
Zain melajukan mobilnya dengan cepat membelah jalanan. Lalu sesekali Ia membelai rambut sang istri yang tampak sangat berantakan.
Setelah menemukan klinik terdekat, Zain meminta ranjang troli pasien dan mereka segera memberikannya dan membantu menurunkan Khumairah yang tampak sudah sangat lemah.
Khumairah dibawa keruangan UGD untuk mendapatkan penanganan medis, dan semua itu dilakukan dengan cepat.
Stelah melalui rangkaian pemeriksaan, ternyata Khumairah mengalami kekurangan cairan dan energi, serta kondisi janin yang sulit berputar.
Pemasangan infus dilakukan untuk mengembalikan pemulihan tenaga pada Khumairah.
Lalu mereka memberikan obat pereda nyeri untuk apa yang dialami oleh Khumiarah.
Kondisi calon bayi mereka baik-baik saja dan jumlah air ketuban juga bagus, dan hanya jadwal kelahiran hanya tinggal menunggu beberapa hari lagi saja.
Zain mondar-mandir dibalik pintu ruangan pemeriksaan. Ia begitu gelisah menanti kabar tentang kondisi sang istri.
"Ya, Rabb.. Selamatkanlah istri dan calon bayi hamba-Mu ini.. Jangan jadikan dosa-dosaku sebagai hukuman kepada keduanya" doa Zain dalam hatinya.
Lalu tampak dokter yang menangani Khumairah keluar dari ruangan dan langsung menghampiri Zain yang tampak gelisah.
"Bagaimana kondisi istri dan calon bayi saya, Dok?" cecar Zain dengan perasaan gelisah.
Dokter itu tersenyum dan menepuk lembut pundak Zain "Tenanglah, Istri Anda baik-baik saja" jawab Sang dokter "Silahkan masuk kedalam dan berikan semangat untuknya" Dokter itu menyarankan dan beranjak pergi.
Zain bergegas masuk kedalam lalu menghampiri Khumumairah yang tampak mulai cerah. Wajahnya tak lagi sepucat saat tadi.
Ia begitu merasa lega, lalu meraih pergelangn tangan Khumairah dan mengecup punggung tangan sang istri, lalu menempelkannya pada pipinya.
Pria itu tiba-tiba saja mengeluarkan bulir bening dari sudut matanya yang sedari tadi Ia tahan. Hal tersebut adalah yang pertama kali Ia alami selama hidupnya hanya untuk seorang wanita.
Ia merasa begitu sangat takut kehilangan sang istri. Meskipun Khumairah bukanlah gadis kota yang berpenampilan aduhai dan juga stylist, namun wanita itu adalah wanita yang pertama kali menyelamatkannya dari kehancuran dan penyembuh luka.
Bahkan Khumairah hadir saat Ia menyimpan dendam dan juga ambisi yang begitu kuat dalam keinginan untuk menghancurkan seseorang.
Namun.. Sosok polos itu mengubah takdir hidupnya menjadi lebih baik.
__ADS_1
Khumairah menatap sang pria yang begitu sangat memperhatikannya. Baginya Zain adalah sumber kekuatannya dan itu sangat membantunya melewati segala apa yang kini Ia rasakan.
Perlahan Ia mengakat tangannya dan membelai lembut ujung kepala sang suami "Mas" ucap Khumiarah lirih dalam hatinya.
"Ya.."
Kita dimana? Kenapa tangan Mai dipasangi alat seperti ini?" tanya Khumairah bingung saat melihat pergelangan tangannya terpasang alat infus.
"Kita di klinik, kamu tidak hampir tidak sadarkan diri dan membuat Mas khawatir" jawabnya dengan lirih.
Khumairah memperhatikan ruangan kamar perawatan yang tampak berwarna putih seluruhnya.
"Disini pakai uang juga, Mas?" tiba-tiba Khumairah bertanya sesuatu hal yang membuat Zain tersentak kaget "Emm.. Iya.. Sudah.. Kamu jangan fikirkan hal tersebut, itu urusan, Mas dan kamu harus sembuh" ucap Zain dengan menegaskan meskipun Ia baru tersadar jika yang diucapkan Khumairah benar adanya.
" Emm.. Kamu disini dulu ya, Sayang.. Mas keluar sebentar menemui dokter" ucap Zain beranjak dari tepian ranjang pasien dan keluar dari ruangan.
Zain menuju kasir, lalu mempertanyakan biaya Khumairah untuk perawatannya.
Kasir tersebut merincikan biayanya. Dari mulai USG 4 dimensi dan biaya perobatan serta lainnya.
Seketika Zain tercengang, Ia tidak boleh mengusik biaya operasi Khumairah, sebab itu sudah tidak bisa diganggu gugat karena sangat urgent.
Zain berfikir keras untuk semuanya.
"Jika saya bawa pulang dan berobat jalan?" tanya Zain untuk meminilisir dana yang Ia miliki.
"Bapak dikenakan biaya 1 juta 500 ribu" jawab Sang kasir tersebut menjelaskan.
"Zain mencoba berfikir keras. Ia harus memikirkan semuanya.
"Kalau saya bawa pulang saja istri saya apakah tidak apa-apa? Tanya Zain" Ia juga masih terfikirkan rumah yang tidak terkunci, sebab Ia ada menyimpan uang untuk biaya operasi Khumairah secara tunai.
"Tak mengapa, Pak.. Bapak lunasi saja administrasinya, nanti kita akan buatkan rinciannya dan juga hal apa yang harus bapak lakukan saat dirumah untuk membantu pemulihan istri bapak" jawab kasir tersebut.
Lalu Kasir sekaligus petugas administrasi itu membuat rincian untuk pelunasan yang harus dibayar oleh Zain.
__ADS_1
Zain sebenarnya tak tega melihat sang istri, namun Ia juga tidak memiliki pilihan lainnya.
Ia membuka tas yang diikat dipinggangnya.
Ia mengeluarkan uang hasil dagangannya dan juga modal dagangnya untuk membayar biaya perawatan Khumairah.
Meskipun hanya tersisa 2 ratus ribu saja, namun setidaknya Ia bersyukur masih ada yang dapat Ia pakai untuk melunasinya.
Zain kembali ke ruang perawatan, Ia menatap sang istri yang menatapnya sendu "Maafkan, Mas. Ini terpaksa Mas lakukan" gumannya lirih dalam hatinya. Rasa bersalah dan juga penyesalan menyeruak didalam hatinya karena tidak dapat memberikan yang terbaik bagi sang istri.
Tak berselang lama, dokter itu datang keruangan dan memberikan penyuluhan kepada Khumairah.
"Ibu.. Bagaimana sekarang kondisi yang Ibu rasakan?" tanya sang dokter dengan nada yang begitu sangat menenangkan.
"Baik.."
"Syukurlah.. Dan disini saya akan memberikan penyuluhan kepada Ibu. Semua ini karena hari perkiraan lahir sudah sangat dekat sekali, maka dengarkan apa yang saya jelaskan dengan baik" ucap Dokter tersebut.
Khumairah menganggukkan kepalanya."Jika Ibu ada melihat darah keluar dari jalan lahir, maka ibu harus memberi tahu suami Ibu. Atau ibu merasakan ada cairan seperti buang kecil terus menerus, namun tidak berbau pesing, maka itu namanya air ketuban dan Ibu juga harus memberitahu suami"
Khumairah mencoba mengingat apa yang dijelaskan oleh pria berseragam putih tersebut.
"Lalu jika Ibu ada rasa mulas-mulas seperti ingin buang besar, dan rasa mulasnya datang, lalu pergi, dan terus menerus, maka Ibu juga harus memberitahu kepada suami ibu, sebab itu tanda-tanda sang calon bayi akan segera lahir. Apakah Ibu mengerti apa yang saya katakan?" tanya Dokter tersebut.
Khumairah menganggukkan kepalanya.
"Nah.. Ibu boleh pulang dan melakukan perawatan jalan, jangan lupa obatnya diminum serta jaga kesehatannya" ucap Sang dokter sembari tersenyum.
Khumairah menganggukkan kepalanya. "Terimakasih" jawab Khumairah lirih, dan lupa menyebutkan pangkat dari sang pria berseragam putih itu.
"terimakasih, Dokter.. Atas semua informasinya" ucap Zain sembari menjabat tangan sang Dokter.
Dokter itu menganggukkan kepalanya dan beranjak keluar dari ruangan perawatan.
Lalu seorang perawat datang untuk mengeluarkan Khumairah dari ruangan tersebut.
__ADS_1
~Seminggu lagi novel ini tamat ya say.. Doain agar author sehat selalu, dan makasih banget yang sudah setia hingga sampai saat ini🥰🥰 mohon dukungan vote and like, juga ghiftnya❤❤~