Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Episode 175


__ADS_3

Zain menyusuri hutan dengan bersusah payah. Hingga akhirnya Ia tergelincir di sebuah jurang dalam dan bergulingan kedasar jurang.


tubuh itu terus berguling dan hingga akhirnya membentur sebongkah batu hingga membuatnya tak sadarkan diri.


Seekor anjing menemukannya, lalu menyeret tubuh itu hingga kesebuah rumah tua yang terbuat dari papan.


Hewan Anjing itu menggongong dan memanggil Tuannya. Seoarang pria tua dan seorang wanita muda berlari menghampiri hewan peliharaan mereka dan melihat apa yang dibawa oleh hewan tersebut.


Pria paruh baya itu lalu memperhatikan sosok pemuda yang sedang terluka parah tersebut. Lalu meminta puterinya untuk membantunya membawa keranjang yang terbuat dari dipan tersebut.


Wanita muda itu menganggukkan kepalanya dan membantu pria paruh baya yang tak lain adalah Ayahnya.


Lalu pria paruh baya yang bernama Abdullah itu melepaskan pakaian pemuda tersebut, lalu memeriksa beberapa luka yang ada disekujur tubuhnya karena terkena akar-akar pohon saat Ia terjatuh dari atas tebing.


"Ambilkan air hangat dan dedaunan yang ada disekitar halaman rumah, tumbuk halus untuk menghentikan pendarahannya" titah Abdullah kepada puterinya yang bernama Khumairah.


Khumairah menganggukkan kepalanya "Baik, Ayah.." jawab Khumairah dengan patuh.


Khumairah adalah gadis piatu, Ibunya baru dja minggu yang lalu meninggal. Ia dan Ayahnya tinggal dihutan ini saat Ia masih berusia 4 tahun. Kehidupannya yang jauh dari terpencil didalam hutan tanpa seorang tetanggapun, membuatnya terbiasa hidup mandiri.


Khumairah beranjak keluar dari rumahnya, lalu memetik dedaunan yang diperintahkan oleh ayahnya untuk membuat ramuan yang berfungsi menghentikan pendarahan orang asing tersebut.


Sementara itu, Abdullah membersihkan luka yang terdapat disekujur tubuh pemuda itu dengan menggunakan kain basah dan air hangat.


Tak berselang lama, Khumairah datang dengan membawa ramuan yang diminta oleh ayahnya.


"Balutkan ramuan itu dikeningnya dan ikat dengan kain bersih, serta tempelkan dibagian tubuhnya yang lain yang terluka" titah Abdullah dengan nada perintah.


Lalu Khumairah mematuhinya. Saat Ia membalurkan ramuan tersebut ketubuh Pemuda asing itu, Ia merasa sangat gugup, sebab Ia tidak pernah bertemu siapapu selama ini selain kedua orangtuanya.


Tangannya bergetar saat menjamah tubuh kekar pemuda asing itu. Sebab ini adalah pertama kalinya Ia melakukan hal tersebut.


Ketika Ia membalutkan ramuan dikening pemuda itu, Ia mengamatinya dengan begitu seksama. Ada debaran-debaran aneh menjalar didadanya. Ia merasakan sesuatu getaran yang berbeda.


Abdullah mempeehatikan tingkah puterinya, tentu itu adalah hal yang wajar, sebab Khumairah sudah seharusnya menikah diusianya yang sekarang.


Namun karena mereka hidup dipedalaman dan tidak pernah berinteraksi dengan penduduk lainnya, membuat Khumairah tidak mengenal apa itu lawan jenisnya.

__ADS_1


Setelah selesai melakukan perobatan, Khumairah membersihkan wadah kotor sisa dari famuan tersebut.


"Khumairah.. Memasaklah.. Mungkin tamu Kita sedang kelaparan" Ucap Abdullah, lalu Ia pergi kekebun untuk memetik beberapa sayuran.


Khumairah mengangguk dan menyalakan api yang masih menggunakan tungku kayu.


Khumairah mencuci beras uang berasal dari sawah mereka sendiri, lalu menanaknya.


Abdullah masuk kedalam dapur dan membawa sayuran serta ikan gabus yang ditangkapnya dari pematang sawah.


"Masaklah ikan gabus ini dengan dipindang saja, agar menegeluarkan Minyak dan berikan kepada pemuda itu agar cepat pulih" ucap Abdullah dengan tenang.


Khumairah meraihnya, lalu membersihkannya dan mengikuti semua perintah Ayahnya.


Gadis itu dengan cekatan memasak dan menumis kangkung yang dipetik oleh Ayahnya dari kebun.


Semua kebutuhan hidup mereka ditanam sendiri. Bahkan minyak goreng juga mereka buat menggunakan santan kelapa yang dimasak hingga mengeluarkan minyak.


Zain mengerjapkan matanya, lalu menghirup aroma masakan yang sangat menggiurkan. Ia sudah lama tidak merasakan masakan yang enak selama didalam penjara.


Zain merasakan tubuhnya sangat sakit disekujur seluruh tubuhnya. Ia ingin bergerak namun masih begitu sangat sakit.


Sesaat Abdullah mendengar suara erangan dari Pemuda yang berada didalam kamarnya. Pria paruh baya itu memeriksanya kedalam kamar.


Ia melihat Zain sudah sadarkan diri.


"Kau sudah sadar?" tanya Abdullah dengan tenang.


Zain menganggukkan kepalanya "Iya.. Saya ada dimana?" tanya Zain dengan penasaran.


"Kamu berada dirumah saya, ini adalah ditengah hutan, dan belum pernah ada yang datang berkunjung kemari selama saya tinggal disini" ucap Abdullah dengan tenang.


Zain merasa lega, setidaknya Ia akan terhindar dari kejaran polisi.


Sementara itu, Khumairah sudah selesai memasak. Ia membawa nampan berisi pindang ikan, tumis kangkung dan nasih hangat.


Ia memasuki kamar dan melihat Ayahnya juga sudah berada didalam kamar. Sedangkan Zain duduk bersandar diranjang dipannya.

__ADS_1


"Makanlah.. Ini pindang ikan gabus, baik untuk mengobati luka dalammu, setelah ini nanti saya akan memijatmu agar dapat melemaskan otot-otot kamu yang meregang" ucap Abdullah.


"Terimakasih, Pak, atas kebaikan bapak dan keluarga yang telah menerima saya" ucap Zain dengan merundukkan kepalanya.


"Sudah kewajiban kita sebagai sesama untuk saling membantu. Siapa namaku?" tanya Abdullah dengan tenang.


"Zain Hisyam, Pak.." jawab Zain dengan lirih.


"Nama yang bagus, semoga namamu sama baiknya dengan kepribadianmu." ucap Abdullah dengan sahaja.


Seketika ucapan Abdulllah membuat hati Zain bagaikan dihantam bongkahan batu besar. Ia tersadar jika Ia selama ini telah menaruh dendam terhadap wanita yang dicintainya, sehingga membuatnya terjerumus kedalam kesesatan.


"Khuamairah, bantu tamu Kita untuk makan, suapin Dia, sepertinya tangannya masih sakit, setelah ini Ayah akan memijatnya" ucap Abdullah dengan tenang.


Khumairah menganggukkan kepalanya. Lalu Abdulah keluar dari kamar, dan membuka pintu kamar selebar-lebarnya.


Seketika kedua mata mereka beradu, Khumairah merundukkan kepalanya. Ia tidak pernah mendapatkan tatapan itu sebelumnya dari pemuda seusianya. Jika dilihat, Zain lebih dewasa darinya, namun Khumairah mengakui jika pria itu berwajah tampan meski rambutnya sedikit acak-acakkan.


Khumairah menyuapi Zain dengan begitu sangat telatennya, hingga membuat Zain merasa sangat tersanjung. Ia tidak pernah mendapatkan perlakuan yang begitu menyentuh.


Ia tidak pernah menduga jika dihutan belantara ini Ia menemukan seorang gadis yang begitu sangat lugu dan berwajah manis.


Rambut panjang hitam lurus dan diikat kucir kuda, memperlihatkan kulitnya yang putih halus.


Zain merasakan jika Ia merasa sangat beruntung karena dipertemukan oleh keluarga yang menerima kecacatannya dan memperlakukannya dengan begitu baik.


Setelah selesai menyuapi Zain, Khumairah beranjak dari dipan kayu yang menjadi tempat tidur Zain.


Gadis itu keluar dari kamar dengan membawa nampan berisi wadah kotor sisa makan Zain.


"Khumairah.. Terimakasih atas segalanya, dan masakanmu sangat enak" ucap Zain memberikan pujiannya.


Seketika wajah khumairah memerah menahan rasa malunya saat pemuda itu memuji masakannya.


Khumairah menganggukkan kepalanya dan Ia berlalu sembari tak henti-hentinya tersenyum. Khumairah menuju aliran anak sungai untuk mencuci piring kotor. Ia tersenyum-senyum sendiri saat mengingat kata-kata Zain barusan.


Abdullah diam-diam memperhatikan sikap puterinya yang tidak biasa.

__ADS_1


__ADS_2