
Keesokan harinya Kenan berangkat ke kantor seperti biasa dijemput sama Agus, dan sesampainya di kantor Farid sudah menunggunya dari tadi karena ada sesuatu yang akan disampaikan oleh Farid kepada Kenan.
"Farid, sudah nunggu dari tadi, kenapa tak nunggu di ruangan ku saja. Bagaimana hasilnya apa sudah keluar?" Kenan bertanya sambil berjalan menuju lif karena Farid menunggu dirinya di lobby kantor
"Lumayan 15 menitan, dan tadi aku juga sudah melihat ke bagian pemasaran, aku sudah mengeceknya, cuma mereka masih belum menyelesaikan pengetikan datanya." jawab Farid mengikuti Kenan dan Agus juga ikut dibelakang Farid dan Kenan.
"Selamat pagi pak Kenan, selamat pagi pak Farid." sapa Ambar pada Farid dan Kenan yang melintas didepannya menuju ke rumahan Kenan.
"Agus kau ke Ambar dan ambil berkas yang kemaren kita rapatkan. Dan tolong pergilah ke bagian pemasaran sekali lagi dan ambil laporan keseluruhan, lalu bawah kemari yang tadi sudah dicek oleh Farid" perintah Kenan pada Agus.
"Baik pak" Agus langsung pergi menemui Ambar dan kebagian pemasaran juga.
"Bagaimana Fid?" tanya Kenan menatap Farid yang sedang berdiri didepannya.
"Ya semua berkas mengenai Melinda semuanya sudah selesai dan semua berkasnya telah rampung semuanya." jelas Farid menyerahkan berkas yang dari tadi dipegangnya
"Hm, baguslah kalau begitu, berarti sudah tak ada masalah lagi?" Kenan menerima berkas itu membaca dan bertanya pada Farid.
"Oh iya Ken, bagaimana dengan rumah yang saat ini ditempatinya? Apakah harus diselesaikan juga?" Farid bertanya dan duduk didepan Kenan.
"Tak usah, berikan saja pada mereka dan anggap itu sebagai kompensasi yang ku berikan karena telah menghabiskan waktunya bersama dengan ku selama ini." Kenan berkata dengan membaca berkas dihadapannya.
"Baiklah, kalau begitu akan ku ganti namanya menjadi nama Melinda?" Farid berkata dengan tersenyum melihat Kenan.
"Hm." Kenan menjawab hanya dengan gumaman.
"Keren ya kau, menghabiskan waktu dengan mu dapat hadiah rumah." Farid berkata dengan bersandar santai di sandaran kursi.
__ADS_1
"Maksudmu apa?" Kenan menjawab dengan menatap Farid.
"Tak ada, dan ini adalah berkas soal Fairi yang kamu cari dengan menyuruh orang, bacalah dan pelajari kau akan menemuka jawabannya" Farid menyerahkan satu lagi berkas pada Kenan dan dia tersenyum.
"Oh, orangnya sudah datang ya, tapi senyum mu itu mencurigakan." Kenan menerima dan membacanya.
"Ini...?" Kenan menatap Farid.
"Ya, kau sudah menemukan jawabannya?" Farid berkata dengan tersenyum lagi.
"Sial kenapa aku bisa tak menyadarinya selama ini." Kenan membaca lagi berkas tentang Fairi itu.
"Ya begitulah kalau orang terlalu tamak dan juga serakah." Farid berkata dengan nada meledek Kenan.
"Kau mau aku gampar ya. Katakan pada ku, apa kau sudah tau dari awal soal ini?" Kenan bertanya dengan tak sabar.
"Kau benar - benar minta di gampar ya." Kenan berkata dengan kesal. "Anehnya kenapa aku tak menyadari semuanya dari awal, jika dia mendapatkan promosi itu artinya dia akan naik jabatan dan dia ditempatkan ditempat lain, tapi anehnya saat aku kesana waktu itu, aku tak menemukannya dan juga tak melihat keberadaan dia disana. Apa dia tau kalau aku akan datang dan dia menghindari ku?" Kenan berfikir dalam soal Fairi.
"Aku tak tau soal itu, tapi sekarang kau sudah tau kan dimana keberadaan istri yang telah membuang mu itu? Jadi lakukan sendiri selanjutnya, karena aku harus fokus pada restoran ku. Baiklah aku balik ke ruangan ku dulu." Farid berkata dan beranjak pergi dari ruangan Kenan.
"Kenapa aku tak bisa berfikir ya selama ini. Sampai membiarkan Fairi hilang hampir 1 tahun lamanya." Kenan bergumam sendiri dan merasa kesal pada dirinya sendiri.
...💔💔💔...
Sepulang dari kantor Kenan pergi ke rumah orang tuanya dan sesampainya di sana dia melihat sang mama sedang sibuk menyiapkan sesuatu yang membuat Kenan merasa bingung.
"Ma, ada apa ini? Memangnya akan ada pesta kok mama menyiapkan sesuatu seperti akan ada pesta." Kenan bertanya dan berjalan masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Loh kamu lupa atau gimana? Besok kan hari jadi Farid, dan Melisa meminta mama untuk mengatur sebuah kejutan karena Melisa akan datang pada hari itu." jelas nyonya Tias pada Kenan, "Eh, kamu jangan bilang sama Farid loh ya. Karena kalau bilang bukan kejutan lagi namanya, memang ada apa kamu kemari, tumben." Nyonya Tias berkata tapa melihat Kenan Karana dia sedang sibuk menata persiapan pestanya.
"Iya ma, Kenan sudah menemukan dimana Fairi berada. Dan selama ini Kenan tak bisa berfikir dan tak pernah kepikiran soal itu." Kenan menjawab dan duduk di kursi sambil membantu mamanya menatap dekor ruangan.
"Maksud kamu apa? Jadi kamu sudah bertemu dengan Fairi? Bagaimana keadaan dia?" Nyonya Tias menghentikan aktifitasnya dan duduk menatap Kenan.
"Tidak ma, Kenan tak bertemu dengan dia. Cuma tau dimana keberadaannya. Dia berada di Beijing tepatnya dia bekerja di hotel Jhonson, entah dibagian apa yang jelas kedudukannya pasti lebih tinggi, karena dia mendapatkan promosi dari atasannya yang di sini." jelas Kenan sambil sibuk mengulur pita dan senyum tipis.
"Jadi kamu sudah waras dan sudah bisa berfikir ya." Nyonya Tias berkata tetap menatap Kenan, dan mendengar kata - kata dari sang mama Kenan mengangkat wajahnya menatap sang mama lalu tersenyum.
"Maaf ma." ucap Kenan karena dia sadar selama ini dia tak bisa berfikir dengan benar hingga bisa ditipu dan dibohongi oleh orang yang dicintainya selama bertahun - tahun.
"Jujur sebenarnya mama tak ingin kau kembali pada Fairi, karena bagaimana pun perbuatan mu itu sungguh sangat keterlaluan. Tapi karena keegoisan mama, jadi mama berharap kalau Fairi mau dan menerima permintaan maaf mama serta papa mu." Nyonya Tias berkata dengan berlinang air mata.
"Ma, Kenan juga berharap seperti itu. Dan Kenan berjanji pada diri Kenan sendiri, kalau hari itu datang Kenan tak kan pernah melepaskannya lagi dan akan selalu memberinya semua perasaan Kenan, bahkan Kenan akan mempersembahkan seluruh jiwa dan raga Kenan untuknya. Kenan tak ingin kehilangan dia lagi." Kenan berkata dengan serius.
"Kita memang keluarga yang egois, bahkan kita tak pernah memikirkan perasaannya dan hanya menuntutnya saja." Nyonya Tias berkata dan semakin menangis.
"Maafkan Kenan ma, semuanya terjadi karena ulah Kenan dan kebodohan Kenan." Kenan memeluk sang mama.
...💔💔💔...
"Apa ini? Kita mendapat hadiah rumah ya. Dia sungguh sangat royal ya." ucap Danang saat dia mendapatkan berkas dan sertifikat rumah yang sudah dibalikkan atas nama Melinda dan Mayangsari.
"Ini, mas Kenan. Benar - benar memberikan rumah ini untuk ku dan Sari." Melinda melihat dan membaca berkas itu saat diberikan kepadanya yang dikirimkan lewat jasa pengadilan.
"Kau benar - benar sangat luar biasa, bisa membuat seseorang yang sangat kaya itu memberimu hadiah rumah sebesar ini." Danang berkata dengan tersenyum dan duduk di sofa dengan melebarkan kedua tangannya.
__ADS_1