Hati Yang Tersakiti

Hati Yang Tersakiti
episode 247


__ADS_3

Amyra mencoba menghubungi Denny, namun karena Ia mengatakan akan ada meeting, sehingga Ia memilih lebih untuk mengatakannya nanti tentang hasil pemeriksaan yang baru saja dilakukannya barusan.


Amyra melajukan mobilnya menuju pulang kerumah, namun sepanjang perjalanan Ia masih teringat akan sepasang insan yang pernah hampir saja merusak kehidupan rumah tangganya.


Ia menduga jika keduanya kini telah hidup bersama dan memeriksakan kandungan kehamilan sang wanita.


Amyra bersyukur jika saja mereka menikah, sebab tidak akan adalagi orang yang akan menjadi perusak rumah tangganya.


Sementara itu, Tony dan Grace memasuki ruangan pemeriksaan. Dokter meminta Grace menaiki ranjang dan mempersiapkan alat yang akan digunakannya sebagai alat untuk memeriksa Grace.


Sebelumnya dokter mempertanyakan keluhan yang dirasakan oleh Grace. Wanita itu menatap pada Tony, dan dengan berbohong jika Ia mengatakan jika Suaminya Tony melakukan percintaan dengannya dan meninggalkan alat pengaman didalam rahimnya dan benda itu sudah diambil, namun masih meninggalkan rasa nyeri hingga kini.


Dokter itu merenung sejenak, lalu meminta ijin mencoba untuk memeriksa kondisi luka yang dialami oleh Grace dengan melihat jalur rahim Grace, lalu terdiam sejenak.


Kemudian dokter itu mengambil gel dan mengoleskannya diatas perut Grace dan menjalankan trunduser itu disekitar perut Grace.


Setelah mendapatkan hasilnya, Dokter itu menyimpulkan jika Grace mengalami infeksi saluran rahim, karena ada beberapa luka yang dialaminya.


Penjelasan Dokter membuat keduanya terperangah dan saling pandang satu sama lain.


Lalu Dokter itu menjelaskan jika luka itu masih dapat disembuhkan dan Grace dilarang bercinta selama dua minggu lamanya hingga luka itu benar-benar sembuh.


Dokter itu memberikan resep dokter untuk menyembuhkan infeksi yang kini dialami oleh Grace dan mengahruskan Grace meminum obat tersebut secara rutin sesuai aturannya.


Grace akhirnya menyadari jika tubuhnya dalam kondisi yang tidak baik-baik saja dan mengharuskannya untuk beristirahat sebaik mungkin.


Setelah mendapatkan informasi tentang apa yang dialami Grace, maka keduanya kembali pulang dan sebelumnya singga ke apotik untuk membeli obat yang diresepkan oleh dokter tersebut.


Disepanjang perjalanan, tampak Grace hanya diam membisu meratapi nasibnya yang ternyata begitu sangat malang.


Tony melirik pada wanita tersebut. Rasa bersalah telah membuatnya begitu menyesali segala perbuatannya yang telah mengeksploitasi wanita yang kini duduk disisi sebelah kemudinya.


Ia tak menduga jika balas dan dendam dan sakit hati membawanya pada insan yang tak memiliki hati nurani.


Sesampainya di apertemen, Grace masih terdiam dan tak banyak bicara. Ia menuju ranjang dan duduk bersandar sembari menatap nanar pada langit-langit kamar.


Tony menuangkan segelas air dan memeriksa obat yang baru dibeli mereka diapotik dan melihat keterangan yang mana akan dikonsumsi.

__ADS_1


Setelah membacanya, Ia memberikan 3 butir obat yang harus segera diminum oleh Grace.


"Minumlah, agar kesehatanmu pulih kembali" ucap Tony sembari menyodorkan obat tersebut kepada Grace.


Tanpa mengatakan apapun, wanita itu menelan 3 butir obat tersebut sekaligus dan meneguk air putih pemberian Tony.


Setelah itu, Grace kembali membisu tanpa mengatakan apapun.


Tony menghampirinya, duduk ditepian ranjang, lalu meraih kepala wanita itu kepundaknya dan merangkulkan tangan kirinya kepipi kiri sang wanita.


"Aku akan menemanimu, apapun keadaanmu" ucap Tony mencoba menghibur Grace yang tampak sangat kacau.


Lalu Tony memberikan kecupan lembut diujung kepala sang wanita.


Sementara itu, Amyra sudah sampai dirumahnya sedari tadi.


Dan tak berselang lama, tampak Denny baru saja pualng dari kantor dan menuju kamar untuk segera membersihkan tubuhnya yang terasa penat dan juga lelah.


Ia melihat Amyra baru saja selesai dari mandi, sebab Amyra masih menggunakan handuk yang membalut tubuhnya dengan begitu terlihat lucu.


Namun karena rasa gerah yang sangat menyiksanya, membatalkan niatnya ingin menggoda Amyra dan memilihnya untuk lebih dahulu membersihkan diri di kamar mandi.


Amyra melirik kepada suaminya yang tampak terburu-buru masuk kekamar mandi, dan Ia hanya memandanganya dengan tatapan datar.


Setelah selesai dengan ritual mandinya, Ia melihat ditepian ranjang terdapat baju piyama miliknya yang telah disediakan oleh Amyra.


Ia segera memakainya dan menatap Amyra yang tampaknya sedang berseluncur di dunia maya.


Setelah selesai dengan menyalin pakaiannya, Denny menghampiri Amyra, lalu dengan sengaja merampas Phonsel Amyra dan menutup aplikasi media sosial milik Amyra, dan meletakkan phonsel itu diatas meja nakas.


Amyra mengerutkan keningnya, dan menatap Denny yang tampak bertingkah aneh, namun tak mencoba memprotes apa yang baru saja dilakukan oleh suaminya.


Denny duduk ditepi rajang dan mendekap Amyra dari belakang, lalu membelai perut Amyra yang sudah membuncit dan sangat besar.


"Mas.." ucap Amyra.


"Heeem.." jawab Denny hanya dengan sebuah deheman.

__ADS_1


"Tadi Myra periksa ke klinik langganan kita" ucap Amyra.


Denny terdiam sejenak, dan menatap wajah Amyra dari sisi kanannya.


"Kamu sendirian, kenapa tidak memberitahu Mas terlebih dahulu?" ucap Denny dengan nada sedikit terkejut.


Amyra menghela nafasnya dengan berat.


"Tadi mau menghubungi Mas.. Tetapi karena Mas lagi meeting yang Myra batalin nelfonnya" ucap Amyra mencoba jujur.


Lalu dengan tatapan penuh selidik, Denny seolah ingin introgasi kepada istriya.


"Apa kata dokter tersebut?" tanya Denny tak sabar.


"Karena Myra pernah operasi cesar saat melahirkan Ashraf, maka kelahiran yang ini juga harus operasi" jawab Amyra dengan lirih.


Denny terdiam "Apakah kamu takut menjalani operasi cesar?" tanya Denny yang merasa begitu Iba dengan istrinya. Ia tahu, jika melahirkan secara normal dan juga cesar, sama halnya dengan berjuang dan melewati masa-masa sulit dalam berjuang melahirkan seorang malaikat kecil.


"Tidak, Mas.. Myra tidak takut, dan sudah merasa siap, karena ini operasi yang kedua san tentunya tidak merasa kaget lagi" ucap Amyra dengan yakin.


Denny mengecup lembut pipi sang wanitanya "Makasih, Ya" ucap Denny lirih.


"Untuk apa?" jawab Amyra cepat.


"Untuk semua yang telah kamu berikan kepada Mas.. Termasuk anak-anak dari buah cinta kita" ucap Denny dengan penuh ketulusan.


Amyra tersenyum sumringah "Semuanya dengan ikhlas Myra lakukan" jawab Amyra tenang.


"Oh, Ya. Mas gak tanya jenis kelamin anak kita apa?" tanya Amyra dengan cepat.


Denny menggelengkan kepalanya "Apapun jenis kelaminnya, Mas terima dengan baik dan rasa syukur, sebab kelahiran anak ketiga ini adalah anugerah yang indah dari Rabb.. Kita sudah memiliki sepasang buah hati yang menggemaskan, lalu mengapa harus memfaktorkan calon bayi ini harus berjenis kelamin apa" jawab Denny.


Amyra kembali tersenyum dengan wajah berseri "Iya.. Tapi kata dokter jenis kelaminnya laki-laki" ucap Amyra tak sabar.


"Alhamdulillah.. Semoga kelak menjadi anak sholeh dan berbakti kepada kedua orangtuanya serta menjadi panutan bagi saudara-saudarinya serta mengabdi pada agamanya" ucap Denny dengan begitu sangat bahagianya.


"Aamiin.. Allhumma aamiin.." jawab Amyra dengan penuh kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2