
qRudy terjaga dari tidurnya saat mendengar suara rintihan Renata.
Ia mencoba mengusap kedua matanya dan tampak masih mengantuk.
"Ada apa, Sayang?" ucap Rudy kepada wanita disisi kirinya.
"perutku sakit sekali, Mas" ucap Renata dengan meringis kesakitan.
Rudy melirik jam dinding kamarnya, menunjukkan pukul 1 malam.
"Apakah Kita harus pergi ke rumah sakit?" tanya Rudy kepada Renata.
Renata dengan cepat menggelengkan kepalanya. Ia menarik tangan Rudy untuk mendarat keperutnya, lalu mengusapkannya dengan lembut.
Rudy tersenyum tipis, lalu mulai membelai perut yang masih terlihat rata itu dengan gerakan memutar.
Perlahan Renata tampak mulai mengantuk dan memejamkan matanya, dan kemudian terlelap.
Setelah melihat Renata tertidur dengan lelap, Rudy kembali ingin tidur dan memejamkan matanya. Namun saat saja matanya akan terpejam, Ia mendengar suara pesan masuk kedalam phonselnya.
Meskipun sangat malas, namun Ia teyap ingin membuka pesan tersebut.
Rudy menjulurlkan tangannya meraih phonselnya yang terletak di atas meja nakas..
Ia membuka pesan masuk di aplikasi WA-nya dan melihat sebuah pesan dari nomor tidak kenal, dan Ia mencoba membacanya.
Rudy mengerutkan keningnya, sebuah pesan ancaman kepada dirinya yang mana pesan itu ditujukan untuknya dengan tuduhan merebut istrinya.
Bahkan didalam pesan lainnya yang baru saja dikirimkan si pengirim misterius itu terdapat sebuah kata yang akan memviralkan Rudy karena telah merebut istri orang yang masih berstatus istri kala itu.
Rudy tampak tersenyum tipis, lalu melirik kepada Renata yang kini sedang tertidur pulas.
Ia menutup phonselnya dan kembali tertidur melanjutkan mimpinya.
Pagi menjelang dan mentari bersinar begitu sangat hangatnya.
Rudy baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Ia melihat Renata masih berbaring diranjang dengan tubuhnya yang tampak payah.
"Mau sarapan apa?" tanya Rudy sembari mengacak rambutnya dengan handuk untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
__ADS_1
Renata menghelengkan kepalanya, sepertinya tidak ada satupun makanan yang berselera untuk dimakannya.
Perutnya serasa mual, dan menolak apa saja yang akan dimakannya. Masih membayangkan saja Ia sudah merasa mual, apalagi untuk memakannya, mungkin Ia akan memuntahkannya.
Rudy menghela nafasnya dengan berat. Ia tidak tahu harus memberikan asupan apa untuk calon bayi mereka dan juga Renata.
"Kita ke dokter saja, Ya? Agar diberi Vitamin dan obat untuk mengatasi rasa mual yang kamu alami" bujuk Rudy kepada Renata.
Renata terdiam dan akhirnya menganggukkan kepalanya. Perlahan Renata beranjak dari ranjangnya dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak berselang lama, terdengar suara Renata memuntahkan sesuatu, dan Rudy bergegas menghampirinya dikamar mandi.
Tidak ada sesuatupun yang dimuntahkan, hanya cairan berwana kuning yang terasa sangat pahit ditenggorokan Renata.
Perutnya serasa bagaikan diaduk-aduk dan membuatnya serasa lemah.
Setelah selesai dengan ritual muntahnya, Renata beranjak keluar dari kamar mandi, menyalin pakaiannya dan menggunakan hijab instan dan berdandan seadanya.
Lalu Rudy membawanya ke klinik terdekat tempat mereka melakukan pemeriksaan rutin.
Sesampainya di depan klinik tersebut, Tiba-tiba phonsel Rudy berbunyi dan Ia melihatnya bahwa itu dari nomor phonsel yang sama waktu malam tadi mengiriminya pesan ancaman.
"Ayo.. Kita turun" ucap Rudy dengan lembut dan segera turun dari mobil. Lalu Ia membantu Renata keluar dari mobil dan memapahnya berjalan menuju klinik.
Karena telah mendaftar online, akhirnya mereka tanpa menunggu antrian dan langsung memasuki ruangan praktek dokter.
Disana Renata mulai diperiksa kondisi kehamilannya dan dokter menanyakan keluhan Renata sebelumnya.
Renata menyatakan segala keluhan yang dialaminya. Setelah mencatat semua keluhan Renata didalam sebuah buku berwarna pink yang akan dijadikan catatan dan juga rujukan nantinya saat akan menjalani persalinan, Dokter itu melakukan tangkaian pemeriksaan.
Sembari menunggu pemeriksaan Renata, Rudy membuka pesan yang tadi sempat masuk ke aplikasi WA-nya, dan ternyata ada beberapa pesan baru yang masuk dan berisi sebuah ancaman.
Rudy tersenyum tipis, lalu men-screen shoot pesan tersebut dan mengirimkannya kepada seseorang.
Pria itu begitu tampak tenang dan tak ada sedikitpun rasa takut didalam hatinya.
Tak berselang lama, Pemeriksaan Renata selesai, dan dokter memberikan resep untuk Renata yang mana akan ditebus ke apotik.
Renata menepuk lembut pundak Rudy saat melihat pria itu tampak begitu sangat serius akan layar phonselnya, dan itu tidak biasanya.
__ADS_1
Rudy tersentak, dan tersenyum tipis "Sudah selesai?" tanya Rudy lembut.
Renata menganggukkan kepalanya dan segera keluar dari ruang praktek tersebut.
Renata menyerahkan resep dokter tersebut kepada Rudy, dan pria itu meraihnya, lalu menyelipkan disakunya.
Keduanya menuju apotik dan untuk menebus obat tersebut. Saat akan memasuki apotik, phonsel Rudy berdering, sebuah panggilan masuk, Ia memberi isyarat kepada Renata agar terlebih dahulu masuk ke dalam apotik dan menyerahkan resep tersebut kepada Renata.
Wanita itu merasakan ada sesuatu yang sedang dirahasiakan oleh Rudy, namun Ia tak memiliki keberanian untuk menanyakannya, sebab Rudy adalah type pria yang dingin dan tertutup akan segala permasalahannya.
Renata memilih untuk segera masuk kedalam apotik dengan membawa resep obat tersebut.
Rudy menjauh ditempat yang sedikit sepi, lalu tampak begitu serius dalam menerima panggilan telefonnya.
"Bersihkan dengan segera, buat Ia bungkam dan tidak bermacam-macam" ucap Rudy kepada seseorang diseberang telefon.
Renata masih dapat melihat Rudy yang sedang bertelefon dengan seseorang dengan begitu seriusnya melalui pintu kaca apotik.
Tak berselang lama, tampak Rudy mengahkiri panggilan telefonnya, dan mengotak-atik phonselnya, lalu menutup layar phonsel dan menuju masuk ke apotik.
Renata berpura-pura tidak melihat apa yang sedang dilakukan oleh Rudy dan menatap ke steleiling kaca penuh berisi obat-obatan dan juga berbagai jenis susu formula.
"Sudah selesai?" tanya Rudy dengan lembut.
Renata tersenyum tipis " masih di racik" jawab Renata setenang mungkin, meskipun kini hatinya sedang mencari tahu dan juga penasaran akan apa yang terjadi pada Rudy.
Setelah apoteker itu memberikan semua obat yang sesuai dengan resep, Rudy membayarnya dan menanyakan apakah Renata ingin susu formula, namun wanita menggelengkan kepalanya.
Keduanya meninggalkan apotik dan menuju pulang.
Sesampainya dirumah, Rudy memasuki ruang kerjanya, dan berpesan kepada Renata agar tak mengganggunya hingga sore nanti.
Renata hanya menganggukkan kepalanya dan menuju kamarnya. Sesungguhnya Ia merasa sangat lapar, namun tak ada satupun yang membuatnya begitu berselera untuk dimakan.
Sesampainya dikamar, Ia merasa sangat lapar dan kembali ke luar menuju dapur untuk mencari sesuatu yang membuatnya dapat membangkitkan selera makannya.
Ia membuka pintu lemari es, dan melihat dua buah terung ungu yang terdapat ditempat wadah sayuran.
Ia mengambil keduanya, lalu mencuci bersih dan membakarnya. menunggu terung itu matang, Ia mencincang cabai rawit dan potongan bawang merah, lalu menambahkan perasan air lemon, sedikit garam dan sedikit gula pasir lalu mengaduknya rata.
__ADS_1
Setelah terung ungu itu matang, Ia memindahkannya ke wadah piring keramik, lalu membelah duanya dan menyiramkan sambal cincang tadi keatas terung tersebut, lalu memakannya dengan lahab.