
Sore itu setelah pulang kerja Fairi menjemput Arlan di sekolah play grup karena Fairi mulai memasukkan putra keduanya itu ke sekolah agar bisa bersosialisasi dengan baik. Dan Fairi sengaja memasukkannya ke sekolah khusus. Tapi selama dalam perjalanan Arlan terlihat sangat murung dan tak mau menatap Fairi, dia hanya menatap keluar jendela.
"Arlan..." Fairi yang teriak memanggilnya tak dihiraukannya.
"Kenapa nak." Bu Mina menatap bingung.
"Entahlah bi, apa dia mengalami gangguan lagi? Atau pendengarannya hilang lagi?" Fairi berkata dengan bingung.
"Eh, bibi rasa tidak. Karena dia memakai alat dengar kok nak." Bi Mina berkata karena tadi pagi bi Mina yang menyiapkan.
"Lalu kenapa dengannya, dia tak biasanya. Padahal sebelumnya dia sangat menyukai sekolahnya." Fairi berjalan dan melihat kedalam kamar Arlan.
Terlihat Arlan meringkuk dan memegangi kedua lututnya, Fairi merasa sangat kaget melihat hal itu. "Sayang kenapa?"
"mama, aku bukan anak mama kan? Tapi aku ingin jadi anak mama seperti kakak Arman." Arlan menangis dan mengadu pada Fairi dengan tangisnya.
"Sayang, ada apa?" Fairi menatap Arlan dan mengusap air mata yang membasahi pipi putranya itu.
"Mereka bilang kalau aku bukan anak mama, karena aku berbeda dengan kakak." Arlan berkata dengan sedih.
Fairi tersenyum dan menarik Arlan dalam pangkuannya lalu memeluknya dengan dalam dan mencium puncak kepala Arlan, "kenapa kamu bilang begitu sayang."
"Kenapa aku bukan anak mama." Arlan menangis dan menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Fairi
"Dengarkan mama, siapa pun kamu dan darimana pun dirimu, tapi saat ini kau adalah putra kedua mama dan mama sangat menyayangimu. Hem." Fairi menarik wajah Arlan, berkata dengan isyarat dan menatapnya.
"Kenapa aku tak bisa bicara." Arlan berkata dengan bahasa isyarat.
"Sayang, kamu bukan tak bisa bicara. Tapi kamu hanya mengalami gangguan saja, suatu hari nanti kamu akan bisa bicara lagi seperti anak - anak yang lain, karena sekarang kamu telah mengalami pengobatan dan terapi. Bagi mama bagaimana pun kamu itu tak masalah karena mama akan selalu menyayangi mu." Fairi mencium kening Arlan "mama sangat senang saat kamu telah bisa mendengar lagi, dan saat nanti kamu sudah melepas alat bantu dengar dan bisa bicara lagi mama ingin kamu lebih banyak memanggil nama mama."
Arlan mengangguk dan menangis serta memasukkan lagi wajahnya kedalam pelukan Fairi, dan Fairi memeluknya balik dengan erat.
"Arlan, siapa sebenarnya kamu sayang." gumam Fairi dalam hatinya.
3 tahun sebelumnya.
"Fa, mama bilang katanya kamu telah menjadi salah satu donasi bagi panti asuhan yang ada disekitar Bogor." tanya tuan Bram pada Fairi
__ADS_1
"Iya pa, karena mama menyarankan seperti itu. Jadi Fairi pikir itu bagus juga karena itu adalah keinginan ibu dulu. Ibu selalu ingin bisa memberikan kebahagian bagi banyak anak - anak yang kekurangan, jadi Fairi ingin mewujudkan keinginan ibu yang belum sempat dilakukannya. Dan Fairi juga sangat suka saat berkunjung dan melihat senyum semua anak - anak itu." Fairi menjelaskan dan tersenyum pada tuan Bram
"Ok, papa juga suka. Oh iya, papa ingin perusahaan kita digabungkan saja karena papa ingin pensiun. Lagi pula perusahaan itu juga akan papa berikan pada mu dan cucu papa, bagaimana menurutmu" tuan Bram berkata dengan serius.
"Kalau Fairi harus mengurus semuanya sendiri tak akan sanggup pa." Fairi menjawab dengan jujur.
"Aku akan membantu mu." Kenan yang baru datang langsung menawarkan dirinya "karena milikku juga akan menjadi milik putra kita."
Fairi terdiam dan tak memberikan respon dan hanya menghela nafas dalam. Fairi menatap Kenan yang duduk didepannya dengan senyumnya tanpa bicara lagi, seolah Kenan menunggu jawaban dari Fairi.
"Hem, menurut papa bagus juga seperti itu, jadi kalian bisa bekerja sama mengembangkan perusahaan keluarga bersama. Karena tujuan kalian sama, papa setuju dengan ide Kenan, bagaimana dengan mu sayang." Tuan Bram berkata dan bertanya pada Fairi.
"Fairi ikuti saja pa, karena kalau harus melakukannya sendiri Fairi tak akan sanggup." jawab Fairi dan Kenan tersenyum seolah dia mendapatkan angin segar.
"Mau sampai kapan kau tak mau menerima ku Fa, sudah hampir 3 tahun lebih kau masih saja memberiku status sebagai seorang teman dan sahabat tak lebih dari itu, bahkan saat aku menawarkan untuk menjadi papa dari putra angkat mu dan aku selalu harus menahan rasa sesak saat melihatmu dengan pria lain." gumam Kenan dalam hati menatap Fairi.
"Ya, ya mama sih ingin yang terbaik untuk putri mama. Oh iya mama baru tau kalau sudah lama sekali mama tak melihat Tyas." Nyonya Tias berkata dan bertanya - tanya.
"Ngapain mama menanyakan dia hah? Mama ingin berbuat salah lagi dengan membawah dia kemari dan membuat kerusuhan." Tuan Bram berkata dengan kesal.
"Iya ada apa Bu panti." Fairi menerima panggilan telepon dari pengasuh panti asuhan.
"Baik, baik saya akan datang kesana sekarang, iya tunggu saya."
"Kenapa sayang?" Nyonya Tias dan tuan Bram bertanya bersamaan.
"Tidak tau ma, pa, ibu panti barusan menghubungi kalau ada seorang anak kecil yang ada didepan pintu panti dengan kondisi yang sangat buruk." jawab Fairi
"Baiklah aku antar kesana sekarang." Kenan menawarkan diri karena melihat Fairi panik.
"Hati - hati dijalan sayang, kau hati - hati bawah mobilnya Ken." Nyonya Tias berkata dan mengantar kedepan rumah.
...💔💔💔...
Sesampainya di panti asuhan Fairi melihat seorang anak kecil dengan tubuh penuh luka dan dia terlihat sangat menyedihkan. Fairi mendekatinya dan anak itu langsung histeris dan semakin meringkuk.
"Dia siapa Bu, dan siapa yang membawahnya kemari?" tanya Fairi
__ADS_1
"Ibu juga gak tau. Dia datang sudah dari pagi tadi, dan dia tak mau makan serta tak mau bicara." Bu panti
"Apakah dia masih belum bisa bicara dengan baik. Karena dia masih sangat kecil." Fairi
"Mungkin usianya baru 1 tahun nak Laras." jawab Bu panti
"Sayang...kemari lah" Fairi mencobak untuk mendekati anak itu
Seminggu, 2 Minggu hingga 1 bulan Fairi sangat rutin datang ke panti hanya untuk mendekati anak laki - laki yang semakin hari semakin kurus karena tak mau makan sama sekali, sampai anak itu jatuh pingsan karena dehidrasi berat. Selama 1 Minggu penuh Fairi menjaganya di rumah sakit dan memberikan perhatian serta kasih sayangnya. Sehingga perlahan anak itu mulai terbuka dan bergantung pada Fairi dan hanya mau didekati oleh Fairi.
"Aku akan mengadopsi anak itu, dan akan membawahnya pulang. Aku tak tau dia kenapa, tapi aku hanya ingin memperbaiki mental dan juga fisiknya. Karena dokter bilang dia telah mengalami penganiayaan dan juga tekanan yang cukup berat sehingga dia mengalami kerusakan gendang telinga dan juga kerusakan pita suara karena mengkonsumsi alkohol terlalu sering." jelas Fairi pada Kenan yang hari itu datang menjenguk ke rumah sakit.
"Gila, siapa yang sekejam itu menyakiti anak yang tak tau apa pun itu, apa dia ingin membunuh anak itu." Kenan berkata dengan emosi setelah mendengar apa yang dijelaskan oleh Fairi.
Akhirnya anak kecil itu ikut Fairi dan menjadi anak angkat Fairi, saat tiba di rumah Kemal sangat respek pada anak itu bahkan dia yang memberikan nama Arlan padanya. Interaksi Kemal dan Arlan pun membaik dan Arlan jadi semakin dekat dengan Kemal yang selalu menemaninya tidur bahkan membacakan buku cerita untuk Arlan sebelum tidur.
Fairi mulai membawah Arlan berobat dan terapi untuk memperbaiki segala kerusakan pada diri Arlan dan juga telah menjalani beberapa operasi untuk memperbaiki gendang telinga dan pita suaranya, namun membutuhkan kesabaran untuk semuanya dan semakin hari kondisi Arlan yang semakin menurun hingga membuatnya tak bisa bersuara lagi, akhirnya Fairi membawah keluarga kecilnya ke dokter khusus untuk mempelajari bahasa isyarat agar bisa berkomunikasi dengan Arlan.
Semua usaha Fairi membuahkan hasil, Arlan telah tumbuh menjadi seorang anak yang baik dan juga ceria, dia juga sangat pintar dan mulai bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya. Penyembuhan mentalnya sangat baik karena stimulasi kasih sayang yang diberikan oleh Fairi, Kenan dan Kemal pada Arlan memberikan ingatan baru pada ingatan Arlan dan menutupi ingatan buruk yang terjadi padanya.
Saat ini
"Hei,,,kenapa cuma kalian saja yang berpelukan aku juga mau." Kemal menerjang mama dan juga adiknya yang sedang duduk dilantai sambil berpelukan.
"Aah...sesak." Arlan mendorong Kemal dan bilang sesak dengan isyarat.
"Maaf - maaf, kakak bawakan jeli kesukaan mu" Kemal mengeluarkan jeli kesukaan Arlan dan dengan cepat Arlan melompat kepelukan Kemal.
Fairi tersenyum melihat dua anaknya yang saling menyayangi, lalu Fairi bangun dan melihat keduanya sedang makan dan bercanda bersama.
"Sudah baikan dia." Bi Mina bertanya pada Fairi.
"Iya bi, syukurlah ada Boo. Dia selalu bisa membuat suasana jadi kembali ceria." jawab Fairi dan dia masuk kedalam kamarnya.
Fairi duduk didepan meja riasnya dan membuka laci lalu melihat data - data Arlan saat dia ditemukan. Bahkan barang peninggalan yang dulu dikenakan oleh Arlan. Kalung yang berinisial D itu membuat Fairi bertanya - tanya siapa sebenarnya nama asli Arlan, dan kenapa dia mengalami penyiksaan serta trauma mental yang sangat parah hingga membutuhkan waktu 3 tahun untuk menyembuhkannya.
"Oh iya, sebentar lagi adalah ulang tahunnya yang ke 4. Haruskah aku merayakannya dengan meriah." Fairi bergumam dan memikirkan hari ulang tahun Arlan.
__ADS_1