
Pagi menjelang... Khumairah memandang Zain yang tampak tidur terlelap disisinya. Ia membelai lembut rambut suaminya.
Meskipun wajah Zain terlihat kusam dan juga tidak terawat, Namun Ia tahu jika suaminya itu tampan. Sebab kulit wajah dan tubuhnya sangat berbeda.
Dimana kulit tubuhnya tampak bersih, dan juga berwarna kuning langsat, berbeda dengan kulit wajahnya yang kusam dan dekil.
Namun hidung mancungnya dan bibirnya yang sedikit tebal dibagian bawah, tidak menampik jika Zain sebenarnya tampan, andai saja pria itu mau melakukan perawatan wajah.
Tetapi Zain selalu menolak jika dipinta membersihkan wajahnya dengan menggunakan facial wash, Khumairah tak mengerti apa dibalik itu semua
Bahkan Zain membiarkan jambang, janggut dan kumis tumbuh semak dibagian wajahnya, yang menambah kesan kusam dan kucel yang sangat kentara.
Namun apapun itu, Khumairah tetaplah menganggap jika Zain adalah pria yang tak tergantikan, karena pria itulah yang pertama kalinya membuatnya mengenal arti cinta.
Khumairah membelai janggut yang mulai tumbuh panjang. Namun Ia menyukainya, karena saat pria itu mencumbunya, ada sensasi berbeda disetiap sentuhan jambang dan juga jangut tersebut.
Zain terbangun saat merasakan sebuah jemari halus menyentuh wajahnya.
Ia mengerjapkan kedua matanya dan melihat pemilik jemari tersebut "Sudah bangun, Sahang?" tanya Zain dengan lembut.
Khumairah menganggukkan kepalanya lemah, Ia melihat jarum infus dipergelangan tangan Khumairah masih terpasang dan cairan dibotolnya hampir habis.
Lalu Ia meraih phonselnya dan menghubungi perawat untuk mempertanyakannya.
Dari seberang telefon terdengar jawaban jika Zain mencabut saja jarum infus tersebut jika Khumairah sudah merasa baikan, dan mengingatkan untuk meminjm obatnya dengan benar.
Zain meraih pergelangan tangan Khumairah, lalu melepaskan jarum infus yang terpasang di pergelangan tangan sang istri.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Zain kepada Istrinya. Wanita itu menganggukkan kepalanya.
Zain ingin beranjak bangkit dan membuat sarapan untuk sang istri agar segera meminum obatnya.
Namun Khumairah menahannya dengan mennggenggam pergelangan tangan sang pria.
__ADS_1
Zain mengurungkan niatnya, lalu memandang sang istri. Ada tersirat sesuatu makna dibalik tatapan mata sang istri.
Ia mengetahui jika istrinya bukan type agrasif, namun kali ini tatapan itu tampak begitu menginginkan sesuatu.
Zain menganggapnya bisa kemungkinan bawaan dari kehamilannya.
Ia tersenyum, lalu kembali berbaring disisi sang istri. Kemudian mengikis jarak diantara mereka dan memberikan kecupan hangat dibibir sang istri.
Tanpa diduga, Khumairah membalasnya, dan pagi ini mereka mengawali sarapannya dengan cumbuan yang panas.
Sepertinya sang istri polosnya itu mulai pintar dalam hal bercinta, dan itu membuat Zain semakin mencintainya.
Suasana pagi yang hangat membuat kedua insan itu bermandikan keringat dan mencapai puncak surgawi dengan penuh cinta.
Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, keduanya membersihkan diri dikamar mandi. Saat itu Zain mendengar suara rintihan-rintihan dari rumah belakang kobtrakan.
Namun Zain merasa jika itu bukan rintihan bercinta, melainkan suara pilu menahan rasa sakit dan seakan meminta tolong.
Zain merasa sangat curiga, lalu Ia mempercepat mandinya dan berbohong kepada Khumairah agar terlebih dahuku untuk keluar dari kamar mandi, sebab Ia akan buang air.
Zain segera mengunci pintu kamar mandi, agar Khumairah tidak dapat masuk secara sembarangan, dan Ia takut jika Khumairah menduga yang bukan-bukan terhadapnya.
Zain kembali mengintip aktifitas dirumah belakang tersebut.
Tampak olehnya ketiga wanita itu sepertinya terkapar kelelahan setelah melayani beberapa pria di sana.
Namun satu diantaranya tampak terlihat janggal. Sebab Ia seperti kejang-kejang dan dari mulutnya tampak berbuih.
Seorang pria yang dalam kondisi sakau mengampirinya dan tanpa belas kasih menghujamkan senjatanya kepada wanita yang sudah tak berdaya itu.
Zain memastikan jika wanita itu dicekokin minuman keras dan juga shabu, hingga membuatnya overdosis.
Zain melihat wanita itu tak lagi bergerak, dan kejangnya berhenti. Namun pria sakaw itu tak melihat atau tak menyadari jika wanita yang di gaulinya sudah tidak bernyawa lagi.
__ADS_1
Zain masih mengingat wajah sang wanita yang malam tadi masih tertawa saat melayani para pria-pria itu dengan begitu bangganya, hingga Zain menyaksikan merema memaksa sang wanita menenggak munuman berakohol yang dicampur dengan shabu secara berlebihan.
Dan siapa sangka tawanya malam tadi hilang begitu saja, dan pagi ini berganti dengan rintihan kesakitan saat meregang nyawa.
"Ini akan menjadi kasus besar jika sampai terbongkar" guman Zain dalam hatinya. Ia segera turun dari atas toiletnya, dan kemudian keluar dari kamar mandi dan segera menyalin pakaiannya.
Saat akan memasuki kamarnya, Ia melihat Kbumairah membuka pintu dan ingin membersihkan rumah, dengan cepat Zain menghampirinya, lalu menutup kembali pintu tersebut, bahkan menutup kain gorden jendela.
"Sayang.. Jangan buka pintu dan jendela untuk beberapa hari ini. Kita dirumah saja dan persediaan baban pokok juga masih ada, Mas tidak bekerja untuk beberapa hari ini" titah Zain kepada istriknya.
Khumairah mengerutkan keningnya "Emangnya ada apa, Mas?" tanya Khumairah penasaran.
"Jikapun Mas jelaskan kamu tidak akan faham, namun ini sangat berbahaya, dan turuti ucapan Mas. Jangan buka pintu jika ada seseorang yang megetuknya dan kamu jangan bersuara. Faham..?" ucap Zain menjelaskan.
Khumairah menganggukkan kepalanya dan menuruti semua apa yang diucapkan suaminya.
"Nah.. Kamu duduk saja, biar Mas yang membersihkan rumah dan memasak sarapan,Mas mau ganti pakaian dulu" titah Zqin kepada istrinya.
Lalu Khumairah beranjak menuju kasur lipatnya dan dan berbaring disana.
Zain keluar dari kamarnya dan sudah mengganti pakaiannya.
Ia menuju dapur dan mulai memasak sarapan. Sesaat Ia mendengar suara sedikit keributan yang terjadi dirumah belakang. Zain mematikan kompornya, lalu ke kamar mandi, dan tak lupa Ia mengunci pintu kamar mandi.
Ia kembali memanjat toilet dan mengintai apa yang terjadi disana. Ternyata mereka baru menyadari jika salah satu wanita yang melayani mereka telah tewas overdosis dan itu membuat mereka bingung bagaiamana cara melenyapkan jasadnya agar tidak diketahui.
Sementara dua wanitanya masih tak sadarkan diri dengan kondisi yang tak kalah mengenaskan.
Zain melihat mereka membongkar platfom rumah, Lalu berusaha menaikkan jasad wanita itu keatas paltfom dengan menggunakan meja yang mereka tumpuk menjadi dua.
Zain bergidik melihatnya. Ia melihat ke dua wanita yang masih sekarat itu juga mereka naikkan bersama ke atas platfom bersama satu rekan mereka yang sudah meregang nyawa. Namun seseorang diantaranya, memukul kepala dua wanita itu agar juga meregang nyawa demi untuk menutupi kejahatannya, dan mereka kembali menutup plafom yang sudah di rusak itu kembali seperti sedia kala.
Zain mendenguskan nafasnya, lalu keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Jika hati sudah dikuasai oleh iblis, maka akan hilang rasa prikemanusiaan, dan itu pernah aku lakukan saat ingin melenyapkan Denny, demi mendapatkan cinta Amyra. Sedangkan mereka melenyapkan ketiga wanita itu demi untuk bisnisnya" guman Zain dalam hatinya, namun semuanya sam-sama memiliki nilai kejahatan yang keji.
Zain menyadari dari peristiwa tersebut, Ia belajar banyak hal, jika hidup ini membutuhkan hati nurani dalam menjalani setiap kehidupan dan juga berfikir dalam menentukan sikap yang mempertimbangkan resiko baik dan buruknya.