
Zain mengemudikan mobilnya menuju rumah kontrakannya. Debaran dijantungnya masih terasa begitu menggebu dan Ia tidak ingin Khumairah melihatnya.
Ia sudah sampai dirumah kontrakan, dan rumah masih tertutup, sepertinya Khumairah mematuhi perintahnya untuk tidak keluar dari rumah.
Zain segera turun dari mobilnya, meraih susu formula dan buah mangga untuk Khumairah.
Ia bergegas masuk kedalam rumah, dan mihat Istrinya sedang berberes didalam dapur, sepertinya Ia sedang memasak makan siang dan Zain melupakan membeli makan siangnya.
"Sudah pulang, Mas?" tanya Khumairah dengan selembut mungkin.
Zain menganggukkan kepalanya, dan menyerahkan susu formula serta buah mangga yang dibelinya kepada Khumairah.
"Kamu masak apa?" tanya Zain berusaha setenang mungkin.
"Ikan kalengan itu, Mas" ucap Khumairah menujuk salah satu kaleng yang sudah dibukanya dan sedang dimasaknya.
Zain melirik barang dagannya yang merupakan salah satu ikan kaleng yang sudah dimasak Khumairah.
"Ya, Sudah. Mas mau menggelar barang dagangan dulu, kamu siapkan masakannya ya" ucap Zain sembari beranjak dari tempat duduknya dna mengeluarkan barang-barang yang ringan saja. Ia menarik tali plastik dari tiang teras ketitiang satunya, lalu menyangkutkan beberapa barang agar menarik para pembeli.
Barang yang tebilang berat seperti beras Ia biarkan didalam rumah dekat pintu depan agar terlihat oleh pembeli.
Lalu menyusu barang-barang lainnya. Zain juga mengeluarkan rak-rak plastik yang baru saja dibelinya pagi ini untuk menyusun barang dagangannya agar memudahkannya untuk mengangkatnya kedalam rumah.
Setelah itu Ia juga membawa barang-barang tambahan yang dibelinya pagi tadi.
Dan pembeli mulai datang, dimulai dari tetangga sebelah kontrakan yang merasa tidak perlu lagi kuar gang untuk berbelanja.
Lalu perlahan mereka mulai saling sapa satu sama lain dan perlahan pembeli lain mulai berdatangan untuk berbelanja.
Zain kini disibukkan dengan pekerjaan yang mulai Ia sukai dan merasa nyaman.
Zain mengikat rambutnya yang panjang karena udara panas dan gerah. Sesaat seorang ibu-ibu yang sedang membeli memperhatikannya.
"Wah.. Mas nya ternyata tampan juga ya, tapi sayang janggut dan jambangnya terlalu panjang Mas, jadi tertutup tampannya" ucap Ibu-ibu tersebut.
"Gak apalah, Mak.. Yang pentingkan ada sensasi geli-gelinya Mak saat diranjang" ucap Seorang wanita yang mengontrak tepat didepan rumah kontrakan Zain.
"Ih..kamu Ne Romlah.. Meskipun janda ya jangan genit dong" ucap Seorang emak-emak yang risih dengan ucapan si Romlah.
__ADS_1
Zain hanya nyengir mendengar ocehan para emak-emak kontrakan tersebut.
Mungkin resikonya jadi penjual barang dagangan yang mana para pembelinya rata-rata kaum hawa.
Setelah sepi, Zain dapat beristirahat dan Khumairah datang membawa sepiring nasi beserta lauk yang masaknya tadi.
"Mas..makanlah, sudah siang" ucap Khumairah sembari menyodorkan piring tersebut.
Zain meraihnya dan mulai menyuapkan makan siang yang sudah disajikan oleh Khumairah.
Ditempat lain, Romlah yang sudah 3 bulan menjanda memperhatikan Zain yang sedang makan siang.
Entah mengapa jambang dan juga janggut Zain yang tumbuh semak diwajahnya membuat Romlah tak berhenti membayangkan Zain.
Ia merasa begitu tertarik dengan tetangga barunya itu.
Khumairah duduk disisi Zain, dan menatap sekelilingnya.
"Hidup dihutan, didesa dan dikota memiliki banyak perbedaan ya Mas" ujar Khumairah yang memperhatikan setiap aktifitas warganya.
Zain tersenyum dengan tipis. "Ada beberapa hal yang tidak kamu ketahui, dan ada beberapa orang yang memiliki niat jahat, maka kamu jangan pernah mempercayai siapapun dikota ini" ucap Zain mengingatkan Khumairah.
Wanita polos itu mengerutkan keningnya dan menatap pada Zain "Maksudnya seperti apa Mas?" tanya Khumairah yang begitu sangat polosnya.
Zain menarik jemari tangan Khumairah "Ingat, jika ada yang meminta cincin ini jangan pernah memberikannya, sebab mereka itu pelaku hipnotis dan mencoba menipumu" ucap Zain lembali mengingatkan.
Khumairah kembali merasa bingung, Bagaimana mungkin ada seseorang yang dapat berniat jahat seperti itu.
"Lalu apalagi, Mas?" tanya khumairah kepada Zain yang semakin penasaran.
"Mereka bisa saja meminta uang yang kamu miliki dalam jumlah banyak, bahkan suami atau istri juga bisa mereka ambil" ucap Zain dengan nada serius.
Khumairah terperangah, Ia tidak membayangkan bagaimana bisa suami atau istri dapat juga diambil orang.
"Kenapa bisa?" tanya Khumairah dengan penuh penasaran.
Seketika Zain terbayang akan sebuah kesalahannya dimasa silam. Dimana Ia berusaha merebut Amyra dari suaminya, bahkan dengan cara kotor, namun karena kesetiaan Amyra yang membuat Wanita itu tak dapat Ia raih.
"Semua tergantung dari pribadi orang tersebut, apakah Ia mau berbagi cinta atau tidak, bahkan apakah Ia mau ikut dengan pria atau wanita lain yang menginginkannya" jawab Zain dengan tatapan nanar.
__ADS_1
Zain menatap pada Khumairah "Andaikan datang seorang pria yang memiliki kaki sempurnah, berwajah tampan dan juga kaya raya, lalu memintamu ikut dengannya, apakah Kau akan ikut dengannya atau tetap bersamaku?" tanya Zain dengan hati yang penuh debaran.
Sebab Ia menyadari jika Khumairah adalah wanita polos dan juga kecantikannya alami.
Siapa saja pasti akan terpesona melihatnya, sebab Khumairah benar memiliki pesona.
Rasa takut akan karma juga menghantui Zain, dimana Ia pernah menjadi seorang pecundang yang memaksa cinta seseorang untuk kembali padanya.
Ia membayangkan posisi suami Amyra saat itu pasti akan terluka andai saja Ia berhasil membawa Amyra kabur. Bahkan Ia mengingat dengan jelas hampir dua kali Ia menodai Amyra dengan cara paksa.
Seketika air mata jatuh dari sudut matanya. Bagaimana jika itu terjadi pada Khumairah, tentunya hatinya pasti akan hancur dan sangat frustasi.
Khumairah menyeka air mata yang jatuh disudut mata Zain "Mas kenapa menangis? Mai tidak akan kemanapun, dan cinta Mai hanya untuk Mas seorang" jawab Khumiarah dengan nada polosnya.
Zain menelan salivanya, Ia menganggap uacapan Khumairah hanyalah ucapan gadis polos desa semata, sebab Ia tidak belum begitu dalam mengenal kehidupan kota yang seaungguhnya.
Bahkan Khumiarah tidak mengenal siapa Zain sebenarnya.
Zain menangkap jemari tangan Khumairah, dan mengecupnya lembut.
Khumairah tersenyum manis, sebuah senyuman yang memabukkan siapapun yang melihatnya.
"Mas ke kamar mandi dulu ya, jika ada yang beli bilang tunggu bentar" ucap Zain mengingatkan, sebab Khumairah tidak mengetahui harga barang dagangannya.
Khumairah mengangguk, pertanda mengerti, lalu Zain bergegas kekamar mandi untuk buang air kecil.
Tak berselang lama, seorang pemuda tampan datang membeli sebungkus rokok kepada Khumairah.
"Hai, Mbak cantik. Baru ngontrak disini ya" sapa pemuda itu beramah tamah.
Khumairah mengerutkan keningnya di puji cantik oleh pria lain yang bukan suaminya.
Khumairah mencoba tersenyum simpul menanggapi pujian pria itu, sebab Zain sendiri tidak pernah mengatakannya cantik.
"Mau beli apa Mas?" tanya Khumairah dengan sopan.
"Beli rokok, Mbak" jawab pemuda itu sembari menyebutkan merk rokok yang diinginkannya.
"Khumairah mencoba mencari merk rokok yang di sebutkan sang pemuda.
__ADS_1
"Yang itu loh, Mbak.. Sebelah kiri" ucap Pemuda itu sembari menunjukkan rokok yang diinginkannya.
Lalu Khumairah menyerahkan rokok itu kepada pemuda tersebut. Entah sengaja atau tidak, yang pastinya pria itu menyentuh jemari tangan Khumairah sehingga membuatnya sedikit tersentak kaget.