
Selah membereskan semua barang - barangnya Fairi mandi dan merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah dan mulai terlelap dengan sangat pulas, keesokan harinya setelah menyiapkan dirinya dan juga putranya Fairi pergi mendaftarkan putranya ke sekolah taman kanak - kanak yang tak jauh dari rumahnya. Dan Arman terlihat sangat senang karena dia memiliki banyak teman baru.
"Selamat datang di sekolah ya..." ucap guru yang menyambut Arman dan Fairi.
"Panggil saya Kemal Bu guru." ucap Arman karena dia tak ingin ada yang memanggilnya Arman selain Arumi dan orang - orang yang dia sayangi.
"Baiklah, selamat datang di sekolah nak Kemal." ucap guru itu dan membawah Arman memasuki kelasnya, karena dia daftar saat sekolah sudah dimulai aktif.
"Baiklah belajarlah dengan baik dan rajin ya Boo, mama akan menjemputmu saat pulang sekolah nanti, sekarang mama pergi kerja dulu ok jagoan." Fairi berpamitan pada putranya dan mencium pipi serta keningnya.
"Ya, honey jangan khawatir aku akan sekolah dan belajar dengan rajin agar bisa membantumu dalam pekerjaan nantinya." jawab Arman dengan nada lucunya.
"Baiklah, assalamualaikum. Bye." Fairi berpamitan lalu melihat Arman masuk kedalam kelasnya.
Dalam perjalanan pulang Fairi menghubungi Handoko asisten papanya untuk mengirimkan orang yang dia minta ke alamat yang dia kirimkan di hanponnya Handoko. Lalu Fairi mematikan sambungan teleponnya dan menuju ke alamat yang akan dia lakukan janji temu dengan orang yang akan menjadi asistennya.
...💔💔💔...
"Selamat datang Bu, untuk berapa orang? Atas nama siapa?" sambut pegawai dari restoran itu.
"Iya, meja untuk 4 orang, atas nama Laras." jawab Fairi dan tersenyum pada pegawai restoran itu.
"Baik, silakan sebelah sini Bu." pegawai itu menunjukkan jalan pada Fairi, dan Fairi melihat - lihat kalau tempat itu sangat bagus. Tempat yang dipilihkan oleh orang yang akan bekerja sama dengannya dan sudah diinfokan saat Fairi masih di Bangkok.
"Silakan pesanannya Bu." pegawai itu menunjukkan buku menu pada Fairi.
"Iya terima kasih, jika nanti orang - orangnya sudah berkumpul tolong kamu hidangkan makanannya, sekarang tolong berikan jus jambu saja untuk ku." jelas Fairi setelah memilih beberapa hidangan dan minuman.
"Baik Bu tunggu sebentar." pegawai itu mencatat semua pesanan Fairi dan pergi meninggalkan Fairi.
Sambil menunggu asisten yang dikirimkan Handoko datang Fairi membuka email dan memeriksa laporan kerjanya yang sudah dikirimkan oleh pegawainya dari Bangkok. Fairi sangat fokus dengan pekerjaannya setelah dia terjun ke dunia bisnis, karena dia tak ingin gagal dalam mengembangkan bisnisnya.
"Silakan pesanan anda Bu, selamat menikmati." ucap seorang peramu saji restoran
"Iya terima kasih" Fairi menjawab dan melihat serta tersenyum ramah.
"Ya ampun dia cantik sekali dan juga sangat sopan." ucap peramu saji pria itu pada temannya.
"Iya benar, saat aku menyambutnya datang tadi dia juga sangat sopan dan ramah." jawab temannya yang tadi menyambut Fairi didepan restoran.
"Restoran ini sangat enak dan juga nyaman." Fairi bergumam dalam hati sambil menikmati jus jambu miliknya.
"Iya, sepertinya dia seorang pebisnis, karena sekilas aku melihat dia melihat laporan di ipad nya" ucap peramu saji pria itu yang terlihat sangat mengagumi Fairi
Tak menunggu lama, sekitar 30 menit orang dikirimkan Handoko sudah datang "Selamat pagi dengan ibu Laras?" sapa seorang wanita pada Fairi.
"Iya, dengan siapa saya bicara." Fairi menatap wanita itu.
__ADS_1
"Maaf bu saya adalah Lina asisten ibu, yang diperintahkan pak Handoko untuk datang menghadap ibu" jelas Lina dengan takut melihat Fairi.
"Oh, Lina. Jadi kamu yang dikirimkan oleh om Han ya, maaf menganggu mu silakan duduk aku akan menjelaskan tugas pertama yang akan kamu lakukan untuk ku. Dan sesuai dengan permintaan pihak mereka yang ingin melangsungkan pertemuannya di restoran ini, jadi maaf kalau pertemuan pertama kita harus dilakukan di sini." Fairi menjelaskan dan Lina duduk dengan canggung.
"Santai saja tak perlu setegang itu." Fairi berkata karena dia tau kalau Lina sangat tegang.
"Ah, iya Bu. Maaf karena saya baru pertama bekerja dengan orang lain." jawab Lina dengan formal.
Fairi menatap Lina dan tersenyum, "Bicaralah dengan santai. Dan maaf dihari pertama pertemuan kita ini, aku sudah memintamu untuk langsung bekerja."
"Tidak apa - apa Bu." Lina menjawab dengan dana yang mulai tak gemetar.
"Baiklah, bisa kita mulai?" Fairi menatap Lina dan Lina mengangguk, lalu Fairi menjelaskan pada Lina apa yang harus dia lakukan dan negosiasi yang akan mereka lakukan dengan pihak orang yang akan mengikat kerja sama dengan mereka, yang hari ini akan ditemui dan melakukan tanda tangan kontrak bersama. "Kau sudah faham sekarang?" Fairi menatap Lina.
"Sudah Bu, serahkan sama saya. Saya akan melakukan yang terbaik untuk Bu Laras." jawab Lina dengan keyakinan, dan mulai terbiasa karena ternyata Fairi tak seburuk yang dia dengarkan selama ini.
"Baiklah, aku percayakan semuanya pada mu. Karena kedepannya aku juga akan mengandalkan mu. Kalau begitu aku tinggal dulu karena sesuai dengan janji mereka akan datamg sebentar lagi, dan jika sudah selesai kamu hubungi aku ya. Sekarang aku mau ke perusahaan untuk bertemu dengan pimpinan." Fairi berkata dan beranjak pergi.
"Baik Bu, selamat jalan." Lina berkata dengan sopan. "Ya ampun tak sangka aku akan bekerja dengan orang yang begitu hebat dan sangat cantik. Tapi siapa sebenarnya Bu Laras ini ya? Kenapa kabarnya dia mampu membuat Presdir tunduk dan kalah dengan dia, pasti Bu Laras adalah orang yang sangat hebat, sungguh beruntung aku bisa bekerja deng orang yang hebat seperti Bu Laras ini. Aku akan banyak belajar darinya, dan akan ku ambil banyak - banyak ilmunya nanti" gumam Lina dengan sangat senang dan juga bangga karena dia diberi kesempatan bekerja untuk orang hebat seperti Fairi.
...💔💔💔...
"Bagaimana hasilnya?" tanya Kenan pada Agus dan Melisa yang melakukan pertemuan dengan wakil dari pemegang sumber utama.
"Semua berjalan lancar pak, dan perwakilan dari pihak mereka juga sangat baik dalam menjelaskan. Namun sepertinya bos mereka seorang wanita karena dari awal asistennya yang dia kirim untuk menemui kami selalu menyebutnya ibu" jelas Agus.
"Nama Laras ada banyak dan bukan cuma teman mu saja." Kenan berkata dan tersenyum pada Melisa.
"Bagaimana kerja samanya akan dilakukan mulai kapan? Dan mereka bisa menyediakan berapa selama sebulan" tanya Kenan pada Agus dan Melisa.
"Mereka bisa menyediakan sekitar 2 sampai 3 pintal perbulannya dan mereka hanya akan mengirim saat kita melakukan konfirmasi, dan mereka meminta H- 2 sebelum mereka menyiapkan barangnya, karena meraka tak ingin menyetok barang terlalu lama takut rusak" Jelas Melisa.
"Bagus, mereka tau cara mengolah bahan dengan baik. Makanya mereka sangat berkembang dengan pesat belakangan ini." Kenan merasa puas.
"Kita adakan pesta malam ini untuk keberhasilan kerja sama ini dengan baik." sambung Kenan dengan sangat senang.
"Yeee, kita akan berpesta Agus. Aku akan membawah Kak Dafid, kalau begitu selamat bekerja kak Ken." Melisa terlihat sangat senang.
"Dia tetap seperti anak kecil, padahal dia itu sudah menjadi istri dari seseorang." Kenan bergumam dan bergeleng kepala.
"Non Melisa sangat semangat dalam bekerja." Agus berkata dengan senyuman
"Kau jangan macam - macam, dia itu istri orang" Kenan melempar bolpoin pada Agus
"Tidak akan lah bos, aku sudah tau itu. Aku hanya kagum saja kok gak lebih" jawab Agus dengan cepat.
...💔💔💔...
__ADS_1
Ting tong
Bel rumah Fairi ada yang menekan.
"Biar aku yang buka pintu honey, itu pasti istriku yang datang." Arman lari untuk bukain pintu.
"Siapa ya?" Arman menatap Lina yang berdiri diambang pintu. Sementara Lina sangat terpukau melihat paras Arman yang sangat tampan dan menggemaskan.
"Halo, Tante siapa, dan mencari siapa?" Arman memanggil Lina lagi, tapi Lina masih saja bengong.
"Boo, siapa yang datang?" Fairi dari dalam rumah berteriak.
"Tidak tau honey, dia mematung." Arman menjawab dengan teriak.
"Mematung, apa maksudnya?" Fairi berjalan keluar untuk melihatnya, "Oh Lina, tak sulitkan menemukan rumah ini?" Fairi menegur Lina yang terbengong menatap Arman.
"Oh iya Bu tidak sulit, maaf saya bengong. Tapi anak ibu sangat tampan dan menggemaskan." Lina menjawab dengan tersenyum malu.
"Tak apa masuk lah." Fairi mempersilakan Lina masuk
"Mau minum apa?" tanya bi Mina pada Lina
"Oh, air putih saja bi." jawab Lina dengan sopan.
"Ini Bu berkasnya yang tadi saya sudah rapatkan dengan pihak orang yang akan bekerja sama dengan kita." Lina menyerahkan berkas yang sudah ditanda tangani.
"Oh, rupanya mereka juga menggunakan perantara ya." ucap Fairi saat dia melihat kalau yang bertanggung jawab di sana atas nama Melisa.
"Iya Bu, pihak mereka mengirimkan sekretaris dan asistennya untuk melakukan janji temu." jawab Lina.
"Bagus, mereka sudah menyetujuinya kalau begitu" Fairi merasa puas dengan kerja Lina yang cepat dan bisa sangat akurat walau hanya dijelaskan secara singkat saja.
"Honey, kapan kita akan ke rumah mama Rita?" Arman mulai merengek karena tadi dijanjikan Fairi untuk ke rumah Amrita saat pulang sekolah.
"Iya baiklah sebentar lagi ya, mama selesaikan pekerjaan mama sama Tante Lina dulu." jawab Fairi dengan lembut pada putranya itu yang mulai merajuk.
Setelah sekitar 30 menit Fairi bicara dengan Lina akhirnya pekerjaan mereka selesai dan Arman terlihat sangat senang karena dari tadi menunggu Fairi dengan sabar duduk disamping Fairi sambil memainkan rambut Fairi yang kini semakin panjang dari yang dulu.
"Baiklah Bu kalau begitu saya pamit dulu." Lina meminta ijin pada Fairi.
"Iya baiklah, kamu hati - hati ya. Tak usah kembali ke kantor langsung pulang saja. Besok baru kita bertemu di kantor ok" ucap Fairi mengantarkan Lina keluar rumahnya.
"Baik Bu, mari." ucap Lina dan pergi meninggalkan rumah Fairi.
"Yeee, pergi ke rumah mama Rita." Arman terlihat sangat senang. Dan Fairi hanya tersenyum menatapnya.
"Bi nanti gak perlu masak, Fairi belikan saja soto saat pulang nanti." Fairi berkata pada bi Mina dan membawah Arman pergi bermain ke rumah Amrita.
__ADS_1