
Zain menyusuri jalanan untuk menjajakan barang dagangannya. Sebuah perkampungan dipinggiran kota yang jauh dari kediamannnya dan juga jauh dari inti kota.
Zain memperlambat laju mobilnya gar para warga yang melihatnya dspatnya memanggilnya.
Ia menghidupkan sebuah mikrofon kecil yang dipasangnya diatas mobil yang berfunsi untuk memberitahu warga jika Ia menjual kebutuhan dapur.
Hingga hamipr siang hari, tak seorang wargapun yang memanggilnya untuk membeli dagangannya. Ternyata berjuang mencari makan itu sangatlah penuh halangan dan rintangan.
Zain menghentikan mobilnya tepat dipersimpangan dan dikarenakan hari sudah siang, Ia berniat untuk membuka bekal yang dibawakan oleh Khumairah.
Zain turun dari mobilnya, lalu naik ke bak mobil belakang dan duduk diantara barang dagangannya.
Ia memandangi barang daganganya dengan sendu, ada kesedihan terpancar disorot matanya.
"Ya.. Rabb.. Andaikan dosa-dosaku menghalangi rezekiku, maka jadikan kebaikan istriku sebagai pembuka rezeki bagi kami. Datangkanlah pembeli untuk membeli barang daganganku, agar Aku dapat mewujudkan impian Istriku, dan membawanya ke USG" rintih Zain dalam hatinya.
Lalu Ia terus berharap dengan penuh keyakinannya jika Rabb-Nya akan memberikan Rezekinya meskipun itu hal yang tidak mungkin.
Zqin menyantab makan siangnya. Masakan Khumiarah sangatlah enak, meskipun Ia tidak menggunakan MSG karena terbiasa hidup dihutan belantara yang jauh dari warung dan tidak membeli bahan tambahan penyedap rasa.
Dua jam sudah berlalu Ia menunggu, namun tak juga ada pembeli yang membeli barang dagangannya.
Zain berniat akan beranjak dari tempatnya dan mencoba menjajakan ditempat lain, hingga seorang pengendara sepeda motor yang dikendarai oleh sepasang suami istri berhenti tepat disisi mobilnya.
"Dagang sayur, Mas?" tanya wanita yang tampak melihat-melihat-dagangannya.
Zain menganggukkan kepalanya "Ikan dan juga beras juga ada, Mbak" jawab Zain berusaha ramah.
Suami wanita itu tampak turun dari motornya "Sekalian berasnya juga, Dik, biar gak singgah-singgah lago ke warung" ucap suami di wanita yang akan membeli dagangannya.
Lalu mereka membeli beberapa kebutuhan pokok dan juga sayur-mayur serta ikan. Tampaknya mereka baru saja pulang dari berkebun.
"Wah.. Dari mana, Bang?" tanya Zain berusaha ramah kepada pembelinya tersebut.
__ADS_1
"Dari kebun, Mas.. Habis panen kelapa sawit" jawab pria itu dengan santai.
"Wah.. Enak juga kalau punya kebun sawit ya, Bang" ucap zain, sembari menghitung total belanja milik wanita itu.
"Ya begitulah, Bang. Mengukiti harga pasar, jika harga lagi naik ya lumayan, jika pas harga lagi turun ya, pas-pasan, tapi apapun itu ya wajib disyukuri, Bang" jawab pria itu, yang membuat Zain tergugah hatinya, karena setiap pekerjaan ada resikonya dan pasanga surut, sama halnya dengan dagangannya.
Zain tersenyum tipis, mencoba memaknai setiap kalimat yang diucapkan pria itu.
"Sudah, Mbak.. Ini totalnya" ucap Zain kepada wanita itu dengan memperlihatkan total belnjanya pada layar kalkulator.
"Sekalian kopi dan gulanya, Dik" ucap pria kepada istrinya.
"Sudah, Sayang.. Ini sudah masuk kedalam kantong plastik" jawab Istrinya.
Lalu wanita itu membayarnya, dan pria itu menghampiri sang istri, untuk menaikkan sekarung besar keatas sepeda motornya.
"Rokok ada, Mas? Tanya pria itu dengan sopan.
"Wah.. Tidak ada, Bang.. Kalau memang ada yang mau besok akan saya bawa, Bang" jawab Zain yang teringat jika barang dagangannya lain ada dirumah dannIa tinggalkan, sebab Ia berniat untuk berdagang sembako saja.
Setelah pasangan suami istri itu pergi, lalu dari kejauhan tampak dua pengendara sepeda motor yang juga pasangan suami istri, ternyata jam-jam seperti ini mereka baru keluar dari kebun mereka.
Melihat Zain menggelar barang dagangan di dalam.mobil, mereka singgah dan tampak senang karena menemukan pedagang yang membawa barang dagangan kebutuhan bahan pokok.
Sebab selama ini mereka harus keluar sejauh 20 km untuk mendapatkan bahan pokok berupa ikan dan juga sayur-mayur.
"Baru dagang di sini ya, Bang?" tanya salah seorang diantara mereka.
"Iya Mbak.." jawab Zain ramah dan sebisa mungkin bersikap baik kepada pembelinya.
"Kenapa gak dari dulu, Bang.. Kami selama ini berbelanja harus sangat jauh sekali keluar dari kampung ini, mana kami berkebun dan sebulan sekali baru bisa keluar membeli bahan pokok" sahut seorang wanita menimpali.
"Iya, Mbak.. Baru kefikiran buat dagang keliling, selama ini sih dagang dirumah saja" jawab Zain dengan tenang.
__ADS_1
Lalu mereka memilih barang yang akan dibeli.
Dan tak serselang lama, datang beberapa pembeli lainnya yang ternyata mendapat informasi dari orang pertama yang membeli dagangannya dengan mengatakan ada pedangan keliling yang menjual barang dagangan dengan harga murah.
Seketika Dagangan Zain mulai didatangi para pembeli.
Kini Ia sibuk melayani pembeli, dan tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur.
Tak berselang lama, dagangannya mulai menipis dan Ia berniat akan kembali pulang, karena hari sudah hampir senja dan ia harus segera keluar dari jalanan yang sepi sebelum malam, karena Ua merasa itu sangat berbahaya bagi keselamatannya juga.
Sementara itu, Khumairah terus menatap langit senja dari balik kaca jendelanya. Ia terus berdoa menantikan keselamatan suaminya kembali pulang kerumah.
Sesaat Ia membelai perutnya yang membuncit dan rasa sakit kadang mendera perutnya, sebab janinnya yang melakukan gerakan yang membuat Ia meringis menahan sakit.
Namun Ia tidak mengeluh, sebab ini kehamilan pertamanya, dan Ia mencoba menikmati prosesnya.
Hari semakin gelap, Khumairah gelisah menantikan sang suami yang juga belum kembali.
Zain hampir mencapai jalanan raya, namun sepertinya Ia hampir kehabisan bahan bakar, dan Ia mencoba memaksa mobilnya agar sampai dipersimpangan dan membeli bahan bakar eceran.
Zain terfikir jika Ia harus membawa stok bahan bakar, karena itu akan sangat berguna saat tiba-tiba Ia kehabisan bahan bakar ditengah perjalanan tidak mengalami kerepotan.
Setelah berusaha mencapai persimpangan, akhirnya Ia menemukan pedagang bahan bakar eceran dan membelinya beberapa botol.
Melihat Zain membawa barang dagangan berupa bahan pokok, Pedagang itu membeli beberapa renteng kopi sachet, gula dan susu, sebab Ia membuka warung kopi.
Lalu keduanya saling membayar barang belanjaan mereka dan Zain bernafas lega sebab, sudah menemukan jalan raya dan akan kembali pulang.
Khumairah menanti dengan gelisah, Ia tampak mondar-mandir dengan doa yang terus-menerus Ia gaungkan agar suaminya kembali pulang dengan selamat.
Adzan Maghrib berkumandang, Zain masih memacu kendaraannya, dan Ia berselisih dengan seorang pedagang kasur lipat yang menggunakan sepeda motor yang juga baru pulang dari menjajakan barang dagangannya.
Zain mencoba mengalah memberi jalan kepada pedagang itu untuk terlebih dahulu melewatinya dan Ia memperlambat laju mobilnya.
__ADS_1
Setelah pedagang kasur itu berhasil melewati persimpangan, Zain segera melajukan mobilnya menuju pulang kerumah.