Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Episode 203


__ADS_3

Amyra merasakan pusing jika Ia mengangkat kepalanya hanya sekedar untuk duduk saja..mbak Ridha dengan sabar menyuapinya dan melayani majikannya dengan telaten.


Denny sudah berangkat bekerja, dan sebelumnya sudqh mengantarkan Najma dan juga Ashraf terlebih dahulu.


Hari ini jadwal dokter datang untuk memeriksa kondisi Amyra.


Disebabkan dokter yang biasa menangani Amyra sedang berhalangan hadir, maka dokter pengganti yang masih sangat muda menggantikan Dokter langganan Amyra.


"Mbak.. Ini rumahnya Ibu Amyra Ya?" tanya seorang dokter muda kepada Mbak Ridha yang tampak akan keluar untuk membeli pesanan Amyra.


Amyra meminta dibelikan sup daging yang tiba-tiba saja merasa ingin sekali makan sup daging.


"Iya, Dok.. Masuk saja, kamar nyonya ada disebelah kanan" jawab Mbak Ridha lalu menaiki sepeda motor untuk menuju warung yang menjual nasi padang dan menyediakan menu sup daging.


Dokter itu menganggukkan kepalanya, lalu permisi untuk masuk kedalam dan memeriksa Amyra.


Amyra yang masih terbaring lemah, tersentak kaget saat seorang dokter muda memasuki kamarnya.


"Lho.. Dimana dokter Ellia langganan saya?" tanya Amyra yang sedikit risih karena dokter yang menggantikannya seorang dokter laki-laki muda dan berparas tampan.


"Saya anaknya dokter Ellia, Bu.. Dan perkenalkan nama Saya dokter Bram" ucapnya memperkenalkan diri sembari menjulurkan tangannya.


Namun Amyra hanya menganggukkan kepalanya saja, dan Bram menarik kembali tangannya sembari tersenyum miris.


Lalu Bram melaksanakan tugasnya untuk memeriksa kondisi Amyra. Ia melihat cairan infus itu sudah hampir habis, dan Bram menggantinya dengan botol cairan infus yang baru.


Bram memeriksa tekanan darah Amyra melalui alat digital dan saat akan memeriksa detak jantung Amyra menggunakan stetoskop, keduanya saling pandang karena rasa sungkan.


Dimana Amyra enggan membuka hijabnya, dan Ia tahu pemeriksaan ini tentu akan menyentuh benda kenyal miliknya baik itu sengaja ataupun tidak sengaja.


"Emmm.. Saya harus memeriksa detak jantung Ibu untuk sebagai laporan dan untuk memantau kondisi kesehatan ibu agar mendapat penanganan yang tepat.


Amyra terdiam sejenak, Ia begitu tidak rela jika kulit tubuhnya tersentuh oleh pria lain, sebab selama ini Ia selalu menggunakan jasa dokter wanita.


Dengan terpaksa Amyra menyingkap sedikit hijabnya dan membiarkan dokter muda memeriksa detak jantungnya dan meskipun itu sangat membuatnya sangat sungkan dan juga malu.


Dokter itu kemudian melakukan pemeriksaan, dan tanpa sengaja menyentuh benda kenyal milik Amyra, yang membuat Amyra rasanya ingin segera mengakhiri pemeriksaan tersebut.


"Baiklah, Bu.. Pemeriksaannya sudah selesai, dan semuanya akan saya laporkan pada Dokter Ellia" ucap Doter Bram, sembari mencatat semua hasil pemeriksaannya.


Amyra terus berdoa agar Mbak Ridha segera cepat kembali, Ia begitu sangat risih berduaan didalam kamar bersama pria asing meskipun itu seorang dokter.


Sedangkan dua asisten rumah tangganya sedang sibuk mengurus pekerjaan mereka masing-masing.


Hingga sampai Bram berpamitan, Mbak Ridha juga belum pulang dari membeli sup yang dimintanya.

__ADS_1


Bram berpamitan, namun sorot matanya tampak berbeda, membuat Amyra semakin tak nyaman.


Setelah Bram meninggalkan kamarnya, akhirnya Amyra bernafas lega dan tak berselang lama Mbak Ridha datang dengan nafas tersengal. Dimana Ia meminta maaf atas keterlambatannya karena ban motornya bocor dan terpaksa Ia menambal ban motor terlebih dahulu.


Amyra ingin mengomel namun tak tega. Mbak Ridha ke dapur, lalu mengambil mangkuk dan sendok dan memberikan sup tersebut kepada Amyra.


Dengan kepala yang terasa berdenyut, Amyra meraih mangkuk berisi sup panas tersebut dan menyantabnya dengan sangat lahab.


"Enak supnya, Mbak.. Mau?" Amyra menawarkan kepada Mbak Ridha.


"Tidak Nyonya.. Makan saja, agar Nyonya segera lekas sembuh" jawab Mbak Ridha dengan tulus.


Amyra benar-benar menghabiskan sup itu seorang diri, dan setelah makan, Ia kembali seperti mengantuk.


Sementara itu, Denny masih sibuk dengan pekerjaannya. Tiba-tiba saja Ia teringat akan Amyra, dan Ia berniat untuk vedeo call bersama Amyra.


Ia menghubungi Amyra dan tersambung.


"Hallo, Sayang sudah makan?" sapa Denny dengan nada perhatian.


Amyra menganggukkan kepalanya "Sudah, Mas?" jawab Amyra sembari mencoba terpaksa tersenyum, sebab Ia dilanda kantuk.


"Makan Apa tadi?" tanya Denny penasaran.


"Sup daging, Mbak Ridha yang beli" jawab Amyra "Mas sudah makan?" tanya Amyra dengan penasaran.


"Ya sudah.. Istirahat ya, Sayang.. Bye" ucap Denny mengakhiri panggilan vedeonya, dan Amyra hanya menganggukkan kepalanya.


Setalah mengakhiri panggilannya, Denny menghubungi fhytri untuk memesankan makan siangnya dengan sup daging.


Entah mengapa mendengar Amyra makan sup daging tiba-tiba saja Ia juga ingin makan sup daging juga.


"Baik, Pak.. Akan saya pesankan" jawab Fhytri dari seberang telefon.


Fhytri mendengus kesal, sebab meskipun sudah memiliki sekretaris pengganti, namun ia juga tidak bebas dari segala tugas ini dan itu.


fhytri memesankan pesanan online dan menyelesaikannya sebelum sang big Bos ngamuk.


Denny menunggu pesanannya datang sembari memeriksa pekerjaannya.


Terengar suara ketukan diluar pintu.


"Masuk" Ucap Denny.


Lalu aroma parfum yang menyeruak yang sudah Ia kenali tercium diruangannya.

__ADS_1


Denny melirik dengan ekor matanya. Sekretaris aduhai dengan gaya menggoda memasuki ruangannya.


Denny kembali menatap layar laptopnya dengan mengabaikan kehadiran sang sekretaris tersebut.


"Pak.. Ini laporan yang Bapak minta sudah saya rekab ulang" ucap Grace dengan suara menggoda.


Denny melirik Map tersebut, Lalu..


"Letakkan saja dsitu, dan segera pergi, jika saya panggil baru datang keruangan saya" titah Denny dengan kesal, karena merasa Grace mengabaikan perintahnya untuk berpakaian yang sopan.


Grace mendengus kesal, Ia tampak seperti hanya sebuah patung yang tidak perlu diperhatikan.


"Apakah ada lagi yang harus saya kerjakan pak?" tanya Grace sengaja memperlama dirinya untuk menatap sang presedir perusahaan.


"Tidak perlu" jawab Denny cepaf, saya minta Kamu segera tinggalkan ruangan kerja saya" titah Denny yang semakin membuat Grace sakit hati.


"Baik, Pak.." ucap Grace dengan nada sedikit kesal dan beranjak dari duduknya.


Grace melangkah meninggalkan ruangan kerja Denny dengn penuh kekesalan. Saat Ia menuju ruangan kerjanya, Ia berpapasan dengan Fhytri yang membawa makanan pesanan Denny.


"Apa itu, Fhyt?" ta ya Grace dengan penasaran.


"Pesanan pak Denny untuk makan siangnya" jawab Fhytri dengan cepat.


"Biar Aku yang antarkan?" jawab Grace menawarkan diri.


"Nah.. Aku juga lagi banyak kerjaan" balas Grace dan menyerahkan kotak berisi makan siang pesanan Denny.


Grace tersenyum licik dan menyambar kotak itu dengan cepat, lalu kembali masuk keruangan Denny, sementara Fhytri kembali keruangan kerjanya.


Grace membuka pintu ruangan kerja Denny sembari menenteng kotak makan siang pesanan Denny.


"Pak.. Ini pesanan makan siang Bapak" ucap Grace dengan percaya diri.


Denny menengadahkan kepalanya dan menatap pada Grace.


"Siapa yang memintamu untuk mengantarkan Pesanan ini?" tanya Denny dengan nada tak suka.


"Inisiatif saya sendiri, Pak.. Tadi Fhytri tampak sibuk" jawab Grace dengan senyum mengembang.


Seaat Denny mengeluarkan phonselnya dan menghubungi Fhytri.


"Iya, Pak.. Ada apa?" tanya Fhytri dengan dengan penasaran.


"Temui saya diruangan kerja, sekarang!!" titah Denny dengan nada tinggi.

__ADS_1


"I-iya, Pak" jawab Fhytri dengan nada gemetar, lalu memutuskan sambungan telefonnya dan bergegas menuju ruangan Bos-nya.


"Sial..!" gerutu Fhytri setengah berlari.


__ADS_2