Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Bab 77


__ADS_3

"Yang dikatakan oleh orang - orang yang aku suruh saat ini keadaan perusahaan sangat dipengaruhi oleh kejadian pabrik teh yang ada di Bogor, aku harus bisa mempengaruhi para dewan untuk membuat pabrik itu benar - benar lepas dari perusahaan. Karena kalau tidak maka perusahaan akan ikut terkena dampaknya." dengan berfikir serius Nyonya Ayu sedang merencanakan sesuatu untuk mempengaruhi para anggota dewan untuk bisa membuat Fairi keluar dari perusahaan agar dia tak ada lagi sangkut pautnya dengan perusahaan.


Pagi itu nyonya Ayu sengaja datang ke perusahaan saat tuan Adi dan Fairi tak ada ditempat karena mereka masih ada di Bogor mengurus masalah pabrik yang terbakar. Nyonya Ayu menemui pak Bagus yang merupakan dewan tertinggi karena dia adalah pemegang saham tertinggi setelah tuan Adi di perusahaan.


Tuan Bagus adalah seorang pebisnis yang saat ini sedang bekerja sama dan juga penanam modal utama di perusahaan Wijaya karena dia merupakan rekan kerja lama tuan Adi. Sebagai anggota dewan tertinggi ucapan pak Bagus akan sangat berpengaruh bagi perusahaan saat ini.


Dengan memanfaatkan wewenangnya yang dimiliki oleh pak Bagus di perusahaan nyonya Ayu sengaja mendekatinya dan berusaha untuk mempengaruhinya agar dia mau mengumpulkan semua dewan dan merundingkan masalah kerugian yang akan dialami perusahaan kalau harus menanggung beban dari kerugian yang diakibatkan oleh pabrik teh yang ada di Bogor.


Dalam rapat darurat itu terlihat kalau semua anggota dewan setuju dengan pak Bagus karena mereka terlihat sangat memberikan muka pada pak Bagus yang saat ini adalah orang yang bisa dibilang penting dalam perusahaan saat tuan Adi tak ada ditempat sebab dia adalah pemegang saham tertinggi setelah pak Adi.


"Bagus sekali, aku telah berhasil mempengaruhi mereka semua. Dengan begini aku akan bisa menyingkirkan Fairi tanpa harus bersusah payah untuk aku membuatnya hancur, karena dengan hal ini dia akan hancur dengan sendirinya, sebab jika semua anggota dewan melawannya maka dia mau tak mau akan mundur." Nyonya Ayu bergumam dan tersenyum sinis dan penuh dengan kebanggaan saat dia mendengar kabar kalau tuan Bagus sedang mengadakan rapat darurat dan meminta semua anggota dewan untuk melepaskan pabrik teh dengan perusahaan utama.


Sementara Lina yang melihat dan mendengar langsung akan rapat darurat yang diadakan oleh tuan Bagus untuk memisahkan dan melepaskan pabrik teh dari anak induk PT.Wijaya merasa bersalah dan tak tau harus berbuat apa karena dia hanya seorang pegawai biasa.


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan, haruskah aku bilang pada bu Laras atau tuan Adi. Tapi aku bilang apa." dengan bingung Lina berusaha untuk menenangkan diri dan menyusun laporan untuk dilaporkan pada Fairi saat nanti Fairi datang.


Namun kekhawatiran Lina tak kunjung hilang karena dia merasa khawatir dengan keadaan Fairi nantinya jika dia tau apa yang sedang direncanakan oleh semua anggota dewan perusahaan, sehingga sore itu Lina mendatangi rumah Fairi dan menceritakan semuanya pada bi Mina soal dia yang melihat dan bertemu dengan nyonya Ayu saat dia datang ke perusahaan untuk menemui tuan Bagus. Dan Lina melakukan itu untuk meringankan beban pikirannya.


...💔💔💔...


"Haruskah nenek buatkan untuk mu? Kita bisa buat bersama sebagai gantinya." Nyonya Tias menatap Kemal yang ingin membuat origami dengan pasangan ayah dan anak namun dia tak memiliki ayahnya.


Kemal menunduk dan menggelengkan kepalanya karena dia merasa sedih, sebab dia ingin memiliki foto saat dia membuat origami dengan ayahnya untuk dikumpulkan di sekolah sebagai tugas menghias sekolahnya. "Tidak usah nek, aku bisa buat nanti saja saat honey datang."


"Duh ya ampun ni anak, kenapa jadi sedih begini sih. Gurunya juga ada - ada saja, kenapa harus menyuruh membuat kegiatan rumah yang aneh seperti ini disaat orang tuanya tak ada disisinya." Nyonya Tias menatap sedih pada Kemal dan bergumam dalam hati. "Ayahnya dan mamanya juga kenapa harus pergi meninggalkan anak sekecil ini seorang diri pada orang lain, tak bertanggung jawab sekali mereka." Nyonya Tias bernafas berat menatap wajah Kemal yang mendung.

__ADS_1


"Halo, ada apa ini kenapa jadi diam dan apa semua ini berantakan sekali." Kenan yang baru datang dari Bogor malam itu langsung menuju rumah mamanya untuk melihat Kemal dan sengaja memberikan kejutan untuk Kemal dan ibunya, namun justru dia yang terkejud karena melihat sang mama dan putranya duduk di ruang tamu dengan banyaknya kertas berserakan dimana - mana.


"Om...om Kenan." Kemal langsung lari menghambur kedalam pelukan Kenan dan menangis dengan sangat keras.


"Hei kenapa sayang?" Kenan mengelus kepala Kemal yang ada di pelukannya dengan bingung dan menatap mamanya untuk meminta penjelasan dari sang mama apa yang telah terjadi.


Nyonya Tias yang ditatap oleh Kenan seolah mengerti dan langsung menjelaskan pada Kenan apa yang telah terjadi dan apa semua kertas - kertas ini. Kenan tersenyum dan menarik wajah Kemal yang sembunyi dibalik leher Kenan.


"Jangan menangis sayang, om akan melakukannya dengan mu dan akan kita buat hiasan yang indah untuk sekolah mu besok ya, ok? Jagoan tak boleh mudah menyerah hem." Kenan membujuk Kemal yang akhirnya tangis Kemal pun berhenti.


Keseruan Kemal dan Kenan terlihat sangat harmonis malam itu dan dalam diam nyonya Tias meneteskan air matanya karena mengingat Fairi. Nyonya Tias seolah menyesal telah memaksakan Fairi untuk berada dalam kehidupan Kenan hanya karena dia tak ingin kehilangannya, tapi semua yang terjadi justru dia kehilangan Fairi.


"Maafkan Mama sayang, andai saja mama punya keberanian untuk menemui mu dan meminta maaf pada diri mu." gumam nyonya Tias sambil menatap foto kecil Fairi.


"Ma ada apa?" Tuan Bram yang baru pulang kerja menegur istrinya yang duduk dengan bengong.


"Ya papa dengar kalau dia sekarang sedang dalam masalah, dan Adi sedang bersama dengannya. Tapi sepertinya para anggota dewan perusahaan sedang membuat sesuatu untuk membuat Fairi sulit." jelas tuan Bram dan duduk dengan santai.


"Hem, apakah papa tak bisa membantu putri kita pa? Kenapa mereka harus berbuat seperti itu, memangnya apa yang ingin mereka lakukan pa." Nyonya Tias memohon dan bertanya penasaran pada suaminya


"Bukannya tak bisa ma, cuma kesalahan kita padanya terlalu banyak jadi papa tak ingin membebani dia. Kalau memang harus membantunya papa ingin itu semua karena keinginan dia sendiri, karena kalau kita membantunya dari belakang takutnya kalau nanti dia makin merasa terbebani dengan kita, walau niat kita sebenarnya baik. Dan mereka mengusulkan untuk melepaskan pabrik teh itu dari induknya dengan begitu makan pabrik itu tak akan menjadi anak induk lagi dan akan berdiri sendiri, yang artinya segala kesulitan dan kerugian yang terjadi saat ini akan ditanggung sendiri." tuan Bram menjelaskan panjang lebar pada istrinya.


...💔💔💔...


"Bi, apa tak ada kabar dari Lina?" Fairi yang baru nyampai rumah langsung tanya pada bi Mina yang saat itu sedang menyiapkan makan malam untuk Fairi karena dia bilang kalau hari ini akan pulang.

__ADS_1


"Iya kemarin sore dia datang dan terlihat bingung. Dia bilang kalau para anggota apa gitu sedang mengadakan rapat apa gitu di perusahaan yang katanya ingin mengeluarkan mu dari perusahaan dan dia juga melihat istri dari ayahmu datang ke perusahaan katanya." Bi Mina berkata sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Lina


"Hem, jadi begitu ya. Sepertinya dia mulai melakukan perlawanan, dan dia menggunakan senjatanya." Fairi berkata sambil tersenyum dan duduk di sofa dengan santai.


Setelah makan malam Fairi menghubungi Lina untuk menyiapkan beberapa berkas dan juga menggandakan berkas itu, setelah itu Fairi membuka email yang dikirimkan oleh Lina padanya dan mempelajarinya untuk pertemuan besok pagi di perusahaan.


"Baru juga sampai belum sempat istirahat, mereka sudah mulai menunjukkan taringnya." gumam Fairi tersenyum menatap layar komputernya.


...💔💔💔...


Keesokan harinya di kantor tuan Adi sudah ramai para anggota dewan dan juga pemegang saham karena mereka menginginkan rapat dan juga penjelasan dari tuan Adi mengenai masalah pabrik teh, sebab sebagian dari mereka menginginkan agar PT. Wijaya tak menanggung dan melepaskan pabrik teh sebab dari awal pabrik itu sudah dijual yang artinya tak ada sangkut pautnya dengan PT. Wijaya lagi.


Dengan tenang Fairi berjalan dan duduk di kantornya, dia mendengarkan penjelasan dari Lina selama dia tak ada ditempat. Fairi tersenyum mendengar semua penjelasan Lina dan melihat berkas yang diminta oleh Fairi semalam untuk dikelompokkan sama Lina.


"Yang anda katakan benar Bu Laras. Kalau sebagian besar dari saham Wijaya adalah atas nama ibu anda. Nyonya Ayu Larasati bukan nyonya Ayu Diah." ucap Lina setelah dia mengkoreksi dari dokumen kepemilikan.


"Tentu saja, aku tau semua itu. Dan hanya mereka yang tak tau lah yang menganggap kalau dirinya adalah bintang." Fairi tersenyum menatap Lina. "Kamu simpan dokumen aslinya dan gandakan, lalu jangan melawan dan ikuti saja kemauan mereka karena kita punya waktu pada saatnya nanti untuk menjatuhkan mereka. Apa kau tau Lina, saat kau telah melambung tinggi dan jatuh itu akan terasa sangat menyakitkan dan pastinya akan hancur berkeping - keping, karena aku sudah sering mengalaminya. Ayo kita ke ruang rapat sekarang."


Fairi dengan tenang dan percaya diri berjalan menuju ruang rapat dengan Lina asistennya mengikutinya dari belakang. Mereka berdua terlihat sangat keren dan juga sangat berwibawa. Banyak dari para karyawan mulai mengidolakan Fairi dan Lina, karena bagi mereka keduanya adalah perpaduan yang sempurna. Bos cantik dengan pembawaan tenang serta selalu bisa membuat jalannya sendiri dan asisten tekun dan selalu mampu untuk menyelesaikan semua pekerjaan.


"Aku gak nyangka kalau Lina akan terlihat sehebat itu saat dia bekerja dengan ibu Laras, padahal aku kira kalau dia hanya akan menjadi orang yang akan mengandalkan bos sebab dia datang dengan rekomendasi. Gak taunya dia justru membuat jalannya sendiri dan selalu menentang bos." suara dari salah seorang karyawan yang melihat Fairi dan Lina melintas.


"Iya benar, mereka sangat keren." jawab dari teman karyawan itu.


"Selamat pagi maaf saya datang telat, dan saya harap tak akan ada yang keberatan karena saya baru dikasi tau mendadak kalau akan diadakan rapat hari ini." Fairi melangkah masuk ke ruang rapat dan meminta maaf pada semua orang.

__ADS_1


"Baiklah, silakan duduk dan mari kita mulai rapatnya." suara tuan Adi dan rapat pagi itu pun dimulai.


Selama rapat Fairi mendengarkan dengan seksama dan sesekali dia tersenyum seola tak ada rasa khawatir atau takut diwajahnya, karena yang terpancar hanyalah ketenangan dan senyuman yang menawan yang membuat orang yang melihatnya bertanya - tanya kenapa dia merasa biasa saja dan juga sangat tenang, padahal sebagai pemimpin dari pabrik teh yang mengalami kebakaran harusnya dia merasa cemas dan juga khawatir akan kerugian yang ditanggungnya.


__ADS_2