Ia merasa begitu sanadigat penasaran akan hal yang dilakukan pemuda itu siang tadi.


Gadis itu menyusupkan tangannya kebalik pakaiannya. Ia mencari dua buah melon yang siang tadi dilahab oleh pemuda itu.

__ADS_1


Ia baru tau bagaiamana rasanya saat kedua benda itu dijamah.


"Apakah ini yang disebut pernikahan olehnya?" guman Khumairah dalam hatinya. jemarinya terus menyusuri dua benda kenyal miliknya sendiri.


Disisi lain, Zain merasa perutnya sangat lapar. Ia tak mampu lagi menahan rasa laparnya. Zain keluar dari kamar dengan berjalan tertatih, lalu menyingkap tudung saji dan masih tampak ikan goreng dan tumis kangkung yang sengaja disisakan oleh Khumairah untuknya.


Zain menyantab makan malamnya, Ia begitu sangat lapar, dan berusaha untuk mengenyangkan perutnya.


Saat hampir selesai dengan makan malamnya, tiba-tiba saja terdengar suara petir menyambar dengan begitu kuat dan dahsyatnya. Zain menduga jika hujan akan segera turun.


Khumairah sangat takut dengan suara petir, selama ini Ia selalu mendekap Ibunya jika ada petir disertai halilntar yang menyambar dari langit.


Suara gemuruh itu bersahutan, membuat serasa rumah tua itu bergetar hebat dan akan roboh.


Zain sendiri merasa tersentak karena begitu kuatnya suara halilintar tersebut.


Tak berselang lama, hujan rintik-rintik turun dan semakin lama semakin deras


Zain membayang jika esok pagi calon Ayah mertuanya akan kesulitan untuk mencapai rumah, sebab jalanan yang licin.


Maka dari itu, Zain harus menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh Abdullah kepadanya.


Zain kembali kekamarnya, Ia mencoba memejamkan kedua matanya, Ia sudah tak sabar untuk menanti esok pagi yang bersinar terang.


Perlahan Zain terlelap dalam buaian mimpinya. Ia merasa begitu damai dalam sebuah mimpi yang begitu indah.


Dikamar sebelah, Khumairah merasa gelisah dan juga ketakutan akan suara gemuruh dan juga kilatan halilintar yang begitu sangat mengerikan.


Khumaira akhirnya keluar dari kamarnya, lalu dengan terpaksa menuju kamar Zain untuk mencari perlindungan.


Sesampainya dikamar itu, Ia melihat sang pemuda sudah terlelap dalam tidurnya dan dalam buaian mimpi yang indah.

__ADS_1


Khumairah berjalan mendekati ranjang pemuda itu. Ia berusaha naik keatas ranjang, dan tidur disisi sang pemuda yang kini sudah terlelap tidurnya.


Khumairah yang kini terbaring disisi sang penuda, dapat merasakan dengusan nafas hangat yang keluar dari jalan pernafasan sang pemuda.


__ADS_2