
Zain terbangun saat mendengar suara kokok ayam jantan yang berkokok dengan sangat keras.
Ia menggeliatkan tubuhnya untuk meregangkan otot-ototnya. Saat Ia menggeliat, Ia tanpa sengaja menyentuh tubuh lain yang pastjnya bukan miliknya.
Seketika Ia terkejut saat melihat Khumairah yang terbaring disisinya. Dalam keremangan cahaya, Ia melihat kulit gadis itu yang begitu putih bersih dan bekilauan.
"Astaghfirullah.. Apa yang dilakukannya disini?" Zain berguman dalam hatinya.
Hujan masih terdengar rintik-rintik dan udara begitu sangat dingin. Zain berusaha bangkit dari ranjangnya menuju pintu keluar. Ia tidak ingin khilaf yang mana waktu pernikahannya hanya sebentar lagi.
Zain berjalan menuju ruang tamu yang terhubung dengan ruang dapur. Zain duduk dikursi makan dengan gelisah.
"untung saja Aku terbangun subuh ini, jika tidak, mungkin sudah khilaf aku.." Ucapnya dengan lirih.
Sesaat Khumairah terbangun dan mendapati Zain tidak berada didalam kamarnya.
Khumairah merasa sangat bingung, mengapa Zain terus menghindarinya. Ia keluar menuju ruang tengah dan melihat Pemuda itu sedang duduk dikursi makan dengan menopangkang dagunya dipunggung tangannya.
"Sudah bangun, mas?" sapa Khumairah lirih sembari menguap.
Zain melirik Gadis yang menyapanya terrsebut. "Ya" jawabnya singkat.
Khumairah menuju perapian, Ia memasak sedikit banyak dari biasanya, karena akan ada tamu yang datang hari ini, begitu pesan Abdullah kepadanya.
"Maaf Mas.. Tadi saya tidur kamarnya , Mas.. Sebab saya takut suara petir dan juga halilintar" ucap Khumairah membuka kesunyian.
Zain terdiam dan menganggukkan kepalanya. Lalu menatapi gadis itu yang tampak begitu cekatan meracik segala bumbu yang akan menjadi menu masakannya hari ini.
Ia ingin membuat asam pedas ikan nila, sambal goreng ikan gabus, dan tumis genjer.
Baginya menu itu sudah sangat lezat dan Ia tidak pernah kekurangan makanan dan lauk pauk.
Zain terus melihat gadis itu yang tampak begitu lihai dengan semua apa yang dikerjakannya.
__ADS_1
Hingga tanpa terasa hari sudah mulai tampak terang. Zain menatap mentari dengan penuh kehangatan.
Sementara itu, Abdullah sudah mengaguh sepedanya sejak pukul 6 subuh tadi. Ia berpamitan terlebih dahulu kepada Halim, sebab Ia menaiki sepeda sedangkan Halim dan ustaz Rahmat menaiki motor.
Abdullah sudah menempuh sepertiga perjalanan, Ia sudah tak sabar ingin segera sampai kerumahnya.
Abdullah menghentikan kayuhan sepedanya, sebab Ia merasakan ingin batuk. Saat Ia terbatuk, Ia melihat bercak darah yang menempel disapu tangannya.
Abdullah menarik nafasnya dengan berat, lalu menghelanya.
Ia kembali mengayuh sepedanya, Ia harus segera sampai dirumah, bayangan wajah Khumairah sudah begitu melekat dipandangannya.
Setelah hampir setengah hari, Ia duduk beristirahat dibawah sebuah pohon. Ia mendengar suara deru mesin motor menghampirinya, Ia meyakini jika itu suara mesin motor milik Halim dan ustaz Rahmat.
Benar saja, keduanya tampak dikejauhan dan sedang mengendarai motor butut, namun bagi mereka masyrakat desa, ini seseuatu yang sangat berharga.
Ustaz Rahmat yang hanya berboncengan sendiri, menawarkan untuk Abdullah agar naik keboncengan agar lebih cepat sampai.
Akhirnya Abdullah mengalah dan naik keboncengan dengan tetap membawa sepedanya menggunakan tangan kirinya.
Pemandangan hamparan sawah sayur mayur terpampang didepan mata dan menyejukkan hati.
Mungkin hal ini yang membuat Abdullah merasa betah tinggal dihutan tersebut.
Zain bangkit dari duduknya, lalu memandang keluar setelah mendengar suara deru mesin motor mengarah kerumah tua milik Abdullah.
Tampak empat orang pria yang sedang berboncengan turun dari sepeda motor. Zain menebak orang yang menggunakan kupiah dikepalanya itu adalah wali hakim yang akan menikahkan Ia dan juga Khumairah sjang menjelang sore ini.
Lalu keempat pria itu menuju rumah tua, dan tampak Abdullah sepertinya sudah sangat pucat sekali. Lalu mereka dipersilahkan masuk oleh Abdullah dan Khumairah menjamunya.
Ketiga pria itu berdecak kagum melihat kecantikan Khumairah yang selama ini tidak diketahui oleh penduduk desa.
Seketika mereka melihat Zain yang menggunakan tongkat dengan satu kaki, sungguh mereka menyayangkan mengapa Abdullah mempercayakan puterinya pada pria seperti Zain. Namun semua keputusan ada pada Abdullah.
__ADS_1
Setelah mereka makan siang dan menikmati jamuan yang sangat enak, lalu Abdullah meminta ustaz Rahmat segera melangsungkan acara pernikahan puterinya.
Khumairah diminta masuk kedalam kamar dan memakai pakaian yang terbaik, meskipun tidak memiliki pakaian yang bagus. Khumairah hanya menambahkan kerudung milik almarhum ibunya dan menunggu dikamar sebelum Ia dipanggil untuk keluar.
"Apa mahar yang akan dijadikan untuk akad nikah ini, Kang?" tanya Halim mencoba mengingatkan.
Seketika Abdullah terdiam, karena Ia juga bingung apa yang akan digunakan Zain untuk memberikan mahar untuk puterinya.
Seketika Zain teringat sesuatu, Ia melepaskan sebuah cincin dijari kelingkingnya, sebab cincin itu untuk seorang wanita, sehingga tidak muat dijemari manisnya.
Ia memandang cincin bermata berlian tersebut. Seketika wajah Amyra terbayang dipelupuk matanya. Ya... Cincin ini dibelinya saat diperantauan untuk dipakaikan kepada Amyra sang cinta pertamanya.
Namun.. Saat ini Ia harus membuang semua hal tentang Amyra, Ia harus menata masa depannya, Amyra bukanlah jodohnya, dan Ia harus menerima kenyataan itu.
"Cincin berlian ini akan menjadi maharnya" ucap Zain dengan lirih. Seketika mereka terperangah mendengarnya. Rahmat yang satu-satunya warga desa yang pernah keluar ke kota untuk berkuliah dibidang agama tentu dapat menebak jika Zain orang yang berasal dari kota dan tersesat dan cincin itu tentu sangat mahal harganya.
Zain menyerahkan cincin bermata berlian itu kepada Abdullah yang mana akan menjadi mertuanya dalam beberapa menit kedepan.
Zain menghapus memorynya tentang Amyra, Ia harus menerima kenyataan jika Amyra bukanlah tulang rusuknya.
Kini hanya ada Khumairah yang akan menemani sisa hiduonya dan menerima segala kekurangannya.
Sesaat Zain dan Abdullah mengucapkan ijab qabul sebagai akad pernikahan mereka, lalu terdengar kata Sah dari para saksi, maka sudah Sahlah pernikahan keduanya, dalam acara yang sangat begitu sederhana.
Setelah acara itu selesai, Khumairah dipanggil keluar dari kamar, lalu Zain menyematkan cincin bermata berlian itu dijemari manis milik Khumairah.
ternyata cincin sudah sangat pas dijemari lentik milik Khumairah yang kini sah menjadi istrinya.
Lalu Ustaz Rahmat dan juga Halim berpamitan pulang, karena mereka takut kemalaman dihutan.
Mereka banyak mendapat oleh-oleh bahan pertanian seperti beras dan sayur mayur. Lalu mereka berpamitan dan melanjutkan perjalanan pulang.
Hari mulai senja, Zain dan Khumairah kini merasa canggung sebab ada Abdullah dirumah. Khumairah memandangi cincin bermata berlian itu dengan takjub. Ia tak pernah melihat cincin sebagus itu, dan Ia tampak tersenyum bahagia.
__ADS_1
Saat menjelang malam, Khumairah memasuki kamarnya, dan berniat untuk tidur. Lalu Abdullah mencegahnya, sebab kamar itu akan ditempatinya dan Khumairah akan tidur bersama Zain mulai malam ini. Lalu Abdullah mencoba menjelaskan kepada puterinya tentang pernikahannya dan tanggungjawabnya sebagai istri Zain.
Khumairah menganggukkan kepalanya, dan Ia menuruti semua perkataan ayanhnya, lalu memasuki kamar Zain.