Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
Episode 189


__ADS_3

Julia semakin geram dengan ucapan polisi tersebut. Ia tidak menduga jika seluruh orang telah menonton vedeonya.


"Saya akan melaporkan orang yang telah meyebarkan vedeo itu atas tindak pidana pencemaran nama baik" celoteh Julia dengan tatapan sinisnya.


Polisi itu tertawa mendengar ocehan dari Julia. Sebab Ia yang mencemarkan nama baik seseorang dengan fitnahan, namun Ia yang mencoba menjadi playing victim atau orang yang terdzhalimi.


"Gimana rasanya, Bu.. bermain bertiga dengan bule? Pasti seru ya?" Celoteh polisi disisi kanannya.


Telinga Julia terasa sangat panas mendengar cibiran dari para polisi itu.


Sesampainya didepan kantor polisi, tanpa diduga sudah banyak wartawan yang telah menantinya dan meminta klarifikasi kepada Julia yang telah membuat berita bohong.


Wartawan memburu Julia yang tampak merundukkan kepalanya dan tak ingin menjawab sepatah katapun dari pertanyaan yang diajukan oleh para wartawan itu.


"Bu.. ibu Julia.. tolong jelaskan tentang vedeo yang sedang beredar tersebut, apakah itu benar Anda sebagai pemeran wanitanya" tanya seorang wartawan yang terus mencoba mengejarnya.


Julia merasa telinganya sangat panas saat disebut sebagai pemeran wanita dalam vedeo tersebut.


Julia menatap tajam kepada wartawan yang melontarkan pertanyaan itu kepadanya.


Seketika para wartawan lain mengambil kesempatan umtuk membidikkan kamera mereka dan merekam momen wajah Julia yang tampak kesal dan berang.


Dengan langkah cepat dan dikawal oleh polisi Ia memasuki kantor polisi.


Sementara itu, Rudy yang terus memantau berita perkembangan tentang kasus anaknya, menatap tajam pada layar kaca televisi.


Wajah Julia yang tertangkap camera membuat Rudy tersenyum sinis.


Pria paruh baya itu mematikan televisinya, lalu beranjak dari tempat kerjanya, Ia berjalan keluar dari ruangan yang menjadi tempat favoritenya.


Saat itu Renata keluar dari kamarnya, dan melihat Rudy yang tampak berwajah tanpa ekspresi dan sedang berjalan menghampirinya.


"Ada yang perlu saya bantu, Mas?" Tanya Renata menatap Rudy dengan sendu.


Rudy tersenyum tipis, sembari menggelengkan kepalanya. Lalu Ia menuju kamarnya dan diikuti oleh Renata.


Renata menghampiri Rudy yang menuju tepian ranjang, tampak wajah lelah menghampirinya, namun tak menghilangkan kesahajaan yang terpancar diraut wajahnya, penuh keteduhan.


Satu hal yang membuat Renata jatuh hati pada pria itu Ialah sikap lembut dan penuh dengan ketenangan, sehingga Ia tak mampu melupakan peristiwa puluhan tahun silam saat Ia menjadi seorang penjahat  yang berupaya bertukar menjadi Istri palsunya.

__ADS_1


Baginya Rudy begitu sangat mempesona. Dibalik sikap dinginnya, tersirat berjuta pesona yang begitu mengagumkan.


Renata mencoba membuka jas pria itu. Rudy baru saja dari kantor perusahaan yang dikendalikan oleh Denny, dan Rudy mencoba menangani kekacauan yang  ada didalam perusahaannya.


Renata mulai memijat kaki Rudy. Selama menjadi istri sahnya, Ia menyerahkan bisnis butik dan menjahitnya kepada salah satu karyawan kepercayaannya untuk mengelolanya.


Sesekali Ia pergi untuk meninjaunya dan melihat kondisi kemajuan yang terjadi.


Rudy memejamkan matanya, mencoba meresapi apa yang dilakukan oleh Renata. Perlahan Ia merasa mengantuk dan tertidur.


Sementara itu, Julia dibawa keruang penyidikan dan dicecar berbagai pertanyaan yang membuatnya semakin pusing dan kesal.


"Apa tujuan Anda menyebarkan berita bohong dan melakukan pencemaran nama baik kepada saudara Denny?" Tanya penyidik itu dengan nada penuh penekanan.


"Saya ini korban, dan mengapa sekarang harus diputarbalikkan fakta yang ada" jawab Julia membantah semua tudingan yang dilemparkan kepadanya.


Penyidik itu terus menekankan setiap perganyaan yang diajukan.


"Jika benar Saudara Denny pelakunya, lalu mengapa anda mencampurkan obat penambah hasrat kepadanya? bukankah itu menandakan jika Anda berniat meminta untuk di perko-sa?" Tanya penyidik itu dengan tatapan tajam.


Julia terperangah mendengar ucapan penyidik tersebut.


Lalu penyidik itu memperlihatkan detik-detik saat Julia memasukkan dua buah pil haram tersebut kedalam makanan dan minuman lalu mengaduknya.


"Apakah Anda masih ingin membantah dengan bukti yang sudah tampak jelas?" tanya Penyidik dengan tatapan tajamnya.


Seketika Julia merasa gugup. Ia bingung mengapa cctv masih bisa ditemukan, sebab Ia sudah membayar seseorang untuk mengurus masalah cctv hotel itu.


"I...itu.. Bisa saja itu bukan saya, dan itu tamu lain yang mirip dengan saya" bantah Julia dengan gugup.


"Benarkah..?" tanya penyidik dengan tersenyum cibiran. Lalu penyidik meraih pergelangan tangan Julia, dan hal itu membuat Julia semakin gugup.


"Perbesar gambarnya" titah Penyidik itu kepada rekannya "perbesar dibagian pergelangan tangannya" titahnya memperjelas.


Lalu rekan penyidik itu me-zoom vedeo cctv tersebut dibagian pergelangan tangan Julia. Tampak satu buah jam tangan dengan bentuk, warna dan merk yang sama yang digunakan Julia saat ini.


"Apakah jam tangan itu juga kebetulan?!" tanya penyidik itu dengan penekanan.


Julia tergagap. Ia mencoba untuk terus membantah, namun bukti terus menyudutkannya.

__ADS_1


"Ini semua fitnah..!!" jawab Julia masih tidak ingin mengakuinya.


"Jika ini fitnah, maka siapa yang memasukkan obat tersebut? Sepertinya Anda begitu sangat lapar, sehingga melakukan apapun untuk mendapatkan dan mencapai tujuan anda" ucap Penyidik dengan pedas.


Telinga Julia semakin panas dengan dengan segala cercaan dari cecaran pertanyaan dari penyidik tersebut.


Tiba-tiba saja Ia tersenyum memandang kepada para penyidik yang sedang menegelilinya.


"Hentikan kasus ini, Saya akan membayar 3 kali lipat dari apa yang telah mereka bayar kepada kalian, dan tentunya dengan bonus tambahan ini" ucapa Julia mencoba bernegosiasi sembari memperlihatkan dan menonjolkan dadanya.


Seketika para penyidik itu saling bertatapan, lalu tertawa.. "Waah.. Banyak sekali ya uang, Anda.. Bahkan tubuh anda juga diobral dengan begitu murahnya" jawab penyidik lain yang merasa tersinggung dengan ucapan Julia.


Jika urusan uang dan kenik-matan sesaat, tentulah membuat goyah siapa saja. Namun ancaman Rudy tidak main-main jika sampai kasus ini tidak tuntas, sebab bisa saja institusi mereka akan di cap kotor dan bahkan terancam berbalik menjadi bomerang bagi mereka.


"Berarti benar jika Anda yang melakukan ini semua dan membuat fitnahan kepada Saudara Denny" ucap Penyidik itu dengan cepat.


"Ya.. Saya yang melakukannya" jawab Julia dengan sinis, Ia merasa jika Penyidik tersebut tergiur dengan tawarannya.


"Apa motif Anda melakukannya?" cecar penyidik itu.


"Karena Saya menyukainya" jawab Julia mulai lancar.


"Apakah rasa suka dapat membuat Anda gelap mata?" tanya penyidik itu dengan cepat.


"Saya hanya ingin merasakan bercinta dengannya seperti apa, dan Ia mengabaikan saya" jawab Julia dengan bangga.


"Waah.. Ternyata Anda ini seorang hyper juga, ya.." celetuk seorang penyidik tanpa sengaja.


Seketika wajah Julia memerah dan memandang penyidik yang baru saja mengucapkan kalimat tersebut kepadanya.


"Apakah Bapak ingin mencobanya?" tanya Julia dengan tanpa rasa malu.


Seketika para penyidik yang berada diruangan itu menggelengkan kepalanya melihat Julia yang tampak berwajah tebal dan tidak tahu malu.


"Bawa Wanita ini keruabg tahanan, dan semua jawabannya sudah cukup memberikan bukti jika Ia adalah tersangkanya.." titah penyidik dengan pangkat yang lebih tinggi.


Seketika Julia terperangah dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


Ia mengira jika pengakuannya akan menjadi negosiasi yang lancar dengan pihak penyidik, namun berbalik dari apa yang diharapkan.

__ADS_1


__ADS_2