
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kamu kesini dan membuat masalah." Tuan Adi menatap Tyas
"Apa masalahnya aku hanya datang ke perusahaan dan aku tak suka dengan Fairi." jawab Tyas dan duduk di sofa dengan angkuh.
"Aku tak tau lagi harus bagaimana, kalian adalah sama - sama putriku dan aku ingin kalian akur. Apakah begitu sulit untuk mu melakukannya." Tuan Adi kembali duduk di kursinya
"Dengar ya pa, bukankah papa sudah berkata kalau papa akan menjodohkan aku dengan mas Kenan lalu kenapa sampai sekarang semua tetap saja sama berjalan di tempat tak ada kemajuan. Dan papa malah membawah anak itu kembali serta memberinya pekerjaan di perusahan serta membiarkan dia bekerja sama dengan perusahaan mas Kenan bukankah ini tak adil untuk ku" Tyas berkata dengan kesal.
"Dari awal Kenan adalah jodoh Fairi, dan aku juga sudah bilang pada mu kalau aku akan bicara namun jika mereka tak mau dan Kenan tak ingin makan semua tak bisa ku lakukan lagi, sebaiknya kamu jangan membuat ulah lagi. Jika kamu ingin bekerja di perusahaan aku akan menempatkan mu pada posisi yang cocok dan jika kamu ingin terus jadi model ya terserah, sudah aku sibuk dan sebaiknya kamu kembali sekarang." Tuan Adi berkata dengan malas
"Pa, sebenarnya papa sayang gak sih sama aku dan mama?!" Tyas berkata dengan nada tinggi
"Tyas cukup.! Aku sudah membiarkan semua ulahmu selama ini terhadap Fairi, jangan berfikir kalau aku tak tau kamu selama ini selalu mempersulit Fairi. Aku diam saja karena aku rasa Fairi bisa mengatasinya tapi jangan sampai membuat masalah yang akan membuat mu Alan menyesal nantinya." Tuan Adi berkata dengan tak sabar lagi.
"Cih, aku pergi." Tyas berdiri dan meninggalkan kantor papanya.
...💔💔💔...
Tyas melajukan mobilnya dengan cepat menuju sebuah klub malam dan dia menghabiskan harinya disana dari siang hingga malam hari karena dia merasa kesal dengan papanya. Dari jauh ada seseorang yang sedari tadi melihat Tyas dan orang itu merasa penasaran.
"Aku tak boleh membiarkan dia berhasil tidak, pokoknya tidak." gumam Tyas dengan kesal sambil meminum minumannya.
"Nona maaf ini minuman dari saya karena.saya lihat dari tadi anda seperti sedang kesal." seorang wanita mendekati Tyas
"Siapa kamu." tanya Tyas dengan dingin pada wanita itu
"Saya pegawai di klub ini nama saya Melinda." ya Melinda memperkenalkan diri "Sepertinya anda kesal dengan seseorang, apakah orang itu adalah orang yang sama dengan yang saya benci?" Melinda mengeluarkan hanponnya dan menunjukkan foto Fairi.
"Kau, apa hubungan mu dengan dia." Tyas menatap dan bertanya dengan dingin pada Melinda.
__ADS_1
"Apa hubungan ku dengan dia itu adalah urusan pribadiku, yang jelas kita memiliki musuh yang sama jika benar orang yang anda gumam kan dafi tadi adalah dia." jawab Melinda tersenyum pada Tyas
"Ya, itu memang dia Fairi si j*lang itu yang selalu membuat hidupku tak tenang." Tyas berkata dengan kesal.
Melinda tersenyum dan dia merasa kalau dia memiliki teman yang sama dengannya yaitu sama - sama membenci Fairi mantan istri dari mantan suaminya. Dan Melinda berencana untuk bekerja sama dengan Tyas untuk membuat hidup Fairi merasa tak tenang dan untuk membalaskan semua rasa sakit hatinya karena Kenan menceraikannya sejak Kenan menyentuh Fairi.
...💔💔💔...
"Bu Laras ini berkas yang sudah selesai tolong untuk dicek lagi." Lina menyerahkan berkas kerja sama dengan Kenan atas perkebunan teh dan kopinya.
"Baiklah, terima kasih. Oh iya Lin kapan kita ada jadwal untuk bertemu lagi dengan pihak mereka karena aku belum dengar soal penggarapan kemasan dari prodak yang seharusnya diluncurkan bulan depan." Fairi bertanya soal keluaran prodak minuman yang dilakukan bersama dengan perusahaan Kenan.
"Saya masih belum mendapatkan informasi lagi bu, nanti coba saya tanyakan pada pihak mereka." jawab Lina dan Fairi mengangguk.
Dan keesokan harinya informasi itu pun turun dan meminta pihak Fairi untuk datang ke pabrik langsung untuk melihat proses penggarapan dan pemasangan label dari kemasan minuman yang akan dikeluarkan.
Sesuai dengan janji siang itu Fairi dan Lina datang ke pabrik milik Kenan dengan ditemani oleh Melisa dan Farid sebagai wakil dari Kenan karena pada hari itu kebetulan Kenan ada pertemuan dengan pihak lain yang menjalin kerja sama dengan prodak kosmetik milik Kenan.
"Aku rasa semua sudah bagus dan tak perlu ada perubahan, cuma sama ingin kalau prodak ini nanti tak hanya dikemas dalam kemasan gelas tapi juga dalam kemasan botol." Fairi menjawab dan memberikan sarannya.
Sekitar 1 jam Fairi dan Farid berkeliling di pabrik hingga tak melihat waktu kalau sudah mulai datang waktu sore. Saking serius dan juga fokusnya Fairi pun tak menyadari kalau Kenan sudah berada ditempat dan terus mengawasinya dari jarak yang lumayan dekat.
"Baiklah, saya setuju dengan semuanya dan maaf karena saya tak melihat waktu. Kalau begitu saya permisi dulu dan untuk salinannya tolong nanti anda kirimkan ke kantor saja." jelas Fairi pada Farid diakhir diskusinya.
"Baiklah, kalau begitu terima kasih atas semuanya." Farid memberikan ucap terima kasih dan berjabat tangan dengan Fairi.
"Iya sama - sama, selamat tinggal dan kau Mel selamat atas kerja sama kita ini aku senang bisa bertemu dengan mu lagi." Fairi memeluk Melisa setelah berjabat tangan dengan Farid.
"Iya mbak, aku juga senang bisa bertemu dengan mbak Fairi lagi. Rasanya aku ingin terus seperti ini dan kembali seperti dulu saat kita masih tinggal di Beijing." ucap Melisa memeluk erat Fairi.
__ADS_1
"Kau bisa datang berkunjung jika kau mau." Fairi berkata dan memberikan nomer hanponnya yang pribadi.
"Fairi aku ingin bicara." Kenan menahan Fairi saat melihat Fairi dan Lina mau pergi.
"Maaf tapi pembahasan saya sudah selesai dan saya menyetujui semuanya, saya permisi." Fairi berkata dengan cuek pada Kenan.
"Tunggu Fairi, ini bukan tentang pekerjaan." Kenan menahan tangan Fairi.
"Kak." Melisa bersuara namun ditahan oleh Farid dan diseret pergi.
"Kalau begitu saya tunggu di mobil Bu." Lina pun pergi dan meninggalkan Fairi bersama dengan Kenan.
Fairi menatap Kenan dengan tajam dan dingin, ada kebencian dan amarah di tatapan mata Fairi untuk Kenan, melihat itu Kenan tau kalau saat ini Fairi sedang marah pada dirinya. Dan dengan cepat Kenan menarik tangan Fairi meninggalkan lokasi pabrik untuk masuk kedalam kantornya karena Kenan tak ingin ada yang melihat kegaduhan yang mungkin akan dilakukan oleh Fairi pada dirinya.
"Apa yang ingin kau katakan, katakan cepat." Fairi berkata dengan dingin.
"Ini mengenai Boo, aku ingin tau tentang dia dan kenapa kamu harus melarang aku untuk bertemu dengannya, apa kau tau karena ulah mu itu membuat dia sedih." jelas Kenan pada Fairi.
"Apa urusanmu dengan dia, dia adalah putraku dan aku tau bagaimana cara merawat putraku. Jadi kamuntak perlu ikut campur dalam urusanku mendidik anak ku." Fairi berkata dengan dingin
"Anak mu, apa kau yakin kalau dia hanya anaknmu saja. Fairi jangan jadi orang yang kejam." Kenan berkata dengan kesal
"Kejam, apa aku tak salah. Aku kejam? Kejam mana aku dengan seseorang yang meminta istrinya untuk menerima wanita lain dalam hidupnya bahkan memintanya untuk membujuk ibu mertuanya agar menerima istri lainnya, kejam mana dengan seseorang yang menginginkan seorang anak agar bisa bercerai. Apa kau pikir seorang wanita itu hanyalah hiasan dan mesin pencetak anak hah?!" Fairi berkata dengan berteriak kesal dan menatap dingin pada Kenan.
"Fairi." Kenan berkata dan melangkah maju
"Diam! Aku tak ingin mendengar apa pun lagi, dan tolong kau pisahkan antara urusan pribadi dan pekerjaan. Oh iya, aku tak ingin kau dekat dengan putraku karena aku tak akan membiarkan orang sepertimu mempengaruhinya. Selamat tinggal." ucap Fairi dan pergi.
"Dia adalah putraku juga." teriak Kenan dan seketika hal itu membuat Fairi mengehentikan langkahnya.
__ADS_1
"Aku yakin dia putraku juga, dan kau tak bisa memisahkan antara anak dan ayahnya." Kenan berkata lagi dan menatap Fairi dengan tatapan sedih.
"Jangan bicara omong kosong, dia adalah putraku dan hanya putraku." jawab Fairi dengan dingin.