
Setelah sampai depan rumah man Ayub membukakan pintu untuk Fairi dan dia langsung bergegas lari masuk kedalam rumah untuk mencari bi Ningsih dan bi Mina yang pasti ada dibelakang rumah. Fairi masuk dan dengan perlahan meletakkan Kemal yang terlelap di sofa.
"Ma..." Kemal memegangi tangan Fairi dan tetap terlelap.
Fairi tersenyum dan dia pun menggunakan kakinya sebagai bantalan Kemal yang tertidur, lalu Fairi mengusap lembut kepala Kemal sehingga Kemal makin menyusup pada perut Fairi.
Dibelakang man Ayub menemukan ni Ningsih yang sedang menyetrika baju dan bi Mina sedang memotong sayuran sambil mengobrol sama bi Ningsih.
"Ya Allah, Min, Sih ini gawat dan benar - benar gawat.
"Ada apa Yub, kalau bicara itu yang pelan - pelan." Bi Ningsih ngomel sama man Ayub dan bi Mina hanya tersenyum.
"Sudah kelamaan kalau dijelaskan, sekarang kalian ikut aku saja buruan. Ayo." Man Ayub menarik bi Mina dan Ningsih untuk kedepan.
"Lihat itu." Man Ayub menunjukkan Fairi pada kedua bibi itu.
"Mau minum, apa kamu tak lelah? Biar aku yang menggantikan kamu, atau biar ku pindahkan dia ke kamar." Kenan menawarkan diri untuk membantu Fairi yang sejak tadi ditempeli Kemal
"Tak apa, aku baik - baik saja." Fairi menjawab dengan tersenyum.
"Ya Allah ya Gusti pangeran ini benar - benar nak Ayu." Bi Mina mendekat dan menangis menatap Fairi
"Bi, apa kabar. Sudah lama sekali." Fairi berkata dan tersenyum pada bi Mina.
"Ya Allah...putriku." bi Mina langsung memeluk Fairi yang duduk di sofa dan Fairi membalas pelukan bi Mina.
"Mbak Fairi, ini benar mbak Fairi ya. Bibi sangat merindukan mbak Fairi sejak waktu itu." Bi ningsih pun mendekat dan menangis bersimpuh pada Fairi.
"Bi Ningsih tolong jangan begini." Fairi ingin membangunkan bi ningsih tapi tak bisa karena ada Kemal di pangkuannya.
"Ma-maafkan Maman mbak karena tadi menganggap mbak Fairi hantu." ucap man Ayub dan Fairi tersenyum
"Senang bertemu dengan kalian semua, aku sangat merindukan kalian." Fairi berkata dan menatap semua art yang dulu membantu Fairi.
"Tapi nak Ayu apa yang terjadi kenapa bisa nak Ayu masih sehat dan siap jasad itu kalau begitu?" Bi Mina menatap Fairi dan Kenan serta tuan Bram
"Benar, katakan siapa wanita itu sayang, mama juga ingin tau ceritanya." Nyonya Tias juga penasaran.
Fairi tersenyum menatap semua orang yang anda disana, dan dia mulai menceritakan semuanya bagaimana dia bisa selamat dan berakhir seperti saat ini.
Kilas balik 1 tahun lalu.
"Halo Fairi, kamu cepatlah pulang sekarang juga karena ayahmu sedang sakit dan dia masuk rumah sakit sekarang karena jatuh pingsan. Kamu jangan jadi anak yang durhaka ya." Nyonya Ayu.
"Tunggu dulu, bicaralah dengan baik dan jelas apa yang terjadi." Fairi.
"Kau ini, pokoknya cepat pulang ayah mu di rumah sakit daerah saat ini" nyonya Ayu
"Apa sih maunya wanita ini." Fairi menatap layar ponselnya yang panggilannya sudah dimatikan oleh nyonya ayu.
"Oh Bu Laras. Saya mencari anda dari tadi." Pak Karto
__ADS_1
"Ada apa pak, apa ada masalah?" tanya Fairi.
"Tidak - tidak Bu, cuma barusan sekretaris Handoko menghubungi saya karena nomer Bu Laras tak bisa dihubungi, dia bilang kalau ayah anda masuk rumah sakit." jelas pak Karto.
"Ya Allah ternyata benar yang dikatakan oleh wanita itu. Baiklah kalau begitu saya akan siap - siap untuk kembali dan saya serahkan urusan di sini kepada anda dan yang lainnya" ucap Fairi.
"Baik Bu." jawab pak Karto.
Setelah bersiap - siap Fairi siap untuk kembali ke Jakarta, namun saat dia melihat mobilnya semua ban mobil Fairi kempes bersamaan, dan Fairi terlihat sangat bingung.
"Ya Allah kenapa ban mobil ini harus kempes sekarang sih." Fairi frustasi dengan hal itu.
"Kenapa non, apa ada masalah?" seorang warga desa setempat bertanya pada Fairi.
"Anda...?" Fairi bertanya karena tak pernah melihat orang itu diantara pegawainya.
"Saya pegawai baru non, apa anda sedang buru - buru?" tanya orang itu.
"Ya saya harus kembali ke Jakarta tapi lihatlah ban mobil saya kempes begini." Fairi berkata dengan frustasi
"Gunakan mobil saya saja non, tak apa. Nanti biar mobil non saya perbaiki." jawab orang itu menawarkan bantuan
"Oh benarkah apa tak apa? Tolong ya pak." Fairi terlihat sangat berterima kasih
"Iya non, ini kuncinya. Hati - hati mengemudi." ucap orang itu
"Terima kasih pak." Fairi langsung bergegas dan melakukan mobil orang itu.
"Maafkan saya non, apa saya boleh ikut untuk ke pasar karena dari tadi nunggu anggot gak datang - datang." ucap wanita itu
"Baiklah silakan masuk." Fairi memberikan tumpangan karena arah pasar dengan jalan besar searah.
"Terima kasih." wanita itu masuk kedalam mobil dan Fairi melajukan lagi.
"Apakah anda nona bos dari pabrik teh di atas?" tanya wanita itu
"Iya benar." jawab Fairi singkat.
"Perkenalkan nama saya Winarni anda non Larasati kan? Bolehkah saya panggil anda mbak Laras, karena saya sedang hamil 3 bulan saat ini dan saya ingin anak saya nanti sepeti anda kalau perempuan, cantik, baik dan juga pintar." ucap Winarni
"Boleh silakan dan selamat atas kehamilannya, semoga bayinya sehat sampai nanti lahiran." ucap Fairi sambil tersenyum.
"Terima kasih, oh ini gelang anda? Cantik sekali, boleh saya mencobanya?" Winarni mengambil gelang Fairi
"Oh iya silakan dan ambil saja anggap saja itu sebagai hadiah dari saya untuk calon bayi anda." Fairi berkata dengan ramah
"Ya ampun, benarkah? Terima kasih banyak." Winarni dengan senang hati memakai gelang Fairi
"Nak lihatlah kita dapat hadiah dari orang baik apa kamu senang sayang? Dan untuk itu kamu harus memaafkan ibu ya kalau ibu tak bisa melahirkan mu ke dunia ini." ucap Winarni dan hal itu membuat Fairi kaget serta bingung.
"Apa maksudmu dan apa yang baru saja kau katakan. Kau tak bisa melahirkan dia? Jangan bicara yang tidak - tidak, karena ucapan sama dengan doa." Fairi berkata dengan kesal pada Winarni
__ADS_1
"Maafkan saya ya mbak Laras, jika nanti terjadi apa - apa pada saya tolong bantu ibu saya yang sudah tua dan juga tolong maafkan suami saya. Karena itu saya tak akan membiarkan anda dalam bahaya." ucap Winarni dan hal itu membuat Fairi semakin bingung
Seketika itu, saat Fairi ingin berkata lagi namun tak sempat karena dalam perjalanan saat sampai ditikungan yang menurun tiba - tiba saja mobil yang Fairi tumpangi tak bisa direm dan dikendalikan, mobil itu melaju dengan kecepatan yang sangat cepat, Fairi merasa sangat panik dan juga bingung hingga Fairi membanting setir ke kiri saat berpapasan dengan sebuah mobil lain dari arah yang berlawanan.
"Maafkan saya mbak Laras, dan tolong maafkan suami saya juga. Orang yang memberikan mobil ini pada anda adalah suami saya, saya tau sebelumnya kalau dia berencana untuk mencelakai anda setelah bicara dengan seseorang lewat telepon. Saya harap pengorbanan saya dan anak saya bisa menebus dosa suami saya." ucap Winarni dan tersenyum
"Tidak aku tak akan membiarkan kamu kenapa - napa." Fairi berusaha untuk membantu Winarni keluar dari mobil.
"Tidak, biarkan saya yang menggantikan anda, tolong jaga ibu saya dan temukan orang yang ingin mencelakai anda saja. Maafkan saya mbak Laras." Winarni mendorong Fairi keluar dari mobil dan dia menggantikan posisi Fairi lalu mobil turun semakin jauh dan meledak.
"Tidak...!" Fairi yang melihat hal itu tak bisa memaafkan orang - orang yang ingin membunuhnya dan saat mau kembali dia tergelincir dan jatuh pingsan.
Beberapa hari kemudian Fairi tersadar disebuah kamar dengan rasa sakit di sekujur tubuh serta tak bisa menggerakkan tangan dan kakinya.
"Tenanglah, jangan takut, aku Herman orang yang menolong mu dan kau selamat, saat ini kau mengalami patah tulang kaki dan juga tangan mu. Jadi kau tak akan bisa bergerak untuk sementara waktu. Apa yang sebenarnya terjadi? Kau pingsan selama 3 hari." ucap pak Herman yang menolongnya.
"Aku dimana dan bagaimana dengan Winarni?" tanya Fairi dengan bingung.
"Oh, sepertinya kau masih ingat semuanya. Winarni apa dia kerabat atau teman." tanya pak Herman
"Dia adalah orang yang menyelamatkan saya dengan mendorong saya keluar dari mobil dan menggantikan saya." jelas Fairi.
"Hem, aku tak tau karena aku menemukanmu hanyut di sungai." jelas pak Herman.
Beberapa hari kemudian berlalu dan pak Herman mendapatkan kabar kalau memang ada orang yang dengan sengaja ingin mencelakai Fairi dan dengan terpaksa pak Herman menyembunyikan Fairi dalam perlindungannya.
1 bulan berlalu dan Fairi tau kalau tuan Herman adalah ayah angkat dari Sujono atasannya waktu kerja di hotel, Fairi yang terlihat akrab dengan Sujono pun akhirnya pengawasan tentang Fairi diberikan pada Sujono agar Fairi lebih nyaman.
Setelah 2 bulan Fairi tinggal di kediaman Sujono akhirnya tuan Herman membawah Fairi keluar negeri untuk pengobatan dan operasi plastik atas luka di wajahnya. Semua itu membutuhkan waktu sangat lama untuk Fairi sembuh dan kembali bisa beraktifitas dengan normal.
Untuk itulah Fairi menghubungi Lina dan meminta pada Lina untuk merahasiakan keberadaannya dan membantunya dengan menjadi mata - mata untuk Fairi selama Fairi dalam pemulihan.
Tapi saat Fairi selesai dalam pengobatan dan kembali dia mendapati kalau ayahnya telah meninggal dunia saat hari pemakamannya karena serangan jantung, dengan bimbingan dari tuan Herman dan tuan Sujono Fairi telah menjadi pribadi yang berbeda.
Seminggu setelah kembali Fairi mendatangai rumah Winarni dan bertemu dengan ibu Winarni yang sedang dirundung kesedihan karena kehilangan anak yang entah kemana hilangnya. Fairi datang dengan membawah polisi untuk menangkap suami Winarni.
Setelah menceritakan semuanya pada ibu Winarni Fairi membawah ibu Winarni untuk tinggal bersama dengan orang - orang di daerah perkebunan dan untuk itu Fairi meminta bantuan Lina.
Dan setelah mendengar penjelasan dari Lina tentang kecurangan yang dilakukan oleh nyonya Ayu dan tuan Bagus Fairi memutuskan untuk menyembunyikan diri lagi sampai waktunya pas untuk dirinya muncul dihadapan semua orang.
Dan untuk membantu Lina Fairi mengirimkan Sabrina dan Anita orang - orang tuan Herman yang ditempatkan disisi Fairi sebagi asisten dan juga pengawal, karena Anita adalah mantan anggota militer dan Sabrina juga merupakan mantan anggota penyidik.
Kembali ke saat ini
"Jadi maksud mu, jasad yang dibawah Kenan kembali ke rumah ini adalah jasad orang lain yang dan dia menyelamatkan mu saat suaminya ingin menghabisi mu. Ya Allah berikanlah tempat terbaik untuk mu pada wanita itu" nyonya Tias bersyukur masih ada orang yang baik.
"Ya, pengorbanannya akan selamat dan hidup sampai saat ini. Tapi sayang semuanya telah merenggut nyawa ayah." Fairi berkata dan mulai berkaca - kaca.
"Tenanglah, semua akan baik - baik saja, dan aku yakin ayah bangga padamu dan tak menyalahkan mu." Kenan merangkul Fairi dan berusaha untuk menguatkan Fairi.
"Hem, terima kasih" jawab Fairi lirih
__ADS_1
Melihat Fairi tak menolak dan bersikap biasa serta membalas semua perlakuan Kenan dengan baik membuat Kenan mendapatkan angin segar untuk mendapatkan Fairi kembali kesisinya.