Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
episode 240


__ADS_3

Zain melihat Khumairah yang tampak begitu sangat kesulitan, terkadang perutnya sedikit terasa keram.


Karena kelainan bentuk rahimnya, membuat janin dalam kandungan Khumairah sulit berputar, sehingga membuat Khumairah merasakan keram dan juga denyutan yang sangat luar biasa.


Jadwal kelahiran masih kurang lebih 2 bulan lagu, dan Zain sedang mengumpulkan biaya operasinya.


Menurut saran dari bidan desa, sebaiknya Zain harus lebih dahulu ke kota, dan mengontrak disana.


Sebab kebamilan 7 bulan bisa saja tiba-tiba lahir prematur dan harus dalam tindakan operasi dini.


Karena didesa tidak dapat menangai kelahiran Khumiarah yang mengharuskan operasi cesar.


Zain berfikir keras untuk hal ini, sebab Ia harus memiliki banya tabungan untuk biaya hidup mereka selama dikota dan juga biaya melahirkan Khumairah.


Setelah mempertimbangkan segalanya, Zain akhirnya memilih untuk mendengarkan saran bidan desa dan pergi ke kota, sebab jika Ia bertahan didesa, Ia takut jika tiba-tiba Khumairah kontraksi, jarak antara desa kekota memakan waktu yang cukup lama karena akses jalan yang berbatu dan memperlambat perjalanan.


Sementara itu, Warung sembakonya akan ditutup sementara, dan bahan-bahan yang bisa Ia bawa akan dibawanya, dan nantinya akan ia jual di kota dengan membuka warung kecil-kecilan dirumah kontrakannya.


Setelah mengemasi semua barang-barangnya, Zain kembali membawa Khumairah ke kota. Ia akan mencari rumah kontrakan yang tak begitu jauh dari rumah sakit, namun tidak juga mahal.


Dengan dibantu para warga, Zqin mengemasi barang dagangannya, dan emasukkan kedalam mobil pick upnya.


Sebagian warga merasa kehilangan, sebab warung sembakonya membantu para warga tidak terlalu jauh berbelanja ke desa sebelah.


Setelah berpamitan kepada para warga, Zain menghidupkan mesin mobilnya, dan diiringi doa terbaik dari warga agar mereka selamat sampai ditujuan, dan Khumairah diberi kelancaran dalam melahirkan.


Dengan menempuh perjalanan yang memakan waktu lama karena jalanan rusak dan berbatu, membuat keduanya sampai dikota sudah menjelang senja.


Zain mencari rumah kontrakan yang terbilang murah, agar dapat menghemat biaya mereka selama berada dikota.


Setelah cukup lama, akhirnya Zain menemukan rumah kontrakan yang terbilang dapat dijangkaunya. Zain langsung membayar 3 bulan sekaligus, agar tidak repot nantinya, sebab mereka menargetkan hanya 3 bulan saja dikota, sekaligus mengontrol perobatan Khumairah setelah melahirkan.

__ADS_1


Rumah petak 5 permanen dengan ukuran 5x9 meter telah didapat mereka. Meski sempit, namun sudah cukup untuk mereka. Sebab ada teras tambahan, dan nantinya teras itu akan digunakan Zain untuk menggelar dagangannya, sebab lingkungan itu termasuk padat, meski memasuki gang.


Khumairah tampak kelelahan, dan Zain segera membawa khumairah kekamar kontrakan dengan hanya beralaskan kasur lipat dan dua buah bantal yang mereka bawa dari desa.


Setelah itu Zain mencoba membeli nasi bungkus untuk Khumairah makan malam dan segera beristirahat.


Setelah Khumairah terlelap karena merasa lelah, Zain mulai menurunkan barang-barang dagangannya. Berbeda dengan warga desa yang membantunya, namun warga sekitar terlihat acuh tak acuh kepadanya.


Setelah hampir tengah malam, Zain selesai memaindahkan barang dagangannya dari mobil pick upnya ke dalam, rumah, dan Ia pun kelelahan hingga tertidur lelap.


Keesokan paginya, Zain dibangunkan oleh aroma kopi hitam yang dibuat oleh Khuamairah.


Zain terbangun dan mencoba tersenyum sebab melihat Khumairah sudah kembali fit lagi.


Zain menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya, lalu setelah selesai membersihkan diri, Ia menyeruput kopi buatan Khumairah.


"Sayang, Mas mau keluar sebentar. Ada beberapa barang yang akan Mas beli untuk tambahan dagangan kita. Kamu jangan kemana-mana, dan jangan keluar rumah, sebab kamu belum mengenal lingkungan ini, ada banyak bahaya yang bisa datang kapan saja. Apakah Kamu mengerti apa yang Mas katakan?" ucap Zain mengingatkan.


Khumairah menganggukkan kepalanya, dan mencoba mentaati semua ucapan Zain.


Zain mengemudikan mobilnya, Ia menggunakan identitas palsu dalam segalanya. Hatinya penuh debaran, namun Ia mencoba untuk tenang.


Ia menyinggahi beberapa toko grosir untuk mendapatkan barang dagangan murah dan membeli beberapa barang dagangan yang dianggapnya dibutuhkan oleh warga sekitar.


Hingga sampai Ia merasa cukup dengan apa yang dibelinya, Ia teringat akan Khumairah pasti belum malan siang, dan Ia berniat membeli susu ibu hamil untuk Khumairah dan buah mangga kesukaan Khumairah.


Ia melihat sebuah swalayan yang lumayan besar dan terlihat lengkap dalam menjual berbagai barang kebutuhan.


Zain memasuki swalayan tersebut dengan tetap merundukkan kepalanya, dan tak ingin memandang siapapun.


Zain menemukan rak susu khusus ibu hamil dengan rasa strawbery yang biasa diminum oleh Khumiarah, dan kebetulan hanya tinggal satu kotak saja.

__ADS_1


Zain ingin mengambilnya, namun sebuah tangan terlebih dahulu meraihnya, dan Zain berusaha untuk melirik pemilik tangan yang meraih kotak susu tersebut.


Seorang wanita berhijab dengan perut yang juga membuncit dan sama menginginkan susu itu.


Seketika Zain membolakan matanya, degub jantungnya bergemuruh kencang. Kacamata hitam menutupi rasa gugup dan ketakutannya.


Zain segera melepaskan kotak susu yang sama-sama mereka pegang. Ia seakan tak percaya bertemu kembali wanita itu.


Wanita yang tak lain adalah Amyra tersenyum ramah. "Ambillah.. Mungkin istri kamu lebih membutuhkan. Saya varian coklat juga suka, dan saya ambil yang varian coklat saja" ucap Amyra sembari menyodorkan kembali kotak susu yang sudah dipegangnya.


Zain meraihnya, lalu berpaling begitu saja dan terburu-buru menuju kasir untuk membayarnya.


Sementara itu, Amyra menatap punggung pria misterius tersebut. Ia seolah pernah melihat pria itu, namun entah dimana.


Sesaat sebuah tangan menepuk pundak Amyra "Yank.. Sudah belum belanjanya?" bisik seorang pria yang tak lain adalah Denny yang mana keranjang trolinya sudah penuh dengan berbagai buah, susu, dan camilan.


Amyra melirik isi keranjang Denny "Mas.. Ngeri banget camilan kamu, ntar kamu gendutan, loh" ledek Amyra kepada suaminya.


"Biar perut kita samaan" jawab Denny sekenanya.


Amyra tersenyum simpul, apalagi Ia tak menduga Denny yang langsung sembuh setelah mendapat jatah ranjangnya, dan mendadak pagi-pagi mengajak berbelanja sebelum ke kantor.


Sementara itu, bergegas memasuki mobilnya dan segera mengemudikan mobilnya. Ia memilih membeli buah untuk Khumairah disekitar pedagang pasar tradisional saja.


Meskipun sudah jauh melewati tempat Ia bertemu dengan Amyra, namun deguban jantungnya masih terdengar memburu.


Setelah menemukan pedagang buah, Ia berhenti sejenak, lalu memilih mangga kesukaan Khumairah.


Saat bersamaan, seorang petugas polisi yang sedang tidak berpatroli, dan kebetulan singgah ingin membeli buah.


Seketika jantung Zain yang belum mereda karena pertemuannya dengan Amyra, kini kembali bergemuruh. Ia mencoba bersikap setenang mungkin agar tak menimbulkan kecurigaan, dan Ia kali ini Ia berpura-pura memilih beberapa buah dan membiarkan polisi itu pergi terlebih dahulu.

__ADS_1


Setelah polisi itu pergi, Ia kembali memasukkanbuah mangga dan beberapa jeruk manis dan segera menyerahkannya kepada penjual tersebut dan segera membayarnya lalu bergegas pergi meninggalkan pedagang buah itu.


Ia merasakan jika Ia hidup tidak begitu tenang, namun demi Khumairah, Ia harus dapat mengontrol dirinya agar dapat lebih tenang dalam menghadapi situasi yang kini sedang dilaluinya.


__ADS_2